
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Safira bangun dari tidurnya,ia langsung berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah yang sedikit gontai karena capek.
Kemarin mereka bertiga pulang dari kolam renang saat hari sudah sangat sore,bahkan hampir menjelang malam.
Biasanya saat hari libur Safira punya waktu untuk tidur siang bersama anaknya,tapi karena acara renang itu.Safira dan anaknya tidak tidur siang.
Belum lagi tiba-tiba ada tugas mendadak yang dikirim perusahaan dan harus dikerjakan langsung olehnya,jadi Safira lembur hingga tengah malam.
Dan kini meskipun lelah Safira tetap harus bekerja,karena hari ini bukan hari libur.
Tak berapa lama Safira keluar dengan langkah yang terlihat lebih baik,wajahnya pun terlihat lebih segar daripada tadi.
“Seandainya sekarang hari minggu,pasti aku bakal tidur sampai sore hari”gumam Safira sedikit menggerutu dengan nada yang terdengar suntuk karena kurang tidur.Ia pun berjalan ke arah lemari dan memilih baju untuk ia kenakan saat bekerja.
Selesai mengenakan pakaian,dan saat dirasa cukup,Safira pun berjalan menuju dapur,ia mulai memasak menu makanan untuknya dan anaknya nanti.
“Seharusnya ibu panggil saya langsung jika perlu sesuatu,biar nanti saya yang buatkan”ucap Marni yang langsung berjalan menghampiri Safira yang sedang menyiapkan bahan-bahan juga alat-alat yang akan ia gunakan nanti.
Marni merupakan pengasuh Sabrina sekaligus orang yang bertugas membersihkan rumah.
“Tidak perlu,saya sekarang lagi ingin masak sendiri”Safira sedikit tersenyum ke arah Marni.Lalu ia pun melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda karena kedatangan Marni.
Mendengar itu,Marni hanya mengangguk mengerti.Ia akan membantu Safira memasak dengan tugas yang berbeda.
Saat masakannya telah matang,Safira langsung menuangkan masakan nya ke tempatnya.
“Apakah Sabrina masih tidur?”tanya Safira sambil meletakan masakannya itu di atas meja.
Tak ingin hanya diam,Marni pun ikut membantu Safira menyusun makanan di atas meja.
“Iya ibu,masih.Sepertinya kelelahan karena berlibur kemarin”ucap Marni sopan.
Seandainya orang lain melihat,pasti mereka mengira jika Safira masih remaja,atau lebih tepatnya terlihat seperti anak yang masih kuliah,dan bukan wanita dewasa.Marni bahkan sempat berfikir jika panggilan 'ibu' darinya yang merupakan bentuk sopan santun tidak pas dengan wajah Safira yang seperti seorang anak remaja,tapi saat melihat postur tubuhnya,tentu orang akan tahu jika ia wanita dewasa.
“Kapan Sabrina tidur?”tanya Safira yang kini telah duduk di tempatnya.
__ADS_1
“Sekitar jam setengah delapan”ucap Marni yang langsung di jawab anggukan dari Safira.
“Kamu bisa duduk!,ayo kita makan bersama!”ajak Safira yang memang biasanya selalu makan bersama dengan pengasuh anaknya,ataupun dengan asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.Karena Safira tidak suka makan sendirian,ia telah terbiasa makan bersama dengan keluarga nya dulu.
“Baik bu”Meski mereka sering makan bersama,tapi Marni yang sangat sopan,ia tidak akan duduk sebelum di perintah oleh Safira.
Mereka pun memulai makan dengan keadaan hening.
“Sepertinya aku harus cari orang untuk bertugas mengerjakan pekerjaan rumah.Bukankah sudah hampir satu minggu semenjak bi Tuti pensiun,dan kamu pasti kesulitan mengerjakan ini semua”ucap Safira memulai pembicaraan saat selesai makan.
Sebenernya Safira sudah berusaha mencari pekerja yang akan bekerja di rumahnya,tapi ia kesulitan karena belum menemukan orang yang cocok.
“Saya tidak masalah jika harus mengerjakan ini semua”Marni menjawab dengan sopan.
Meskipun Safira menggaji Marni secara double,tapi ia juga merasa tidak tega dengan Marni yang mungkin merasa kelelahan dengan pekerjaannya itu.
Karena meski rumah Safira bukan rumah mewah,tapi rumah itu cukup luas dan besar.Itu semua hasil kerja kerasnya selama ini.
“Kamu tenang aja,saya akan tetap menggaji kamu double.Anggap aja kenaikan gaji,lagipula bulan ini saya mendapat kenaikan gaji juga”ucap Safira,ia berfikir mungkin Marni butuh uang lebih untuk biaya keluarga nya.
Lagipula meski ia berkata seperti itu,Safira tidak akan berfikir buruk padanya,karena Safira telah mengenal Marni cukup lama,dan Marni merupakan pengasuh yang telah bekerja mengasuh anak Safira selama lebih dari tiga tahun.
“Kalau begitu saya langsung berangkat kerja,saya titip anak saya.Kalau dia merasa lapar,kamu bisa menghangatkan masakan saya”ucap Safira yang langsung mendapatkan anggukan dari Marni.
...*****...
Beberapa jam setelah Safira sampai di perusahaan.Safira yang sedang mengerjakan pekerjaan nya itu.Ia tiba-tiba mendapat telepon dari Marni.
“Bu”panggil Marni terdengar cemas dan gelisah.
“Iya ada apa Marni?”tanya Safira penasaran.
“No..,non Sabrina masuk rumah sakit”ucap Marni gugup sekaligus cemas.
Deg'Jantung Safira seakan berdegup kencang saat mendengar berita tak terduga itu.Sikapnya yang tenang langsung berubah menjadi gelisah dan khawatir seketika itu juga.
“Kenapa bisa?”tanya Safira sedikit panik,tapi meski begitu Safira berusaha untuk bersikap tenang dan menjernihkan pikirannya itu.
__ADS_1
“Saya nggak tahu Bu,tiba-tiba anak ibu muntah-muntah dan langsung pingsan”jelas Marni dengan rasa bersalah yang langsung melingkupi hatinya,mungkin ini karena keteledoran nya yang tidak menjaga Sabrina dengan baik.
“Oke kamu tenang.Saya akan kesana,tolong kirimkan alamat rumah sakit lewat pesan”Meski Safira berkata begitu,tapi justru wajahnya yang terlihat semakin cemas dengan pikiran yang terlihat kalut.
Safira pun langsung menutup dokumen dan mengambil tasnya,saat ia keluar ia melihat salah satu bawahannya.Ya!,di perusahaan orang tersebut merupakan bawaan Safira,karena status Safira yang nobenya seorang sekertaris dari Farrel,ia juga merupakan atasan si wanita tersebut.
“Lea”panggil Safira kepada seorang wanita muda berparas cantik.
“Iya Bu ada apa?”tanya wanita itu langsung dengan sopan.
“Apakah rapat pak Farrel sudah selesai?”tanya Safira dengan raut wajah cemas.Safira sengaja tidak mengikuti rapat hari ini karena ia harus mengerjakan tugas lain yang mendesak,sedangkan Farrel kini sedang rapat dengan klien penting.
“Belum Bu,sepertinya masih lama”jawab wanita yang bernama Lea.
Mendengar itu,Safira merasa frustasi sekaligus bingung.Rasanya Safira ingin menangis seketika itu juga,tapi ia tetap berusaha untuk kuat.Safira sebenarnya ingin izin untuk pulang cepat,tapi tidak mungkin juga ia masuk ke dalam ruangan hanya untuk izin,apalagi tamu itu adalah klien penting dari luar negeri.
“Kalau bisa saya sangat minta tolong sama kamu,saya minta izin untuk pulang lebih awal.Tolong sampaikan itu pada pak Farrel”Setelah mengatakan itu,Safira langsung berlari keluar dari perusahaan.
Sebenarnya Safira tadi terpaksa mencari Farrel karena memang perusahaan itu sangat ketat,bahkan tidak bisa mencampur adukan urusan pribadi dengan kerjaan.Maka jika ingin meminta izin,itu harus dapat izin langsung dari atasan.Jika tidak!,sudah bisa di tebak apa konsekuensinya.Tapi kini Safira tidak sempat memikirkan itu,yang ada di pikirannya hanya anaknya.Sabrina!,itu yang paling penting baginya sekarang.
...*****...
Sesampainya di rumah sakit,Safira pun langsung bertanya pada Marni yang sedang menunggu di ruang tunggu.
“Bagaiman keadaan Ina?”tanya Safira langsung.
“Masih di periksa oleh dokter”jelas Marni dengan raut wajah yang terlihat cemas sekaligus merasa bersalah.
“Siapa orang tua dari anak ini?”tanya seorang dokter laki-laki yang keluar dari ruangan yang sama dengan tempat Sabrina di periksa.
Detik berikutnya,mata sang dokter dan Safira saling bertemu.Pandangan mereka terlihat terpaku dan terkejut.
“Kamu”ucap mereka hampir bersamaan.
*****
Hayoo Siapa ya??
__ADS_1