
Safira yang melihat Arnam semakin lama semakin dekat dengannya itu,ia pun terus saja mundur hingga tak terasa jika punggungnya telah menyentuh tembok.
‘Sial,sudah mentok lagi'batin Safira kalut seakan takut dengan Arnam.Ia pun berusaha mencari cara untuk menghindar dari Arnam.Kedua matanya itu pun tidak henti-hentinya menatap ke arah lain,seolah sedang berfikir untuk kabur dari hadapan Arnam.
Dan pada saat Safira berniat lari ke samping untuk menjauh dari Arnam,tapi belum sempat Safira melangkah Arnam langsung mengukung Safira di tembok.
Kedua tangan Arnam ia letakan di tembok,atau lebih tepatnya di samping tubuh Safira.Safira yang melihat itu ia secara refleks langsung menahan nafas karena terkejut sekaligus takut.
“Apa yang kamu lakukan Arnam?!”ucap Safira dengan nada tinggi,meski merasa takut Safira tetap berusaha untuk menjauh dari Arnam.
Dan tiba-tiba Arnam mencium Safira.
Cup...
Safira yang melihat itu,ia langsung menahan nafas untuk sejenak karena lagi-lagi ia dibuat terkejut oleh Arnam.
Tak lama Safira pun sadar,ia berusaha melepaskan ciuman Arnam,tapi Arnam malah mencium Safira lebih dalam lagi.Safira yang di perlakukan seperti itu,ia hanya bisa pasrah,ciuman lembut Arnam seakan membuatnya terhanyut,tapi dengan sedikit kesadaran Safira tetap tidak membalas ciuman itu.
Saat Arnam melihat jika Safira memukul pundaknya seakan ia telah kehabisan nafas,Arnam pun langsung melepaskan ciumannya itu dan langsung memeluk Safira dengan erat,seakan Arnam takut jika Safira bisa pergi kapan saja.
Sedangkan Safira hanya abai dengan sikap Arnam,ia terus menghirup oksigen untuk mengisi paru-parunya yang kembang-kempis karena kekurangan oksigen.
“Lepas!,lepaskan saya Arnam!”ucap Safira dengan nada tegas miliknya.Tapi bukannya melepaskan,justru Arnam malah semakin mengeratkan pelukannya itu.
Safira pun berusaha melepaskan diri dari pelukan Arnam,ia menendang perut Arnam,memukul bahu Arnam,dan menginjak kaki Arnam,tapi Arnam tetap tidak melepaskan pelukannya itu.
“Apa kamu tuli sampai tidak bisa dengar apa yang saya katakan?!,saya bilang lepas ya berarti lepas!”ucap Safira entah dapat keberanian dari mana hingga ia berani bicara dengan nada yang cukup tinggi.
Arnam yang mendengar itu,ia tidak bergeming dan tetap memeluk Safira erat.
“Tidak!,biarkan saya memeluk kamu untuk sejenak,saya mohon..,kamu tidak tahu kan betapa saya sering teringat akan keadaan kamu?”ucap Arnam kembali formal karena ia marah dengan Safira yang seolah menganggap nya asing,meski begitu nada suaranya terdengar pelan seolah sedang memelas pada Safira.
__ADS_1
Kali ini biarkan Arnam memeluk Safira untuk meluapkan rasa rindunya itu.Andai saja masalah ini tidak terjadi,Arnam yakin jika Safira akan menyambut nya dengan pelukan dan senyuman hangat.Walau mungkin harus ia pinta,karena Safira bukan tipe wanita yang romantis seperti kebanyakan orang,tapi justru itulah yang menjadi daya tarik tersendiri milik Safira.
“Stop bilang rindu!,dan saya minta agar anda tidak mengatakan kata-kata cinta pada saya,karena saya hanya akan menganggap itu semua cuman kebohongan belaka”ucap Safira tegas dan tetap berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Arnam.
“Kenapa?,kenapa kamu tidak mau percaya lagi pada saya,padahal saya hanya berbohong satu kali”tanya Arnam yang lebih seperti sebuah gumaman,dan hanya di balas dengusan dan tatapan sinis dari Safira.
“Tolong,tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki ini semua,karena mulai sekarang saya akan lebih terbuka pada kamu”ucap Arnam dengan nada semakin rendah,seolah ia benar-benar tulus saat mengatakan itu.
Safira yang dari tadi berontak,ia pun mematung untuk sejenak saat mendengar kata-kata Arnam.
“Hanya tembok yang mau mendengar omongan anda,karena mulai sekarang! saya tidak akan pernah percaya pada ucapan anda!”ucap Safira dengan nada penuh penekanan.
Safira sempat goyah untuk sejenak saat mendengar ucapan lembut Arnam,Safira merasa jika Arnam benar-benar tulus padanya.Tapi detik berikutnya ia kembali teringat akan apa saja yang sudah dilaluinya beberapa hari belakangan tanpa adanya Arnam.Itu lah alasan Safira sangat marah dan belum bisa menerima kebohongan Arnam.
Arnam tetap saja memeluk Safira dengan erat dan lembut,meski Safira terus saja memberontak tapi tetap saja ia enggan melepaskan pelukannya itu.
Safira yang mulai kelelahan itu,ia pun mulai berhenti memberontak karena sadar jika itu akan percuma.Tenaga Arnam jauh lebih besar darinya,belum lagi pola makannya tidak teratur hingga membuat nya mudah lelah dan lemas,dan mungkin pukulannya itu hanya terasa seperti kapas ringan bagi Arnam.
Arnam yang mendengar itu,ia pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap Safira dengan tatapan dalam.
“Maksud kamu apa?”tanya Arnam entah karena ia sudah mengerti maksud Safira atau karena ia tidak terima dengan ucapan Safira itu.
“Bukankah sebuah hubungan harus di landaskan dengan adanya kepercayaan,dan anda telah mengkhianati kepercayaan saya,jadi saya tidak bisa lagi untuk percaya pada anda.Dan paling penting saya sudah tidak mencintai anda lagi!”ucap Safira pelan dengan nada yang penuh penekanan di akhir kalimat.
Arnam yang mendengar itu,ia hanya tersenyum kecil.Senyumnya itu bukan mengandung senyum kebahagiaan,tetapi senyum penuh ancaman.
“Hanya saya yang tahu seberapa besar kamu mencintai saya,dan meski kamu bilang kamu sudah tidak mencintai saya lagi.Hanya tembok yang akan percaya itu!!.Karena saya tahu meski kamu tidak pernah menunjukkan rasa cinta kamu sekalipun,tapi saya yakin hanya saya orang yang kamu cintai”ucap Arnam tegas dengan nada yang terdengar percaya diri dan yakin.
Andai jika tembok itu bisa bicara,mungkin dia akan bilang.Kenapa aku dibawa-bawa?,padahal aku hanya diam saja,tetapi kenapa aku harus ikut menjadi korban yang di salahkan?.
Safira yang diam saja karena merasa jika ucapan Arnam itu ada benarnya juga.Rasa sayang dan cinta tidak mungkin bisa hilang dalam sekejap,butuh waktu bertahun-tahun bahkan seumur hidup untuk melupakan dan mengubur rasa cinta itu.
__ADS_1
“Lebih baik kita bercerai saja,aku sudah mulai merasa muak dengan hubungan ini”ucap Safira yang tidak tahu harus mengatakan apa agar Arnam menyerah.
Bukannya menyerah,Arnam yang mendengar itu malah merasa semakin emosi dan langsung mencium Safira,ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi agresif dan kasar karena marah akan ucapan Safira yang mengatakan muak' dengan hubungan mereka.
Kata-kata itu seakan melukai ego dan hatinya hingga emosi nya seakan tak terkendali!!
Safira yang di perlakuan seperti itu,ia kini benar-benar takut pada Arnam,rasanya rasa takut yang tadi tidak ada apa-apa nya dengan rasa takutnya saat ini.Ia benar-benar takut dengan sosok Arnam yang seolah tak ia kenali itu!!.
Tak terasa mata Safira mulai berkaca-kaca,dan akhirnya air matanya itu luruh.Ia menangis karena entah kenapa ia tidak terima dengan perlakuan kasar Arnam,seakan kini ia merasa jika ia sedang di rendahkan oleh Arnam.
Deg'Arnam tertegun untuk sejenak saat mendengar suara isakan milik Safira,dengan cepat Arnam langsung melepaskan ciumannya itu,ia menjauhkan kepalanya dari wajah Safira.
Arnam yang melihat Safira menangis dengan tubuh bergetar,atau lebih tepatnya Safira kini sedang merasa ketakutan pada Arnam.
Arnam yang melihat itu entah kenapa hatinya merasa sangat sakit,seolah ada seribu duri yang menancap di jantungnya.
Arnam pun langsung memukul dan menjambak rambutnya sendiri seolah berusaha menyadarkan dirinya yang sudah hilang kendali.
Di saat Arnam berusaha untuk membuat Safira bahagia dengan menjauhkan hal-hal yang bisa membuat Safira sedih,tapi justru dia lah yang menjadi alasan Safira merasa sedih dan menderita.Rasanya Arnam lebih baik di pukul atau dimaki oleh Safira daripada harus melihat Safira sedih dan menangis,
melihat air mata Safira rasanya Arnam merasa tersiksa akan hal itu.
“Maaf,saya minta maaf karena sudah membuat kamu takut”ucap Arnam yang kembali memeluk Safira,dengan lembut dan hati-hati.
Arnam merasa jika ia adalah manusia terjahat di dunia.Arnam menyesal telah berbuat kasar pada Safira,ia telah hilang kendali saat mendengar kata-kata laknat yang bagi Arnam sangat takut saat Safira ucapkan langsung dari mulutnya,yaitu kata'cerai'.Dan itu terus Safira ucapkan secara berulang-ulang,membuat emosi yang di tahan itu lepas seketika itu juga.
Safira hanya diam,seakan tenaganya telah habis terkuras.Hingga kini Arnam yang sedang dalam posisi duduk itu,ia yang menyadari jika nafas Safira mulai teratur di dekapannya,akhirnya Arnam sadar jika Safira sudah mulai tertidur karena kelelahan.
Arnam pun langsung membopong tubuh Safira di kedua tangannya dengan hati-hati,ia masuk ke dalam kamar miliknya dan langsung menaruh tubuh Safira di kasur dengan hati-hati.
Arnam menyelimuti Safira dan mengusap dahi Safira dengan lembut“Harusnya semua ini tidak terjadi.Tapi rupanya dia telah mengabaikannya ancaman ku ini.Kita lihat apa yang akan aku lakukan padanya nanti”ucap Arnam sambil tersenyum dingin,senyum itu ia tunjukkan bukan untuk Safira tetapi untuk Rena.
__ADS_1