
“Nak Arnam,saya tahu kamu melamar anak saya dengan tulus,dan saya merasa senang akan hal itu.Lagipula saya juga tahu jika kalian telah saling mengenal cukup lama,jadi saya bisa percaya pada kamu sepenuhnya.Dan permintaan saya hanya satu,tolong jaga anak saya dengan baik,perlakukan dia dan cintai dia dengan tulus”ucap Hadi sambil tersenyum kearah Safira.
Hadi menatap ke arah Safira dengan mata yang sedikit berkaca-kaca,ia juga merasa terharu dan senang jika anaknya bisa menikah dengan orang yang ia cintai.
Tapi meski begitu ada sedikit kesedihan dalam tatapannya itu,karena Hadi merasa sedikit tak rela untuk melepas putri berharga nya untuk orang lain,tapi Hadi sadar jika ia tak bisa egois.
“Ayah”ucap Safira yang berkata sambil mengusap punggung ayahnya,seolah sedang menenangkan ayahnya dari dilema.
“Baik”Jawab Arnam.
Dari dulu Arnam telah berjanji untuk menjaga Safira dengan baik,bahkan tanpa Hadi minta pun ia akan melakukan itu.
Sedangkan Rima hanya diam dengan wajah yang terlihat bingung.
‘Mengenal lama?,kapan Arnam mengenal Safira?.Perasaan aku hanya tahu hubungan Safira dan Arnam tahun lalu,itu pun aku tahu karena secara tak sengaja’pikir Rima bingung.
Waktu itu Rima tahu tentang hubungan Safira dan Arnam,pada saat Arnam memberitahunya 1 tahun yang lalu.Dan itu pun Arnam lakukan karena ingin ibunya merestui hubungannya dengan Safira.
Tapi sayangnya pada saat itu Rima menolak menerima hubungan itu.Ia juga sudah melakukan berbagai cara untuk memisahkan Arnam dan Safira,tapi tetap saja rencananya tak berhasil karena Arnam selalu berhasil menggagalkan rencananya itu.
Bahkan Rima pernah berniat untuk menyakiti Safira,tapi lagi-lagi gagal karena Arnam selalu melindungi Safira secara diam-diam.
“Ekhm”Hadi terbatuk pelan untuk menghilangkan kesedihan sekaligus kebahagiaannya itu.
“Kalau begitu kita langsung saja berbicara tentang inti dari rencana pernikahan ini”ucap Hadi memulai bicara kembali setelah suasana cukup lama hening.
“Dan menurut nak Arnam,kapan pernikahan kalian akan di langsung kan?”lanjut Hadi di sertai pertanyaan.
“Lebih cepat lebih baik”jawab Arnam singkat.
Arnam menatap ke arah Safira seolah sedang bertanya melalui tatapannya itu.
Safira yang mengerti tatapan Arnam itu,ia pun paham jika Arnam ingin secepatnya menikah dengannya.
Tapi karena Arnam sangat menghargai dan menyayangi Safira,maka Arnam ingin agar Safira yang menentukan kapan mereka akan menikah.
“Ekhm”Safira terbatuk sebelum menjawab,ia berusaha untuk bersikap rileks dan santai.
“Bagaimana jika pernikahan ini akan di adakan satu bulan lagi”usul Safira.Itu waktu yang singkat menurut Safira,tapi bagi Arnam itu waktu yang terasa lama.Hanya saja Arnam pasrah dan menyetujui itu.
__ADS_1
“Lagipula Safira ingin agar kakek dan nenek yang berada di luar kota untuk hadir di sini.Bolehkan yah?”lanjut Safira bertanya pada sang ayah yang ada di sampingnya itu.
“Iya baiklah,sesuai keinginan mu.Nanti ayah akan menelpon kakek dan nenek agar hadir di acara pernikahan kamu dan Arnam nanti.Lagipula tanpa kamu minta ayah pasti akan mengundang mereka”
ucap Hadi diakhiri sebuah senyuman,tangannya mengusap lembut rambut sang anaknya.
Lalu setelah itu,Hadi pun menoleh dan menatap ke arah Arnam yang hanya diam,seolah tengah memperhatikan interaksi mereka berdua.
“Bagaiman nak Arnam,apakah kamu setuju dengan permintaan Safira?”tanya Hadi sambil menatap ke arah Arnam.
“Saya setuju”jawab Arnam singkat.Jika itu keinginan Safira,Arnam tak ingin komentar apapun.
“Baiklah Arnam,karena ini telah selesai,ayo kita pulang!”ucap Rima yang langsung bangkit.
Rima seakan tak bisa menunggu lebih lama lagi,ia sudah merasa tak tahan dan ingin cepat-cepat pulang ke mansion tempat ia tinggal.
“Apakah anda akan pulang?,kenapa terburu-buru sekali?”tanya Hadi saat melihat Rima bangkit dari kursi.
Hadi pun ikut bangkit dengan Safira yang juga ikut bangkit.
Rima yang mendengar itu,sontak ia pun langsung menatap kearah Hadi,di saat mulutnya terbuka hendak berbicara,Arnam langsung menyelanya.
‘Sial!,lagi-lagi Arnam menyela pembicaraan ku,ia seolah tahu apa yang hendak aku katakan’pikir Rima kesal.
“Baiklah kalau seperti itu”jawab Hadi pasrah.
“Kalau begitu Safira antar Arnam keluar dulu ya ayah”ucap Safira secara tiba-tiba.Ia berinsiatif untuk mengantar Rima dan Arnam hingga ke depan rumahnya.
Hadi yang mendengar itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
Safira ikut keluar di belakang Arnam dan Rima yang sedang berjalan keluar dari rumah.
...*****...
Saat berada di luar rumah.
“Aku pulang dulu,jangan lupa jaga diri baik-baik”
ucap Arnam sambil menatap kearah Safira dengan tatapan lembutnya.
__ADS_1
“Iya hati-hati”jawab Safira sambil tersenyum.
Menoleh ke arah Rima yang berada tepat di samping Arnam.“Tante juga hati-hati,kalau bisa Tante sering-sering datang ke sini”ucap Safira tersenyum tulus,berusaha untuk akrab dengan Rima
Rima tidak merespon atau menanggapi itu,ia diam dan menatap malas ke arah Safira yang sedang tersenyum ke arahnya.
“Hmmmm”hanya deheman malas yang Rima berikan.Karena Rima seakan merasa sangat malas meladeni Safira.
Di saat Arnam mengangkat tangan hendak mengusap rambut Safira,gerakan nya terhenti karena Rima yang menarik tangan nya“Ayo Arnam kita pulang!”ucap Rima sambil menarik Arnam untuk berjalan menjauh dari rumah Safira.
‘Kenapa sih harus ke rumah Safira segala,mana tempatnya harus melewati gang-gang kecil lagi.Jadi terpaksa kan harus jalan kaki sebelum sampai di jalan raya’pikir Rima menggerutu kesal.Arnam yang melihat itu akhirnya ikut melangkah kan kaki meninggalkan Safira.
Safira seolah merasa ada sesuatu hal yang mengganjal saat melihat perilaku Rima tadi.Apalagi saat sikap Rima yang menyuruh Arnam untuk cepat-cepat pulang,itu terlihat seperti seorang ibu yang berniat untuk menjauhkan anaknya dari sesuatu.
‘Kok perasaan sikap ibu Arnam kayak nggak suka gitu ya ke aku?,atau jangan-jangan itu cuman perasaan aku doang,sudahlah lebih aku tidak usah berfikir macam-macam!’pikir Safira yang seakan menepis pikirannya itu.
“Gimana apa mereka sudah pulang?”tanya Hadi saat melihat anaknya berjalan masuk.
“Sudah ayah”jawab Safira singkat saat ia telah berada di hadapan ayahnya.
“Kalau begitu ayah ke kamar dulu ya untuk istirahat”pamit Hadi dan langsung di balas anggukan.
Dan tak lama setelah Hadi masuk kamar.Rara yang baru pulang dari sekolahnya itu,ia pun langsung berjalan ke arah Safira.
“Ada acara apa kak?,kok kayak ada tamu yang udah mampir ke sini”ucap Rara saat melihat banyak piring dan gelas bekas yang masih ada di meja.
“Iya memang ada tamu”jawab Safira singkat.
“Siapa?”tanya Rara langsung dengan nada penas.
“Bukan urusan kamu”jawab Safira cuek sambil mengambil piring dan gelas bekas.Dan setelah itu ia pun langsung pergi tanpa menatap ke arah Rara.
Sedangkan Rara yang melihat hal itu,ia hanya bisa merapatkan gigi karena kesal dengan sikap kakaknya.
“Dih,ingin bermain rahasia-rahasiaan tuh si kakak.Ok kak!,cepat atau lambat Rara juga bakal tau”ucap Rara pelan pada dirinya sendiri.
Sementara Safira yang telah selesai mencuci piring dan gelas kotor itu pun langsung masuk ke dalam kamarnya.
Safira hanya diam seolah merenung,dia sengaja tidak memberitahu Rara tentang ke datangan Arnam,karena ia berfikir jika Rara tahu pasti akan meledeknya seperti waktu itu.
__ADS_1
“He...he..,gimana ya Rara saat ini?,pasti dia lagi merasa kesal karena perlakuan aku tadi,tapi biarlah.Nanti juga dia akan tahu cepat atau lambat”ucap Safira sedikit cengengesan saat membayangkan wajah Rara saat kesal