
Saat ini Arnam sedang duduk di kursi kebesarannya itu,ia kini telah menyelesaikan semua pekerjaan nya itu.
“Toni”panggil Arnam.
Toni yang sedang menunggu di luar ruangan Arnam itu,ia pun langsung berjalan masuk dan menghampiri Arnam.
“Iya tuan?”ucap Toni saat berada di hadapan Arnam yang sedang menatap ke arahnya.
“Siapkan jet pribadi milikku,aku ingin pulang hari ini juga”ucap Arnam dengan nada datar miliknya.
“Sebaiknya anda istirahat terlebih dahulu tuan,karena saya tahu anda sudah bekerja keras selama ini hingga lupa untuk istirahat”ucap Toni seolah memberi usul.Ia mengkhawatirkan keadaan Arnam yang selama beberapa hari sangat sibuk dengan pekerjaannya itu.Meski sebenarnya juga ia kurang istirahat karena mengikuti sang tuan yang sering kerja hingga larut malam.
Arnam hanya diam dan memandang Toni dengan tatapan tajam dan tak suka miliknya yang kentara terlihat di wajah dingin nya itu.
Toni yang melihat itu,ia langsung bungkam dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
“Aku akan pulang sekarang!”tegas Arnam dengan nada yang terdengar semakin datar dan dingin.
“Baik tuan”
“Dimana ponsel milikku?”tanya Arnam,entah sudah berapa hari ia tidak menghubungi Safira,rasanya seperti telah berlalu sangat lama.
“Saya akan mengambilnya sekarang”ucap Toni,ia pasrah dan siap untuk menanggung amarah Arnam.
Tak lama Toni kembali dengan membawa ponsel milik Arnam yang telah menyala.
“Tuan”ucap Toni sambil menyerahkan ponsel itu pada Arnam.
Arnam pun langsung menerima itu dan mulai mengutak-atik ponsel miliknya itu.
Di saat Arnam sedang sibuk memainkan ponselnya,
__ADS_1
Toni hanya diam dengan kepala sedikit menunduk.
“Sialan!!”maki Arnam
Arnam melihat jika Safira sudah menelepon nya hingga beberapa kali,mungkin hingga ratusan kali.Bahkan Safira sempat mengirimkan ia pesan yang mengatakan jika Safira ingin bercerai dengannya.
“Apa yang terjadi?”tanya Arnam sambil menatap ke arah Toni dengan tatapan tajam yang seakan ingin menelan Toni hidup-hidup.
Arnam benar-benar merasa tak mengerti dengan permintaan Safira,ia bertanya-tanya mengapa istri nya itu tiba-tiba meminta bercerai dengannya.
“Tuan...”belum sempat Toni menjelaskan,Arnam langsung bangkit dan memukul perut Toni beberapa kali hingga Toni mau tak mau harus sedikit meringis,merasa perih di perutnya.
“Shhh”ringis Toni,wajahnya kembali seperti semula tanpa ekspresi.Ia membiarkan Arnam yang sedang meluapkan emosinya itu.
Toni pun hanya diam dengan posisi badan yang berlutu.
“Apa yang terjadi sialan?!!,kenapa kamu berani bohongi saya?,apa maksudnya ini?,kenapa Safira meminta cerai dari saya?!!”ucap Arnam yang terus saja menendang tubuh Toni hingga berkali-kali.
Arnam bukan seseorang yang tidak bisa berfikir jernih,dan jika Toni hanya diam saja tanpa perlawanan sama sekali mungkin walau tidak mati maka akan berimbas pada organ dalamnya.Tapi Toni yang diperlukan seperti itu,ia hanya diam seolah menunggu emosi Arnam reda.
“Bangun!”dingin Arnam menatap tajam Toni.
Toni yang mendengar itu,ia pun langsung bangun dengan kondisi yang sedikit tertatih-tatih karena rasa sakit.Meskipun Toni merasa seluruh badannya itu terasa remuk,ia tetap memiliki wajah yang datar,
seolah ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan tuanya itu.
“Apa kamu menyesal telah mengikuti saya?,kalau memang benar!!,maka kamu bisa pergi dengan bebas”tajam Arnam
“Tolong tarik kata-kata anda tuan.Saya tidak ingin meninggalkan anda,bahkan berfikir saja saya tidak pernah”ucap Toni dengan wajah yang terlihat seperti biasa,yaitu tanpa ekspresi.
“Kenapa kamu melakukan itu?,apa kamu membenci Safira?”tanya Arnam langsung.
__ADS_1
Toni yang mendengar itu,ia diam untuk sejenak.
Sebenarnya Toni sedikit tidak suka dengan Safira,mungkin karena Arnam akan hilang kendali jika terjadi sesuatu hal yang berhubungan dengan Safira.Ia mengingat betul saat pertama kali Arnam memperlakukan Safira dengan sangat berbeda,ia tak menyangka jika Tuannya yang tenang dan tak pernah emosi bahkan di kondisi yang buruk sekalipun itu,ia bisa langsung marah seolah kehilangan kendali jika ada sesuatu yang buruk berhubungan dengan Safira
Toni mengerti Arnam yang memang mencintai Safira!!.Tapi ia tak mengerti mengapa harus sampai seperti itu??.Dan setiap kali Arnam hilang kendali,
maka Toni akan merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa.
“Tidak tuan,saya tidak membenci nyonya”jawab Toni saat ia telah sadar dari lamunannya itu.
“Jadi kenapa kamu tidak mengatakan jika istri saya menelepon?”tanya Arnam terdengar sinis.
Toni lagi-lagi hanya diam untuk sejenak.“Itu karena perintah ibu anda tuan”akhirnya Toni menjawab dengan jujur.
“Sial!!”umpat Arnam tiba-tiba merasa ada sesuatu hal yang buruk yang telah terjadi selama ia tidak ada.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi?”tanya Arnam dengan ekspresi datar.Ia telah memenangkan dirinya dan mengendalikan emosinya dengan baik.
“Saya tidak tahu tuan,saya hanya menjalankan perintah sesuai keinginan ibu anda”ungkap Toni yang tidak menyelidiki masalah Safira sama sekali karena ia juga sangat fokus dan sibuk dengan masalah perusahaan.Ada orang-orang di masa lalu Arnam yang mengintai dirinya.
“Cari tahu secepatnya”terdengar Arnam merasa geram akan jawaban Toni.
Memang Arnam yang menyuruh Toni untuk tidak mencari tahu Safira terlalu dalam,siapapun itu tidak ada yang boleh tahu lebih dalam tentang Safira kecuali dirinya.Tapi jika ia tahu akan ada sesuatu yang berbahaya menyangkut Safira,mungkin ia akan menurunkan sedikit ego nya,demi keselamatan Safira.
Perlu di garis bawahi jika Arnam hanya akan sedikit menurunkan egonya itu,hanya sedikit!!,jadi untuk hal yang berhubungan pribadi tentang Safira tidak ada yang boleh tahu,bahkan mata-mata yang ia kirim untuk menjaga Safira harus berjaga jarak minimal 10 meter.
Toni yang mendengar itu,ia langsung mematuhi perintah Arnam.Toni berjalan keluar dengan langkah tegak walau sedikit tertatih-tatih.
Tak lama Toni pun kembali dan langsung menghampiri Arnam.Ia mulai menjelaskan tentang apa yang telah terjadi dengan Safira dengan jelas dan detail tanpa ada yang terlewat.
*****
__ADS_1
Jika kalian adalah pembaca baru,ini semua telah author revisi Agar kalian bisa lebih enak membacanya.
Jangan lupa like nya😘