
Seminggu sudah berlalu...
Safira kini tinggal di sebuah mansion yang layaknya istana,dengan interior klasik dan modern dengan warna gold yang mendominasi.
Istana itu seolah membuat Safira merasa seperti Cinderella yang di kurung di dalam sangkar emas.
Bagaimana tidak,Safira kini tidak bekerja lagi,ia telah mengundurkan diri,dan hal itu karena Arnam yang menyerahkan surat pengunduran diri atas namanya.Ia tidak bekerja,tidak boleh melakukan pekerjaan apapun,bahkan untuk mencuci piring milik nya seorang ia tidak pernah.
Makanan akan datang dengan sendirinya,ia hanya perlu duduk dan berbaring dengan santai sampai makanan itu di antar ke kamarnya langsung.Alasan nya sudah jelas jika Safira tidak ingin makan satu meja dengan Arnam.
Kadang-kadang Sabrina akan datang ke kamarnya sekedar untuk melihatnya,selebihnya Sabrina di sibukan dengan les privat,Safira juga tidak bisa leluasa untuk bertemu anaknya,selain karena ia harus banyak istirahat,kehamilan saat ini benar-benar seolah menyiksa Safira.
Dari mulai gampang lemas hanya dengan berjalan sedikit,nafsu makan berkurang sekalipun ia di hidangkan makanan mewah yang pastinya sangat lezat dan sehat,nyatanya ia tetap makan sedikit dan hanya memakan buah-buahan sebagai pengganti,belum lagi Safira kini suka tidur dan malas keluar
“Mah,Ina berangkat sekolah dulu”ucao Sabrina menghampiri ibunya.
“Ya,hati-hati”Safira tersenyum dan memeluk anaknya.
“Mah,besok Ina pindah ke TK world science”ucap Sabrina terdengar senang.
Safira yang mendengar itu terdengar kesal,bukankah baru 1 bulan lebih anaknya berada di taman kanak-kanak heaven,kenapa harus di pindahkan ke taman kanak-kanak lain.
Safira ingat jika TK word Science itu merupakan TK internasional dan terbaik di negara ini.Selain itu,TK tersebut merupakan tempat berkumpulnya para elite dan konglomerat.Word Science bukan hanya menyediakan Taman kanak-kanak,tapi sekolah dasar,bahkan sampai kuliah pun ada,selain fasilitas nya sangat lengkap di bandingkan dengan yang lain,biaya yang di keluarkan pun tak main-main harganya,maka tak jarang jika word Science sering di katakan sebagai ajang adu kekayaan dan kekuasaan.
Meski tahu jika sekolah yang di pilih Arnam jauh lebih baik dari yang ia pilih, Safira tetap merasa kesal,pasalnya sekolah heaven juga merupakan sekolah terbaik di kota.
Belum lagi jika berada di tempat yang jelas-jelas berkumpul nya para elit,Safira tidak bisa membayangkan akan seperti apa nantinya,apakah akan sama seperti di sekolah heaven?,atau lebih parah dari sekolah heaven.Safira takut jika dengan status anaknya yang di cap tak punya ayah,membuat orang-orang elit itu akan semakin gencar menghina anaknya.
“Mah,ada apa?,apa mamah masih sakit?”tanya Sabrina khawatir.
“Nggak,mamah sudah lebih baik,Ina bisa berangkat,nggak perlu khawatirkan mamah”ucap Safira sedikit tersenyum dengan rasa kesal yang berusaha ia tahan.
“Kalau begitu Ina belangkat,mamah jaga dili baik-baik”Sabrina mencium pipi Safira lalu berlari keluar.
Melihat itu Safira pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya.
__ADS_1
Tok tok tok
Terdengar ketukan sebelum beberapa pelayan masuk dan membawa banyak makanan.
“Kalau begitu kami permisi”ucap salah satu pelayan mewakili yang lain,dan hanya di jawab anggukan oleh Safira.Ia berjalan dengan di bantu dokter pribadinya menuju meja makan yang berada di kamar.
*******
Malam harinya...
Safira terlihat berjalan terburu-buru saat hendak menghampiri Arnam yang berjalan menuju tangga.
“Berhenti!,ada sesuatu yang ingin aku katakan”ucap Safira berhasil membuat langkah Arnam terhenti saat sudah menaiki beberapa anak tangga.
“Kenapa bisa berjalan terburu-buru?”Jelas nada bicaranya terdengar seolah sedang memarahi Safira.
“Bagamana jika nanti istri saya kenapa-kenapa,kenapa kamu tidak menjaga dia dengan baik”marah Arnam pada dokter pribadi Safira
“Maaf tuan”
“Katakan!”jawab Arnam langsung,ia menarik tangan Safira dan menuntut nya agar duduk.
Mendapat perlakuan seperti itu,Safira tidak marah dan hanya menurut karena memang ia sadar dengan kondisi tubuhnya.
“Katakanlah”ucap Arnam lagi dengan nada perintah nya.
“Apa maksudnya dengan memindahkan sekolah Sabrina?”tanya Safira langsung.
“Kamu khawatir jika akan ada yang memperlakukan anak kita dengan tidak baik?”tanya Arnam yang seolah dapat menebak isi pikiran Safira
Safira tidak menjawab tapi keterdiaman nya seolah mengiyakan apa yang Arnam katakan.
“Jangan khawatir,aku telah memikirkan hal itu”jawab Arnam tenang.
“Jangan pernah meremehkan suami mu ini Safira,cukup dengarkan dan turuti apa yang aku katakan,ini jelas demi kebaikan kamu dan anak kita”ucap Arnam dengan sorot mata tajam yang membuat Safira bungkam dan tidak berkutik.
__ADS_1
Cukup diam dan turuti?,apakah Safira segampang itu akan menuruti apa yang Arnam katakan?
“Aku berhak tahu dan khawatir dengan anakku sendiri,apa itu salah?”jawab Safira lagi-lagi terdengar ketus.
“Kamu sedang menghawatirkan apa?”tanya Arnam santai,seakan mengatakan jika kekhawatiran Safira itu tidak beralasan,dan hal itu terasa menohok bagi Safira.
Belum sempat Safira bereaksi, tiba-tiba ponsel Arnam berbunyi.
Arnam langsung mengangkat dan menjawab.
“Katakan”ucap Arnam begitu sambungan telepon terjawab.
Ekspresi Arnam tiba-tiba terlihat serius,ia seolah fokus pada panggilan telepon itu,hingga tanpa sadar Arnam bangkit.
Begitu sambungan telepon terputus,Arnam langsung menoleh ke arah Safira yang ternyata ikut bangkit.
“Kenapa?”tanya Safira penasaran hingga melupakan sikap ketus nya pada Arnam.
Tanpa menjawab,Arnam pun berjalan ke arah Safira,ia mencium pucuk kepala Safira dengan lembut.
“Ada sesuatu hal yang harus aku urus.Kamu hanya perlu di rumah dan jangan melakukan apapun.Cukup diam dan perbanyak istirahat,bila ada yang kamu inginkan,bisa kamu katakan langsung”jawab Arnam yang langsung berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Safira.
Merasa pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban,Safira hanya bisa mendengus kesal.
“Dasar!”ketus Safira yang langsung berjalan menuju kamarnya.
*****
Sementara Arnam langsung masuk begitu Toni membukakan pintu mobil untuknya.
“Apa sudah mendapat titik terang tentang identitas Darto?”tanya Arnam pada Toni sang asisten pribadinya itu.
“Ada beberapa informasi mengenai dia,karena meski Darto telah mati,ada beberapa hal yang perlu kita usut tentang nya”jawab Toni.
Darto yang merupakan Ayah Rena,ia memang telah meninggal di penjara,tapi Arnam curiga dengan identitas Darto yang sepertinya tidak sesederhana itu.Bagaimana pun,asal usul Darto seakan masih menjadi misteri dan Arnam ingin mencari itu,di tambah lagi identitas Darto seolah berhubungan dengan Orang itu.
__ADS_1
“Ya,cari tahu sampai tuntas,jangan lewatkan sedikit pun”ucap Arnam yang di jawab anggukan oleh Toni.