
Keesokan harinya.
Setelah mengantar Anton beserta yang lainnya ke terminal.Safira yang merasa lelah itu langsung duduk di kursi ruang tamu.
“Duh capek banget juga ternyata.Hampir sejam aku berdiri di depan terminal menunggu bus yang akan mengantar kakek dan nenek pulang,dan ternyata lelahnya itu seletih ini”ucap Safira pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba di saat Safira sedang fokus memijat kakinya menggunakan tangannya sendiri,ia pun langsung mengerutkan keningnya saat melihat Rara yang menghampirinya dengan wajah lesu.
Tapi meski begitu Safira hanya diam,seolah menunggu Rara untuk bercerita padanya.
“Kakak”panggil Rara pelan saat telah duduk di samping kakaknya.
“Hmm?”jawab Safira dengan deheman heran.
Safira merasa sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Rara,karena enggan bertanya,ia hanya diam dan bersabar menunggu apa yang akan Rara katakan selanjutnya.
Dan bukannya sebuah perkataan yang Safira dengar,melainkan sebuah helaan nafas panjang yang pertama kali keluar dari mulut Rara.
“Kenapa?ada masalah?”tanya Safira cepat karena khawatir
“Kak,Rara ingin bicara sama kakak.Tapi kakak jangan tersinggung ya?”ucap Rara membuat Safira langsung penasaran.
“Iya”jawab Safira cepat,saking penasarannya.
“Kenapa sih kak?,kenapa kakak setuju untuk tinggal berdua bersama kak Arnam.Maksud Rara gini,kenapa kakak nggak tolak ajakan kak Arnam yang ingin kakak tinggal terpisah dengan orang tua kakak sendiri”ucap Rara dengan nada pelan.
__ADS_1
Mengungkapan keberatannya secara tak langsung.
“Ya karena sekarang mas Arnam adalah suami kakak,dan kakak harus patuh dengan keinginan suami kakak,bukan begitu?”ucap Safira diakhiri sebuah pertanyaan yang seolah tak perlu dijawab oleh Rara.
“Tapi kak...kakak nggak merasa keberatan gitu,kakak kan sudah terbiasa tinggal sama ayah dan ibu juga Rara.Kenapa sih kalian berdua nggak tetap tinggal di sini saja?”ucap Rara lagi dengan wajah yang terlihat menyembunyikan rasa tidak rela dalam ucapannya itu.
“Ya mungkin ini saatnya untuk kakak hidup mandiri,dan untuk mewujudkan hal itu,kakak harus tinggal berdua bersama suami kakak”jawab Safira santai.Mengusap pelan pundak Rara,seolah ia tahu akan keberatan adiknya itu.
“Hais,kakak nggak sedih gitu harus tinggalin kami bertiga?”tanya Rara.Ia bertanya seperti itu seolah ingin agar Safira berubah pikiran dan tetap tinggal di sini.
Safira yang sebenarnya merasa sedikit sedih dan terharu.Tapi sebisa mungkin ia sembunyikan itu,karena ia harus kuat,agar tidak terlalu bergantung dan menjadi beban bagi orang tuanya.
“Uhhh,tiba-tiba kakak kok merasa sedih dan terharu ya”ucap Safira dengan wajah yang menyembunyikan kesedihannya.ia menatap Rara dengan tatapan meledeknya.
“Kakak!!”Rara langsung mendengus kesal saat melihat tatapan kakaknya itu.
Dan benar saja,Rara langsung mencebik kesal saat mendengar ucapan Safira itu.Tanpa mengatakan apapun Rara pun langsung berdiri dan meninggalkan Safira.
‘Kenapa kakak bisa tahu sih!’pikir Rara kesal.
Rara memang merasa gengsi untuk menahan kakaknya agar tetap tinggal di sini.Ia memang sudah terbiasa untuk tidak menunjukan rasa sayangnya pada kakaknya secara berlebihan.Tapi yang jelas Rara sangat sayang pada kakaknya itu,amat sangat sayang.
Sama seperti Safira yang juga sangat menyayangi Rara,hanya saja mereka berdua tidak bisa mengekspresikan rasa sayangnya dengan baik,mereka tidak bisa hidup se-rukun kakak adik yang lain,tapi mereka saling sayang dengan cara mereka sendiri.
Safira yang melihat kepergian Rara,ia pun hanya tersenyum.Setelah nya,Safira ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
* Di dalam kamar.
Safira yang melihat Arnam sedang duduk di sisi kasur,dengan tangan yang sedang mengutak-atik ponselnya.Tanpa berniat menghentikan langkahnya,Safira pun terus berjalan ke arah Arnam.
Arnam yang sudah sadar akan kedatangan Safira pun langsung menoleh setelah ia mematikan ponselnya.
“Kamu sedang apa?”tanya Safira saat ia sudah duduk di samping Arnam.
“Hanya urusan pekerjaan”jawab Arnam langsung.
“Oh”jawab Safira singkat.
Setelah itu suasana diantara mereka berdua pun menjadi hening.Tidak ada yang berbicara kembali karena tidak ada obrolan yang harus mereka bahas.
“Kalau begitu aku mandi dulu”Safira ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan letih.
“Apa sebaiknya kita menunda kepindahan kita,atau lebih baik kita tinggal di sini saja”ucap Arnam tiba-tiba yang sontak membuat Safira yang hendak bangkit itu langsung menatap ke arahnya.
“Kenapa?,kamu dengar ya apa yang Rara dan aku bicarakan di ruang tamu?”tanya Safira menebak.
“Iya bisa di katakan seperti itu.Tapi aku mendengar itu bukan karena berniat untuk menguping, melainkan karena aku tak sengaja mendengar itu”ucap Arnam menjelaskan.Lebih tepatnya Arnam mendengar pembicaraan Rara dan Safira,saat dirinya tak sengaja melewati ruang tamu setelah ia selesai mandi.
Safira menatap ke arah Arnam lekat-lekat.Ia tanpa sengaja bisa melihat ada sedikit bulir-bulir air di rambut Arnam yang menandakan jika Arnam baru selesai mandi.
“Tidak usah,aku tahu ini berat untuk kita semua.Tapi yang jelas ini juga untuk kebaikan kita semua.Dan mungkin akan sedikit sulit untuk aku yang tidak pernah jauh dari kedua orang tuaku,tapi aku yakin ini adalah salah satu cara agar aku bisa lebih bersikap dewasa dan mandiri”ucap Safira berusaha menenangkan kekhawatiran Arnam.
__ADS_1
Safira tahu jika Arnam merasa bersalah telah mengajak dirinya untuk tinggal berjauhan dengan kedua orang tua dan keluarganya,jadi Safira berusaha untuk menenangkan kegelisahan Arnam itu.