AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!

AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!
Menjauh


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Setelah berlibur cukup lama,Safira kini kembali bekerja seperti biasa.


“Good morning sayang”sapa Safira sambil mencium pucuk kepala Sabrina sebelum ia duduk di samping anaknya itu.


Sabrina yang sedang memakan sarapannya itu,ia hanya diam dan sedikit tersenyum ke arah Ibunya.


“Good molning mah...”jawab Sabrina membalas sapaan Safira dengan nada yang sedikit cadel.


“Tumben Ina udah bangun jam segini?,biasanya kan kamu masih tidur kalau jam segini?”tanya Safira sedikit heran.


“Hali ini Ina sudah janji dengan kak Anne,Ina mau lihat tempat kak Anne sekolah,bolehkan mah?”ucap Sabrina meminta izin.


“Ina ke sana sama bibi kok”jelas Sabrna,ia memang memanggil pengasuh nya dengan sebutan bibi.


Kebetulan beberapa waktu lalu Safira sudah menemukan pembantu baru,jadi tidak masalah jika bibi pengasuh ikut dengan Sabrina.


“Okey”jawab Safira singkat di sertai senyuman.


...*****...


Sesampainya di perusahaan.


Safira langsung memasuki ruangan nya,dan saat ia hendak duduk,tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya.


“Masuk”


Orang yang mengetuk itu pun masuk saat mendengar ucapan Safira.


“Ada apa?”tanya Safira saat ia sudah duduk.


“Pak Bram memerintahkan saya agar ibu segera datang ke ruangan pak Bram”ucap seorang wanita yang merupakan salah satu bawahannya di kantor.


“Baiklah,saya akan segera ke sana”jawab Safira sedikit mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


“Kalau begitu saya pamit”ucap karyawan wanita itu lagi dengan nada sopan.


Lagi-lagi Safira hanya mengangguk tanpa berkata.


Melihat kepergian si karyawan tadi,Safira hanya diam untuk sejenak,ia terlihat berfikir.


“Apa aku akan di pecat?”tanya Safira menebak-nebak.Terakhir kali ia pergi dari perusahaan tanpa izin karena terburu-buru ke rumah sakit untuk melihat keadaan anaknya,dan setelah itu ia meminta cuti panjang.Kemungkinan untuk di pecat cukup besar sih,walau ia cukup berjasa pada perusahaan,tapi ia bukan pemilik perusahaan.


Dengan sedikit gugup Safira bangkit dari duduknya.


“Tenangkan dirimu Safira,jangan berfikir macam-macam,ini kan hanya dugaan saja”Safira berusaha untuk tetap tenang.Ia pun melangkah keluar dari ruangannya.


Sesampainya Safira di depan ruangan Bram.Safira kembali terlihat gugup,tapi meski begitu ia tetap melangkah.


Safira pun menghela nafas panjang sebelum membuka pintu.“Ayo tetap tenang!”ucap Safira berusaha untuk tidak gugup.


“Bapak memanggil saya?”tanya Safira sopan.Bram hanya mengangguk dan menatap ke arah kursi di hadapannya seolah mengatakan agar Safira duduk.


Paham dengan yang dimaksud oleh Bram,Safira hanya duduk.


“Ada apa pak?”tanya Safira langsung keintinya,ia berkata dengan sopan.


Bram hanya diam sambil menatap ke arah Safira dengan tatapan yang rumit.


“Safira”panggil seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Bram.


Dan ternyata itu adalah Farrel.


“Pah,ada apa papah memanggil Safira ke sini?”tanya Farrel saat berada di samping Safira,ia mengatakan itu secara langsung sambil menatap ayahnya.


Farrel jelas sudah mendengar saat Safira pergi dari perusahaan tanpa meminta izin pada ayah atau dirinya secara langsung,tapi ia bisa mengerti itu,karena ia bisa menebak seberapa paniknya Safira saat itu.Dan ia juga tahu bahwa Safira melakukan itu karena sangat khawatir kepada anaknya itu.


Dan pada saat Farrel tanpa sengaja mendengar salah satu karyawan yang mengobrol diam-diam tentang Safira yang di panggil langsung oleh ayahnya,jelas ia langsung panik dan datang saat itu juga,karena Farrel tahu jika ayahnya sangat disiplin.


Sedangkan Safira yang langsung menoleh ke arah Farrel,di saat Farrel memanggilnya,ia pun hanya diam lalu kembali menatap ke arah Bram yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“Farrel,eh maaf maksud saya,tuan Farrel,untuk apa anda ada di sini?”tanya Safira sedikit kaku.


Farrel yang mendengar itu,jelas ia langsung mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Safira.Jelas ia memang meminta Safira untuk memanggil namanya secara langsung,dan Safira secara paksa menuruti itu,asal ia hanya memanggil panggilan itu saat tidak di perusahaan,itu pun kadang-kadang.


Mungkin jika mereka saat ini bukan berada di perusahaan,Farrel akan menegurnya,tapi saat ini mereka sedang berada di perusahaan.Alhasil Farrel pun tidak bisa protes akan hal itu.


Melihat Safira tidak menatap ke arahnya saat berbicara,hal itu membuat dada Farrel sedikit sesak,dan tidak terima.


’Apakah Safira tahu tentang perasaan ku?,padahal aku ingin secara perlahan memasuki hatinya,baru setelah itu jujur padanya’pikir Farrel sedikit murung.


Karena ia bisa menebak setelah ini Safira pasti akan menjaga jarak dengan nya.


Tanpa menjawab pertanyaan Safira,Farrel kembali menatap ayahnya.


“Pah,jangan pecat Safira.Waktu itu Safira pulang cepat karena dia buru-buru dan khawatir akan keselamatan anaknya,lagipula sesudah hari itu kita sudah sepakat untuk memberikan cuti beberapa hari bagi karyawan yang berjasa besar dalam proyek kemarin kan?”ucap Farrel dengan panjang lebar.Seolah ia sedang mengingatkan ayahnya itu.


Bram awalnya hanya diam,tapi kemudian raut wajahnya mengeras karena perkataan Farrel tadi.


“Keluar!”usir Bram pada anaknya.


Jelas Farrel yang mendengar itu merasa enggan untuk keluar.“Pah”ucap Farrel dengan wajah sedikit mengeras dan suara yang kentara sedang menahan amarah.


“Papah bilang keluar!,apa kamu tuli!?”ucap Bram dengan nada sedikit meninggi.Tapi Farrel masih tetap enggan keluar.


“Papah nggak akan pecat Safira”ucap Bram pada akhirnya dengan sedikit menurunkan volume suaranya itu.


Mendengar hal itu,Farrel pun mulai sedikit tenang.


“Tapi Farrel.Apakah kamu tidak tahu?,jika perilaku kamu hari ini telah menunjukkan perasaan kamu pada Safira”ucap Bram pelan,entah ia berbisik atau tidak,yang jelas Safira sedikit mendengar itu walau tidak terlalu jelas.


Farrel seakan bisa menebak itu,ia pun hanya diam dan melirik ke arah Safira yang hanya diam dengan pandangan sulit di tebak.


Awalnya Farrel memang sengaja menyembunyikan perasaannya dari Safira,ia ingin mengungkapkan itu pada Safira langsung saat Safira sudah bisa membuka hatinya untuknya.Tapi Farrel yakin jika Safira sudah mengetahui perasaannya itu,hingga ia menjaga jarak darinya.


“Kalau begitu Farrel keluar”ucap Farrel langsung berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu,tanpa menjawab ucapan sang Ayah.

__ADS_1


*****


__ADS_2