
Saat ini Arnam dan Safira sedang berada di ruang tamu.Safira kini hanya diam dengan mata yang menatap tajam ke arah Arnam.
Awalnya jika Safira bertemu Arnam,ia ingin marah-marah atau bila perlu ia akan menghajar Arnam sampai puas.Tapi sekarang?,entahlah ia rasanya tak memiliki tenaga untuk hal itu.
Suasana pun menjadi hening untuk waktu yang cukup lama,karena tidak ada yang membuka suara lebih dulu.
“Kenapa kamu ke sini?”ucap Safira yang akhirnya buka suara saat menyadari jika Arnam tidak berniat untuk memulai pembicaraan.
Rasanya saat ini Safira ingin langsung bertanya banyak pertanyaan pada Arnam,tapi sayangnya ia tidak mampu untuk mengungkapkan semua pertanyaan yang telah ia susun,semua kata-kata itu rasanya hancur tak terbentuk!
Saat Safira melihat wajah Arnam,entah kenapa ia bisa merasa sedikit lemah dan tak berdaya,ia sedih marah,dan kecewa,Arnam membohongi nya itu rasanya mimpi buruk.Benarkah Arnam Setega itu mengkhianati nya?,lalu kenapa Arnam berbohong?
Arnam yang hanya diam,ia pun berjalan semakin mendekat ke arah Safira,ia ingin memeluk dan menenangkan Safira,Arnam paling tahu jika Safira lebih suka tindakan dari pada omong kosong!
Safira yang melihat itu,ia secara refleks langsung berjalan mundur.
“Stop di sana! dan jangan melangkah untuk lebih dekat lagi”ucap Safira penuh penekanan yang terdengar seperti ancaman untuk Arnam.
Entah kenapa Safira merasa kalut saat Arnam mendekat.Arnam paling tahu jika Safira sedih ia butuh pelukan,oleh karena itu saat Safira sedih Arnam akan memeluk dan menenangkan nya!.Dan hal itu membuat Safira takut dan tersadar,ia takut jika akan dengan mudah luluh oleh Arnam,ia juga tersadar sekaligus tak percaya jika orang yang ia yakini sangat menyayangi nya itu kini telah mengkhianati dan membohongi nya!!
Arnam yang mendengar hal itu langsung menghentikan langkahnya detik itu juga.Ia tidak ingin membuat Safira semakin marah dan membencinya,maka dari itu Arnam berusaha untuk tetap tenang,walau sebenarnya ia ingin langsung memeluk Safira dengan erat,seakan ia berjanji tidak akan meninggalkan Safira bagaimana pun keadaannya,sekalipun Safira berada di saat yang terburuk!.
“Arnam”
Safira awalnya tidak bermaksud untuk memanggil nama Arnam secara langsung,tapi entah kenapa justru kata itulah yang keluar dari mulutnya.
Saat melihat ekspresi Arnam yang sedang menahan rasa kesal karena ucapannya itu,ia sedikit gugup akan hal itu,rasanya Arnam belum pernah menunjukkan kekesalannya secara jelas padanya.
__ADS_1
“Bukankah seharusnya anda pulang ke rumah istri anda?,tapi kenapa anda malah datang ke sini?”lanjut Safira dengan nada sinisnya.
Safira akan menggunakan kata-kata yang terdengar formal dan terasa asing saat sedang marah pada seseorang,termasuk Arnam.
Arnam yang mendengar itu ia tetap diam,tapi tatapan matanya kini menatap Safira dengan tatapan yang rumit.
“Kamu itu istri saya!,bukan orang lain!,jadi saya berhak untuk bertemu dengan kamu kapan pun itu!”jawab Arnam disertai penekanan.
Di saat Safira memanggil nama nya langsung Arnam sudah kesal,apalagi dengan kata-kata formal yang terdengar seolah ia adalah orang asing bagi Safira.Hal itu membuat Arnam benar-benar tak terima dan tersulut emosi,ia ingin menjelaskan langsung pada Safira,tapi apakah ini waktu yang tepat?
“Heh?!,istri kamu?!!.Oh ya??!”jawab Safira sinis disertai dengusan yang tak kalah sinisnya.
Emosi Safira yang awalnya hilang itu langsung kembali saat mendengar kata istri',benarkah Arnam menganggapnya istri?,istri kedua maksud!!?
“Ya saya akui kalau saya itu adalah istri anda!,atau lebih tepatnya saya itu istri kedua anda!”Lagi-lagi dengan sinisnya Safira berbicara di sertai penekanan.
Kedua tangannya terkepal erat,ia berusaha untuk tidak menangis dihadapan Arnam karena emosinya yang tidak stabil.
Arnam akui jika dirinya itu egois karena telah membohongi Safira!!
“Kenapa anda bisa tega bohongin saya?,apa salah saya pada anda hingga anda tega menyembunyikan fakta ini?”tanya Safira berusaha tetap tenang dengan tangan yang masih terkepal,justru kepalan itu semakin erat,seolah ia kini sedang menahan amarah yang ingin meluap-luap.
“Maaf,aku hanya tidak ingin kamu pergi,karena aku tahu jika kamu mendengar kebenaran ini aku pasti akan kehilangan kamu,jadi bukankah lebih baik kamu tidak perlu mengetahui kebenaran ini sama sekali?”ungkap Arnam lembut,tanpa kata formal dalam ucapannya itu.
Seolah Safira adalah kehidupannya..
Kebahagiaan nya..
__ADS_1
Dan juga penyemangat sekaligus alasan ia masih hidup dan bertahan hingga saat ini...
Sebenarnya Arnam pernah berfikir untuk menjelaskan pada Safira tentang kebenaran ini secara perlahan,ia juga berniat mengungkapkan alasan kenapa ia bisa menikahi Rena,tapi sayangnya Arnam tidak berfikir ke arah Rena yang akan nekat menemui Safira secara langsung,dan itu di saat dirinya tidak ada.
Safira mendengar ucapan Arnam,tubuhnya tiba-tiba bergetar dengan tangan yang terkepal semakin erat dan semakin erat,hingga tanpa sadar ujung kukunya telah memutih,dan untung saja kuku Safira pendek,jika panjang bisa di pastikan kuku itu akan mengoyak kulitnya sangat dalam.
Safira langsung menatap ke arah Arnam dengan tatapan tak suka sekaligus benci.
“Sialan dasar brengsek!”Safira mengumpat,emosinya rasanya semakin membuncah begitu mendengar kata-kata Arnam yang terasa egois untuknya.
“Kalau begitu kita akhiri saja hubungan ini!,Saya harap agar kita bisa hidup masing-masing dan diakhiri secara baik-baik”ungkap Safira dengan nada pelan yang terdengar tegas.
Bodoh!!!
Kata itu lah yang Safira ucapkan dalam hati untuk dirinya sendiri.Mana mungkin mereka bisa berpisah secara baik-baik,karena sudah jelas jika sampai mereka bercerai mungkin Safira akan berusaha menghindar dari Arnam,tapi apakah bisa Arnam melepaskan nya begitu saja??.
Arnam merasa tidak terima dan tak akan pernah setuju dengan hal itu,ia sontak langsung berjalan semakin mendekat ke arah Safira.Tatapan matanya menatap Safira dengan tatapan dalam,seakan ia ingin menelan Safira hidup-hidup.
“Mundur!”ucap Safira pada Arnam,ia berkata dengan suara yang sedikit tinggi karena takut.
Apakah Safira telah salah mengucapkan kata-kata itu?...
Kalau memang iya,Safira benar-benar tak menduga jika respon Arnam akan semenakutkan ini...
Safira belum pernah melihat ekspresi Arnam saat ini,ia merasa takut saat melihat Arnam ekspresi Arnam yang mulai hilang kendali.
Dan tanpa sadar Safira terus berjalan semakin mundur,sedangkan Arnam terus berjalan semakin maju.
__ADS_1
Tap tap tap
Bunyi sepatu Arnam yang saling beradu dengan lantai,langkah kaki Arnam yang lebar semakin mengikis jarak antara dirinya dan Safira