
Kini Salma yang telah berada di rumah keluarga besar Rey,ia hanya diam dengan wajah yang sedikit murung.
“Kenapa?”tanya Rey yang kini sedang memangku Della keponakannya.
Salma yang sedikit melamun itu,ia langsung tersadar dari lamunannya itu.
“Nggak,nggak apa-apa”jawab Salma dengan nada sedikit lesu dan tak bersemangat.
Rey yang mendengar itu hanya bisa mengerutkan dahinya bingung.Della yang tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan,ia pun hanya asik di pangkuan Rey sambil memakan permen lolipop.Tapi saat ia melihat Salma hanya diam saja,ia pun langsung menatap Salma dan menghentikan aktivitasnya itu.
“Tante kenapa?”tanya Della yang sebenarnya bernama Adelia,hanya saja Rey dan Salma sering memanggilnya dengan panggilan Della.
“Nggak sayang,Tante cuman capek”ucap Salma sambil tersenyum kecil,senyumnya itu seakan di paksakan,dan itu terlihat jelas di mata Rey jika Salma sedang memiliki masalah.
“Kamu sudah beli keperluan untuk kita liburan nanti?”tanya Rey yang ingat jika tadi Salma keluar untuk membeli keperluan liburan untuk Minggu depan,bersama dengan Della dan keluarganya nanti.
Salma yang mendengar itu pun langsung teringat akan hal itu.
“Oh ya aku lupa”ucap Salma yang merasa tersentak kaget karena ucapan Rey itu,ia tadi langsung pulang setelah tidak berhasil menemukan Safira,karena Salma tidak memiliki mood lagi untuk berbelanja.
“Santai saja sal,aku nggak marah kok”ucap Rey yang merasa sedikit kaget karena Salma sedikit berteriak saat mengatakan hal itu.
Della yang berada di pangkuan Rey pun tak kalah kaget,tapi untungnya Rey langsung memeluknya agar Della tidak terjatuh.
“Maaf maaf,aku hanya kaget”ucap Salma sedikit cengengesan dan tersenyum lembut ke arah Della.
“It's okey nggak masalah”jawab Rey santai berusaha menenangkan.
Rey pun menunduk dan menatap ke arah Della yang ada di pangkuannya.
“Della sayang kamu main sama yang lain dulu ya,om ada yang mau di omongin sama Tante Salma”ucap Rey dengan nada lembut yang langsung di angguki oleh Della.
Setelah kepergian Della,mereka berdua pun hanya diam seolah sedang menyelami pikiran mereka masing-masing.
“Ada apa?”tanya Rey lagi untuk kedua kalinya,ia berusaha memecahkan keheningan yang terasa.
__ADS_1
Mendengar itu,Salma hanya menatap ke arah Rey,ia diam sejenak seolah masih berfikir.
“Aku tadi merasa melihat Safira”ucap Salma pada akhirnya mengungkapkan pemikiran yang bersarang di otaknya.
“Kamu yakin itu Safira?”tanya Rey memastikan.
“Iya,aku yakin!!,aku yakin banget kalau itu Safira!”jawab Salma tegas.
“Lalu?”tanya Rey yang penasaran akan kelanjutan cerita Salma.
“Aku tadi awalnya cuman mau beli keperluan untuk kita liburan nanti,tapi ternyata aku tanpa sengaja melihat orang yang mirip banget Safira secara sekilas.Nah karena penasaran aku matikan sambungan telepon kita tadi,terus aku kejar dia.Tapi pas aku tepuk orang itu dan ternyata yang berbalik bukan Safira”ucap Salma menjelaskan.
Salma yakin jika itu Safira karena postur dan wajahnya secara sekilas mirip,belum lagi cara jalannya Safira yang khas,tapi ia memang sempat kesulitan saat mengejar Safira yang telah jauh darinya.
Hingga Salma tidak memperhatikan cara berjalan orang yang di panggilnya,karena yang ia perhatikan hanya bajunya saja yang mirip.
“Oh ya,terus kalau kamu ketemu Safira kamu mau apa?”tanya Rey pada Salma.
Mendengar hal itu Salma langsung menatap Rey dengan tatapan tidak suka.
“Bukan begitu,aku peduli,kalau perlu jujur aku juga mau ketemu sama Safira,cuman aku penasaran sama kamu,apakah kamu masih menyalahkan kepergian Safira yang pergi tanpa kabar?”tanya Rey menjelaskan,memang benar jika selama ini Salma lah yang paling merasa kehilangan Safira,ia juga lah yang merasa paling kecewa dan menyalakan Safira yang pergi tanpa kabar,apalagi saat itu Safira sedang hamil di usia kehamilan yang masih muda dan sangat rentan keguguran.
“Kalau memang menyalahkan,mungkin masih ada,karena kenapa sih Safira bisa seegois itu,memangnya ia tidak berfikir tentang kehamilan nya yang masih muda apa,dia pikir dia bisa hidup sendiri dengan kondisi seperti itu?”ucap Salma sedikit menggebu-gebu.
“Emang apa alasannya sih dia pergi seperti itu?,kalau memang ada masalah kenapa nggak cerita ke kita coba,emangnya dia pikir kita nggak akan berusaha bantu apa?”lanjut Salma lagi dengan nada yang masih menggebu-gebu.
“Nah itu,itu yang aku takutkan dari kamu kalau ketemu Safira nanti.Emangnya kamu tahu seperti apa masalah Safira?,kita kan nggak bisa berfikir seenaknya pada Safira,karena nggak semua masalah bisa kita bicarakan secara leluasa,sekalipun pada orang terdekat kita”ucap Rey yang seolah berusaha meredakan emosi Salma,yang seakan merasa tidak terima ditinggal Safira begitu saja.
Mendengar ucapan Rey,entah kenapa Salma tidak emosi seperti biasa saat berdebat dengan Rey,jutsru yang ada ia menjadi lebih tenang dan semakin berfikir lebih dalam.
Apa yang dikatakan oleh Rey ada benarnya,karena Salma juga tahu jika Rey pernah merasakan hal itu,contohnya adalah alasan kenapa ia bisa bersikap playboy dulu,yaitu karena ibu nya pergi dengan laki-laki lain dan meninggalkan dirinya dan ayahnya.Dan saat itu juga Rey nggak jujur tentang masalah keluarga nya,karena memang Rey tak mampu untuk menceritakan hal itu.
“Apa yang kamu bicarakan benar,seharusnya aku nggak berfikir buruk tentang Safira.
Mungkin memang ada masalah yang tidak bisa dikatakan secara langsung,dan tidak seharusnya aku menyalakan Safira,karena kita tidak tahu apa yang menyebabkan Safira berbuat seperti itu”ucap Salma pada akhirnya.
__ADS_1
.....
Malam harinya
Seperti biasa,Safira akan menonton televisi bareng bersama Sabrina.Atau lebih tepatnya Safira sendiri yang menonton televisi karena Sabrina hanya menemaninya sambil memainkan game.
“Mah..”panggil Sabrina.
Safira tetap diam dengan pandangan lurus ke depan seolah sedang menonton televisi.
Melihat itu Sabrina kembali memainkan game di layar iPad nya.
Beberapa menit berlalu,Safira tetap di posisi yang sama,bahkan di saat acara yang sedang ia tonton telah berakhir,ia tetap tidak mengubah posisinya.
“Mah..”panggil Sabrina lagi,tapi lagi-lagi tidak ada respon dari Safira.
“Mah...mamah...”kini Sabrina beralih menepuk-nepuk pundak Safira hingga Safira merasa tersentak kaget.
“Ina,kamu ngagetin mamah ih”ucap Safira dengan nada terkejutnya.
“Lagian mamah kenapa hanya diam saja saat Ina panggil.Ina pikil mamah tadi hanya diam kalena sedang fokus nonton film,tapi telnyata nggak”ucap Sabrina sambil menatap ke arah Safira.
Mendengar hal itu,Safira hanya bisa diam dengan tangan yang mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal.
“Em...Ina,ini sudah malam.Kita tidur yuk nak”ucap Safira yang memilih menatap ke arah lain,seolah tidak ingin melihat ke arah anaknya yang sedang menatapnya dengan tatapan bertanya.
Sabrina yang merasa ibunya tidak ingin menjawab pertanyaan itu,ia pun hanya bisa memendam rasa penasaran nya itu.
“Okey,kalau gitu Ina matikan ini dulu”ucap Sabrina yang langsung meletakan iPad nya di atas meja setelah mematikan layarnya.
Safira pun memilih mematikannya televisi dan menggendong anaknya yang telah merentangkan tangannya dari tadi.
“Ina hali ini tidul baleng mamah ya?”tanya Sabrina meminta persetujuan Safira dan Safira yang mendengar itu langsung mengangguk setuju.
“Yeayyy”girang Sabrina yang langsung memeluk Safira,dan Safira pun balas mengeratkan tangannya yang sedang menggendong Sabrina di depannya.
__ADS_1