
Sesampainya di rumah.
Susan dan Rena pun langsung memasuki kamar milik Rena.“Ibu,hari ini aku akan tinggal di sini”ucap Rena terdengar memberi tahu.
“Ibu tidak masalah akan hal itu,tapi apakah Arnam tidak akan mencari kamu?”
“Jangankan mencariku,bahkan peduli padaku saja juga tidak! Bu.Dia sama sekali nggak pernah peduli tentang bagaimana! dan apa yang! aku lakukan
”.ungkap Rena dengan nada yang terdengar kesal.
Mendengar hal itu,Susan mulai terlihat sedikit panik.
“Gawat,gimana kalau ayah kamu tahu.Bukankah sudah ayah kamu perintahkan agar kamu bisa merayu Arnam,tapi kenapa sampai sekarang kamu belum juga bisa mendapatkan hatinya?”kesal Susan dengan raut wajah sedikit khawatir.
“Tapi Bu,kita kan baru menikah,mana bisa Arnam langsung mencintaiku.Lagipula,ada Safira yang menjadi penghalang dalam hubungan kami”ungkap Rena terdengar semakin kesal.
“Ya,awalnya ibu yakin kamu bisa buat Arnam bertekuk lutut di hadapan kamu dalam waktu dekat.Tapi,apa yang kamu katakan ada benarnya juga,karena ada Safira yang jadi penghalang dalam hubungan kalian”ucap Susan mulai mengerti akan situasi anaknya,biasanya dia akan sangat yakin jika Rena bisa membuat laki-laki manapun untuk bertekuk lutut padanya dalam waktu dekat,tapi di sini ada Safira yang jadi penghalang terbesarnya.
“Meski begitu,ibu yakin jika kamu bisa mendapatkan hati Arnam.Bukankah banyak perempuan yang hatinya kamu patahkan karena kamu rebut pasangannya itu”lanjut Susan masih yakin akan kemampuan anaknya.
Mendengar itu,awalnya Rena langsung percaya diri,tapi beberapa saat kemudian ia teringat akan masalahnya.
“Tapi Bu,Arnam telah mengatakan semua keburukan aku,dia sudah tahu semua itu”jawab Rena terdengar mengeluh.
“Itu tidak mungkin!.Kami sudah berusaha mati-matian untuk memusnahkan bukti-bukti kejahatan kita,dan lagi ada yang membantu kita untuk menutupi bukti-bukti itu.Dan untuk rumor yang memang sudah beredar,mana mungkin bisa dihilangkan begitu saja.Lagipula yang Arnam ketahui hanya rumor,jadi kamu nggak perlu khawatir”ucap Susan yakin.
Susan masih memiliki harapan akan hubungan anaknya dengan Arnam.Susan berfikir jika Arnam tidak akan percaya pada rumor itu lagi,asalkan bukti yang telah berusaha mereka hancurkan tidak bisa di temukan.
“Dan juga bukankah saat mengatakan itu Arnam tidak bisa menunjukkan buktinya?”lanjut Susan yang langsung membuat Rena merasa lega.Perhatianya akan orang yang membantu menutupi kejahatannya tidak ia perhatikan lagi,mungkin itu ayah nya.
“Apa yang ibu katakan itu benar,tapi bagaimana pun Arnam itu tidak sama dengan orang-orang yang telah dengan mudah kita bodohi.Dan dia juga jauh lebih hebat dan pintar dari orang-orang bodoh itu,lalu bagaiman jika bukti itu bisa langsung di temukan sebelum kita mendapatkan apa yang kita inginkan”ucap Rena yang masih merasa sedikit khawatir.
“Maka dari itu kamu harus bisa mendapatkan hatinya,dan ibu yakin jika kamu pasti bisa”ucap Susan berusaha untuk meyakinkan anaknya.
__ADS_1
“Tapi bagaimana caranya Bu?”tanya Rena yang seakan tidak memiliki ide.
“Buat dia malu,kalau perlu kamu permalukan dia di depan semua orang.Biasanya saat itulah titik terendah yang bisa kita manfaatkan”ucap Susan memberi ide.
“Maksud ibu?”tanya Rena yang masih tidak paham
“Katanya kamu dan mertua kamu telah memiliki rencana,bagaiman jika sebelum itu terjadi kamu sudah lebih dulu mempermalukan dia.Dengan begitu,dia pasti tidak akan merasa kuat untuk menanggung semua masalah yang datang kepadanya secara bertubi-tubi”ucap Susan lagi mencoba untuk menjelaskan.Dan 'dia' yang di maksud Susan adalah Safira.
“Coba jelaskan yang lebih jelas tentang rencana ibu,jangan berbelit begini”ucap Rena yang masih belum paham.
“Seminggu lagi kamu akan mengadakan ulang tahun,dan itu bertepatan dengan beberapa hari menjelang hari di mana Arnam resmi menjadi direktur di perusahaannya sendiri.Pasti nanti akan banyak berita yang ingin tahu tentang Arnam dan kamu,jadi jadikan hari ulangtahun kamu untuk membuat publik tahu tentang sosok Safira,terlebih lagi kamu harus buat dia malu hingga tidak berani untuk menampakkan diri lagi”jelas Susan dengan segala rencana jahat yang telah ia susun rapi di otaknya.
Mendengar rencana ibunya itu,Rena pun tersenyum,
dan karena merasa sangat senang dengan ide ibunya itu,ia pun langsung tertawa sampai terbahak-bahak saat membayangkan betapa malunya Safira nanti.
“Benar kata ibu”ucap Rena yang kala itu telah menghentikan tawanya.
“Jadi kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya?”tanya Susan.
*****
Beberapa hari telah berlalu.
Seperti yang telah di janjikan oleh Safira pada Salma.Ia pun langsung mengajak Salma untuk bertemu.
Dan akhirnya di sini mereka sekarang.
Mereka kini sedang berada di sebuah taman yang sering mereka kunjungi.“Apa masalah yang kamu hadapi telah terselesaikan?”tanya Salma pada Safira,ia memulai percakapan untuk memecahkan keheningan.
“Iya,sepertinya begitu”jawab Safira terdengar tidak pasti.
“Maaf Fi,aku bukan sahabat yang baik untuk kamu”ucap Salma terdengar merasa bersalah.
__ADS_1
Mendengar hal itu sontak Safira langsung menatap ke arah Salma.“Maksud kamu apa?”tanya Safira yang langsung berhadapan dengan Salma.
“Di saat kamu ada masalah,kita yang katanya sahabat kamu malah nggak bisa lakuin apa-apa.
Jangankan membantu,tapi yang ada justru kita yang menyusahkan kamu dan membuat kamu khawatir”ucap Salma yang tahu jika Safira pasti memikirkan dirinya dan ketiga sahabat lainnya.Karena yang Safira takutkan adalah jika sahabatnya nanti akan berbuat nekat hingga menyakiti dirinya sendiri.
“Tidak,aku bisa mengerti itu kok”ucap Safira terdengar menenangkan.
“Tapi tetap aja kami masih merasa bersalah,terutama aku,aku selalu merasa jika diri aku itu orang yang nggak tahu diri.Padahal selama ini jika aku ada masalah,kamu yang sering bantu aku”ucap Salma dengan nada yang terdengar semakin merasa bersalah.
“Kalau kamu masih menyalahkan diri kamu,lebih baik aku pulang aja deh”keluh Safira yang merasa enggan saat mendengar sahabatnya menyalahkan dirinya sendiri.Padahal Safira tahu jika sahabatnya itu bukan orang yang seperti itu
“Eh tunggu!,iya aku akan berhenti untuk menyalahkan diri sendiri,tapi jangan pergi”ucap Salma sambil menahan tangan Safira yang hendak bangkit.
“Ok”jawab Safira langsung setuju.
“Sebenarnya aku ke sini karena ingin mengatakan jika masalah yang sedang aku hadapi hampir selesai,jadi kalian nggak perlu khawatir”ucap Safira memberitahu.Salma langsung tersenyum senang akan hal itu.
“Syukurlah kalau begitu”ucap Salma yang ikut senang.
Seperti biasa jika memiliki masalah,seringkali Safira akan menyendiri untuk menenangkan diri,baru setelah masalahnya hampir selesai ia akan bercerita pada sahabatnya.Dan kadang jika masalah itu sangat sulit dan tidak mampu di tanggungnya,sesekali ia hanya akan curhat pada Salma.
Tapi itu dulu,dan semakin berjalannya usia persahabatan mereka,Safira sedikit tertutup akan masalahnya.Ia memang terbuka akan keluarga ataupun hal-hal tentang dirinya,tapi tidak dengan masalah pribadinya.Safira bukan tidak ingin berbagi suka dan duka,tapi ia sering merasa tidak enak jika harus membebani sahabatnya.Apalagi Safira juga sering berfikir jika setiap orang pasti punya masalah dan kesulitan nya sendiri,jadi Safira selalu mencoba untuk menyelesaikan masalahnya sendiri,karena ia tidak ingin menambah beban masalah untuk sahabat-sahabatnya itu.
Dan anehnya,justru Safira merasa senang jika bisa membantu atau mengurangi beban sahabat-
sahabatnya,hingga para sahabatnya kadang sering merasa tidak enak hati padanya.
“Jadi kalian nggak perlu khawatir atau pusing tentang keadaan ku,karena aku baik-baik saja”ucap Safira yang bisa menebak jika Salma pasti akan cerita tentang kejadian dirinya waktu itu,saat ia menghubungi Salma untuk mengajaknya bertemu.
“Maaf Fi,aku tahu kamu pasti sudah menebak itu.Dan aku yakin kamu nggak akan masalah karena hal itu kan?”tanya Salma pada Safira yang ingin melihat respon nya.
Safira bisa mengerti akan maksud Salma,ia hanya menjawab dengan senyum kecil menenangkan“Lebih baik kita ngobrol sambil makan,kebetulan aku lapar”ajak Safira dan Salma pun langsung setuju.
__ADS_1
Mereka berdua pun langsung menuju ke sebuah tempat makan terdekat dengan menaiki mobil Salma.