
Rara yang dari tadi hanya diam saja itu,ia sebenarnya sedang merasa bersalah karena membuat kakaknya menjadi khawatir.
“Bukan kak,benar.Nggak ada masalah apa-apa,lagipula jika benar keluarga kita sedang dalam masalah,pasti akan Rara kasih tahu”jawab Rara setelah lama terdiam,ia berkata dengan nada meyakinkan.
Setelah mengatakan itu,Rara pun kembali terdiam sambil menggigit ujung kukunya,karena kini giliran kakaknya yang tidak berbicara.
‘Gimana ini?,padahal aku hanya ingin menelpon kakak saja,tapi kenapa kakak curiga ya?.Apa mungkin karena aku jarang telepon kakak,jadi kakak merasa khawatir saat aku menelpon’pikir Rara yang akhirnya sadar di mana letak kesalahan yang membuat kakaknya salah paham.
“Kakak kenapa hanya diam?”tanya Rara lagi yang akhirnya buka suara setelah Safira hanya diam.
“Beneran nggak ada masalah apa-apa?,kok tumben kamu telepon kakak pagi-pagi gini”tanya Safira ingin memastikan.
Rara yang mendengar nada suara kakaknya yang masih terdengar ragu,seolah belum yakin dengan apa yang ia katakan.Ia pun mulai berfikir apa yang akan ia katakan selanjutnya agar kakaknya tidak ragu lagi padanya.
“Benar kak,aku nggak bohong,terus apa masalahnya jika aku menelepon kakakku sendiri,atau jangan-jangan kakak yang merasa keberatan saat aku pagi-pagi sudah menelepon kakak”ucap Rara dengan sedikit tak suka yang terdengar cukup kentara di telinga Safira.
“Kamu jangan ngomong yang aneh-aneh deh,mana ada seorang kakak yang nggak senang saat adiknya menelepon”jawab Safira seakan menepis tuduhan Rara.
“Ada,yaitu kakak”balas Rara tak mau kalah.
“Kamu ini,nggak bisa apa sekali aja nggak ngajak ribut sama kakak,nggak capek apa?”ucap Safira dengan nada malas miliknya.Ia tidak ingin suasana nya yang baik karena ciuman Arnam itu berubah jadi buruk karena perdebatan nya dengan sang adik.
“Jadi sekarang kakak serius tanya kamu,kenapa kamu telepon kakak?”Lanjut Safira dengan nada penasaran miliknya.
Mendengar nada bicara kakaknya yang seolah menuntut jawaban darinya itu,ia pun hanya diam.Rara bingung harus mengatakan apa,ia
sebenarnya merasa kangen dengan kakaknya,tapi gak mungkin juga ia akan jujur.
“Masa aku harus bilang kalau aku kangen sama suara kakak sih,yang ada dia nanti malah sombong dan jadi terlalu percaya diri”gumam Rara pelan tanpa sadar karena sedikit melamun.
Tiba-tiba Rara tersadar saat mendengar kakaknya terkekeh entah karena apa.
“Kenapa terkekeh kak,apa ada yang lucu?”tanya Rara heran.
“Kamu kangen sama kakak kan?,iya kan?,ngaku aja deh!.Kakak dengar kok gumaman kamu itu,walau pelan”ucap Safira yang ternyata mendengar gumaman Rara saat sedang melamun.
“Nggak”jawab Rara langsung seakan mengelak apa yang kini ia rasa.
‘Gila sih pakai keceplosan segala lagi!!,ini mulut atau ember sih pakai bocor segala,jadi tahu kan kakak,tapi gak mungkin juga jujur,nanti si manusia satu itu jadi sombong lagi’pikir Rara yang gengsi untuk mengakui itu.
“Masa sih..,kok kakak nggak yakin tuh”ledek Safira semakin gencar.
“Kakak!”teriak Rara kesal dengan ledekan kakaknya.
Safira yang telah menjauhkan ponsel dari telinganya itu,ia pun menghela nafas lega saat telinganya tak harus berdengung karena teriakan adiknya itu.
__ADS_1
“Kamu ini,nggak usah teriak-teriak kali,kakak juga masih bisa dengar.Untung aja kakak dapat memprediksi kalau mulut toa kamu itu akan bersuara,jadi masih aman lah telinga kakak ini dari suara bak mercon kamu itu”ucap Safira dengan nada memarahi disertai ledekan.
“Isshh”Rara yang kesal dengan kakaknya itu,tanpa menunggu lama Rara pun langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
Sementara Safira yang melihat adiknya telah mematikan sambungan telepon nya tanpa pamit itu,ia pun terkekeh karena tahu adiknya sedang kesal padanya.
Saat Safira telah memasuki kamarnya,ia melihat Arnam yang telah selesai menelepon.Safira pun berjalan mendekat ke arah Arnam yang sedang menyenderkan kepalanya di ujung kasur.
“Kenapa kamu datangnya lama?,padahal aku sudah tunggu kamu dari tadi”ucap Arnam terdengar sedikit menggerutu.
Safira yang mendengar itu,ia pun hanya diam dengan kaki yang terus melangkah mendekati Arnam.Setelah sampai,Safira pun langsung duduk dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Arnam.
“Tadi Rara habis telepon aku,makanya aku sedikit lama di ruang tamu,aku juga belum sempat cuci piring dan langsung ke sini karena aku tahu kamu pasti sedang nunggu aku”ucap Safira menjelaskan.
“Biar nanti Bi Airah aja yang cuci piring kamu,terus kenapa tiba-tiba Rara telepon kamu?”ucap Arnam dengan diakhiri sebuah pertanyaan.
“Ya mungkin saja Rara ingin bicara sama aku,lagipula ini pertama kalinya kami tinggal berjauhan”jelas Safira langsung di jawab anggukan.
“Kalau kamu ingin ke rumah orang tua kamu,boleh saja,lagipula jarak rumah kita dan orang tua kamu tidak terlalu jauh”terdengar jelas jika Arnam mengkhawatirkan istrinya yang bisa saja juga belum terbiasa berjauhan dari orang tuanya.
“Iya nanti kita akan ke sana”jawab Safira terdengar senang saat mendengar Arnam telah memberikan izin padanya untuk bertemu kedua orang tuanya.
“Kamu tahu nggak kalau sikap Rara tadi lucu banget.Masa dia malu sih untuk mengakui, jika dia kangen sama aku”ucap Safira dengan sedikit terkekeh karena lucu.
“Sama kayak kamu.Waktu itu kan kamu marah sama aku karena cemburu,tapi pas aku tanya kamu malah mengelak dan nggak mau mengakui”ucap Arnam terdengar sakras di telinga Safira.
tiba pipi Safira sedikit memerah,karena malu saat teringat kejadian itu.
“Oh iya kamu ambil cuti libur nya berapa hari?”ucap Safira berusaha mengalihkan topik.
“Rencananya mau mengalihkan topik nih”ucap Arnam yang lagi-lagi terdengar sarkas di telinga Safira.
“Kamu ini,kalau aku tanya itu di jawab bukan malah ngomongin yang lain”kesal Safira.
Arnam menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar.Ia tahu jika ia masih mempermasalahkan hal itu,maka urusannya akan panjang,dan bisa-bisa Safira marah padanya hingga ia harus tidur di luar.
Arnam tidak ingin hal itu terjadi!!
“Rencananya aku ambil cuti satu bulan,tapi kalau kamu masih merasa kurang,aku bisa minta cuti satu tahun”ucap Arnam dengan nada yang terdengar santai.
Safira menoleh ke arah Arnam dengan tatapan tajamnya saat Arnam dengan santainya mengatakan itu.
“Satu tahun kamu bilang?,kenapa nggak sekalian aja nggak usah kerja”dengus Safira kesal sambil memukul tangan Arnam yang sedang mengelus rambut.
Sesekali Arnam akan menyentuh bagian sensitif Safira,dan berakhir dengan pukulan panas dari Safira.
__ADS_1
“Kalau kamu minta aku nggak kerja ya sudah,aku nggak akan kerja”jawab Arnam dengan santainya,
ia kembali mengelus rambut Safira dengan lembut.
Rasanya rambut Safira yang baru selesai keramas terasa lembut dan wangi di Indra penciuman nya.
“Arnam aku serius ya”ucap Safira dengan nada yang bertambah kesal.
“Aku juga serius”ucap Arnam diakhiri sebuah senyuman.
Safira yang melihat senyum Arnam itu,ia pun bertambah kesal.Karena Safira tahu jika senyum Arnam itu bukan senyum biasa,melainkan senyum mesum bagi Safira.
‘Dasar mesum’pikir Safira kesal.
“Gak usah punya suami kalau gitu”dengus Safira, membayangkan dirinya yang mencari uang sendirian saja membuat Safira kesal.Nggak mungkin kan Arnam orang yang tidak bertanggung jawab!.
Safira pun hendak bangkit dari duduknya karena sudah merasa sangat kesal dengan candaan Arnam.
Tapi sebelum itu,Arnam telah mencegahnya.
“Mau kemana?”tanya Arnam yang hanya di jawab tatapan sinis dari Safira.
“Oke aku salah,aku hanya bercanda dengan ucapan aku tadi.Tapi kenapa kamu mudah sekali marah ya?”ucap Arnam dengan nada gemasnya saat melihat ekspresi Safira yang tengah kesal padanya.
“Bercandaan kamu itu,nggak lucu tau”ucap Safira dengan nada mencebik tak suka.
Arnam yang mendengar itu.Bukannya marah,ia pun hanya terkekeh lucu.
“Sini dulu,aku nggak akan berbuat aneh-aneh pada kamu,lagian ini masih pagi”ucap Arnam yang kembali menempelkan kepala Safira di dada bidang miliknya.
“Kalau begitu kamu berencana cuti berapa hari?”tanya Arnam lembut.
“2 hari lagi cutinya”jawab Safira singkat.
“Kenapa cutinya sebentar banget sih,gimana kalau satu bulan”ucap Arnam berusaha menawar,
sebenarnya Arnam sudah meminta Safira mengundurkan diri,tapi Reno berkata jika ia sedang membutuhkan orang lebih,jadi mungkin untuk beberapa minggu atau bulan,Safira akan bekerja seperti biasa.Walau selama cuti juga Safira masih mengerjakan beberapa tugas yang harus ia kerjakan melalui Raisa,entah itu bisa di sebut cuti atau bukan.
Safira juga sebenarnya berharap jika ia segera bisa mengundurkan diri,bahkan meski belum genap dua bulan ia sudah tak betah meski ia sudah cukup bisa di pekerjaan nya walau tak terlalu mahir menurut nya,
“Nggak,aku masih banyak kerjaan”jawab Safira cepat.
“Ya sudah kalau itu keinginan kamu”ucap Arnam dengan sedikit tak rela
*****
__ADS_1
Maaf jika ada salah kata.
Jangan lupa like dan vote nya😘