AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!

AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!
Berita


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu.


Semenjak kejadian itu,hari-hari Safira kembali normal.Hanya saja,Arnam semakin posesif padanya.Bahkan seperti hari ini.


“Mau kemana?”tanya Arnam yang kala itu sengaja bekerja dari rumah.Tentu Arnam melakukan hal itu agar bisa memantau keadaan Safira.


“Aku ingin keluar”jawab Safira sambil memutar bola matanya malas.Sudah sumpek rasanya jika ia terus mendekam di rumah.Tidak tahu kah Arnam jika ia bisa stres karena terus berada di rumah??.


“Ada perlu apa?”tanya Arnam lagi.Ia masih dengan santainya menandatangani dokumen yang harus ia tanda tangani.Toni yang membawa dokumen miliknya kini tengah berdiri di sampingnya.


Arnam dan Safira kini tengah tinggal di rumah mereka berdua.Karena semenjak hari itu,Arnam telah memutuskan agar Safira tinggal bersamanya.


“Kenapa sih tanya-tanya terus?,kamu nggak tahu apa kalau ibu hamil itu nggak boleh stres?!.Aku sumpek! kalau terus berada di rumah!.Sekali-kali jalan-jalan kek untuk sekedar refreshing”keluh Safira mengungkapkan rasa kesalnya itu,Safira benar-benar meluapkan kekesalannya itu dengan emosi yang sedikit menggebu-gebu.


Arnam yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas.Berusaha untuk tidak terpengaruh oleh amarahnya Safira.


“Oke kita keluar”Akhirnya Arnam mengambil keputusan untuk mengajak Safira keluar. Sebenarnya,


ia masih memiliki banyak pekerjaan,tapi karena memikirkan keadaan Safira,maka ia memilih untuk menunda pekerjaannya itu.Lagipula dia juga sudah berencana untuk mengajak Safira jalan-jalan,hanya saja waktunya tidak tepat.


“Kita?..,nggak!.Aku cuman ingin jalan-jalan di sekitar sini,nggak jauh kok”tolak Safira yang hanya ingin berjalan sendiri.


Meskipun Arnam selalu memperlakukan Safira dengan baik,apalagi semenjak hamil Arnam lebih perhatian padanya.Tapi Safira merasa sangat sulit untuk melupakan kesalahan Arnam.Safira tahu jika ia tidak bisa egois,ia harus bisa memaafkan Arnam demi anaknya.Tapi tidak semudah itu ia mampu memaafkan Arnam,apalagi kepercayaan yang Safira berikan sangat besar.Ia tidak pernah mempercayai orang lain sebesar dirinya percaya pada Arnam.


Arnam yang paham maksud dari perkataan Safira itu,ia pun merasa frustasi hingga tanpa sadar menjambak rambutnya sedikit kasar.


“Ini demi kebaikan kita semua!”tekan Arnam yang seolah mengatakan jika ia melakukan itu demi Safira dan anaknya juga,itu pun agar dirinya tidak di selimuti rasa khawatir akan keselamatan Safira.


“Tapi-”


“Tidak denganku maka tidak bisa keluar!!”potong Arnam tegas.Ia benar-benar tidak bisa membiarkan Safira keluar dari pengawasan nya.


Bahkan hanya untuk sedetik saja rasanya Arnam tidak mau melepas pandangan nya dari Safira!!


Safira yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas panjangnya.Sedikit kesal!.Tapi karena tidak punya pilihan lain akhirnya ia mengangguk pasrah.


“Oke”akhirnya Safira pun setuju.


...*****...

__ADS_1


Di dalam mobil.


Arnam tidak menyetir sendiri,ia menggunakan supir pribadi.Sedangkan Toni ia perintahkan untuk kembali ke perusahaan.


Suasana di antara mereka hanya hening untuk waktu yang cukup lama.


“Kemana kita akan pergi?”tanya Arnam membuka suara.


Belum sempat membuka suara,Safira sudah lebih dulu di kejutkan dengan panggilan telepon.


Sedikit melirik ke arah Arnam yang juga melirik ke arahnya,tanpa bicara Safira pun langsung mengangkat sambungan telepon.


“Hallo?”Safira membuka percakapan pertama kali.


“...”


“Kamu nggak perlu khawatir Sal,aku baik-baik aja.Kebetulan saat ini aku sedang berada di luar”jelas Safira yang ternyata mendapat telepon dari Salma.


“...”


“Oh,oke aku akan ke sana”jawab Safira yang langsung mengakhiri sambungan telepon.


“Kita ke restoran yang dekat dengan tempat aku bekerja.Kebetulan Salma ada di sana”ucap Safira berkata dengan nada sesantai mungkin.Ia tidak perlu mengatakan nama restoran itu,karena Arnam sering menjemputnya pulang saat ia mampir ke sana.


Tentu saja Arnam juga sering makan di restoran itu bersama Safira.


...*****...


15 menit kemudian.


Arnam dan Safira langsung berjalan ke arah restoran.Melihat Salma yang duduk di dekat jendela,Safira langsung berjalan sedikit lebih cepat dan meninggalkan Arnam di belakangnya.


“Sorry,kamu nunggu lama ya?”tanya Safira yang langsung duduk tepat di samping Salma.


“Nggak.Kamu pasti haus,kebetulan aku sudah pesan minuman dan makanan untuk kita”jawab Salma sedikit tersenyum.


Saat mata Salma melihat ke arah Arnam yang sedang berjalan ke arah mereka.Ia yang melihat itu tiba-tiba merasa sedikit canggung karena tatapan dingin Arnam.


Salma juga merasa bersalah pada Arnam,karena ialah yang menghasut Safira untuk menghadiri pesta ulangtahun Rena.Ia juga mengerti jika Arnam bersikap tegas pada Safira karena ia benar-benar merasa khawatir dan peduli pada keselamatan Safira dan bayinya.Tapi meski begitu,ia tidak menyesal telah melakukan itu.Karena Salma tidak ingin Safira di anggap remeh oleh orang lain terutama oleh Rena.

__ADS_1


“Aku kira hanya kamu yang datang,jadi aku hanya memesan makanan untuk kita berdua”adu Salma sedikit cengengesan karena canggung berada satu meja dengan Arnam.


Arnam yang duduk tepat di samping Safira,ia pun hanya diam dengan sikap yang masih terlihat tenang.


“Tidak masalah”jawab Arnam singkat.


Karena merasa lapar,Safira pun langsung memakan makanan yang di pesan oleh Salma.Salma yang melihat Safira memakan itu,ia pun ikut memakan makanannya.


“Kamu tidak memesan makan?”tanya Safira pada Arnam.Walau ia masih ingin mengabaikan Arnam,


tapi ia tetap peduli dengan kesehatan Arnam.


“Tidak.Kamu lanjutkan saja”ucap Arnam sedikit tersenyum dengan tatapan lembut di matanya.Ternyata Safira nya masih memiliki kepedulian padanya,meski itu hanya sekedar basa-basi,ia tetap merasa senang.Karena,Safira jarang sekali berbicara,apa lagi peduli padanya.


“Oh”jawab Safira santai.Tapi meski begitu wajahnya sedikit memerah karena malu dengan tatapan Arnam.


Safira pun kembali memakan makanannya itu,ia berusaha menyembunyikan rasa malunya itu.Safira tak tahu kenapa ia bisa merasa malu,padahal biasanya ia akan bersikap biasa dengan tatapan Arnam.


Apa ini ada hubungannya dengan hormon kehamilan?.


Atau karena ia tidak pernah menatap Arnam sedekat ini setelah kejadian itu?,entahlah Safira juga tidak tahu.


Arnam yang melihat raut wajah Safira,ia merasa sedikit gemas akan sikap aneh Safira.Hingga tanpa sadar ia terkekeh pelan tanpa suara.


Tiba-tiba tanpa di duga ponsel Arnam berbunyi.Melihat siapa penelepon nya Arnam langsung bangkit dan sedikit menjauh dari mereka berdua.


“Iya?”tanya Arnam langsung,ia terlihat serius mendengarkan apa yang si penelepon katakan.


Sementara Safira dan Salma yang melihat itu hanya diam dengan saling pandang seolah sedang bertanya satu sama lain.Selesai menelepon,Arnam kembali ke tempat Safira.


“Ada beberapa hal yang harus aku urus,kamu bisa di sini dengan Salma sementara waktu”ucap Arnam memberitahu.


Tanpa di duga ia langsung mengecup pucuk kepala Safira dan tersenyum sejenak.Lalu setelah itu ia langsung berjalan keluar dari restoran.


Safira yang tidak menduga itu,ia sedikit bengong karena kaget.


“Ekhmm”terdengar ledekan dari Salma yang di tunjukkan padanya.


“Apaan sih,ayo kita makan!”ajak Safira,ia berusaha mengalihkan topik.

__ADS_1


*****


__ADS_2