
Safira yang saat ini telah sampai di sekitar rumah barunya itu,ia pun hanya diam sambil mengekor di belakang Arnam.
Sementara Arnam yang kini sedang memegang koper berisi barang-barang mereka itu,ia berjalan lebih dulu seolah menuntun Safira menuju rumah baru mereka.
Tak lama setelah cukup lama melangkah,akhirnya Arnam berhenti di sebuah rumah minimalis yang terlihat sederhana tapi terlihat elegan.
“Kita sudah sampai”ucap Arnam menghentikan langkahnya di depan pagar rumah miliknya.
“Ini beneran rumah kita?!”Tanya Safira memastikan.
Ia merasa terpesona dengan rumah baru nya itu
“Iya kenapa?,kamu gak suka?”tanya Arnam sambil melihat ke arah Safira yang hanya diam.
“Rumahnya bagus banget,selain itu pekarangan rumahnya yang lumayan luas,ternyata ada pagarnya juga.Aku nggak nyangka,ternyata kamu itu tipe orang yang hemat ya,buktinya kamu bisa beli rumah kayak gini,itu berarti tandanya kamu orang yang rajin dalam menabung”ucap Safira sambil menatap ke arah rumah barunya yang di dominasi cat berwarna coklat.
Safira sangat suka dengan warna coklat!!
Entah mengapa Safira berfikir jika benar Arnam membeli rumah itu dari hasil menabung.Mungkin ia telah percaya kepada Arnam sepenuhnya,dan tidak ada alasan untuknya berfikir buruk tentang Arnam.
__ADS_1
“I..iya,aku tipe orang yang rajin menabung,karena aku suka menabung”Sikap Arnam yang biasanya tidak pernah gugup di situasi apapun,bahkan di saat ada masalah darurat.Tapi kini ia merasa gugup hanya karena berusaha berbohong pada Safira,dan Arnam tidak mungkin jujur,rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan tentang identitas nya.Entah kapan ia akan memberitahukan hal itu,untuk saat ini hanya kebahagiaan Safira yang akan Arnam pikirkan ke depan nya.
Arnam tak menyangka jika Safira tak berfikir buruk tentangnya,itu berarti Safira percaya padanya dan selalu berfikir positif tentangnya.
“Hebat,idaman banget kamu ya”ucap Safira memuji Arnam,tapi meski begitu wajahnya hanya tersenyum,dan tidak berlebihan dalam memuji Arnam.
“Ya aku memang hebat”jawab Arnam percaya diri.
Safira yang mendengar itu,ia hanya memutar matanya jengah.Inilah yang akan membuat Safira kesal pada Arnam,entah kenapa di saat dirinya memuji Arnam,pasti Arnam akan bersikap percaya diri seakan dia merasa sangat hebat,dan Safira akan kesal jika ada orang yang bersikap terlalu percaya diri,meski ia juga kadang sok percaya diri di depan adiknya.
Dan biasanya saat orang-orang memuji Arnam,dia hanya akan bersikap biasa saja seolah itu hal biasa baginya.Tapi untuk Safira pujian itu terasa berarti lebih dari apapun.
“Aku bilang kamu tipe idaman,tapi kan belum tentu itu termasuk tipe idamanku.Bisa saja itu tipe idaman orang lain,iya kan?”ucap Safira dengan nada sarkas,dan diakhiri dengan senyum kemenangan di wajahnya.Ia paling tidak mau kalah saat berdebat dengan orang-orang yang ia sayang,terutama saat berdebat dengan Rara dan Arnam serta sahabatnya Rey,tidak ada kata mengalah' dalam kamus Safira.
“Hufft”terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut Arnam.
“Tetap saja kamu menikah dengan aku,dan itu artinya tipe idaman kamu itu aku,karena tidak mungkin kan kamu menikah dengan laki-laki yang bukan tipe kamu ini”ucap Arnam sambil menatap Safira.
“Hanya kasihan karena kamu terlalu gigih dalam mendapatkan aku”jawab Safira sedikit acuh.
__ADS_1
Arnam yang memang jarang sekali mendapatkan pujian dari Safira,dan sekalinya ia mendapatkan pujian dari Safira,rasanya ia sangat senang seakan melayang.
Tapi kadang wanita itu jugalah yang menghancurkan rasa senangnya itu,dengan nada sarkasnya.Karena Arnam tahu jika ia tidak bisa berdebat dengan Safira, akhirnya Arnam pun mengalah.
“Ayo kita masuk,nanti akan aku tunjukan kamar yang akan kita tempati”lanjut Arnam di jawab anggukan paham,Lalu tanpa menunggu jawaban dari Safira,
Arnam pun langsung membuka kunci pagar dan berjalan lebih dulu menuju rumah barunya itu.
Melihat Arnam yang sibuk membawa koper mereka,Safira pun ingin membantu membuka pintu rumah,tapi sayangnya ia kesulitan,melihat itu Arnam pun langsung mengambil kunci,dan dengan mudah
pintu yang di kunci itu terbuka.
“Biar aku yang rapikan barang-barang kita nanti”ucap Safira saat dirinya dan Arnam telah memasuki rumah.
“Tidak perlu,biar nanti aku sewa jasa bersih-bersih rumah,nanti kamu bisa memintanya untuk rapikan ini semua,jadi kamu tidak harus repot ngurusin rumah”jawab Arnam tenang.Tidak mungkin Arnam membiarkan Safira kelelahan,meski ia sedang berusaha untuk terlihat menjadi laki-laki yang hanya bekerja sebagai karyawan biasa,tapi Arnam tetap akan mencari cara agar Safira tidak kesulitan ataupun kecapean nantinya.
“Oh ya sudah kalau begitu aku nggak masalah” Safira yang langsung setuju,lagipula gajinya dan Arnam itu pasti cukup untuk menyewa jasa bersih-bersih yang hanya bekerja di siang hingga sore hari.
“Dan untuk makan kita bisa beli,atau kalau tidak biar aku yang akan menyiapkan makanan setiap hari untuk kita sarapan”ucap Arnam lagi.
__ADS_1
Safira yang mendengar itu,ia hanya diam sambil menatap ke arah Arnam dengan tatapan tak percaya,ia pikir perbincangannya dengan sahabat-sahabatnya di waktu itu,hanya omong belaka saja,tapi ternyata Arnam menganggap itu serius.
“Ya sudah ayo kita istirahat”ucap Arnam sambil menuntun Safira ke kamar mereka.