
Dan saat ini Farrel telah berada di sebuah restoran dengan Rena yang berada di hadapannya.
Mereka berdua sama-sama diam,seolah tengah berfikir.
“Bagaimana rencana selanjutnya?”tanya farrel memecahkan keheningan.
Rena yang mendengar itu langsung menatap ke arah Farrel“Aku tak menyangka jika rencana yang telah kita susun bisa gagal,
kenapa pula kamu harus berkunjung ke bar di sana,bukankah banyak bar lain tak kalah bagus”kesal Rena seolah menyalahkan Farrel
“Hei,kamu tidak bisa menyalahkan aku sepenuhnya,kamu juga salah di sini!.Lantas kenapa tidak kamu saja yang pergi ke bar lain saat itu”ungkap Farrel merasa tak terima.
“Ya itu karena hanya bar itu yang sering Arnam kunjungi,lagipula aku tak tahu jika rencana yang kita susun bakal seberantakan ini”dengus Rena tak terima di salahkan.
Merasa tidak ada habisnya jika berdebat dengan Rena,lantas Farrel pun hanya diam dengan Rena yang ikut diam,mereka sedang membayangkan kejadian yang sebenarnya.
Flashback
Pada saat itu,Bram telah memberi rencana pada Rena dan Farrel.Jika mereka harus tidur dengan orang yang ingin mereka miliki
Alasannya,jika Rena hamil anak Arnam,maka Arnam tak akan bisa mengelak ataupun menolak Rena.
Begitu pun sebaliknya,jika Safira hamil anak Farrel,maka Farrel akan terus membujuk Safira agar ia mau menikah dengan Farrel,sebagai bukti pertanggungjawab Farrel pada Safira.
Dan di malam itu.
__ADS_1
Sebenarnya Farrel tidak mabuk,ia hanya meminta pelayan untuk menghubungi Safira dan mengatakan jika ia mabuk berat,padahal itu hanya tipuan dia semata.Ia juga sengaja berkunjung di bar yang berada di pusat kota,karena bar itu lah yang paling dekat dengan jarak rumah Safira.
“Hallo nona,apakah anda teman dari tuan Farrel?,saat ini dia sedang mabuk berat”ucap pelayan bar yang berkata sesuai instruksi mata Farrel.
“....”
“Nona,saya tidak bisa membawa tuan Farrel,banyak pekerjaan yang harus saya urus”jawab pelayan bar lagi.
”...”
Dan akhirnya Safira pun tidak memiliki pilihan lain untuk tidak membantu Farrel,di tambah lagi jika bar itu berjarak cukup dekat dari rumahnya.Hal itu lah yang menjadi alasan kuat mengapa Farrel datang ke bar itu,karena pasti Safira akan merasa tak enak jika tidak menolong nya.
“Sudah tuan”ucap pelayan itu setelah selesai mematikan sambungan telepon.
“Bagus,ini tips buat kamu”Farrel menyerahkan nominal uang untuk si pelayan.
“Kalau ada pekerjaan seperti ini lagi,anda bisa langsung menghubungi saya”ungkap pelayan bar,ia kadang juga bekerja menjadi wanita malam di bar itu.Setelahnya,ia langsung melenggang pergi dari sana.
Farrel bangkit,ia sudah tak sabar menunggu Safira.Ia juga telah menyiapkan kamar beserta wewangian yang akan membuat orang merasa terangsang.
Dan Farrel tersenyum puas saat membayang
kan saat Safira berada di bawah Kungkungan nya nanti.
Tanpa sadar ada sepasang mata yang menatap ke arahnya tajam,tapi ia tak menyadari itu
__ADS_1
Saat melihat Safira dari arah belakang.Farrel yang melihat Safira tidak menyadari kehadiran nya,yang berada tepat di belakang Safira,ia pun langsung memukul tengkuk Safira keras.
Pertama,pukulan itu tidak mempan,dan hanya menyisakan rasa sakit dan pegal di tengkuk leher Safira
Kedua kali juga sama,hingga saat Safira hendak menoleh,dengan kesal Farrel pun kembali memukul lebih keras lagi.
Dan akhirnya Safira pingsan di dekapan Farrel
“Kita akan menghabiskan malam yang indah baby,
karena pastinya kamu nggak akan bisa menolak aku lagi.Sekalipun kamu menolak juga percuma,
karena kamar yang akan aku siapkan itu,akan membuat kamu terangsang”Farrel berbicara di sertai kekehannya yang terdengar puas.
Farrel langsung mengangkat tubuh Safira dan membawa nya ke kamar yang telah Farrel siapkan.
Sedangkan orang yang dari tadi menatap Farrel dari jauh itu,ia tak lain adalah Arnam.
Arnam masih ingat betul,jika Farrel adalah orang yang dulu pernah bertemu Safira di pesta ulangtahun Rena.Ia juga merasa cemburu dan ingi mencongkel mata Farrel karena telah berani menatap istrinya dengan tatapan memuja.
Istri?,ya!.Bagi Arnam Safira tetap istrinya, karena mereka belum bercerai secara resmi,sekalipun Safira kabur dari sisinya,dan membuatnya sedikit kecewa dengan kepergian sang istri.Tapi hal itu,tetap tidak akan membuat Arnam bersedia menceraikan wanitanya.
Karena prinsip Arnam,sekalipun miliknya akan tetap miliknya!!.Bukan berarti juga Arnam menganggap Safira barang,tetapi karena Safira sudah terpaut di hatinya dengan terlalu dalam.
***
__ADS_1
Note:Masih flashback ya