
Seminggu telah berlalu.
Safira kini tengah mengemas barang-barang yang akan ia bawa ke rumahnya barunya nanti,ia tampak sibuk.Tapi meski begitu,Arnam pun ikut membantunya mengemasi barang-barang.
“Kita bawa barang-barang secukupnya saja,sisakan beberapa pakaian kita di sini”ucap Arnam tiba-tiba.
Safira menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Arnam.“Maksud kamu apa?”tanya Safira heran.Safira pikir jika seseorang pindah rumah maka semua barang miliknya akan di bawa untuk pindah.Bukankah begitu?
“Agar nanti jika kamu ingin berkunjung dan menginap di rumah orang tua kamu ini,kamu tidak perlu mengurusi masalah baju karena telah tersedia di sini”ucap Arnam menjelaskan dengan wajah tenangnya.
Arnam selalu tahu apa yang diinginkan oleh Safira,ia memang lebih peka terhadap keinginan dan kebutuhan Safira,dibandingkan Safira sendiri.
“Oh iya kamu benar juga,padahal aku nggak ingat sampai sana”ucap Safira tersenyum senang.
“Tidak perlu sungkan,karena aku bukan orang lain”
Mendengar itu,Safira lagi-lagi hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya itu,ia memilih barang-
barang mana saja yang akan ia bawa,tentu kebanyakan barang akan ia bawa ke rumah baru nya.
Tok tok tok....
Di tengah kesibukan itu,terdengar suara pintu.
“Biar aku yang buka pintu”usul Safira sambil menatap ke arah Arnam.Ia berinsiatif membuka pintu langsung.
__ADS_1
Mendapat anggukan sebagai jawaban,Safira pun berjalan menuju pintu.Saat pintu telah di buka Safira bisa melihat jika ada ayah,ibu,beserta adiknya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Ayah,ibu,Loh Rara ada ternyata,ada apa ini?”Safira sedikit terkejut dengan berkumpul nya mereka di depan pintu,apalagi Rara ia harusnya sudah sekolah tapi entah mengapa ia masih ada di rumah.
“Kami bertiga akan mengantar kamu ke rumah baru yang akan kalian tempati”ucap Hadi seakan mewakili tujuan Rina dan Rara yang ikut berdiri di depan pintu.
“Safira tahu jika ayah,ibu,dan Rara belum bisa menerima ini sepenuhnya,tapi kalian nggak usah khawatir sama Safira,kan ada mas Arnam yang jagain Safira nanti”ucap Safira sambil tersenyum meyakinkan.
Safira seolah dapat menebak apa yang akan terjadi jika sampai ayah,ibu dan adiknya ikut ke rumah barunya,mungkin mereka akan menginap di sana.Bukan sebentar,melainkan tinggal untuk waktu yang cukup lama,dan malah ayah dan ibu beserta adiknya mungkin akan tinggal bersamanya di rumah baru miliknya dan Arnam.Bukan berarti Safira tak senang akan hal itu,tapi itu berarti hidup mandirinya akan gagal jika kedua orang tua dan adiknya ikut pindah.
Dan menurut Safira itu sama saja tidak merubah dirinya mandiri dan dewasa,tapi akan membuatnya tetap bergantung pada kedua orang tuanya.
“Tapi nak...”ucap Rina yang hendak mengutarakan keinginannya,tapi terhenti karena bingung harus mengatakan apa.
“Safira kan sudah bilang,kalian jangan khawatirkan Safira,karena Safira yakin Safira akan baik-baik aja.Bukannya kalian ingin agar Safira bisa lebih dewasa dan mandiri,jadi mungkin ini saatnya kalian untuk lebih merelakan Safira”ucap Safira berkata panjang lebar,ia berkata dengan nada serius dan terdengar meyakinkan di telinga kedua orangtuanya dan adiknya.Berharap mereka bisa langsung mengerti dan paham.
“Baiklah,mungkin kami terlalu emosional dalam menyikapi hal ini”ucap Hadi saat ia mulai berfikir lebih lagi.Hadi mengulurkan kedua tangannya dan meletakkannya di kedua pipi Safira.
“Nak,jika ada masalah,kamu bisa langsung datang ke sini,ayah akan senang jika bisa bantu masalah kamu.Dan ingat untuk patuh kepada suami kamu”
ucap Hadi sambil menatap anak kesayangannya itu,dengan tatapan kasih sayang layaknya seorang ayah pada putrinya.
Hadi sadar jika ia tidak bisa ikut campur urusan rumah tangga anaknya,hanya saja sebagai ayah mungkin ia akan bisa menjadi pendengar dan penasihat yang baik di rumah tangga Safira dan Arnam.
Safira mengangguk sebagai jawaban.Ia ingin mengatakan sesuatu,tetapi tenggorokannya serasa tercekat,dan lidahnya terasa keluh karena terharu dengan kata-kata ayahnya itu.
__ADS_1
Melihat itu,Hadi pun memeluk dan mengusap sayang kepala anaknya,Rina yang awalnya hanya diam berdiri,ia pun langsung memeluk Safira dengan erat.
“Jika Arnam sampai menyakiti kamu,atau berbuat kasar sama kamu,kamu bisa beritahu kami.Ya mungkin kami tak pantas untuk ikut campur urusan rumah tangga kalian.Tapi mana ada orang tua yang rela untuk diam saja saat anaknya menderita”ucap Rina menyembunyikan kesedihannya itu.
“Safira yakin Arnam bukan orang yang seperti itu bu”dengan lembut Safira memenangkan kekhawatiran ibunya.
Melihat Rara yang hanya diam saja seolah mematung dan tak tahu harus merespon apa,Safira pun langsung memeluk adiknya dengan erat,dan penuh rasa sayang.Rara yang di perlakuan seperti itu,ia hanya diam dan balas memeluk Safira dengan erat.
Rara Kini sedang menyalurkan rasa sayangnya melalui pelukan itu,tanpa harus berkata-kata.Di saat Safira telah melepaskan pelukannya itu,tiba-tiba Arnam menghampirinya dengan membawa koper berisi barang-barang bawaan miliknya dan Safira.
Sontak Safira dan yang lainnya yang melihat itu langsung menatap ke arah Arnam.
“Nak Arnam”panggil Hadi dengan nada beratnya.
Arnam menatap ke arah Hadi langsung.“Tolong jaga Safira dengan baik,dan perlakukan dia dengan baik juga selayaknya kami memperlakukan dia dengan penuh kasih sayang”ucap Hadi langsung di jawab anggukan dari Arnam.
“Tidak perlu sungkan ayah,itu memang sudah kewajiban saya sebagai suaminya.Dan tanpa ayah minta pun saya pasti akan memperlakukan Safira dengan baik”jawab Arnam dengan wajah seperti biasa,yaitu terlihat datar.Tapi meski begitu nada bicaranya terdapat kesungguhan dan keyakinan.
Meski Arnam menggunakan kata saya' itu bukan berarti ia memiliki jarak dengan Hadi,hanya saja selain Safira dia selalu berbicara dengan panggilan saya kepada orang lain.
“Mungkin ini terdengar konyol,atau terdengar posesif,tapi yang jelas.Ibu harap kamu tidak akan pernah berbuat kasar atau pun menyakiti Safira,karena kami membesarkan Safira dengan penuh kasih sayang dan tidak pernah memperlakukan Safira dengan kasar”ucap Rina lagi-lagi di jawab anggukan.
Safira memang sering belajar bela diri,dan itu terpaksa kedua orangtuanya izinkan agar Safira bisa menjaga dirinya sendiri.Tapi meski begitu,kedua orang tua Safira tidak pernah memperlakukan Safira dengan kasar,karena Hadi dan Rina sama-sama memperlakukan Safira dan Rara layaknya berlian yang sangat berharga.
Tanpa Rina minta pun,Arnam tidak akan pernah memperlakukan Safira dengan kasar.Sekali pun jika nanti ia marah,Arnam sudah berjanji pada dirinya untuk tidak membentak Safira apalagi berbuat kasar pada Safira.
__ADS_1
Setelah itu,Hadi,Rina,dan Rara mengantar Safira dan Arnam hingga depan rumah.