
Seminggu setelah kejadian itu.
Rena yang kini sedang berjalan keluar kamar.Ia terlihat cerah,dengan senyum lebar yang terpatri di bibirnya.Pada saat melihat Rima,senyumnya itu langsung menghilang.Seolah hanya sekilas saja ia tersenyum.
“Bu”panggil Rena dengan raut wajah sendu,seakan suasana hatinya saat ini sangat buruk.
“Iya nak?”Rima langsung menyahut begitu sampai di depan Rena.
“Ada apa?,apa yang sudah terjadi?,kenapa wajah kamu bisa sesedih itu?”tanya Rima dengan raut wajah khawatir.
Rena terlihat diam saat mendengar itu,dengan pandangan yang ia layangkan ke bawah,jari-jarinya terlihat saling menyatu dan menggenggam dengan erat.
“Tidak seharusnya aku mengatakan ini...,tapi aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini semua.Aku sedang berada dalam kesulitan”ungkap Rena terdengar pelan.
“Ayo kita duduk.Coba jelaskan dengan tenang apa masalah yang sedang kamu hadapi?”Rima berkata sambil membawa Rina ke sebuah sofa lembut yang tidak jauh di antara mereka.
“Bu...”panggil Rena lagi dengan nada yang masih terdengar rendah,ia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi terlihat bimbang.
“Katakan saja,ibu akan coba bantu kamu”ucap Rima dengan nada menenangkan.
”Aku ingin memiliki seorang anak bersama Arnam”ucap Rena dengan pipi yang merona seolah-olah ia merasa malu saat mengatakan itu.
“Kamu sudah tidur dengan Arnam?”tanya Rima terdengar senang.
Rena yang mendengar itu pun langsung menggelengkan kepalanya kuat,ia menyangkal itu.Karena jangankan menyentuh!,menatapnya saja Arnam seolah enggan!!.
“Belum Bu..,aku mengatakan ini karena ingin meminta bantuan dari ibu”jelas Rena menerangkan.
Rima yang mendengar itu hanya memandang heran ke arah Rena seolah tidak mengerti.
“Maksud kamu?,kamu minta untuk ibu bujuk dia?”tanya Rima setelah mengerti keinginan Rena.Ia akhirnya paham akan maksud perkataan Rena setelah cukup lama berfikir.
Rena yang mendengar itu terlihat semakin menunduk karena malu.Rima yang melihat itu pun terkekeh karena gemas dengan sikap Rena.
“Baiklah,akan ibu lakukan.Tapi apa yang membuat mu berubah pikiran hingga meminta ibu untuk melakukan ini?”tanya Rima dengan wajah penasaran.Sebenarnya jauh sebelum itu,ia telah mengetahui bahwa Arnam belum pernah sekalipun tidur bersama Rena,apalagi menyentuhnya.Ia seolah merasa jijik pada Rena.Hingga suatu hari Rima menawarkan bantuan pada Rena,dan Rena menolaknya karena ia akan berusaha membuat Arnam menyukainya dengan caranya sendiri.Dan nyatanya itu tidak pernah terjadi.
Dan tanpa sepengetahuan Rena,Rima sudah beberapa kali mencoba untuk membantunya.
__ADS_1
Sampai-sampai ia rela memberikan anaknya sendiri obat perangsang.Awalnya Arnam yang mengetahui itu tentu kecewa,tapi ia memilih meluapkan hasratnya pada istrinya,yaitu Safira.
Rima tidak tahu seberapa besar usaha Arnam untuk keluar dari rumah itu setelah meminum obat perangsang yang ia berikan,apalagi dengan dosis tinggi!.Tapi dengan susah payah Arnam berhasil melewati itu semua dan menggagalkan rencana ibunya.
Semenjak saat itu Arnam jarang sekali menemui ibunya,kecuali di hari-hari tertentu.Itu sebuah bentuk kekecewaan dirinya.
“Arnam meminta aku untuk bercerai”ucap Rena setelah cukup lama hanya diam.
Rima yang mendengar itu tentu kaget,ia bahkan merasa kesal akan hal itu.“Oleh karena itu...,aku meminta bantuan pada ibu untuk membujuk Arnam”lanjut Rena terdengar memohon.
“Tanpa kamu minta,ibu pasti akan bantu kamu”jawab Rima yang langsung memeluk Rena.
“Terima kasih bu”ungkap Rena sambil tersenyum.Senyum nya terlihat aneh,dan hanya sekilas sehingga Rima tidak menyadari itu.
...*****...
Di hari berikutnya Arnam datang ke tempat Rima karena desakan ibunya,wanita itu selalu mendesak Arnam meski Arnam mengatakan dirinya 'sibuk'.
“Ada apa?”tanya Arnam saat telah berada di hadapan ibunya.Ia bertanya tanpa basa-basi.
Mereka kini tengah duduk di ruang tamu,dengan Rena dan Rima yang duduk saling berdampingan.
“Akhirnya kamu pulang juga,sudah berapa lama ya kamu tidak pernah mengunjungi ibu?.Hanya gara-gara wanita itu?,benar-benar pembawa pengaruh buruk!”ungkap Rima terdengar merendahkan Safira,seolah Safira bukan seorang wanita baik-baik.
“Bu!!”ucap Arnam terdengar menahan rasa kesalnya,ia tentu merasa tidak terima saat ibu nya merendahkan istri nya.Mungkin hanya dirinya yang menganggap Safira istrinya,sedangkan ibunya tidak pernah menganggap Safira sebagai menantunya sama sekali.
Seandainya ibu nya bisa memperlakukan Safira sedikit lebih baik saja,alangkah senangnya Arnam akan hal itu.
“Baiklah,ibu tidak akan membahas wanita itu.Tapi Arnam,ibu punya sebuah permintaan”ucap Rima secara langsung.
“Apa?”tanya Arnam dengan alis bertaut,sedikit bingung.Tapi meski begitu ia masih memasang wajah datar dengan sikap tak peduli.
“Ibu ingin segera memiliki cucu”ucap Rima sambil menatap Arnam dengan wajah berharap.
“Bukankah ibu memang akan memiliki cucu sebentar lagi?”tanya Arnam semakin tidak mengerti,alisnya bertaut semakin dalam.Ia jelas telah mengatakan pada ibunya tentang kehamilan Safira.
“Bukan anak dari Safira,tapi dari Rena!”ucap Rima yang langsung membuat Arnam merasa tersinggung.
__ADS_1
“Ibu!”Arnam sedikit menggeram menahan kekesalannya yang seakan sudah sampai puncaknya itu.
Ibu nya benar-benar menganggap dirinya seperti robot,robot yang bisa di gerakan semau ibu nya.Dia benar-benar merasa tidak suka karena hal itu.
“Arnam,ibu mohon nak”Rima berkata dengan raut wajah memelas,detik berikutnya ia langsung menitikan air mata.Jelas terlihat ia sangat mengharapkan itu,berharap agar Arnam luluh dengan permintaannya itu.
“Ibu!!”Arnam jelas tidak tahu lagi harus mengatakan apa,ia terlihat frustasi dengan tangan yang mengusap wajahnya sedikit kasar.Ia tidak tega melihat ibunya seperti itu,tapi ini keputusan dirinya yang tidak ingin memiliki anak,selain anaknya bersama Safira.
Selama ini Rima belum pernah menitikan air mata,jangan kan menangis,berkata dengan memelas pun jarang,karena Arnam akan langsung menuruti permintaan ibu nya tanpa pernah membantah sekalipun.Tapi karena akhir-akhir ini Arnam merasa ibu nya telah keterlaluan,ia merasa tidak bisa mematuhi permintaan ibu nya yang tidak masuk akal menurutnya.
“Ibu harap kamu bisa mengabulkan permintaan ibu.Bukankah selama ini kamu selalu mematuhi perintah ibu!,sekalipun hal itu akan mengorbankan nyawa kamu.Lalu kenapa hanya dengan masalah ini kamu tidak bisa?”jelas terdengar nada provokasi yang terkandung dalam nada bujukan Rima itu.
“Aku tidak bisa!!”jawab Arnam tegas.
Ibunya benar-benar!...,sudahlah Arnam tidak tahu harus berkomentar seperti apa akan sikap ibunya itu.
“Ibu janji ibu akan mengakui anak Safira sebagai cucu ibu,asalkan kamu mau memiliki anak bersama Rena”ucap Rima yang langsung mendapat tatapan tidak percaya dari Arnam.Jelas terlihat wajahnya semakin datar dengan tatapan tidak percaya yang kentara.
Maksudnya?,ibu nya tidak akan mengakui anak dalam kandungan Safira?,anak dirinya dan anak Safira.Itu darah dagingnya sendiri,ada darah ibu nya juga yang mengalir di darah anaknya nanti.Karena ibu nya adalah ibu kandungnya,kenapa dia bisa bersikap sekejam itu pada dirinya???.
Melihat tatapan anaknya,Rima yang merasa sedikit takut dengan kemarahan anaknya itu,ia akhirnya berusaha menjelaskan.
“Maksudnya,ibu akan memperlakukan dia dengan baik”ucapan Rima lagi,dan bukannya membuat Arnam tenang,malah semakin membuat Arnam marah dengan yang semakin dingin.
“Jika tidak ada yang ingin ibu katakan,Saya akan pergi.Banyak urusan yang harus saya urus”ucap Arnam yang langsung bangkit dengan tangan terkepal,ia tanpa menoleh langsung meninggalkan ruangan itu.
“Arnam”panggil Rima saat melihat Arnam hendak keluar.
“Bukankah kamu ingin meminta Rena untuk cerai,ibu tidak akan terima itu!!”amuk Rima.
Rena yang mendengar itu menjadi tegang,karena meskipun Arnam sering mengabaikan dirinya,ia belum pernah mendengar Arnam mengatakan ingin bercerai dari dirinya.Itu semua hanya kebohongan
nya!!,ia sengaja melakukan itu demi rencana yang ia susun bersama ibu nya.Lagipula mereka tidak pernah berbicara secara langsung setelah mendengar ucapan Arnam di hari mereka menikah.
“Arnam”Rima kembali memanggil Arnam,kini dengan nada suara yang lebih keras,tapi punggung Arnam jelas tidak terlihat lagi,ia telah pergi tanpa menghentikan langkahnya sekalipun.
Melihat itu,Rena pun tersenyum,dengan buru-buru Rena mengutak-atik ponselnya,entah apa yang ia lakukan.Yang jelas,hanya ia dan ibu nya Susan yang tahu itu.
__ADS_1
“Arnam!!”teriak Rima lagi untuk yang kesekian kalinya,tetapi tidak juga mendapat tanggapan karena Arnam sudah pergi.
“Sudahlah Bu,tenangkan diri ibu.Masih ada lain waktu untuk membujuk Arnam”ucap Rina yang langsung memeluk Rima.