
Ceril dan Tian sampai di kediaman Winston.
"Akhirnya kalian datang." ucap Sesil. "Sudah ayo kita masuk dulu." sambungnya meminta mereka masuk.
Tian dan Ceril mengikuti Sesil masuk ke dalam rumah. "Duduklah, aku akan mengambilkan minum untuk kalian." ucap Sesil
Tian dan Cheryl duduk di kursi ruang tamu, sedang Sesil pergi ke belakang untuk mengambilkan minuman untuk mereka berdua. Saat Tian dan Ceril duduk di ruang tamu, seorang wanita tua yang duduk di kursi roda datang menghampirinya.
"Ada tamu ya." ucap Nyonya besar Winston, Alina.
Tian dan Ceril langsung menoleh ke arah suara. Dilihat nya wanita tua sedang tersenyum dengan wajah keriputnya.
"Nenek." ucap Ceril menghampiri Alina. Ceril pun mendorong kursi roda, membawa lebih dekat dengan mereka.
"Ternyata kamu to Ril." ucap Alina.
"Iya Nek. Bagaimana kabar Nenek, apakah sehat?" tanya Ceril.
"Ya, Nenek sehat. Namun Ter kadang juga sering batuk, kan kamu tahu sendiri nenek sudah tua, tidak muda lagi." ucap Alina sambil tertawa.
Ceril juga tersenyum. "Tapi nenek masih cantik kok." ucap Ceril.
"Cantik dari mana nya, keriput kaya gini kok cantik." ucap Alina.
Alina melihat ke arah Tian. "Siapa dia?" tanya Alina pada Ceril.
"Dia kekasih ku Nek." ucap Ceril.
"Oooh..." Alina memandang Tian. Tian yang di pandang langsung mendekat.
"Perkenalkan, nama saya Tian Nyonya." ucap Tian.
"Tian, nama yang bagus. seperti orang nya, tampan dan gagah." ucap Alina.
Tian menatap Alina. Berpikir, mungkin kah wanita tua ini adalah orang yang telah menolong nya saat waktu kecil itu?
"Apakah anda Nyonya Alina?" tanya Tian.
Alina menatap dan mengangguk. "Ya, aku Alina." jawab Alina.
Tian yang mendengar itu tersenyum. Dia berjongkok, dan menggenggam tangan keriput itu. "Senang bertemu kembali dengan anda Nyonya Alina." ucap Tian.
Ceril yang mendengar berkata. "Apakah kau pernah bertemu dengan Nenek?" tanya Ceril.
"Ya." jawab Tian mendongak melihat wajah Ceril yang sangat cantik.
"Benarkah kita pernah bertemu?" tanya Alina menatap Tian, dia berpikir seperti nya baru pertama kali dia bertemu dengan Tian.
"Benar Nyonya, saat saya masih kecil. Anda pernah membela saya dari seorang wanita keluarga Anderson." ucap Tian
Alina diam, mengingat-ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. "Ah, jadi kau anak kecil tampan waktu itu?" tanya Alina yang baru saja mengingat.
__ADS_1
......Tian tersenyum mendengar Alina mengatakan dia tampan saat kecil.
"Jadi kau ini dia." pukul pelan di lengan Tian. "Kau masih saja tetap tampan, tapi untuk saat ini kau bertambah tampan. Beruntung sekali Ceril memiliki mu. Jika saja tidak, aku ingin kau bersama cucu ku, Sesil. Maukah kau bersama cucu ku dan meninggalkan gadis ini?" tanya Alina sambil melirik Ceril
"Nenek, Sesil sudah punya yang lain. Jadi nenek jangan meminta Tian dari ku." kesal Ceril.
"Lihat lah, dia suka merajuk lebih baik tinggalkan saja dia." ucap Alina.
....Tian tersenyum mendengar itu. "Saya akan tetap bersama nya Nyonya, karena saya mencintai nya." ucap Tian.
"Nenek dengarkan dia tidak akan meninggalkan ku, karena dia sangat mencintai ku." ucap Ceril.
"Iyalah, iyalah." ucap Alina memutar bola mata nya dengan malas.
"Oh ya, kau tadi bilang Sesil punya yang lain, siapa?" tanya Alina lirih.
"Nanti Nenek juga akan tahu." ucap Ceril.
"Apakah dia akan kemari?" tanya Alina.
"Tentu saja." ucap Ceril.
"Benarkah? Kau tidak bohong kan?" tanya Alina.
B"enar nek, Nenek tunggu saja kedatangan nya." ucap Ceril.
Dari arah belakang Sesil ikut menyahut. "Apa sih yang di obrolin, Sesil juga ingin tahu."
Alina, Tian dan Ceril menoleh. "Tidak ada, hanya ketemu teman lama." jawab Alina.
"Dia, dia teman lama Nenek." jawab Alina menunjuk Tian
"Tian! Teman lama Nenek! Apakah tidak salah Tian teman Nenek? Nenek kan sudah tua sedangkan Tian masih wow..Atau jangan jangan Tian sebenarnya sudah......" ucap Sesil menutup mulut dengan tangan, berpikir Tian laki laki tua yang merubah kulit nya menjadi pemuda.
"Buang pikiran buruk mu itu, Tian tidak setua yang kau pikirkan." ucap Ceril.
"Kau itu aneh aneh saja sampai memiliki pemikiran seperti itu. Tidak semua nya teman Nenek harus tua, Nenek juga butuh teman yang muda muda agar Nenek awet muda, tapi kenyataan nya nenek masih sedikit muda tidak tua tua amat, ya kan?" tanya Alina
"Is......" Sesil malas menanggapi.
"Minumlah, aku sendiri yang membuatkan nya tadi." ucap Sesil menawarkan minuman pada Tian dan Ceril.
Tian dan Ceril pun meminum nya. "Oh ya Nona Sesil, Nyonya Alina. Saya datang kemari sebenarnya ingin meminta tolong kepada anda. Saya ingin Ceril ada disini sampai kakaknya menjemputnya, saya tidak bisa menjaga nya karena saya banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." ucap Tian. "Apakah anda tidak keberatan jika saya menitipkan Ceril disini?" tanya nya.
"Buat apa keberatan. Ceril kan sudah Nenek anggap sebagai cucu Nenek sendiri, jadi kamu tidak perlu khawatir. Tanpa kamu minta kami pun pasti akan menjaganya." ucap Alina.
"Terimakasih kasih Nyonya Alina." ucap Tian.
Setelah meminta tolong untuk menjaga Ceril hingga Nickel datang, Tian pun pamit karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan.
"Aku pergi dulu, jaga diri mu. Dan ingat jangan buat siapapun susah." ucap Tian mengelus rambut belakang Ceril.
__ADS_1
Em....Ceril mengangguk.
Tian pun menarik tubuh Ceril dan mencium nya. Cukup lama berciuman, Tian pun melepas.
"Aku pergi dulu sayang." ucap Tian mengecup kening dan pergi meninggalkan Ceril yang berdiri di depan pintu.
Tian melajukan mobil nya sambil menghubungi seseorang.
"Bagaimana? Apakah sudah tahu kemana mereka akan melakukan pergerakan?" tanya Tian pada Samuel.
"Ini masih kami pantau Tuan." jawab Samuel yang menemani Dave memantau pergerakan Mafia JOEGER.
"Ketemu, lihat itu." ucap Dave menunjuk rekaman CCTV yang memperlihatkan beberapa anggota JOEGER akan menuju ke Negara A.
"Negara A..."gumam Samuel.
"Tuan, seperti nya mereka akan pergi ke negara A tuan." ucap Samuel.
"Negara A...Hahahha....bodoh sekali dia. Apakah mereka ingin mengantarkan nyawa sampai berani datang ke tempat ku itu? Sungguh benar benar bodoh sekali." ucap Tian
"Sam beritahu Marco untuk menyambut kedatangan mereka. Siapkan banyak pasukan jika perlu semua nya, babat habis mereka semua agar cepat selesai nya." perintah Tian.
"Baik tuan." ucap Tian. "Oh ya tuan, apakah kita tidak akan kesana?" tanya Samuel.
"Tidak, aku yakin mereka semua bisa mengatasi itu. Aku akan pergi mengunjungi papa ku tersayang, jadi jangan ganggu waktu ku selama aku ada disana." ucap Tian.
"Baik tuan." jawab Samuel.
Panggilan pun berakhir. Kini Tian melajukan mobil nya menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit. Tian bertanya terlebih dahulu kepada petugas, dimana letak kamar rawat pasien atas nama Haris Anderson.
Setelah tahu dimana kamar rawat Anderson, Tian berjalan menuju ruangan itu. Namun saat membuka pintu, dia di kaget kan dengan seseorang yang hendak ingin membunuh Haris.
"Apa yang kau lakukan." bentak Tian.
Orang yang hendak membunuh Haris langsung menyerang Tian.
Buuk...Buuuk...Buuuk....
Perkelahian di dalam kamar rawat Haris berlangsung. Orang itu membawa senjata tajam untuk membunuh Tian, Tian mengelak menghindari pisau itu dan sesekali mengarahkan tinjunya ke arah orang yang tidak di kanal nya itu.
Buuk....
Satu tinju mengenai bahunya hingga membuat orang itu meringis. Laki laki itu mencoba menyerangnya lagi, namun sebuah panggilan masuk. Ia pun mengangkatnya lewat earphone nya. "Baik tuan." Jawab laki laki itu.
Tian yang mendengar hendak menangkap nya, untuk mengetahui apa maksud ingin membunuh Haris. Namun sebelum Tian menangkap laki laki itu, sebuah bom asap menghalau penglihatan nya, hingga akhirnya laki laki itu berhasil kabur.
.
.
__ADS_1
.
.