
Anak buah Tian benar benar membawa Roland ke markas nya. Sedangkan Roland hanya bisa pasrah nyawa nya di jemput oleh malaikat maut.
Tian tidak kemarkas, ia akan kembali ke rumah untuk mengistirahatkan tubuh nya.
Di dalam kamar Tian melepas semua pakaian nya dan masuk kedalam kamar mandi, mengguyur tubuh nya dengan air dingin untuk menghilangkan penat beban di di pikiran nya. Terlalu banyak yang harus ia urus. Dari mulai keluarga Anderson, musuh sesama Mafia, dan juga permasalahan baru tentang asal usul keluarga dari ibu nya yang sepertinya tidak sesederhana yang ia fikirkan.
Hah....
Tian menghela nafas sambil mengusap rambut basah nya, menengadahkan wajah nya di bawah guyuran air.
Setelah selesai Tian keluar dengan handuk melilit di panggang nya. Berjalan masuk ke Walk in closet mengambil piyama nya dan memakai nya. Setelah itu Tian menghempaskan tubuh nya di ranjang. Mengambil Handphone dan mencari kontak nama seseorang yang selama sebulan ini tidak menghubungi sama sekali.
"Kenapa sebulan ini kau tidak menghubungi atau menganggu ku?" gumam Tian sambil menatap foto di profil Ceril.
Tian menekan Nomor Ceril, menghubungi nya.
Tut...Tut...Tut...
Panggilan tersambung.
Di Negara A saat ini masih pagi
Ceril terbangun saat mendengar handphone nya berdering, melenguh sambil mengambil handphone nya dengan mata terpejam.
"Siapa sih, mengganggu saja." gumam Ceril dengan suara serak nya.
Ceril menggeser tombol hijau. "Siapa?" tanya Ceril masih mengantuk.
__ADS_1
Tian yang di seberang telepon mendengar suara serak dan malas Ceril tersenyum kecil. Fikir nya ternyata gadis nakal nya masih tidur.
Tian melihat jam di dinding. "Bukankah seharusnya di sana sudah jam 7 pagi? Kenapa dia masih tidur? sungguh gadis pemalas." Batin Tian.
"Ini sudah jam 7 pagi, apa masih ingin tidur?" ucap Tian.
Ceril yang masih memejamkan mata langsung membuka mata dengan lebar saat mendengar suara yang tidak asing di telinga nya. "Tian." Batin Ceril.
Ceril langsung duduk dengan wajah kacau dan rambut awut awutan. Menyakinkan diri bahwa pendengaran nya tadi tidak salah.
"Sudah bangun?" tanya Tian. "Cepetan bangun, ini sudah pagi. Bukankah harus pergi ke kampus?"
Ceril yang benar benar tidak salah mengenali suara itu menepuk nepuk pipinya, fikir nya mungkin ini hanya mimpi. "Apakah ini mimpi? Benarkah ini Tian? Dia menelepon ku? Aku benar benar tidak salah dan tidak bermimpi kan?" Batin Ceril.
"Ehem....Sayang." panggil Tian dengan suara manis. Ceril yang mendengar panggilan itu serasa di jungkir balik kan dari ranjang mendengar panggilan sayang.
"What!! Dia memanggil ku sayang? Apa kah aku tidak salah dengar? Selama sebulan aku tidak menghubungi nya dia menjadi romantis. Aaa....Ceril kau tidak boleh tergoda. Fokus Fokus." Ceril menarik nafas dan membuang nya dengan pelan. "Kau harus menjadi gadis kalem tidak boleh seperti dulu, jangan buat Tian jengah dengan sifat mu. Ayo tunjukkan kau gadis dewasa, agar dia bingung dan tertarik dengan mu." Batin Ceril menyemangati dirinya sendiri.
"Kakak Tian kah?" jawab Ceril kaku. Dalam hati Ceril merasa geli dengan panggilan yang ia berikan kepada Tian. Mulut nya menahan tawa mendengar dirinya mengucapkan kata itu.
Tian yang mendengar panggilan aneh yang tidak biasa, mengerutkan kening nya. " Kakak Tian? Akukah itu?" Batin Tian bingung mendengar itu.
"Apakah kau sakit? Apakah kau habis terbentur sesuatu?" tanya Tian
"What!! Dia mengatai ku sakit? Tidak! Aku tidak sakit. Dasar Tian sialan." umpat Ceril kesal dalam hati. "Aku melakukan ini agar kau merasa bingung dan datang ke sini menemui, mengatakan cinta untuk ku seperti yang ku harapkan." batin Ceril.
"Aku tidak sakit, aku baik baik saja kak." jawab Ceril menormalkan sikap nya. "Bagaimana kabar mu kak selama ini? Apakah kau baik baik saja?" tanya Ceril benar benar seperti gadis dewasa
__ADS_1
Tian yang mendengar lagi panggilan 'Kak' benar benar bingung. "Kurasa kau memang sakit." ucap Tian.
"Aku tidak sakit kak." ucap Ceril benar benar tidak bisa menahan tawa.
"Aku yakin kau sakit. Tidak seperti biasanya kau memanggilku dengan panggilan itu. Kau harus kerumah sakit, aku akan meminta seseorang untuk menjemput mu dan memeriksakan mu." ucap Tian
"Tidak mau." tolak Ceril. "Aku ini tidak sakit, jadi jangan meminta seseorang menjemput dan mengantar ku ke rumah sakit." ucap Ceril.
"Oh ya kak, udah dulu ya. Aku harus mandi dan pergi ke kampus, ada mata kuliah pagi ini." lanjut Ceril ingin mengakhiri panggilan.
"Tung...." Tian belum selesai bicara Ceril sudah memutus panggilan.
Tian menatap layar handphone nya. "Ada apa dengan nya? Kenapa dia menjadi aneh seperti ini?" Gumam Tian benar benar bingung. "Aku harus meminta Marco mencari tahu apa yang terjadi dengan nya."
.
.
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Selamat membaca.
__ADS_1
Jangan lupa selalu tinggalkan like komen dan vote nya.
Jika perlu kasih bunga dan kopi nya. He..He...He..