
Setelah memenangkan pertarungan itu, kini semua anggota yang tersisa menyelamatkan yang terluka dan mengumpulkan yang mati. Mereka akan mengubur masal mayat mayat itu, baik dari Anggota Tian maupun anggota Levi.
"Kita pulang, kau harus membersihkan tubuh mu yang kacau ini dan mendapat hukuman dari ku karena berani ikut perang." Ucap Tian sebenarnya sedikit kesal karena Ceril membahayakan nyawanya.
"Aku kan hanya ingin membantumu." Ucap Ceril.
"Lain kali tidak ada." Ucap Tian membopong tubuh Ceril dan membawanya ke mobil.
Tian membawa Ceril ke hotel terdekat, walaupun tubuh dan tangan nya penuh luka dia tidak membiarkan Ceril untuk berjalan, karena dia tahu saat ini Ceril pasti nya sudah sangat lelah.
Setelah sampai di hotel, Tian memesan kamar hotel dan setelah itu pergi ke kamar yang telah di pesan nya tadi.
Setelah sampai di kamar, Tian langsung membawa Ceril ke kamar mandi, melepas pakaian yang penuh darah itu dan membuangnya ke kotak sampah.
"Basuh tubuh mu agar darah itu hilang, aku akan mengisi bathtub nya." Ucap Tian dan Ceril mengangguk.
Ceril membersihkan darah yang ada di tubuh nya, menggosok nya agar darah itu hilang. Sedangkan Tian yang sudah selesai langsung melepas pakaian nya dan menghampiri Ceril yang masih berada dalam guyuran air.
Tian memeluk dari belakang. "Yang." Ucap Ceril menyentuh tangan Tian yang terluka.
Tian menyandarkan kepala nya di bahu sambil mengendus endus leher ceril.
"Kamu lelah sayang?" Tanya Tian dengan suara parau sambil tangan nakal nya merem**s sesuatu.
Tian sungguh sangat merindukan Ceril, sudah dua bulan dia sama sekali tidak bertemu dengan kekasih nya.
Ceril yang tahu apa maksud Tian, menggeleng. Walaupun sebenarnya dia lelah tapi Ceril tidak ingin menolak nya.
Melihat gelengan Ceril, Tian pun membalik tubuh Ceril menghadap ke arah nya. Mulai mencium dan mencum**bu nya, sambil menuntun tubuh itu masuk ke dalam bathtub.
Tanpa melepas ciuman dan lumata**n nya, tangannya bergerilya mencari sesuatu kesukaan nya.
Dan akhirnya mereka…….
Jeng…wik…jeng…wik…
__ADS_1
Setelah selesai dan membersihkan tubuh mereka, Tian membawa Ceril ke kamar dan akhirnya mereka tidur hingga pagi hari.
Pagi hari Ceril lebih dulu bangun dan dia pun membersihkan tubuh nya lebih dulu. Setelah selesai, dilihatnya Tian masih nyenyak dengan tidur nya, mungkin karena dia sangat lelah dengan pertarungannya melawan Levi.
Sambil menunggu Tian bangun, Ceril meminta Samuel untuk membawakan pakaian untuk nya dan juga Tian.
Beberapa menit kemudian, Samuel datang dan memberikan pesanan nya.
"Apakah tuan belum bangun Nona?" Tanya Samuel.
"Belum, sepertinya dia cukup lelah." Ucap Ceril.
Samuel hanya mengangguk, namun dalam hati. "Lelah karena bercinta, lihat lah bahkan leher anda penuh dengan tanda yang di buat oleh tuan."
"Kalau begitu saya pergi dulu Nona, silahkan di lanjut tidur nya." Ucap Samuel pergi.
Siang hari.
Tian menyandarkan tubuh nya di sandaran ranjang, menghubungi Samuel.
"Sudah tuan." Jawab Samuel.
"......Tian mengangguk. "Oh ya, minta Marco untuk membebaskan David, Amira dan Navita." Perintah Samuel
"Loh, kok di bebaskan tuan?" Tanya Samuel
"Lakukan saja." Perintah nya setelah itu memutus panggilan
Ceril hanya diam tidak bertanya, karena menurutnya itu bukan urusan nya.
Malam hari Tian keluar meninggalkan Ceril yang masih di hotel.
"Aku pergi dulu, tetap lah disini." Ucap Tian.
"Hati hati." Ucap Ceril
__ADS_1
Sebelum pergi Tian mencium terlebih dahulu bibir manis milik kekasih nya. Sedangkan di bawah Samuel telah menunggu nya.
"Aku mencintai mu." Ucap Tian dan pergi.
Sesampainya di depan hotel.
"Ayo pergi." Ucap Tian masuk kedalam mobil.
"Baik tuan." Jawab Samuel.
Samuel mengendarai mobil nya menuju markas dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama, Tian dan Samuel pun akhirnya sampai.
"Mari tuan." Ucap Samuel membukakan pintu.
Tian keluar dan berjalan masuk dengan diikuti oleh Samuel, di dalam anak buah nya juga sudah menyambut ke datangan nya. Sedangkan Navita, David dan Amira berada dalam ruangan dengan di jaga oleh beberapa anak buah Tian.
"Selamat datang tuan." Sapa Marco, Jon, Denis, Arsen, Dave dan masih banyak lainnya.
Em…
Tian hanya mengangguk, membalas sapaan mereka.
David, Amira dan Navita yang melihat kedatangan Tian sangat kaget, karena pasal nya semua yang ada di tempat itu sangat menghormati Tian.
Awal saat di bebaskan mereka bertiga sangat senang, namun saat tahu mereka di bawa di tempat yang mengerikan ini, mereka menjadi gusar dan sedikit takut, apalagi saat melihat banyak nya benda tajam di tempat itu.
Tian menatap ketiga nya dengan senyum menyeringai.
"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Tian santai sambil menyilang kan kaki nya dan menyesap sebatang rokok.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Selamat membaca.