Anak Tak Diakui.

Anak Tak Diakui.
RENCANA DAVID, AMIRA DAN NAVITA


__ADS_3

Marx bertanya kepada Tian, kenapa Tian bisa sampai memiliki masalah dengan kelompok berbahaya seperti itu. Marx sungguh khawatir dengan nyawa Tian yang kapan saja bisa melayang di tangan musuh nya.


"Maaf tuan, saya tidak bisa mengatakan alasan nya. Namun saya hanya meminta kepada anda untuk selalu berhati hati, karena saat ini musuh saya sudah memulai nya. Saya yakin dia akan mencari orang orang yang memiliki hubungan dekat dengan saya. Baik dari saat saya kecil maupun saya sudah dewasa." ucap Tian.


Marx menghala nafas. Dia menatap Tian, Tian sekarang seperti nya sungguh sangat sangat berbeda. "Baiklah, aku dan keluarga akan berhati hati. Aku yakin musuh mu itu akan datang mengganggu kelaurga ku karena kau dari kecil bersama dengan ku." ucap Marx


"Aku berharap kau bisa menjaga diri mu. Dan jangan buat Ceril menangis karena mu " ucap Marx. Tian yang tahu maksud ucapan itu mengangguk.


Marx berharap Tian tidak mati di tangan musuh nya. Jika sampai itu terjadi, sudah di pastikan Ceril akan terpukul dengan kenyataan itu.


"Baiklah, sudah cukup aku bertanya pada mu. Aku akan pergi kalau begitu." ucap Marx


"Apakah anda akan kembali ke negara A?" tanya Tian.


"Tidak, aku akan bertemu dengan teman ku disini. Besok baru aku akan kembali." ucap Marx.


.....Tian menganggu tanda mengerti. "Apakah perlu saya antar tuan?" tanya Tian.


"Tidak perlu. Berikan satu mobil mu saja untuk ku." ucap Marx


Tian pun memberikan mobil nya kepada Marx. Marx pergi dari rumah Tian bersama dengan Asisten nya menuju kediaman teman nya.


.


.


.


Malam hari di kediaman Anderson.


David sudah siap dengan pakaian nya begitupun dengan Amira. Haris yang berada di ruang tamu melihat kedua anak nya akan menjalan kan rencana menjijikan itu mencoba menahan.


EHmmm...EHemm...


Haris mencoba menahan dan sedikit menarik tangan David.

__ADS_1


David yang melihat menjadi kesal.


"Apa apaan kau ini? Lepas!" ucap David menampik tangan Haris.


EHmm...EHmm.


"Jangan lakukan itu David. Tian anak papa, kau tidak boleh menggunakan Amira untuk berhubungan dengan nya. Papa tida rela. Papa tidak rela jika tubuh Tian harus di sentuh oleh anak menjijikkan itu." batin Haris tidak rela jika tubuh Tian di jamah oleh Amira yang menurutnya menjijikkan karena mau berhubungan dengan kakak nya sendiri.


Sebenarnya Haris jijik melihat kedua anak nya ini yang sama sekali tidak memiliki adab. Melakukan hubungan sedarah karena naf*su dan hasrat.


Fikirnya, apakah di luar sana tidak ada wanita atau laki laki yang dapat memuaskan naf*su mereka sehingga mereka harus melakukan hubungan itu.


Sungguh Haris di buat malu dengan tingkah kedua anak nya ini. Apalagi istri nya. Haris benar benar sudah tidak bisa berkata apa apa lagi.


Jika saja Haris bisa berjalan dan berbicara, mungkin Haris akan memaki dan menampar mereka semua.


"Kak, tidak usah pedulikan laki laki tua ini. Kita pergi saja." ucap Amira.


"Ya, kalian pergi saja. Tidak usah pedulikan laki laki tidak berguna itu." ucap Navita dari arah belakang.


Emm...Emmm..


Ucap Haris mencoba berbicara.


"Kau itu tidak usah buang buang tenaga untuk berbicara, sampai urat mu itu putus kau tetap tidak akan bisa bicara." cibir Navita.


"Cepat pergi, jangan hiraukan dia. Oh ya ini, berikan ini pada minuman atau makanan nya. Dan ingat jangan sampai gagal." ucap Navita memberikan sebuah botol kecil kepada David.


"Baik Ma, kami pergi dulu." ucap David.


"Ya, hati hati." ucap Navita.


David dan Amira pergi meninggalkan kediaman Anderson. Sedangkan Haris menatap tajam Navita. Navita yang melihat hanya melengos, setelah itu menghubungi kekasih nya, Alex.


Tak berselang lama, Alex pun datang. Dan mereka berdua pun pergi menuju kamar, meninggalkan Haris yang duduk di kursi roda.

__ADS_1


Melihat itu Haris menitikkan air mata. Menyesal itulah yang di rasakan nya. Dia mengingat wajah Renata, wanita yang sangat di cintai nya.


"Maafkan aku Renata, maafkan aku." Haris menangis. "Tuhan ambil saja nyawa ku, aku tidak sanggup menjalani ini semua. Dua anak ku seperti binatang, sedangkan istri ku..." batin Haris melihat ke atas ke arah kamar nya, telinga nya mendengar suara suara erotis yang membuat telinga nya jengah. "Dia sudah seperti Pela**cur."


"Tiap hari aku harus menyaksikan kelakuan bejat mereka. Aku tersiksa aku tersiksa, aku tidak sanggup hidup seperti ini. Setiap hari harus di suguhkan dengan pandangan menjijikkan itu." lanjutnya dengan air mata mengalir di pipi.


Dengan susah payah Haris mengelap air matanya sendiri. Hati nya rapuh, fikiran nya kacau. Menyesal, menyesal itulah yang di rasakan nya. Ia tahu itulah pilihan nya, memilih Navita hanya demi melindungi orang yang di sayangi nya. Namun kenyataan nya, orang yang di sayangi nya malah di bunuh oleh wanita pilihan nya sendiri tanpa sepengetahuan dari nya. Jika dia tahu bahwa Navita yang membunuh itu semua, sudah di pastikan Haris akan membunuh Navita.


Jika saya laki laki yang waktu itu tidak datang dan mengancam akan membunuh semua keluarga nya dan Renata serta bayi yang ada di kandungan nya, sudah di pastikan Haris akan bertahan dengan Renata. Mengingat orang itu tidak main main dengan ancaman nya, akhirnya Haris pun meninggalkan wanita yang di cintai nya demi melindungi semua nya.


Haris sekarang seperti orang yang tidak memiliki nyawa. Dia selalu meratapi nasib nya, mungkin inilah Karma untuk nya karena menyia-nyiakan anak dan wanita yang di cintai nya.


Haris menekan tombol di kursi roda nya dan mengarahkan nya di dekat jendela. Dia menatap langit. "Apakah kau senang melihat ku seperti ini Renata? Aku yakin kau senang. Jika aku bisa, aku ingin menggantikan mu dengan nyawa ku. Biarkan aku yang mati dan kau tetap bersama dengan putra kita.


"Kau tahu putra kita sungguh sangat tampan. Dia sangat gagah, ingin sekali aku memeluk nya dan aku juga ingin dia memanggil ku papa. Tapi seperti nya itu hanya angan angan ku saja. Dia tidak akan mungkin memanggil ku dengan sebutan papa, karena dia sangat membenci ku." batin Haris menangis lagi sambil menatap bulan di langit.


Penyesalan Haris terus saja berlangsung, dan terus menggerogoti hati nya hingga hatinya benar benar sangat rapuh dan tersiksa. Dia berharap ingin segera mati dan menyusul wanita nya di surga.


.


.


Ya elah pak Haris, memang nya kalau kamu mati sudah tentu akan masuk surga menyusul Renata. Iya kalau masuk surga, kalau masuk neraka bagaimana? Kan tetap saja tidak bisa bersama🀭🀭


Nyesel kan Lo...sekarang...lihat kelakuan asli istri Lo. Huh rasain...😝😝😝


Hayo, apa ya yang akan di lakukan David dan Amira pada Tian


Ikuti kelanjutan cerita nya.


Jangan lupa like komen dan Vote nya.😘😘


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2