
Ceril menembakkan beberapa peluru ke arah orang orang yang menodongkan senjata ke arah keluarganya. Sedangkan Tian melepas Arthur dan langsung menendang pistol yang ada di tangan Darius.
Darius marah karena Ceril membunuh anak buah nya, dia melihat satu anak buah nya yang dan mengangguk.
Tian menendang Darius hingga di terjatuh. "Berani nya kau main main dengan ku Darius bajingan." Ucap Tian menatap tajam, namun Darius sama sekali tidak takut, dia malah tersenyum menyeringai.
Dari arah sedikit jauh, ada seorang hendak membunuh Tian. Tidak ada yang menyadari hal itu, namun ada satu orang yang melihat arah mata Darius. Dia menoleh ke arah pandangan itu, dan ternyata dilihatnya seorang sniper siap membidik senjatanya ke arah Tian.
Melihat hal itu dengan mencoba menggerakkan kursi roda nya dia mendekat ke arah Tian, berharap menebus kesalahan nya dengan nyawa nya.
Dan
Doooor…..
Satu tembakan menembak tepat di kepala. Haris orang yang melindungi Tian dari arah belakang, rela mati demi anak yang tidak diakui nya. Demi menebus semua kesalahan nya di rela menjadi pelindung dan perisai untuk Tian.
Tian yang mendengar langsung menoleh dan dilihatnya Haris sudah bersimbah darah di kepala nya, sedangkan yang lain yang melihat menjerit karena Haris mati demi melindungi Tian.
Tian yang melihat langsung menghampiri dan mengangkat kepala Haris
"Bangun." Ucap Tian menggoyang goyang tubuh Haris agar bangun. Namun Haris tak kunjung bangun.
"Aku bilang bangun. Kenapa kau mati lebih dulu." Ucap Tian. "Hei, aku perintahkan kau bangun. Hanya aku yang boleh membunuh mu dan menyiksamu, kenapa kau malah mati lebih dulu sebelum aku membunuh diri mu dengan tangan ku sendiri." Sambung nya terus mengoceh
Semua nya hanya diam melihat itu. Sedangkan Darius yang melihat itu menjadikan nya kesempatan untuk mengambil senjata yang tak jauh dari jangkauan nya.
Grep…
Darius berdiri dan menodongkan pistolnya ke arah Tian. "Matilah kau." Ucap Darius menembakkan peluru nya.
Dooor……
Semua nya berlatih melihat ke asal suara dan dilihatnya Ceril bersimbah darah di perut nya. Semua nya kaget dan langsung berteriak. Tian yang juga melihat langsung meletakkan Haris dan menghampiri Ceril. "Ceril sayang, sayang, bangun sayang, ku mohon bangun." Ucap Tian mendekap tubuh Ceril dengan berlinang air mata.
Ceril yang masih ada kesadaran sedikit bergumam lirih. "Aku mencintai mu." Ucap Ceril setelah tak sadarkan diri.
"Tidak……" teriak Tian melihat hal itu. "Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku sayang. Jangan tinggalkan aku." Ucap Tian Meraung raung.
Keluarga Alexander menangis melihat Ceril lemas seperti tidak bernyawa.
Sedangkan Samuel yang melihat hal itu langsung marah, dan dengan cepat menyerang Darius. "Bajingan kau, dasar pecundang." Marah Samuel menyerang Darius membabi buta.
Buk…Buk…Buk…
Mereka berdua bertarung. Sedangkan Tian masih menangisi kekasih yang dicintai nya.
__ADS_1
"Tian." Panggil Nickel dengan wajah yang penuh air mata di pipi nya.
Tian menoleh. "Tuan muda." Lirih Tian.
"Bunuh dia Tian, bunuh dia." Ucap Nickel menangis sambil menunjuk Darius.
"Aku ingin dia mati sekarang, karena dengan beraninya dia membunuh adik ku. Bunuh dia sekarang, ini perintah." Ucap Nickel dengan penuh air mata dan wajah yang penuh amarah.
Sedangkan Selly sudah pingsan lebih dulu melihat putrinya terkulai lemas dengan bersimbah darah. Dia tidak menyangka jika akhirnya seperti ini, sedangkan Marx hanya bisa diam dengan air mata yang terus menetes di pipinya melihat kenyataan yang terjadi hari ini.
Tian yang mendengar perintah itu langsung menyerahkan Ceril dalam pangkuan Nickel. Berdiri menatap tajam dan penuh amarah kepada Darius yang sedang bertarung dengan Samuel.
"Darius aku akan membunuhmu." Ucap Tian berjalan sambil mengambil besi panjang dan berlari ke arah Darius
"Ku bunuh kau." Teriak Tian dan…
Buk….
Tian memukul Darius dengan besi panjang yang di pegang nya. Darius yang mendapatkan pukulan langsung terhuyung ke belakang dengan kepala berdarah.
Darius menyentuh kepala nya yang berdenyut dan dilihatnya darah ada di telapak tangan nya.
"Berani nya kau memukul ku bajingan." Marah Darius dan mengambil besi panjang yang tergeletak di samping nya.
Samuel menyingkir, membiarkan tuan nya membunuh Darius dengan tangan nya sendiri.
Dia yang seorang Raja selalu berlatih dan berlatih agar kekuatan nya tetap kuat untuk menghadapi sesuatu nantinya. Dan hari ini dia mengeluarkan semua kekuatan nya untuk mengalahkan Tian, keponakan nya.
Sedangkan Tian sudah seperti kesetanan, yang dia ingin kan membunuh dan membunuh Darius. Apalagi saat mengingat Ceril, jiwa ingin membunuh nya membara ingin segera menghabisi Darius.
Kedua nya saat ini kondisi tubuhnya sangat kacau. Tian penuh luka begitupun dengan Darius tak kalah menyedihkan nya.
Tian terus menyerang tanpa memikirkan kondisi tubuh nya yang parah. Darah keluar dari tubuh nya, baik di kepala, wajah, lengan tangan dan hampir seluruh nya penuh darah. Darius juga sama, namun saat ini yang bisa di lihat Darius lebih lebih menyedihkan.
Buuk….
Tian menendang Darius hingga tersungkur. "Aku akan membunuhmu bajingan. Beraninya Kau membunuh cinta ku." Ucap Tian keras dengan wajah mengerikan.
Arthur hendak berlari ke arah Tian, namun tangan nya langsung di cekal oleh Samuel. "Berhentilah dan jangan ikut campur." Ucap Samuel dengan nada mengerikan.
"Lepas, aku harus menolong ayah dan meminta pengampunan dari nya." Ucap Arthur.
"Percuma, tuan ku tidak akan pernah mengampuni ayah mu. Karena ayahmu sudah berani mengusiknya, membunuh semua orang yang dia sayangi." Ucap Samuel.
Mereka berdua terus berdebat. Sedangkan Tian sudah siap melayangkan peluru nya di kepala Darius. "Matilah."
__ADS_1
Dooor….Dooor …Doooor…..
Tian menembakkan banyak peluru si kepala dan di perut hingga membuat Darius mati seketika. Arthur yang mendengar langsung menoleh dan berlari ke arah ayah nya.
"Ayah….." panggil Arthur.
Walaupun Darius tadi sempat menginginkan dia mati, namun Arthur tetaplah seorang anak yang tidak ingin melihat ayah nya mati mengenaskan.
"Kenapa kau membunuh ayahku?" Tanya Arthur berdiri menatap Tian.
Tian hanya diam malas menjawab anak ingusan di depan nya. Ya, Arthur lebih muda dari nya, jadi wajar jika selalu diperdaya oleh ayah nya.
Sebenarnya Arthur memiliki hati lembut seperti ibu nya, namun karena pengajaran ayah nya yang tidak benar, ia jadi ikut ikutan seperti ayah nya membenci Tian dan Arabella. Namun tidak dengan nenek dan kakek nya, raja dan ratu terdahulu. Dia begitu menyayangi orang tua yang sudah renta itu.
"Karena dia pantas mendapatkan nya." Ucap Tian. Arthur hendak berbicara lagi namun Tian lebih dulu berkata. "Jika kau tidak bisa diam aku juga akan membunuhmu, mengirim mu ke tempat ayahmu berada." Ucap Tian menatap tajam Arthur
Arthur yang di beri tatapan tajam langsung menelan ludah, entah kenapa dia merasa takut melihat wajah Tian yang mengerikan.
Tian meninggalkan Arthur yang tidak bergeming. Sedangkan Tian pergi menuju tempat dimana Ceril dan keluarga Alexander berada. Namun saat sampai, begitu terkejut nya dia tidak mendapati siapapun disana, hanya Haris yang tergeletak tak bernyawa.
"Dimana mereka?" Tanya Tian bingung
"Saya juga tidak tahu tuan." Jawab Samuel juga bingung karena tidak melihat mereka semua. Hanya melihat sekeliling yang masih kacau dengan pertarungan.
Melihat itu Samuel tidak ingin anak buah nya banyak yang mati, dia pun memerintah semua nya untuk berhenti. Dan untuk pasukan kerajaan agar segera menyerah karena raja mereka telah kalah, mati.
"Cepat cari mereka sam." Perintah Tian dengan perasaan kacau saat tidak mendapati Ceril.
"Ceril, sayang. Kamu dimana?" Teriak Tian memanggil. "Tuan muda, tuan Marx kalian Dimana." Tian terus berlari kesana kemari untuk mencari keberadaan Ceril dan lainnya. Namun semua nya nihil, dia tidak menemui keberadaan mereka semua.
Begitupun Samuel dan lainnya juga mencari keberadaan keluarga Alexander, hingga matanya menangkap seorang yang mencurigakan dan hendak lari.
"Berhenti." Teriak Samuel. Tian yang mendengar langsung menoleh, dilihatnya seorang berlari untuk menghindari mereka.
Tian juga ikut mengejar orang itu.
Buuk…
Samuel menendang punggung orang itu.
"Mau kemana kau." Ucap Samuel menahan
"Lepas…" ucap orang itu meronta
Samuel menarik dan dilihatnya ternyata Adam Watson, senyum terbit di bibir nya. Namun senyum itu senyum yang menyeramkan..
__ADS_1