
Senyum menyeringai terbit di bibir Tian.
"Bukan kah ini memang keinginan mu sendiri?" tanya Tian sambil mencengkram dagu Roland.
"Tidak Tuan. Ini bukan keinginan saya," jawab Roland mengelak.
"Kamu pikir aku bodoh? Bukan kah kamu memang ingin membunuh ku atas perintah David dengan imbalan yang besar? Jika aku bukan ketua Mafia mungkin kau benar benar akan membunuh ku. Tapi apa! Kau mencari masalah dengan musuh yang salah," ucap Tian menghempaskan dagu Roland kuat.
Tian duduk di kursi depan Roland, menyilang kan kaki nya sambil menatap Roland.
"Roland Roland. Kau itu benar benar sangat bodoh," lanjutnya menertawakan kebodohan yang di lakukan Roland.
Tian pikir Roland benar benar ingin mengantarkan nyawa nya sendiri kepada nya.
"Ambilkan aku pistol nomor 2," perintah Tian ke salah satu anak buah nya untuk mengambil senjata di sebuah ruangan khusus milik nya.
"Baik tuan," ucap anak buah nya dan pergi untuk mengambilnya.
Berbeda dengan Roland yang langsung menatap Tian. "Apakah dia akan menyiksa ku dan membunuh ku setelah anak buah nya juga menyiksa ku," batin Roland.
"Tuan, jangan apa apakan saya. Ku mohon tuan, ampuni saya. Saya akan melakukan apa pun yang anda minta asalkan anda mengampuni diri saya," ucap Roland.
"Benarkah?" tanya Tian.
"Benar tuan. Jika saya di haruskan menjadi budak anda atau membunuh David secara langsung dan seluruh keluarga nya, saya akan melakukannya Tuan. Asalkan anda mengampuni nyawa saya," ucap Roland.
Tian yang mendengar langsung menatap Roland tidak suka. Anak buah Tian yang mengambil senjata datang membawa pistol no 2.
DAN.
Door.....
Satu peluru mengenai bahu Roland.
Aaah...
__ADS_1
Teriak Roland kesakitan, lalu menatap ke arah Tian yang menembakkan peluru ke arah nya. "Tuan," ucap Roland tidak mengerti jalan pikiran Tian.
"Berani nya kau ingin membunuh keluarga David jika kau ku izinkan menjadi budak ku. Lagian siapa juga yang mau menjadikan mu budak ku! Aku sudah lebih banyak memiliki bawahan berguna ketimbang diri mu yang mungkin nantinya akan berkhianat kepada ku," ucap Tian kesal mendengar Roland ingin membunuh mainan nya.
"Jangan sekali kali menyentuh mainan ku," lanjutnya.
Roland diam. "Apakah aku salah ngomong lagi? Bukan kah dia sangat membenci David? Lalu kenapa saat aku mengatakan itu dia menjadi marah?" batin Roland.
"Bukan kah anda membenci David?" tanya Roland
"Aku tidak suka menjawab pertanyaan yang bukan urusan mu," ucap Tian.
"Tapi....." Roland ingin berbicara lagi, tapi sebelum pertanyaan itu keluar dari mulut nya, Tian langsung menembakan senjata nya ke bahu Roland yang sebelahnya lagi.
Door....
Aaah...
"Kau itu terlalu banyak tanya dan sok tahu," ucap Tian. "Dengar ya Roland! Aku akan membunuh siapa saja yang berani bermain dengan ku. Jangan fikir aku akan mengampuni mu," ucap Tian dengan suara keras.
"Seret dia ke tempat Lion, aku malas mengurusnya," perintah Tian.
"Baik tuan," jawab anak buah Tian.
Anak buah Tian menghampiri Roland yang terikat dengan besi, setelah itu menyeretnya ke kandang Lion.
"Lion! siapa Lion?" tanya Roland
"Lion adalah teman ku, jadi aku akan mengizinkan kau bermain dengan nya. Ku rasa dia pasti saat ini sudah lapar, jadi selamat bersenang senang," ucap Tian.
"Kenapa firasat ku sangat buruk. Sepertinya akan terjadi hal hal yang tidak ku inginkan," batin Roland.
Roland di seret oleh kedua bawahan Tian menuju kandang Lion. Roland tidak tahu jika Lion adalah singa jantan milik Tian.
Lion adalah singa jantan peliharaan Tian. Tian tidak hanya memiliki satu singa, tapi dalam kandang besar itu ia memiliki tiga singa. Tak hanya itu saja peliharaan Tian, ia juga memiliki beberapa buaya buaya yang ganas di kolam nya.
__ADS_1
Jika tawanan mereka mati dalam keadaan di siksa atau di cincang, ia akan memberikan tubuh itu kepada para buaya. Namun sebaliknya, jika dia malas mengurus dan menyiksa, Tian akan langsung membawa tawanan itu ke kandang singa untuk di jadikan bahan olahraga mengunyah gigi Lion dan lainnya.
Sesampainya di kandang Lion, Roland yang melihat langsung membelalakkan matanya. "Singa!! Apa apaan ini? Apakah aku akan benar benar bermain dengan singa singa ganas itu?" batin Roland bergidik ngeri membayangkan daging nya yang akan di koyak oleh ketiga singa itu.
"Apakah kalian sedang bercanda? Ini singa, tidak mungkinkan kalian akan memasukkan ku kedalam singa itu?" tanya Roland.
"Benar, disini tidak ada yang bercanda. Jadi silahkan bermain dengan peliharaan Tuan," ucap anak buah Tian.
Penjaga singa membukakan pintu kandang. Anak buah Tian yang membawa Roland langsung menarik saat melihat rekannya mengangguk.
Roland yang tangan nya di tarik, serta tubuh nya di dorong berteriak untuk tidak memasukkan kedalam kandang singa itu. "Ku mohon jangan, jangan masukkan aku kedalam singa itu. Lepaskan aku," Roland meronta agar bisa lepas dari kedua orang itu.
Namun anak buah Tian tidak menggubris, mereka terus menarik hingga Roland benar benar masuk kedalam kandang.
Disaat Roland sudah masuk, dengan cepat penjaga Lion langsung mengunci kandang itu.
"Buka, ku mohon buka. Aku tidak ingin mati di tempat ini," ucap Roland berusaha membuka pintu kandang.
"Tuan Tian, maafkan saya tuan. Tolong lepaskan saya," teriak Roland.
Tiga singa yang melihat mangsa masuk kedalam kandang nya, mengaum dan menghampiri. Tubuh Roland gemetar mendengar auman ketiga singa itu. Dalam sekali helaan nafas, ketiga singa itu dengan cepat menerkam dan mengoyak tubuh Roland hingga tanpa sisa.
Dan akhirnya Roland pun berakhir.
.
.
.
.
Mulai hari ini Autor update lagi. Jangan khawatir Autor tidak update.
Silahkan membaca, semoga suka.
__ADS_1