Anak Tak Diakui.

Anak Tak Diakui.
HARAPAN YANG TIDAK SESUAI


__ADS_3

Setelah selesai berganti pakaian, Ceril keluar dari kamar. Di depan pintu Nickel sudah menunggu nya, menyerahkan lengan nya agar Ceril mengandeng nya.


Mereka berdua turun, bergabung dengan Marx dan juga Selly. Menunggu kedatangan keluarga Paman nya. Tak berselang lama, keluarga Rahman datang. Mereka semua turun dari mobil dan berjalan masuk.


Di depan pintu Keluarga Marx sudah menunggu nya.


"Selamat datang di kediaman Alexander kak." ucap Marx memeluk Rahman dan Rahman pun menyambut pelukan adik ipar nya itu.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Rahman.


"Semua nya baik seperti yang Kakak lihat." ucap Selly menimpali.


"Ayo kita masuk." ajak Marx.


Mereka semua pun masuk dan duduk di ruang tamu. Rahman melihat Nickel dan Ceril.


"Mereka berdua ternyata sudah besar." ucap Rahman


"Ya, tak terasa anak anak kita sudah tumbuh besar, dan kita sudah semakin tua." ucap Marx.


Mendengar itu mereka tertawa bersama. Vano yang sedari tadi diam dan sibuk dengan handphone nya kini beralih menatap Ceril.


Cantik. Itulah kata yang di di ucapkan Vano dalam hati.


"Apakah dia yang akan menjadi tunangan bohongan ku?" tanya Vano menunjuk Ceril


"Ya, dia Adik mu, Ceril nama nya." jawab Marx.


"Aku penasaran seperti apa laki laki yang tidak tertarik dengan Adik ku yang cantik ini?" ucap Vano berfikir.


Cukup lama mereka mengobrol, seseorang datang menghampiri mereka.


"Selamat siang semuanya." ucap Tian yang baru datang.


Ceril yang melihat kekasih nya datang, tersenyum. Ingin sekali dia berlari dan memeluk nya, namun mengingat keluarga semua bersama dengan nya, ia urungkan niat itu.


"Ah, kau sudah datang. Kemari lah dan duduk." ucap Marx.


Tian pun duduk di samping Nickel. Anggota keluarga Rahman menatap Tian penuh tanya, dengan pandangan ingin tahu siapa pemuda yang ada di depan nya ini.


"Ehem..Tian. Perkenalkan, dia adalah keluarga Rodriguez. Om Rahman nama nya." ucap Marx memperkenalkan.


"Senang berkenalan dengan anda Tuan Rodriguez." ucap Tian.


"Dan wanita yang di samping nya adalah istrinya." ucap Marx. Istri Rahman mengangguk dan Tian pun membalas nya. "Dan yang terakhir, pemuda yang ada di depan mu. Dia adalah Vano Rodriguez, putra pertama Om Rahman, dan calon tunangan Ceril." lanjutnya memperkenalkan dan memperjelas bahwa Vano adalah calon Ceril.


Tian menatap Vano dengan pandangan yang sulit di jelaskan. Sedangkan Vano yang di tatap merasa sedang di tatap oleh singa, pandangan itu menurutnya sangat menakutkan.


Merasa Tian menatap Vano dengan pandangan rumit, Marx pun berkata. "Malam nanti acara pertunangan mereka akan di laksanakan."


Semua mengangguk, namun tidak dengan Tian. Tian merasa kesal dan cemburu mendengar Ceril akan bertunangan dengan Vano, laki laki yang ternyata lumayan tampan.


Malam hari sebelum acara, Tian benar benar tidak bisa menahan untuk tidak menemui Ceril. Saat Ceril lewat di depan kamar nya, Tian menarik tangan itu dan membawa Ceril masuk kedalam kamar nya.


Tak lupa Tian mengunci pintu nya.


"Kenapa kau membawa ku ke kamar?" tanya Ceril.

__ADS_1


"Karena aku merindukan mu." ucap Tian.


Tian tak menunggu lama, dia menarik tengkuk Ceril dan mendarat kan ciuman nya. Sedangkan di luar Nickel yang melihat Ceril di tarik oleh Tian ke kamar, hanya mengangkat bahu acuh.


Malam hari acara pertunangan pun siap di laksanakan. Vano dan Ceril sudah siap di depan para tamu undangan.


"Dek, apakah laki laki itu adalah Tian?" tanya Vano berbisik kepada Ceril.


"Em..." Ceril mengangguk, tapi matanya tak lepas menatap Tian yang wajah nya sudah suram.


"Dari yang kakak lihat dia mencintai mu." ucap Vano.


"Memang dia mencintai ku, dia sudah mengatakan nya pada ku." jawab Ceril.


"Loh, kalau dia sudah mengatakan kepada mu, kenapa harus berpura pura lagi?" tanya Vano bingung.


"Ada sesuatu yang memang kau harus terlibat dalam hubungan ku." ucap Ceril


"Aku tidak mengerti." jawab Vano.


Ceril menoleh menatap kakak sepupu itu. "Ada hal yang memang harus kita lakukan demi menutupi hubungan ini. Walaupun aku sendiri ingin mengatakan kepada dunia bahwa kita sepasang kekasih, tapi aku juga harus memikirkan semua keluarga ku yang mungkin nanti nya akan membuat mereka berbahaya." ucap Ceril.


.......Vano diam. Setelah itu berkata. "Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau maksudkan dek."


"Suatu saat kakak pasti akan mengerti. Dan maaf jika nanti kakak akan ikut terlibat dalam masalah rumit nanti nya." ucap Ceril.


.


.


Tian dan Ceril memutuskan akan menyembunyikan hubungan mereka di balik pertunangan Vano dan Ceril, demi melindungi keluarga nya.


.


.


Setelah acara selesai.


Nickel yang sudah tidak tahan melihat sikap acuh Tian, langsung menghampiri dan....


Buuk....


Nickel meninju perut Tian.


Tian hanya meringis kecil mendapat tinjuan Nickel yang menurut nya seperti tinjuan anak anak.


"Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Nickel kesal.


"Memang ada apa dengan saya Tuan?" tanya Tian.


"Kau masih tanya ada apa? Apakah kau sama sekali tidak mencintai adik ku? Padahal adik ku sudah sering mengatakan cinta kepada mu. Sebenarnya kau itu laki laki macam apa?" tanya Nickel


"Saya memang tidak tahu maksud Anda. Dan untuk mencintai, anda tidak perlu tahu perasaan saya. Jika pun dia mencintai ku, itu urusan nya. Saya tidak melarang siapa pun mencintai saya." ucap Tian.


"Brengsek kau." kesal Nickel meninju pipi Tian.


Tian yang mendapat tinju hanya mengusap bibir nya yang mengeluarkan sedikit darah.

__ADS_1


"Lalu apa yang ku lihat malam tadi sebelum acara? Kau menarik adik ku masuk ke kamar mu. Jika kau tidak memiliki perasaan kepada Ceril, aku yakin kau tidak akan melakukan itu." ucap Nickel.


..........Tian diam.


Marx dan lainnya hanya melihat mereka berdua. Namun dia juga sedikit kesal karena apa yang di rencanakan agar Tian mengakui perasaan nya sama sekali tidak berhasil.


"Tian, disini aku sebagai seorang ayah, aku juga akan bertanya. Jika kau tidak mencintai putri ku lalu kenapa kau malam itu masuk ke kamar Ceril." ucap Marx yang memang mengetahui Tian masuk seperti seorang pencuri pada malam hari.


Semua yang mendengar langsung menoleh ke arah Marx dan setelah itu beralih menatap Tian. "Apakah sebelum nya kau juga masuk kedalam kamar adik ku?" tanya Nickel.


Tian yang ketahuan diam, bingung mau menjawab apa. "Ah sial, ternyata ada yang melihat ku malam itu. Bikin malu saja." batin Tian.


Semua nya menunggu jawaban Tian dengan benar atau tidak nya yang di katakan Marx.


Namun sebelum Tian menjawab sebuah panggilan telepon mengalihkan perhatian mereka.


Dreet.... Dreet...Dreet..


Panggilan masuk di handphone Tian.


Tian mengambil, di lihat nya Arsen yang menghubungi nya.


"Ada apa?" tanya Tian.


Semua yang ada di ruangan itu terus menatap Tian. Tian yang di tatap merasa risih, dan akhirnya berjalan sedikit lebih jauh.


"Tuan, anak buah yang kita masukkan kedalam markas JOEGER di Negara C memberikan informasi lengkap. Dia telah mengetahui siapa ketua kelompok itu dan informasi lainnya, dia juga telah mengirim informasi dimana letak letak markas mereka yang berada di luar Negara C." ucap Arsen.


"Bagus. Perintahkan dia untuk kembali, aku takut dia tertangkap karena sudah berhasil membobol informasi di markas mereka." ucap Tian.


"Baik tuan." jawab Arsen.


Panggilan pun berakhir. Namun tak berselang lama, Samuel menghubungi nya.


"Ada apa?" tanya Tian.


"Tuan kita harus cepat kembali ke Negara C, ada kelompok yang tiba tiba menyerang markas Kita." ucap Samuel.


"Apa!!! Bajingan, siapa yang berani melakukan nya." umpat Tian sedikit keras. "Perintahkan Dave untuk menyiapkan pesawat, kita harus kembali saat ini juga."


"Baik tuan." jawab Samuel dan mengakhiri panggilan.


Marx dan lainnya yang mendengar umpatan itu mengerutkan kening. Mereka berfikir siapanya yang menghubungi Tian hingga membuat Tian kesal dan marah.


.


.


.


.


.


💞💞💞💞💞


Dari sini ayo kita mulai Mafia Mafiaan nya

__ADS_1


Selamat membaca.


jangan lupa like komen dan vote nya.


__ADS_2