Anak Tak Diakui.

Anak Tak Diakui.
TIAN TERKEJUT.


__ADS_3

Maaf Autor lagi sakit, kemaren sudah di usahakan agar bisa update. Mata Autor juga sakit karena terlalu sering menatap layar handphone, apalagi kacamata Autor hilang entah kemana. Autor cari dan panggil juga tidak menyahut, kan bikin kesel.😭😭 udah di miscol gak nyambung pula. Bikin geregetan aja.🀣🀣🀣


.


.


.


Anak Tak Diakui


Bab. 90


.


.


.


Mendengar pertanyaan Nickel Tian menjadi diam. Dalam kepala nya dia berfikir keras.


"Ayo jawab pertanyaan ku?" ucap Nickel sambil bersedekap dada.


Tian menatap Nickel, setelah itu beralih menatap Ceril. "Maaf tuan, untuk saat ini saya belum bisa menjawab pertanyaan anda." ucap Tian dan setelah itu tangan nya merogoh saku, mengambil handphone nya dan menghubungi seseorang.


Nickel yang ingin berkata ia urungkan melihat Tian yang menjawab panggilan nya. "Datang ke kediaman Alexander, dalam waktu sepuluh detik kau harus sudah sampai. Jika tidak, aku akan menghancurkan alat alat jelek mu itu." ucap Tian memerintah sambil mengancam.


Saat orang yang di hubungi Tian ingin menjawab, panggilan itu sudah di putus oleh Tian.


Orang itu menggerutu dan mengumpat dengan kata kata kasar karena Tian mengancam nya. Jika saja Tian bukan rekan nya, sudah di pastikan Tian akan di hajar habis habisan oleh nya.


Ternyata orang yang di hubungi Tian adalah seorang Dokter, Mickel itulah namanya.


"Akan ada seseorang yang datang memeriksa mu nanti. Aku pergi dulu dan jaga diri mu." ucap Tian dengan berani, mencium kening Ceril.


Nickel yang melihat melotot melihat keberanian Tian yang mencium adik nya di depan matanya. "Apa apaan kau ini? Tidak menjawab pertanyaan ku tapi malah mencium adik ku." kesal Nickel.


Tian tidak menggubris ucapan Nickel. "Maaf tuan muda, saya harus pergi." ucap Tian.


"Tian sialan jawab pertanyaan ku." ucap Nickel. "Mau kemana kau? Jangan pergi." teriak Nickel memanggil Tian yang pergi meninggalkan nya.


Tian tidak peduli jika tuan muda nya akan marah, kesal, bahkan mungkin akan mengatakan bahwa dirinya tidak tahu malu atau yang lainnya. Bagi Tian saat ini, menghindari pertanyaan itu lebih baik dia cepat pergi. Namun sialnya, berhasil menghindari Nickel tapi kini malah harus berhadapan dengan bapak nya Nickel, Tuan Marx Alexander.


Sedangkan di kamar Ceril.

__ADS_1


"Kakak lihat kan? Dia selalu menghindar seperti itu. Aku tahu dia mencintai ku. Jika dia tidak mencintai ku, mana mungkin dia jauh jauh datang ke sini setelah mendengar aku sakit." ucap Ceril.


"Yah, kau benar. Dan kakak sudah melihat nya kalau sebenarnya dia juga mencintai mu. Tapi yang kakak lihat, seperti nya dia menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh di ketahui oleh kita." ucap Nickel.


"Apakah kau tidak tahu sedikit pun tentang nya selain dia pemimpin Perusahaan TYREND CROP'S?" tanya Nickel.


"Tidak, hanya saja pernah suatu malam ada beberapa orang yang hendak membunuh kami. Dan mereka semua membawa senjata. Tapi aku yakin mereka tidak berniat merampok atau yang lainnya, yang mereka inginkan adalah membunuh satu nyawa yaitu Tian." ucap Ceril mengingat saat saat penyerangan di dalam mobil, dan saat itu dia sedang bersama Sesil.


"Dan setelah kejadian itu, Tian memerintah kan beberapa pengawal untuk menjaga ku. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan nya, tapi aku di larang untuk menolak." jelas Ceril.


Nickel diam mendengar itu. "Kamu tunggu disini." ucap Nickel pergi meninggalkan Ceril.


Di lantai bawah.


"Kau disini?" tanya Marx berjalan menghampiri menghampiri Tian.


Tian tersenyum dan menghampiri Marx. Tian memeluk tubuh Marx. "Bagaimana kabar tuan?" tanya Tian.


"Tentu saja baik." ucap Marx melepas pelukan nya.


"Kau tidak merindukan Mami." ucap Selly merentangkan tangan.


"Tentu saja Nyonya." ucap Tian memeluk Selly


"Kenapa masih manggil nyonya? Bukankah sudah kukatakan, panggil aku Mami." ucap Selly memukul punggung tian.


Tian merasa Selly seperti Mama nya, dia memeluk dengan erat. Selly yang merasakan pelukan yang tidak seperti biasanya mengelus rambut Tian dengan sayang.


Sedangkan Marx hanya diam melihat mereka berdua berpelukan. Marx beralih melihat Nickel yang berada di lantai atas. Nickel yang di lihat mengangguk dan Marx pun tersenyum.


Tian melepas pelukan nya. "Ayo duduk dulu." ajak Selly.


Tian menurut dan duduk di samping Selly. "Kenapa baru kembali? Apakah di sana sangat menyenangkan?" tanya Selly.


"Ya, disana sangat menyenangkan Mam." jawab Tian.


"Sampai menyenangkan nya, kau pun melupakan kami?" ucap Selly sedikit cemberut.


Tian terkekeh melihat Selly yang cemberut. "Bukan seperti itu Mam. Hanya saja pekerjaan Tian sangat banyak disana, jadi Tian tidak bisa meninggalkan nya." ucap Tian. "Jika nanti semua nya sudah selesai, Tian akan kembali ke rumah ini." lanjutnya.


"Janji ya?" ucap Selly


"Janji Mam." ucap Tian memberikan senyum.

__ADS_1


"Kau memanggil dirinya Mami, tapi memanggil ku tuan, bukankah itu sangat aneh?" ucap Marx protes. "Bukankah aku sudah sering mengatakan kepada mu? Panggil aku juga Papi, seperti Ceril dan Nickel memanggil ku." lanjutnya.


........Tian diam, merasa tidak enak.


Melihat diam nya Tian, Marx menghela nafas. "Baiklah terserah dirimu saja." ucap Marx.


"Oh ya Tian, beberapa hari ini tinggal lah disini. Akan ada tamu penting yang datang ke rumah. Aku ingin kau juga ikut hadir dalam menyambut nya." ucap Marx.


"Tamu! Siapa Tuan?" tanya Tian.


"Tentu saja calon Suami Ceril." ucap Marx. "Mereka akan datang besok malam." lanjutnya memberitahu.


"Nona Ceril akan menikah? Kenapa saya baru mendengarnya?" tanya Tian terkejut mendengar kenyataan bahwa Ceril sudah memiliki seorang calon.


Marx menatap Selly, Selly tersenyum dan berkata. "Karena Ceril tidak ingin kau tahu bahwa dirinya akan menikah. Ini pun juga mendadak dan hanya bertunangan dulu. Mereka belum lama kenal dan seperti nya sudah merasa cocok, dan akhirnya mereka memutuskan untuk bersama. Lagian kedua keluarga juga sudah saling setuju." ucap Selly


.......Tian diam, mendengar Ceril akan bertunangan dengan laki laki lain. Otak nya berfikir. Marx dan Selly menatap Tian yang seperti nya sedang berfikir sangat keras.


"Baiklah, akan saya usahakan tuan." ucap Tian sedikit tidak bersemangat. "Tapi apakah Nona Ceril benar benar suka dengan nya?" tanya Tian.


"Seperti nya iya. Kalau kamu ingin tahu kau bisa menanyakan langsung dengan Ceril." ucap Marx.


"......" Tian mengangguk. "Oh ya tuan, saya pergi dulu. Besok malam saya akan datang lagi." ucap Tian pamit.


"Baiklah, hati hati di jalan." ucap Marx.


"Kau benar benar ingin pergi dan tidak tinggal disini?" tanya Selly.


"Besok saya akan datang Mam, malam nya akan menginap." ucap Tian.


"Baiklah, jika memang itu mau mu." ucap Selly mengelus lengan Tian.


Samuel dan Tian pun pergi meninggalkan kediaman Alexander. Setelah kepergian mereka berdua, Dokter yang di perintah Tian datang dan setelah itu memeriksa keadaan Ceril.


.


.


.


.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žSelamat membaca

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote nya


Ikuti kelanjutan Bambang Tian


__ADS_2