
Saat asyik mengobrol dengan Tian. Tiba tiba suara tembakan terdengar.
Door....
Sebuah peluru melesat ke arah Ceril dan.
Aah......
Teriak Ceril saat lengan nya tertembak timah panas.
Tian yang mendengar suara teriakan Ceril ikut berteriak.
Ceril........
Teriak Tian memanggil di telepon.
Nickel dan Sesil yang melihat ikut berteriak dan menghampiri, begitupun dengan Marco dan anak buah nya.
"Apa yang terjadi?" ucap Nickel khawatir.
Marco melihat sekeliling untuk mencari siapa yang melakukan nya. Jika di lihat dari tidak tepat nya cara menembak seharusnya ini cukup terlalu jauh.
Mata Marco meneliti setiap sudut, dan di lihat nya seorang berjaket hitam memakai masker berlari saat mata kedua nya bertemu.
"Di sana." tunjuk Marco ke arah orang berjaket hitam. "Cepat tangkap dia." perintah nya.
Dengan cepat para anak buahnya mengejar orang itu. Sedangkan Tian yang berada di kantor mondar mandir sambil terus memanggil Ceril lewat telepon.
"Ceril...bicara pada ku." panggil Tian. Namun Ceril tidak menyahut. "Sial.." umpat Tian sambil berfikir. "Ah iya Marco." lanjutnya menghubungi Marco.
"Hallo tuan." ucap Marco.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku tadi mendengar suara teriakan Ceril?" tanya Tian.
"Nona Ceril terkena tembakan tuan, ada seseorang yang ingin mencelakai nya." ucap Marco menjelaskan..
"Memang apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian bisa lengah dan membiarkan dia terluka? Aku ingin membunuh kalian semua." teriak Tian tidak bisa mengontrol emosi nya saat mendengar Ceril terluka
__ADS_1
"Maaf kan kelalaian saya tuan. Tapi itu sungguh tiba tiba. Dan saya pun sudah memerintahkan anak buah saya untuk mengejar orang itu." ucap Marco
"Ah....aku ingin sekali menghajar mu Marco." ucap Tian kesal.
"Berikan telefon nya kepada Ceril." perintah nya.
"Baik tuan." ucap Marco menuruti
Ceril terlihat kesakitan, darah keluar dari lengan nya.
"Cepat panggilkan mobil dan bawa kerumah sakit." perintah Nickel.
Marco pun menuruti dan meminta satu anak buah nya yang tertinggal untuk mengambil mobil.
"Nona, tuan ingin berbicara dengan anda." ucap Marco memberikan handphone nya.
Nickel yang melihat merasa geram dengan pengawal suruhan tuan yang tidak di kenal nya itu. Bagaimana bisa dia malah meminta adiknya berbicara di telepon dengan tuan nya. Sedangkan adiknya saja saat ini sedang kesakitan.
"Apa kau tidak lihat adik ku sedang kesakitan? Dan apa ini? Kau malah meminta adik ku berbicara dengan tuan yang tidak ku kenal itu." ucap Nickel geram.
"Tapi ini permintaan Tuan saya Tuan." ucap Marco.
"Tapi tuan..." ucap Marco.
"Tutup mulut mu." kesal Nickel.
"Bawa sini." pinta Ceril menyela.
"Apa apaan kau ini. Kau itu sedang terluka biarkan saja dan jangan urus tuan tidak di kenal itu." ucap Nickel menahan.
"Kak...." Ceril sedikit memohon.
"Ah...Baiklah baiklah." ucap Nickel akhirnya kalah.
Ceril mengambil Handphone milik Marco dan berbicara. Sedangkan Nickel dan Sesil terus menatap Ceril.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak? Katakan pada ku sayang apa yang terjadi dengan mu?" tanya Tian beruntun sampai dia tidak sadar di mengucapkan kata sayang untum ceril.
__ADS_1
Ceril tersenyum saat telinga nya mendengar kata sayang yang keluar dari bibir Tian.
"Dia memanggil ku sayang. Ah...apakah aku mimpi? Tidak tidak, ini tidak mimpi." batin Ceril.
Nickel yang melihat senyum Ceril mengerutkan keningnya. "Apakah tuan yang memerintah para pengawal ini adalah kekasih adik ku?" Batin Nickel. "Lihatlah senyum bodoh nya itu."lanjutnya.
"Sudah di pastikan dia, siapa lagi kalau bukan laki laki tampan itu yang dapat membuat Ceril mabuk kepayang di buat cinta mati sampai tingkat dewa." batin Sesil sedikit iri.
"Sayang." panggil Tian masih belum sadar dengan ucapan nya karena terlalu khawatir.
"Ah...Iya." jawab Ceril masih dengan senyum manis nya dan melupakan rasa sakit di lengan nya. Kata sayang yang keluar dari bibir Tian seolah menjadi obat tersendiri untuk Ceril.
"Cepat minta sama Marco untuk mengantarkan mu ke rumah sakit." ucap Tian.
"Aku sudah menuju kerumah sakit." ucap Ceril.
"Baguslah." Ucap Tian lega. "Bagian mana yang terluka? Dan apakah itu sakit?" tanya Tian lembut.
"Di lengan ku. Dan ini tidak sakit jika aku mendengar suara mu." ucap Ceril.
Nickel dan Sesil yang mendengar memutar bola matanya dengan malas.
"Tidak sakit apa nya. Dasar gadis munafik." batin Nickel dan Sesil.
.
.
.
.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Selamat membaca
Jangan lupa like and komen serta vote nya
__ADS_1
Mohon dukungan nya 🙏 🙏🙏