
Amora yang melihat Aldirch sudah kabur hanya bisa mendengus sebal. Saat dirinya berbalik dan hendak masuk ke halaman sekolah, di lihatnya siswa siswi menatap ya penuh dengan ledekan.
"Cie, cie...Yang baru saja dapat jatah ciuman pagi," ledek beberapa siswa yang melihat. Amora yang melihat membuang nafas kasar dan pergi meninggalkan mereka yang terus meledeknya.
Sungguh dia sangat sebal sekali mengingat apa yang di lakukan Aldirch padanya, mencium nya di depan banyak siswa. Sungguh sangat malu sekali pikirnya.
"Awas saja kau jika nanti ketemu, akan ku cip*k habis kau," kesal Amora dengan bergumam. "Eh kenapa malah aku bilang begitu? Dasar bodoh," gerutunya saat salah ucapan.
Waktu menunjukkan jam pulang sekolah.
Di depan pintu gerbang sekolah berdirilah seorang ibu yang sedang menunggu anak nya keluar, dia adalah Lusi. Sambil sesekali matanya mencari keberadaan Putri nya yang pergi dari rumah tanpa pamit beberapa hari yang lalu.
Lusi tidak tahu kenapa putri nya itu sampai pergi dari rumah. Demi mengetahui apa alasan nya Lusi datang ke sekolah berharap Amora berangkat sekolah hari ini.
Tiap hari Lusi selalu datang, namun setiap kali dia datang Amora tidak pernah masuk sekolah. Dan hal itu membuat Lusi tidak pernah bertemu dengan putri kecilnya yang cerewet dan selalu membuat nya marah. Lusi sungguh sangat merindukan semua itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa karena dia tidak pernah melihat Amora beberapa hari ini.
"Semoga hari ini dia masuk sekolah," gumam Lusi berharap Amora berangkat hari ini.
Di lihat nya setiap siswa atau siswi yang keluar tidak ada Amora, dia sungguh sangat cemas. Namun kecemasan itu sirna saat matanya melihat Amora yang berjalan dengan teman nya sambil tertawa.
"Mora.." panggil Lusi menghampiri.
Amora yang melihat kaget melihat ibu nya datang. "Ibu," gumam Amora yang melihat ibunya semakin mendekat.
"Putri ku," Lusi memeluk Amora dengan erat. Amora hanya diam, dalam hati ia ingin sekali membalas pelukan ibu yang di rindukan beberapa hari ini.
Lusi menangis memeluk Amora. Teman Amora yang berada di samping izin duluan untuk pulang, karena tidak ingin menggangu anak dan ibu itu.
"Bu," panggil Amora lembut.
Lusi melepas pelukan itu dan menatap wajah Amora serta membelainya. "Kamu kemana selama ini Mora? Ibu mencari mu. Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu ibu?" tanya Lusi membelai wajah ayu Amora.
__ADS_1
"Jika aku pergi bilang bilang dengan ibu, mana mungkin ibu mengizinkan!" batin Amora berkata.
"Kita bicara di luar saja ya Bu, pintu gerbang akan segera di tutup," Jelas Amora melihat arah pak satpam hendak menutup pintu.
Lusi menoleh dan benar saja. Lusi pun akhirnya membawa Mora ke warung dekat sekolahan. Mereka saat ini duduk sambil menunggu minuman yang mereka pesan.
"Katakan! Kenapa kau meninggalkan ibu dan bapak?" tanya Lusi menatap Amora minta penjelasan.
Amora diam, menunduk, tidak menjawab. Mungkinkah dia harus menjawab karena di usir kakak nya? Pasti nya tidak. Dia tidak ingin anak yang di rindukan oleh kedua orang tua selama ini kena marah oleh bapak dan ibu hanya karena dia. Walaupun kenyataan nya dia memang di usir oleh Flow tapi dia tidak akan mengatakannya, dia takut ibu dan bapak nya kecewa saat mengetahui kebenarannya.
"Mora hanya ingin mandiri ibu," jawab Mora menatap wanita yang telah merawatnya sejak kecil.
"Maafkan Mora Bu, maafkan Mora karena berbohong," batin Amora berkata.
"Ibu tidak percaya jika kau ingin mandiri. Selama ini kau selalu saja menyusahkan ibu, meminta ibu uang. Dan sekarang kau mengatakan ingin mandiri tanpa ibu dan bapak. Ibu benar benar tidak akan percaya Mora. Ibu hapal seperti apa kamu ini, jadi jangan pernah berbohong dengan ibu sedikit pun, karena ibu tahu kau sedang berbohong dengan ibu."
"Mora tidak bohong Bu, Mora hanya ingin mandiri. Mora ingin belajar menjadi dewasa tanpa meminta kepada ibu," jawab Amora menggenggam tangan Lusi.
"Bu_bukan seperti itu Bu. Aduh gimana sih jelasin nya. Pokoknya intinya Amora ingin belajar cari uang sendiri. Ibu kan akan bertambah tua dan tidak akan bisa cari uang, jadi Mora mulai sekarang akan belajar mandiri tanpa ibu, begitu," jawab Amora
"Hah, tapi tidak dengan cara kabur juga kali Mora. Untuk saat ini kan kamu masih sekolah. Jika kamu sudah lulus pasti akan ibu izin kan kamu hidup mandiri, mencari pekerjaan sendiri dan menyimpan uang sendiri. Dan untuk saat ini Ibu benar benar tidak mengizinkan mu hidup mandiri, ibu masih kuat membiayai mu," ucap Lusi sedikit kesal dengan gadis nakal nya ini.
"Benarkah masih kuat?" ledek Amora dengan senyum jahil nya
"Tentu saja ibu masih kuat," jawab Lusi menunjukkan kekuatan nya.
"Lalu siapa yang setiap kali Mora minta selalu marah marah dan naik darah?" tanya Amora sambil menaik turunkan alisnya.
Lisa yang melihat memukul lengan Mora pelan. "Menurut mu siapa?" Lusi malah baik bertanya.
"Ya jelas ibu, memang siapa lagi kalau bukan ibu," jawab Amora terkekeh dan Lusi pun ikut terkekeh.
__ADS_1
"Bu," panggil Amora menggenggam tangan Lusi. Dan Lusi menatap nya.
"Izinkan Mora hidup mandiri ya Bu, Mora janji akan selalu mengabari ibu," ucap Mora dengan pandangan memohon.
Lusi diam, lalu berkata. "Katakan dulu apa yang membuat mu memiliki pemikiran seperti ini. Apakah ini karena kakak mu?" tanya Lusi menyelidik. Lusi selalu berfikir apa yang membuat Amora pergi dari rumah. Ia merasa sejak kembali nya Flow Amora memang sedikit berubah. Tapi dia tidak boleh berfikir yang tidak tidak terlebih dulu, karena belum tentu apa yang di pikirkan nya itu benar.
"Bukan, ini bukan karena kakak. Ini murni keinginan Mora," jawab Mora cepat dan tanpa ragu.
Hah.....Lusi menghela nafas dengan kasar. Dia tetap tidak bisa mencari tahu apa penyebab putri nya pergi dari rumah. Melihat Mora yang terus memohon akhirnya Lusi mengizinkan Mora untuk hidup mandiri, tapi dengan syarat harus selalu mengabari dirinya.
Setelah berbicara cukup lama, Lusi pun pergi. Namun setelah kepergian Lusi Flow datang dan menatap tajam Amora. Flow sejak tadi mengintai kedua nya dari jarak yang sedikit jauh. Dia mengikuti kemana ibu nya pergi dan ternyata benar seperti dugaan nya, ibu nya menemui Amora.
"Beraninya kau menemui ibu," ucap Flow tidak suka.
"Ibu yang menemui aku kak," jawab Amora menatap kakak nya yang memandangnya sinis.
"Seharusnya kau sembunyi bodoh. Dan aku yakin setelah ini ibu pasti memiliki pemikiran bahwa akulah penyebab kau pergi dari rumah. Jika sampai itu terjadi kau akan tahu akibatnya," Ucap Flow mendorong tubuh Amora.
Amora terhuyung ke belakang, namun dia bisa mengimbanginya sehingga tubuhnya tidak terjatuh.
.
.
.
**Selamat membaca
jangan lupa like komen dan vote serta hadiah nya
pastikan tap favorit nya juga**.
__ADS_1