
Setelah sesudah Tian menghubungi Marco untuk mencari tahu apa penyebab Ceril berubah, Tian pun memejamkan mata karena memang waktu sudah menunjukkan Dini hari.
Pagi hari.
Seperti biasa Tian pergi ke kantor dengan di jemput Samuel.
Di dalam mobil.
"Apa kau sudah menanyakan alasan apa David menyuruh Roland untuk membunuh ku?" tanya Tian sambil melihat orang berlalu lalang di jalan.
"Tidak Tuan, Roland tidak tahu alasan nya. Dia hanya tahu di perintah untuk membunuh Anda." Jawab Samuel.
"Em..." Tian mengangguk. "Bagaimana dengan dia akan mengganti kerugian kita? Apakah dia mengatakan lagi kepada mu?" tanya Tian.
"Tuan David meminta asisten nya beberapa hari yang lalu datang menemui saya, meminta perpanjangan waktu." ucap Samuel.
"Kau memberikannya?" tanya Tian.
"Tidak tuan, tapi saya malah mempersingkat nya menjadi bulan depan mereka harus segera mengganti rugi semua nya." ucap Samuel.
"Lalu?" tanya Tian.
"Mereka menolak, karena perjanjian awal anda memberikan waktu tiga bulan." ucap Samuel.
"Biarkan saja, bukan kah aku terlalu baik?" ucap Tian.
"Benar tuan." jawab Samuel.
"Sam, cari pengusaha yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, wajah yang sedikit tampan. Minta dia untuk mendekati Navita." perintah Tian.
".........." Samuel diam.
"Kau mendengar ku tidak?" tanya Tian.
"Mendengar tuan. Tapi untuk apa?" tanya Samuel.
"Aku ingin Haris hancur melihat istri tercinta nya bermain di belakang nya. Bukan kah dulu dia juga bermain di belakang Mama ku? Sekarang aku juga ingin melihat dia hancur dan kecewa dengan ulah istri tercintanya." ucap Tian.
"Baik Tuan." ucap Samuel patuh.
Setelah menempuh waktu setengah jam, kedua nya kini telah sampai di perusahaan TYREND Crop's.
"Silahkan Tuan." ucap Samuel sambil membukakan pintu mobil.
Tian dan Samuel berjalan masuk dengan gagah nya. Di lobi seorang gadis sedang berdebat dengan petugas Resepsionis.
"Kau melarang ku? Aku ini teman sekaligus calon pacar atasan mu. Jadi jangan macam macam, jika nanti aku sudah menjadi pacar nya, pertama kali yang akan ku minta adalah memecat mu." marah Amira karena kesal tidak di perbolehkan masuk untuk menemui Tian.
Padahal pihak resepsionis sudah mengatakan bahwa Presdir mereka belum datang. Tapi Amira tetap ngotot mengira pihak resepsionis membohongi nya.
"Nona, pak Tian memang belum datang ke perusahaan." ucap pihak resepsionis
__ADS_1
"Aku tidak percaya. Ini sudah jam segini, Mana mungkin atasan mu belum datang." ucap Amira kesal.
Niat ingin mendekati Tian atas perintah David dan Haris akan kah gagal? " Tidak boleh gagal." fikir nya saat mengingat ancaman David bahwa jika sampai dia gagal mendekati Tian, David tidak akan segan segan membunuh nya.
"Aku benar benar tidak boleh gagal, aku harus terus mendekatinya agar tergoda dengan ku." batin Amira.
"Nona ta......." ucap resepsionis ingin menjelaskan, namun suara dari samping menghentikan perdebatan mereka.
Ehem.
"Selamat datang pak." sapa pihak resepsionis dan yang lainnya.
Tian dan Samuel berjalan menghampiri mereka. Amira yang melihat Tian datang langsung tersenyum cerah, menghampiri.
"Hai Tian." sapa Amira.
"......" Tian mengangguk, setelah itu berkata. "Ada perlu apa anda datang kemari?"
"Ingin bertemu dengan mu, tapi dia melarang ku untuk bertemu dengan mu." Tunjuk Amira kepada pihak resepsionis.
Pihak resepsionis menunduk takut jika memang wanita yang dia larang tadi adalah teman serta calon pacar atasan nya. Tian menatap pihak resepsionis dan beralih kembali melihat Amira.
"Tapi saya sibuk Nona Amira. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." ucap Tian.
"Aku tidak akan mengganggu mu bekerja, tapi izinkan aku menemani mu. Aku bosan di rumah, Please....." Mohon Amira.
Melihat Amira memohon, Tian beralih menatap Samuel. Samuel yang mengerti maksud tuan nya mengangguk.
"Baiklah." ucap Tian melangkah tanpa memperdulikan Amira yang mengikuti nya.
Tian masuk ke dalam lift di ikuti kedua nya.
Setelah sampai di lantai atas, Tian keluar begitupun kedua nya yang mengikuti nya dari belakang.
Tian masuk kedalam ruangan nya, Amira juga masuk mengikuti nya.
"Saya akan kembali ke ruangan saya tuan." ucap Samuel setelah mengantar Tian ke dalam ruangan nya.
"....." Tian mengangguk.
Samuel pun pergi meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan yang sama. "Apakah anda tidak akan bosan berada di sini?" tanya Tian.
"Tidak, asal kan bisa bersama mu dan mengikat mu setelah ini." gumam Amira yang memiliki rencana.
"Apa!!!!" Tian tidak terlalu mendengar suara Amira yang sedikit pelan.
"Ah.. Tidak. Ruangan mu bagus ya." Amira mengalihkan pembicaraan.
"......" Tian tidak menjawab, ia pun mengerjakan pekerjaan nya.
Amira yang duduk di sofa sesekali melihat Tian yang sedang fokus bekerja. "Sungguh sangat tampan, aku benar benar menginginkannya." batin Amira. "Apapun caraya aku harus memiliki nya." lanjut nya.
__ADS_1
Cukup lama Amira berada di ruangan Tian, ia merasa bosan karena Tian sama sekali tidak mengajak nya mengobrol, dan malah sibuk dengan pekerjaan nya.
"Apakah kau ingin di buat kan kopi?" tanya Amira memecah keheningan.
"Boleh." jawab Tian tanpa melihat ke arah Amira.
Amira senang karena Tian menerima tawaran nya. "Tunggu sebentar aku akan membuat kan ku kopi." ucap Amira dan setelah itu keluar.
Di luar ia bertanya kepada sekertaris Tian di mana letak Pantry berada. Setelah mengetahui di mana tempat nya, dengan langkah pasti dan senyum merekah Amira menuju pantry.
Tian yang ada di ruangan nya tersenyum menyeringai dan menghubungi Samuel. "Kau sudah mendapatkan orang nya?" tanya Tian.
"Sudah tuan, saat ini dia sudah berada bersama ku." jawab Samuel.
"Bagus, masuklah. Dia sedang tidak ada di ruangan ku." ucap Tian.
"Baik tuan." ucap Samuel.
Setelah itu sambungan terputus. Samuel melihat laki laki yang saat ini berada di depan nya. Postur tubuh yang sangat mirip dengan Tuan nya membuat dia menyeringai.
"Pakai ini." perintah Samuel menyerahkan sebuah topeng.
"Baik tuan." ucap anak buah nya.
Anak buah nya pun memakai topeng pemberian Samuel. Setelah itu mereka berdua masuk kedalam ruangan Tian
"Tuan." panggil Samuel.
Tian mendongak mendengar Samuel memanggil nya, di lihat nya laki laki di samping Samuel, setelah itu tersenyum menyeringai.
Tian berdiri dan mengambil jas nya. "Duduk lah disini. Jika ada wanita masuk membawa kopi dan menawarkan untuk mu, minum saja." ucap Tian sambil menyerahkan jas nya kepada Samuel. Samuel yang tahu maksud tuan nya, mengambil dan memakai kan nya.
"Baik tuan, Setelah itu apa yang saya lakukan?" tanya anak buah nya.
"Nikmati saja, aku berikan gratis untuk mu. Selamat bersenang senang." ucap Tian menepuk bahu anak buah nya.
Anak buah Samuel merasa terhormat karena Tuan nya mempercai nya nya untuk melakukan tugas ini. Ia akan melakukan dengan baik, selain senang ia juga akan mendapatkan kenikmatan yang akan di berikan wanita cantik nanti.
.
.
.
.
💞💞💞💞💞💞💞
Part ini ternyata lebih panjang dari bab bab sebelum nya. Tidak sadar Autor mengetik lebih dari kata seribu.
Selamat membaca
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote.
Kasih bunga dan jangan lupa pencet tanda love nya.