
Merasa Ceril sudah kehabisan nafas, Tian melepas ciuman nya.
"Kau! Kenapa tidak bilang jika ingin mencium ku?" ucap Ceril mengatur nafas.
"......" Tian diam mengulas senyum tipis nya.
"Pakai ini". ucap Tian memakai kan jaket di tubuh Ceril, setelah selesai Tian menarik Ceril ke bawah untuk makan malam bersama tanpa meminta Ceril mandi terlebih dulu.
Ceril yang di tarik hanya diam dan memperhatikan tangan nya dalam genggaman hangat Tian. Seulas senyum terbit di bibir, apalagi mengingat ciuman barusan.
Sesampainya di meja makan, mereka akhirnya makan malam hanya berdua. Sedangkan Samuel entah kemana dia berada.
Keesokan hari nya.
Tian sudah bersiap dengan pakaian rapi nya, berbeda dengan gadis yang menganggu nya tadi malam. Gadis itu masih bergelung di dalam selimut walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Tian keluar dari kamar, menuruni tangga. Di lantai bawah Samuel sudah siap menyambut tuan muda nya.
"Kau sudah dari tadi?" tanya Tian.
"Sudah Tuan." jawab Samuel. "Anda ingin sarapan terlebih dahulu atau kita langsung pergi sekarang?" tanya Samuel melihat tuan nya yang sangat tampan, sampai sampai ia terpesona dengan ketampanan tuan nya ini.
"Sarapan di luar saja, aku takut gadis nakal itu akan mengganggu ku lagi. Ayo kita berangkat." ajak Tian.
"Baik Tuan, mari." Samuel mempersilahkan Tian terlebih dahulu pergi, sedangkan dia mengekori di belakang tubuh tegap tinggi itu.
__ADS_1
Samuel membukakan pintu mobil, setelah Tian masuk ia menutup kembali dan masuk duduk di kursi pengemudi, menyalakan mobil dan melajukan hingga membelah jalanan yang belum terlalu ramai.
Sesampai nya di sebuah bangunan tinggi menjulang. Samuel membukakan pintu penumpang, Tian turun dengan gagah dan dengan aura berwibawa nya.
Berjalan pasti memasuki gedung tinggi, dengan memakai kacamata hitam yang bertengger di hidung, menambah kesan ketampanan nya. Para karyawan membungkuk hormat menyambut Presdir yang sudah lama tidak datang. Para karyawan wanita yang melihatnya tak henti hentinya terpesona akan ketampanan yang hakiki itu.
Tanpa menghiraukan tatapan lapar para wanita, Tian terus berjalan menuju lift khusus.
Ting
Samuel menekan tombol.
Pintu terbuka, Samuel menekan tombol menuju lantai paling atas.
Ting
Samuel dan Tian keluar, pergi menuju ruang kerja yang sudah lama tidak ia kunjungi.
"Selamat pagi Presdir." sapa Nesa sekertaris Tian.
"Em..." Tian hanya mengangguk dan masuk kedalam ruangan nya di temani Samuel.
Tian duduk di kursi kebesaran nya langsung mengecek data perusahaan, sedang Samuel tetap setia berdiri di depan nya.
"Duduk lah." ucap Tian.
__ADS_1
"Baik tuan." kata Samuel.
"Bagaimana dengan apa yang ku minta?" tanya Tian.
"Semua nya berjalan sesuai rencana tuan." jawab Samuel
"Bagus, aku tidak sabar bermain dengan mereka." ucap Tian senang. "Oh ya, minta anggota markas untuk mengawasi gadis nakal ku itu, aku takut dia membuat ulah dan menghancurkan semua rencana ku." imbuh nya.
"Baik tuan." ucap Samuel.
"Pergilah, kerjakan tugas mu." ucap Tian.
"Kalau begitu saya permisi dulu." pamit Samuel dan di angguki Tian.
Samuel keluar dari ruangan Tian. Tian menyandarkan kepala nya di kursi sambil berfikir memutar mutar kan kursi yang ia duduki.
"Baiklah besok aku akan memulai nya, aku ingin tahu kenapa orang itu seakan takut dengan keluarga George, pasti ada sesuatu yang tidak ku ketahui." gumam Tian.
.
.
.
Selamat membaca
__ADS_1