
Dan benar saja, Tian yang sebenar nya laki laki normal mendapat kan kelembutan itu akhirnya membalas, menekan tengkuk dan menghisa*p bibir ramun dengan rakus. Memasukkan Lidah dan membelit serta menjelajahi rongga mulut gadis nakal yang selalu menggoda nya.
Ceril yang merasakan Tian membalas ciuman begitu senang. Ia semakin mengimbangi ciuman itu hingga mereka berdua kehabisan nafas dan menyudahi.
Tian menempelkan kening nya di kening Ceril.
"Aku senang kau membalas ciuman ku." ucap Ceril begitu bahagia mengangkat tangan Tian dan meletakkan di salah satu gunung Himalaya nya.
Tian yang merasakan benda kenyal yang pas di tangan nya langsung melihat wajah cantik Ceril, namun yang di lihat seakan menantang agar Tian melakukan nya.
"Sial, aku benar benar tidak bisa menahan jika gadis nakal ini terus menggoda ku." batin Tian. "Apalagi benda kenyal ini, aku ingin merasakan dan menikmati nya." jerit Tian dalam hati.
Ceril malah menekan tangan Tian agar Tian merem*s nya, sungguh gila fikir Tian. Tapi apa boleh buat rasa ingin menikmati mengalahkan rasa ingin menolak. Dan akhirnya.
Jeng...Jeng...Jeng .....
__ADS_1
Di rem*s nya benda kenyal itu dengan lembut dan membuat yang pemilik melenguh. Tian mencium bibir ceril, menghis*p serta menyes*p bagai singa dalam musim kawin.
Lama mereka bermain membuat Tian benar benar tidak tahan, ia mengangkat tubuh Ceril dan membawa nya di kasur, meletakkan dengan lembut sambil menatap manik hitam di depannya.
Ceril, seakan sudah siap jika Tian benar benar akan melakukan nya. Ia mengalungkan tangan nya ke leher dan menarik Tian berharap Tian mencium nya kembali.
Dan benar saja, Tian mengulang kembali kegiatan tadi, tapi saat ini benar benar lebih karena Tian bisa merasakan kulit halus di tubuh lawan nya. Ya, Tian sudah membuang pakaian lucknut itu ke lantai dan sudah menikmati beberapa bagian tubuh Ceril.
Ceril sudah seperti cacing kepanasan di bawah tubuh kekar Tian, ia menginginkan lebih. Tapi di tunggu sejak tadi Tian tidak melakukan apa yang di inginkan nya.
"Kenapa?" tanya Ceril.
Ceril bingung, padahal tinggal sedikit lagi, dan dia sudah benar benar siap jika Tian melakukan nya saat ini.
Belum sempat Ceril bertanya lagi, Tian sudah pergi ke kamar mandi. Entah apa yang di lakukan nya di kamar mandi malam malam begini.
__ADS_1
Tapi cukup lama Ceril menunggu, Tian tak kunjung keluar, dan akhirnya ia memilih memejamkan matanya, tidur di kasur Tian dengan selimut yang membungkus tubuhnya.
Tian keluar dengan rambut basah, matanya melihat ranjang. Ternyata gadis nakal nya sudah tidur terlelap . Senyum kecil terbit di bibir nya saat mengingat kegiatan panas tadi.
Setelah mengeringkan rambutnya, dengan perlahan ia naik ke ranjang, menyangga kepala nya dengan satu tangan sambil melihat wajah yang terlelap di depan nya.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, dan begitupun aku juga tahu apa yang ku rasakan. Tapi tidak bisa kah kau bersabar sedikit agar aku bisa menyelesaikan urusan ku, percayalah akan indah pada waktunya." ucap Tian lirih dan mengecup kening Ceril, menarik tubuh langsing itu dalam dekapan nya. Setelah itu memejamkan mata menyusul mimpi Ceril.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat membaca
Jangan lupa like and komen serta vote.