Anak Tak Diakui.

Anak Tak Diakui.
KETAKUTAN AMIRA


__ADS_3

"Kau..." ucap David dan Navita.


"Kenapa? Kaget?" tanya Tian.


"......."Mereka diam namun masih terus menatap.


"Tian," panggil Amira.


Tian yang di panggil hanya melirik.


"Tidak kah kau mengingat ku?" tanya Amira. "Kita pernah bersama, bisakah kau melepaskan ku." pinta nya.


"Tentu saja aku mengenal mu dan kalian semua. Bahkan sangat sangat mengenal kalian." jawab Tian masih menyesap sebatang rokok nya.


"Jika kau mengenal kami tolong lepaskan kami. Dan jika pun kamu tidak ingin melepas dari kami, setidak nya lepaskan aku." ucap Amira.


David dan Navita yang mendengar langsung menoleh dengan pandangan melotot. "Apa maksud mu?" tanya Navita dan David bersama.


Namum Amira tidak menanggapi kedua nya, dia berkata lagi. "Aku sedang hamil, anak mu. Jadi ku mohon lepaskan aku. aku tidak tahu salah ku apa pada mu, tapi coba ingat lah anak yang ada dalam kandungan ku ini." ucap Amira.


"Anak?" tanya Tian


"Ya, aku sedang mengandung anak mu, buah cinta kita." ucap Amira.


Hahahahhaha...


Tian tertawa sangat keras saat mendengar Amira mengatakan bahwa anak yang ada dalam kandungan nya adalah anak Tian.


Amira yang melihat Tian malah tertawa menjadi bingung. 'Apa yang salah' pikirnya.


"Apakah itu sangat lucu saat mendengar kehamilan ku?" tanya Amira.


"Tentu saja." ucap Tian berdiri dan menghampiri tubuh Amira yang sedang terikat.


Tian mencengkeram dagu Amira. "Kau berharap terlalu tinggi bahwa anak yang kau kandung itu anak ku. Kamu pikir aku mau memiliki anak dari wanita muraha**n seperti mu? Cih, menjijikkan." ucap Tian melepas tangan nya dengan kasar.


"Apa maksud mu Tian? Ini memang benar anak mu. Apakah kamu lupa saat kita melakukan nya di kantor?" tanya Amira.


"Aku tidak pernah merasa melakukan nya dengan mu, menyentuh mu saja aku sudah jijik apalagi harus melakukan itu dengan keadaan sadar." ucap Tian.

__ADS_1


"Tapi waktu itu kamu..." ucap Amira belum selesai.


"Itu bukan aku Amira, kamu saja yang terlalu bodoh menganggap itu adalah aku. Apa kau ingin tahu siapa laki laki yang menyetubuhi mu waktu itu?" tanya Tian dan membuat Amira mengerutkan keningnya tanda bingung.


"Keluar." perintah Tian pada anak buah yang pernah bersama dengan Amira.


Pemuda itu keluar dengan tubuh gagah nya. "Dialah orang kau maksud. Dan untuk anak mu itu, aku yakin dia juga bukan anak nya, melainkan anak dari David yang selalu menyetubuhi mu kapan pun dia mau." ucap Tian.


Mendengar bahwa Bukan Tian yang menyentuh nya, Amira menggelengkan kepala tanda tidak percaya.


"Tidak, tidak...kau pasti bohong. Ya, kau pasti bohong. Dan orang itu adalah diri mu bukan dia." ucap Amira.


"Bermimpi lah." ucap Tian.


Navita menyimak pembicaraan mereka berdua, lalu berkata. "Sebenarnya apa maksud dari membebaskan kami dan membawa kami kesini?"


"Tidak ada, hanya ingin melihat kalian tersiksa di depan mata ku." ucap Tian.


"Apa!!! Ucap ketiga nya bersamaan.


"Tian Aku tahu aku pernah berbuat salah pada mu waktu itu. Tapi kenapa yang ku lihat kau sangat memiliki dendam kepada kami bertiga?" tanya David yang melihat kebencian di mata Tian.


"Tentu saja aku memiliki dendam kepada kalian bertiga. Karena kalian hidup ku menjadi kacau, karena kalian aku harus kehilangan ibu ku, karena kalian aku tidak memiliki keluarga." ucap Tian.


"Tentu saja kau tidak ingat Navita, karena kau selalu sibuk mencari kesenangan mu. Dan kebencian ku ini berawal dari diri mu dan Haris." ucap Tian.


"Kebencian berawal dari tidak diakui menjadi anak dan kebencian karena Kau telah membunuh ibu ku." tunjuk Tian di wajah Navita


"Membunuh! Membunuh siapa? Aku tidak pernah membunuh siapa pun." jawab Navita


"Benar kah? Lalu aku tanya apakah kau pernah membunuh Wanita bernama Renata?" tanya Tian.


Deg....


"Re... Renata..." ucap Navita gagap. David dan Amira menoleh saat mendengar suara gugup Mama nya.


"Kau...Kau siapa nya?" tanya Navita


"Aku putra nya. Anak yang kau pisahkan dari ibu dan ayah nya." ucap Tian. "Kau membunuh Mama ku hanya demi memiliki Haris, kau ingat itu. Dan kalian berdua, kalian yang pernah menghina ku dan menuduh ku saat aku menolong Amira saat masih kecil." sambung nya.

__ADS_1


"Apakah kalian ingat siapa aku sekarang. Aku adalah Tian kecil seorang gembel kumuh." lanjutnya.


David, Amira dan Navita diam, mengingat semua nya.


"Itu hanya kesalahpahaman." ucap David.


"Kesalahpahaman! Kau pikir aku menganggap nya kesalahpahaman Hmm..? Tidak akan ku anggap itu sebagai kesalahpahaman David Anderson." ucap Tian.


"Sudah cukup basa basi nya aku malas meladeni kalian berbicara lagi. Aku membawa kalian kesini, hanya untuk memperlihatkan siapa diri ku sebenarnya. Dan untuk Navita kau akan tahu apa yang akan ku lakukan pada mu, seperti kau pernah melakukan apa yang kau lakukan pada ibu ku." ucap Tian.


"Tidak, tidak ku mohon jangan lakukan itu. Saat itu aku khilaf, jadi ampuni aku." ucap Navita yang tahu apa yang akan di lakukan Tian pada nya, apalagi saat melihat Tian mengambil alat alat penyiksaan yang tergantung di dinding ruangan itu.


Mereka bertiga yang melihat bergidik ngeri saat Tian mulai berjalan ke arah mereka.


'Tolong jangan lakukan itu." ucap Navita


"Ku mohon lepaskan kami, maafkan kami." ucap Dlavid.


"Tian, ku mohon jangan lakukan itu." ucap Amira


Mereka bertiga memohon, padahal Tian belum melakukan apapun kepada mereka.


"Lepaskan Wanita muda itu, bawa dia di atas meja." perintah Tian pada anak buah nya.


Dua kaki laki datang dan melepas ikatan Amira. "Tidak, aku tidak mau. Lepaskan aku, aku mohon " Ucap Amira sedikit takut, tidak tahu apa yang akan di lakukan Tian pada nya.


Amira di seret oleh dua orang itu sampai di atas meja. Dan tubuh Amira di ikat di atas nya dengan tubuh terlentang. "Tian lepaskan aku, aku mohon jangan bunuh aku." pinta Amira.


"Periksa dia." perintah Tian pada seseorang.


Seorang wanita datang dengan membawa sebuah alat. "Jangan mendekat, pergi...." teriak Amira saat seorang wanita itu mendekat.


"Diam lah Nona, tuan hanya ingin saya memeriksa anda, apakah anda sehat atau tidak saat nanti tuan menyiksa anda." ucap Wanita itu malah menakut nakuti Amira.


"Apa!! Tidak tidak, keadaan ku sedang tidak baik baik saja, aku sedang hamil. Jadi aku tidak ingin disiksa, kasihanilah anak ku." ucap Amira menangis.


Wanita itu hanya tersenyum, namun tetap memeriksa keadaan Amira. Setelah selesai, wanita itu membisikkan kepada Tian dan Tian pun mengangguk.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2