
Ceril dan Sesil sudah masuk kedalam pesawat.
"Kau tidak akan membiarkan ku pergi hanya dengan Sesil kan?" tanya Ceril menyelidik.
"Ada yang harus ku selesaikan. Pergilah, beberapa anak buah ku akan menjaga mu." ucap Tian mengelus kepala dengan lembut.
"Tapi kau sudah janji akan mengantarkan ku." ucap Ceril memeluk tubuh Tian.
"Ada beberapa yang tidak bisa ku tinggal. Kamu tahu sendiri tadi! Ada seseorang yang ingin bermain dengan ku." ucap Tian.
"......" Ceril diam sambil cemberut.
Ceril tahu kalau Tian pastinya akan sibuk. Apalagi tadi ada penyerangan yang ingin membunuh nya. Ia tidak boleh keras kepala, dan harus mengerti dengan keadaan saat ini.
"Baiklah, tapi cium aku dulu." ucap Ceril meminta di hadapan banyak orang.
Tian melihat sekeliling, dilihat nya banyak anak buah melihat ke arah nya dan mendengar permintaan aneh Ceril. Tian menatap anak buah nya memberi tanda untuk membalikkan tubuh mereka agar tidak melihat. Dengan cepat anak buah Tian membalikkan tubuh mereka, begitupun dengan Sesil.
Tian tidak ingin berlama lama, maka dari itu lebih baik dia mengabulkan permintaan Ceril.
Tian menarik pinggang Ceril, memandang wajah cantik itu dan di tatap nya Mata jernih, setelah itu mendaratkan ciumannya. Mencium bibir ceril dengan lembut dan penuh perasaan.
Tian akui akhir akhir ini diri nya sudah berubah, ingin lebih dekat dan lebih dekat dengan Ceril. Atau mungkin saja Tian Sebenar nya sudah memiliki perasaan pada gadis nakal nya. Hanya saja dia belum bisa mengungkapkan nya untuk saat ini.
Ceril membalas ciuman nya, melu**t dan saling bertukar salivana.
Kedua nya seakan lupa bahwa saat ini dia sedang di mana. Mereka berdua asyik menikmati kegiatan nya sedangkan para pengawal dan lainnya tetap setia membelakangi dengan sikap tegap nya. Berbeda dengan Sesil, dalam hati dia menggerutu kesal saat telinga nya mendengar suara cecapan dari bibir mereka berdua.
"Sial, sungguh menyebalkan. Aku juga ingin seperti itu......" teriak Sesil dalam hati.
Karena sangat kesal, akhirnya Sesil berkata. "Tidak kah ini sudah cukup lama." Sesil benar benar di buat kesal dengan kedua nya. Memamerkan kemesraan di depan mereka.
__ADS_1
Tian yang mendengar langsung menghentikan nya. Tian mengusap bibir Ceril yang basah.
"Aku akan turun. Jika ada sesuatu hubungi aku." ucap Tian dan di angguki Ceril.
"Kamu kamu dan kamu ikut dengan nya. Jaga dia seperti kau menjaga nyawa mu. Jika terjadi sesuatu dengan nya aku tidak akan memaafkan kan kalian." ucap Tian memberi perintah serta memberi peringatan.
"Baik Tuan." kompak ketiga berbicara.
Tian pun keluar dari pesawat, Sedangkan ketiga anak buah yang di tunjuk Tian ikut pergi bersama Ceril dan Sesil.
Tian berdiri melihat pesawat yang mulai landas. Setelah itu pesawat pun benar benar pergi meninggalkan Negara C.
"Ayo kita ke markas. Aku ingin tahu siapa yang benar benar ingin bermain dengan ku." ucap Tian. "Apakah kau sudah menyelidiki nya." tanya nya.
"Masih saya cari Tuan. Seperti nya orang yang membocorkan nya adalah orang yang ada di sekitar kita. Tunggu beberapa jam lagi mungkin kita sudah akan menemukan nya." ucap Samuel.
"Terlalu lama." ucap Tian berjalan dengan langkah lebar menuju mobil.
Tian pergi ke markas. Di sana sudah ada beberapa orang yang tangan nya di rantai dan tubuh nya penuh dengan lebam akibat perkelahian nya dengan anak buah Tian.
Tian berdiri dengan wajah dingin nya. Menatap tajam dengan aura membunuh nya.
Tian mencengkeram dagu salah satu tawanan nya.
"Siapa yang memerintah mu?" tanya Tian dengan suara berat.
"........." tawanan itu diam tidak menjawab dan malah menatap tajam Tian.
"Berani nya kau menatap ku dengan pandangan itu." Ucap Tian. "Ambil kan pisau runcing ku." perintah Tian kepada anak buah nya.
Dengan cepat anak buah Tian mengambilkan barang permintaan tuan nya.
"Ini tuan." menyerahkan pisau runcing
__ADS_1
Tian menempelkan pisau itu di pipi tawanan nya. Namun orang itu sama sekali tidak gentar, ia berfikir Tian pasti tidak akan berani melakukan nya. Sedangkan para tawanan lainnya yang melihat sudah mulai risau dan dengan perasaan sedikit takut.
"Jawab aku atau benar benar ku congkel mata mu itu." ucap Tian. "Aku tidak pernah main main. Kau mungkin belum pernah melihat siapa diri ku ini. Jadi lebih baik kau jawab pertanyaan ku ini." lanjutnya.
"Aku tidak akan memberi tahu mu." ucap tawanan itu keras kepala.
Tanpa aba aba Tian langsung menarik rambut tawanan itu dan menancapkan pisau runcing itu tepat di tengah bola mata nya.
Cruus....
Aaah......
Teriak tawanan itu kesakitan. Darah segar langsung mengalir dari mata itu. Tian tidak menarik nya tapi malah memutar pisau itu.
Teriakan orang itu semakin kencang saat merasakan pisau itu semakin dalam. Sedangkan para tawanan yang lainnya sudah gemetar dan keringat sudah menetes di kening mereka.
"Kamu pikir aku main main dengan ucapan ku. Ini hanya satu belum yang lainnya. Apakah kau ingin merasakan daging mu ku cincang sekarang? Jadi jawab pertanyaan ku." ucap Tian. "Dan untuk yang lainnya." tatap Tian pada tawanan yang lain. "Aku akan memberikan kalian jatah penyiksaan yang lebih parah dari ini jika dari kalian tidak ada yang mengatakan siapa yang memerintah kalian." lanjut nya.
Mereka semua menelan ludah dengan kasar. Haruskah mereka mengatakan kepada nya siapa yang memerintahkan nya. Tapi jika mereka mengatakan, nyawa nya pun pasti juga tidak akan selamat.
.
.
.
.
Selamat membaca
Jangan lupa like and komen serta vote nya
Dan Jangan lupa dukungan nya.
__ADS_1