
"Apa maksud mu? Dia itu putri ku," jelas Noji yang tidak terima jika dia tidak di anggap.
"Bagi ku kau bukan lagi ayah Putri ku. Ayah Putri ku sudah mati sejak saat kau ingin membunuh nya," jawab Isabella dengan suara keras.
Mereka berdua tidak memperdulikan banyak mata yang melihat perdebatan mereka. Mereka terus saja adu mulut. Noji menatap Isabella. "Aku tidak bermaksud membunuh nya," elak Noji.
"Membunuh! Apakah aku dulu ingin di bunuh oleh laki laki ini?" batin Amora berpikir .
"Kau bilang l tidak bermaksud? Lalu apa waktu itu yang dengan teganya kau ingin merebut bayi merah itu dari tangan ku. Kau bilang ingin membunuh nya. Dan kau dengan teganya juga tidak mengakui nya sebagai anak karena kau lebih memilih istri dan anak mu itu," marah nya dengan suara nada tinggi. Emosi Isabella naik mengingat kejadian bertahun tahun lama nya, tentang keinginan Noji membunuh Amora. Dan meninggalkan diri nya begitu saja demi istri dan anak yang bukan anak kandung nya sendiri.
"Argh! Jangan buat aku mengingat itu Bella, aku membenci ingatan itu. Ingatan yang sebenar nya tidak ingin ku ingat. Aku membenci kejadian itu, kejadian yang begitu berat ku lakukan. Kau tidak tahu alasan kenapa aku ingin membunuh nya?" teriaknya sambil mengusap rambut nya dengan kasar.
"Aku tidak ingin tahu apapun itu alasan nya. Yang ku tahu kau itu bajingan, bajingan!" teriak nya dengan nafas naik turun, air mata nya menetes di pipi mulus nya. Walaupun Isabella tidak muda lagi, namum kecantikan nya masih terpancar karena dia seorang Ratu.
"Ya, aku ini memang bajingan Bella. Tapi dengarkan lah penjelaskan ku kenapa aku melakukan itu." mohonnya menatap Isabella yang menangis. Noji juga beralih menatap Amora yang hanya diam menatap nya.
Noji berjalan menghampiri Amora. "Sayang,___" Belum selesai Noji berkata, ucapan nya di potong oleh Amora.
"Jadi apakah kau benar Papa ku?" tanya Amora dengan nada dingin. Noji mengangguk, "Iya."
"Lalu kenapa kau ingin membunuh ku? Apakah kau tidak menginginkan ku? Jika tidak menginginkan ku kenapa kau hadirkan aku di dunia ini. Apakah aku benar benar tidak di harapkan sehingga kau ingin membunuh ku saat itu? Apakah aku sebegitu tidak berarti nya bagi mu?" pertanyaan yang begitu menohok di hati Noji.
"Maafkan Papa. Papa tahu Papa salah. Papa tidak pantas menjadi papa mu dan sebenarnya Papa juga tidak pantas meminta permintaan maaf dari mu. Tapi ketahuilah sayang, Papa tidak bermaksud untuk membunuh mu waktu itu, papa sangat menyayangi mu. Ada alasan yang tidak bisa Papa jelaskan kepada Mama mu. Waktu itu____," Belum selesai Noji berbicara Isabella sudah memotong ucapannya.
"Bohong! Apanya yang tidak berniat membunuh, waktu itu sudah jelas jelas kau meminta nya dari ku untuk kau bunuh," sela Isabella menatap Noji tajam.
__ADS_1
"Jangan percaya dengan apa yang di katakan nya, dia itu bajingan. Aku yakin dia akan berbohong dengan apa yang akan di katakan nya itu," jelas Isabella kepada Amora.
Amora tidak memperdulikan Isabella berkata. Dia sudah besar, dia ingin tahu alasan nya kenapa Noji sampai tidak menginginkannya dan ingin membunuhnya. Pikirnya jika memang pantas di maafkan Amora akan memaafkan. Tapi jika tidak, mungkin Amora lebih baik tidak memiliki seorang Papa. Cukup Dani yang menjadi Papa nya, walaupun Dani bukan lah Papa kandung nya. Tapi Dani sangat menyayangi nya.
Lagian di kejadian nya ini tidak ada korban jiwa dan tidak perlu balas dendam. Hanya perlu menyikapi benar atau tidak nya. Dan pantas atau tidak nya di maafkan.
"Jelaskan," pinta Amora. Isabella yang mendengar tercengang dengan permintaan Amora yang meminta Noji untuk menjelaskan kejadiannya kenapa sampai dia ingin membunuh dirinya.
Aldirch yang melihat sikap tenang Amora menjadi bangga. Amora tidak terbawa dengan emosi mendengar bahwa Papa kandung dulu ingin membunuhnya.
Sedangkan Noji tersenyum mendengar Amora meminta penjelasan kepada nya tentang alasan dia melakukan itu.
"Waktu itu, Papa hanyalah orang biasa yang hidup dengan kesusahan. Setiap hari bekerja banting tulang untuk mencari nafkah bagi keluarga, nenek dan kakek mu serta bibi bibi mu. Papa adalah anak laki laki di keluarga, sebagai tulang punggung papa harus mencukupi semua nya."
"Papa pun mencari pekerjaan dan di terima sebagai supir Taksi. Hingga suatu saat rem Papa blong dan menabrak mobil mewah, mobil yang tak lain milik Nena Nakata, putri dari seorang Mafia Yakuza."
"Setelah menikah, mereka juga tidak melepaskan keluarga Papa. Dan Papa selalu dijadikan budak oleh mereka. Apapun harus papa lakukan tanpa bantahan. Jika papa menolak keluarga Papa akan langsung di bunuh oleh mereka."
"4 tahun Papa menjadi menantu kelaurga mafia itu. Hari dimana papa di minta untuk mengurus sesuatu di negara K, Papa tak sengaja bertemu dengan Mama mu," jelas Noji melihat ke arah Isabella yang diam mendengar ceritanya."
"Papa mu jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan lambat laun kami pun akhirnya dekat dan memiliki hubungan. Hubungan yang sangat jauh hingga kau hadir dalam dunia ini. Hubungan yang Papa jaga agar tidak di ketahui oleh Nena dan keluarga Mafia itu pun akhirnya di endus oleh mereka. Mereka mengetahui jika Papa menghianati Nena, dan akhirnya saat itu juga keluarga Papa di bantai habis oleh mereka. Papa tidak bisa berbuat apa apa karena sang Tuan Saat itu masih hidup."
"Nena yang tidak terima aku berselingkuh di belakang nya, akhirnya mengirim seseorang untuk membunuh Mama mu dan kamu yang saat itu dalam kandungan. Tapi Papa mencoba menahan nya dan mengatakan jika aku akan membunuh kalian dengan tangan ku sendiri jika bayi itu telah lahir. Dan Nena pun menyetujui memberikan waktu agar Mama mu bisa merasakan rasanya mengandung sembilan bulan."
"Bella apakah kau ingat dimana saat kau hamil aku pergi meninggalkan mu? Di saat itulah keluarga ku mati karena mengetahui jika aku memiliki hubungan dengan mu," jelas Noji dan Isabella hanya diam mengingat Noji yang meninggalkan nya dengan berkata memilih istri nya. Dan mungkin kah saat itu dia juga berusaha untuk melindunginya, mengulur waktu hingga bayi yang di kandung nya lahir ke dunia. Jika itu benar, apakah kemarahan serta kekecewaan nya selama ini salah?
__ADS_1
"Tapi apakah kalian pikir, aku akan dengan tega melakukan nya, membunuh wanita yang ku cintai dan anak kandung ku sendiri? Tentu saja tidak bukan! Mana mungkin aku tega melakukan nya. Waktu itu saat bayi kita lahir itu hanya akal-akalan ku agar kamu menyerahkan bayi kita. Aku berniat membawa Bayi kita pergi jauh tanpa di ketahui oleh Mafia YAKUZA. Tapi siapa sangka kau malah berteriak mengusir ku. Padahal jika saat itu kamu menyerahkan putri kita, selanjutnya aku pun akan membawa mu pergi sejauh mungkin dari orang orang yang menganggu hubungan kita."
"Hah.... Tapi mungkin itu lah jalan hidup kita masing masing. Hidup terpisah tanpa tahu keberadaan satu sama lain. Aku berusaha mencari kalian, tapi takdir selalu mempermainkan ku, seakan tidak mengizinkan ku untuk bertemu dengan kalian. Hingga hari ini aku bisa bertemu dengan kalian. Dua wanita yang ku sayangi."
Jelas Noji panjang lebar.
Noji menatap putri cantik nya. "Kamu cantik seperti ibu mu. Papa sudah menceritakan semua nya, sekarang terserah diri mu. Jika kamu tidak terima karena Papa dulu ingin membunuh mu, ambil pistol ini dan bunuh Papa sekarang. Papa mu ini seorang bajingan dan seorang pengecut yang tidak bisa melindungi Kedua wanita yang papa sayangi, Papa berhak mendapatkan balasannya. Dan Papa siap menerima hukuman dari kalian." Ucap Noji sambil menyerahkan sebuah pistol di tangan Amora."
Amora diam, menatap pistol yang ada di genggaman nya. Aldirch yang melihat, merengkuh pinggang kekasihnya memberikan semangat. Namun dia juga membisikkan sesuatu agar permasalah ini di sikapi dengan kepala dingin. Aldirch tidak ingin Amora berbuat tanpa berpikir terlebih dahulu dan berakhir dengan penyesalan.
Setelah Noji menyerahkan senjata kepada Amora, Noji beralih mengambil pistol yang ada di tangan Chloe dan menyerahkan nya kepada Isabella.
"Bunuh lah aku jika kamu sangat membenci ku, aku siap mati di tangan kalian berdua."
Noji berjalan sedikit menjauh dari kedua nya. Dia berdiri d tengah tengah kedua nya. Noji menatap bergantian wanita yang di sayangi nya. Setelah itu siap menerima tembakan dari kedua nya.
Isabella dan Amora menatap Noji dengan pandangan dingin. Perlahan tangan yang memegang senjata itu terangkat dan di arahkan nya ke arah Noji. Melihat itu Noji memejamkan mata siap dengan hukuman yang akan dia terima.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jari Autor keriting, banyak sekali🥺🥺