
Beberapa jam kemudian
Samuel sudah mendapatkan informasi tentang siapa pemilik cek itu. Dan Samuel sudah memberitahukan nya kepada Tian.
"Heh....Sungguh berani sekali dia. Dia fikir dia siapa?" ucap Tian menyandarkan tubuh nya di kursi kebesaran nya.
"Oh ya Sam. Apakah Ceril sudah sampai?" tanya Tian.
"Kenapa anda bertanya pada ku? Anda kan bisa menghubungi nya sendiri?" batin Samuel kesal karena lelah dengan semua urusannya.
"Entah Tuan." jawab Samuel.
'......." Tian mengernyit. "Hubungi anak buah mu, apakah dia telah sampai apa belum." perintah Tian.
"Tuan, bagaimana kalau anda menghubungi nomor Nona Ceril sendiri? Saya yakin Nona Ceril pasti akan senang jika anda menghubungi nya." ucap Samuel alasan.
".........."Tian diam sambil berfikir. "Baiklah akan ku coba." ucap Tian, mengambil handphone nya dan menghubungi.
Dreeet.... Dreeet..... Dreeet....
Hp Ceril bergetar
Ceril mengangkat nya setelah tahu siapa yang menghubungi.
"Hallo sayang, apakah kau sudah merindukan ku?" tanya Ceril.
"........Masih sama saja" Batin Tian.
Tian menatap Samuel yang masih di ruangan nya. Ia pun memberi kode agar Samuel pergi dari tempat nya.
"Pergi sana, mengganggu saja."
Itulah yang di artikan Samuel melihat tatapan Tian.
Samuel pun pergi meninggalkan bos nya yang akhir akhir ini terasa aneh.
"Tian sayang, apakah kau masih disana?" tanya Ceril tidak mendapat jawaban.
"Em...Kau sudah sampai?" tanya Tian.
__ADS_1
''Sudah." ucap Ceril yang menuruni tangga pesawat.
"Apakah tuan Nickel ada di sana?" tanya Tian.
"Ya, itu kakak. Dia sudah datang dengan beberapa orang." ucap Ceril melihat beberapa orang berdiri di belakang kakak nya.
"Bagus lah." ucap Tian.
.
.
Di bandara negara A.
"Hai kak." ucap Ceril berlari dan memeluk Nickel.
"Kau itu nakal sekali. Jika kakak tidak mengancam mu apakah kau tidak akan pulang?" ucap Nickel mencubit hidung Ceril.
"Aduh...Sakit kak." rintih Ceril mengusap ngusap hidung nya.
Sedangkan Tian di telefon masih mendengar suara ceril
"Sudah ayo kita pulang." ucap Nickel menggenggam tangan Ceril.
Sesil yang melihat wajah tampan Nickel masih terbengong karena terpesona. "Sungguh ciptaan tuhan yang sempurna." batin Sesil menatap tanpa berkedip.
''Sesil, biasa aja kali ngelihat kakak ku." senggol Ceril di bahu Sesil agar Sesil sadar.
"Ah ya.." kaget Sesil. "Hai tuan tampan bolehkah aku ikut dengan kalian? Jika tidak boleh aku akan tetap ikut dan jika boleh aku dengan senang hati akan mengikuti mu." ucap Sesil aneh.
"........" Nickel yang mendengar hanya mengerutkan keningnya.
"Terserah anda." jawab Nickel. Jika pun ia menjawab tidak atau pun iya, gadis cantik di depannya ini pun akan tetap ikut bersama nya. Bukan kah itu sama saja.
''Baiklah, ayo kita pulang. Aku sudah lelah." ucap Sesil ikut menyambar tangan Nickel dan menggenggamnya.
Nickel dan Ceril yang melihat langsung melotot seakan tidak percaya, karena Sesil dengan berani nya melakukan itu.
"Apa yang anda lakukan Nona?" tanya Nickel melihat tangan nya.
__ADS_1
"Memang apa yang ku lakukan?" tanya Sesil nampak bodoh.
"Tangan anda Nona, bisakah anda melepas tangan anda dari tangan ku?" pinta Nickel.
"Tangan!?" ucap Sesil bingung dan beralih melihat tangannya. "Ah..maafkan aku." ucap Sesil melihat tangannya yang menggenggam tangan Nickel.
Tapi Sesil benar benar gadis bermuka tebal. Bukannya melepas tapi di malah bergelayut dan menarik Nickel untuk berjalan.
"Tapi menurut ku ini tidak masalah tuan. Bukankah Anda menggenggam tangan Ceril? Jadi menurut ku tidak masalah jika saya menggenggam tangan anda. Aku lelah dan ingin di gandeng." ucap Sesil benar benar tidak tahu malu.
Ceril yang mendengar hanya menggeleng gelengkan kepala. Sedangkan Nickel sungguh di buat pusing dengan gadis yang baru di temui nya ini. Nickel berusaha melepas dekapan itu di tangan nya, tapi Sesil sama sekali tidak mau melepas.
Tian yang masih tersambung di telepon Ceril tersenyum kecil mendengar percakapan mereka.
"Ceril." panggil Tian.
"Ah..ya, maaf aku lupa kalau kamu masih menghubungi ku. Aku merindukan mu." ucap Ceril dengan suara manja.
"Siapa yang kau rindukan?" tanya Nickel menoleh ke arah Ceril.
"Tentu saja calon adik ipar mu." jawab Ceril.
"Apakah kau beberapa hari disana sudah memiliki kekasih?" tanya Nickel.
"Kakak tidak perlu tahu, dan aku pun tidak ingin menjawab." ucap Ceril beralih kembali ke handphone nya dan melepas genggaman Nickel.
"Sudah biarkan saja dia berbicara dengan adik ipar kita." ucap Sesil.
"Adik ipar? Apa yang anda maksud? Maaf Nona kita sama sekali tidak memiliki hubungan. Jadi jangan bertingkah seperti anda adalah kekasih saya." ucap Nickel.
"Tidak masalah. Tapi aku akan bertingkah seperti kekasih mu." ucap Sesil sungguh tidak tahu malu sambil menampilkan senyum manisnya.
Mereka berdua berjalan di depan Ceril. Sedangkan Ceril masih setia mengobrol dengan Tian di telefon.
.
.
.
__ADS_1
Selamat membaca
jangan lupa like and komen