
Untuk besok Autor tidak update. Autor ada acara 1000 hari meninggalnya ibu saya. Jadi mungkin di lanjut besok nya lagi.
.
.
.
.
Anak Tak Diakui.
Bab. 88.
Tian pun pergi dari bandara.
"Tuan kita kemana? Ke markas atau ke kediaman Alexander?" tanya laki laki yang mengemudi.
"Keluarga Alexander." Jawab Tian yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ceril. Tian sangat khawatir, takut Ceril benar benar sakit.
Samuel yang mendengar langsung bertanya. "Tuan, apakah kita akan lama di sini?"
"Memang kenapa?" jawab Tian.
"Jika kita terlalu lama disini, bagaimana dengan perusahaan?" tanya Samuel.
"Jika kau menghawatirkan perusahaan, kau bisa kembali sekarang." ucap Tian.
Samuel yang mendengar langsung melotot. "Apa kah tuan ingin aku lelah? Baru saja aku mau istirahat dia membawa ku kesini. Dan sekarang saat aku menghawatirkan perusahaan, dia dengan enteng nya menyuruh ku untuk kembali. Dasar tuan tidak perasaan. Jika dia bukan tuan ku mungkin aku sudah menonjok kepala nya." batin Samuel kesal.
Tian yang melihat mata Samuel melotot berkata. "Aku yakin kau pasti mengumpat ku."
"Apa!! Tidak tidak, mana mungkin saya berani mengumpat Anda tuan." jawab Samuel dan Tian hanya menaikkan sebelah alis nya. Seperti berkata."Oh ya."
"Kenapa dia tahu saja aku sedang mengumpat nya. Sebenarnya otak nya itu terbuat dari apa? Tau saja isi hati ku. Jika aku mengatakan aku mencintai nya apakah dia akan tahu juga?" batin Samuel, bibir nya tersenyum membayang kan jika tuan nya tahu isi hati nya. Sudah di pastikan mungkin otak nya yang tidak beres itu akan di keluarkan oleh Tian.
"Jika kau masih mengumpat ku dan memikirkan yang tidak tidak, aku akan melempar mu dari mobil ini." ancam Tian.
"Tidak, saya tidak berani tuan." jawab Tian
__ADS_1
"Di lihat dari wajah bodoh mu itu, sudah jelas kau memiliki pemikiran buruk tentang ku." ucap Tian.
Samuel yang di hina Tian langsung meraba wajah nya. "Apakah wajah ku memang seperti orang bodoh? Tapi seperti nya tidak. Jelas jelas wajah ku terlihat seperti orang pintar, mungkin mata tuan sudah mulai rabun karena tidak di servis oleh Nona Ceril dengan pandangan tubuh Sexy nya itu." batin Samuel.
"Awas kau jika masih memiliki pemikiran buruk, aku akan menghajar mu hingga bokong mu itu tidak bisa lagi duduk." ucap Tian.
Samuel yang mendengar menelan ludah dengan kasar. Jika sampai itu terjadi, Samuel benar benar akan tidur tengkurap dalam waktu satu Minggu.
Laki laki yang mengemudikan mobil hanya diam mendengar dua orang yang sedang berbicara di kursi pengemudi.
Setelah Satu jam perjalanan, mereka pun akhirnya sampai. Tapi hanya mobil yang di kendarai Tian yang masuk dalam pekarangan kediaman Alexander. Sedangkan mobil yang di tumpangi Marco dan yang lainnya berhenti tak jauh dari kediaman Alexander.
Tian turun, memandang kediaman Alexander yang sudah berbulan bulan tidak ia kunjungi lagi.
Tian berjalan masuk dengan di ikuti oleh Samuel.
Ting... Tong...
Pintu di buka oleh seorang pelayan. Melihat Tian datang, pelayan itu langsung meminta nya masuk.
"Silahkan masuk Tuan." ucap Pelayan.
"Tuan besar sedang pergi keluar kota bersama dengan Nyonya, Sedangkan tuan Nickel pergi ke kantor." jawab Pelayan wanita itu.
Ya, saat Tian sampai di Negara A, waktu sudah menunjukkan siang. Jadi wajar jika Nickel tidak sudah ada di kantor.
"Jangan bilang ke tuan muda jika saya datang." pinta Tian. "Oh ya Nona Ceril Dimana?" tanya Tian.
"Nona ada di kamar nya tuan, sedari pagi Nona tidak turun. Kata pelayan lain, Nona sedang sakit." ucap Pelayan itu.
"Sakit? Jadi dia benar benar sakit."gumam Tian beranjak hendak menemui Ceril.
"Buatkan dia minuman dan makanan." perintah Tian sambil menunjuk Samuel.
"Baik tuan." ucap Pelayan.
Tian pergi meninggalkan Samuel sendiri di ruang tamu. Tian pergi menuju kamar Ceril.
Sesampainya di depan pintu. Tian diam, dan perlahan membuka pintu. Di lihat nya Seorang gadis sedang tidur di bawah selimut. Tian dengan hati hati menutup pintu agar tidak membangunkan Ceril.
__ADS_1
Berjalan perlahan mendekati ranjang. Sesampainya di samping Ceril, dilihatnya Ceril sedang memejamkan mata. Wajah cantik itu selalu saja membuat Tian senang. Senyum kecil terbit di bibirnya.
Tian duduk dengan hati hati di ranjang, mengusap rambut hitam Ceril dengan lembut. "Apakah kepala mu sakit? Jika sakit kenapa tidak berobat." ucap Tian berbicara sendiri, masih dengan mengelus kepala Ceril.
Eemh...
Lenguh Ceril mendapat elusan lembut di kepala nya. Tangan Tian berhenti, matanya menatap Ceril yang mengerutkan kening.
"Tian." panggil Ceril lirih masih dengan mata terpejam.
Tian mendengar iagauan Ceril diam. "Mungkinkah dia merindukan ku? Sampai tidurpun menyebut nama ku." Batin Tian
Melihat tidur Ceril mulai gelisah, Tian merebahkan tubuh nya di samping Ceril, dan memeluk nya dari belakang.
Merasa nyaman Ceril pun kembali tenang, sedangkan Tian malah ikut memejamkan mata dan akhirnya tidur.
Samuel yang berada di ruang tamu menjadi bosan, sedangkan tuan nya tak kunjung datang juga.
'Sebenarnya tuan sedang ngapain di sana? Kenapa lama sekali?" kesal Samuel. "Mungkinkah mereka sedang............-." lanjutnya berfikir yang tidak tidak.
"Sial, aku di seperti orang bodoh yang menunggu orang sedang bersenang senang. Lebih baik aku pergi saja." ucap Samuel berdiri dari duduknya.
Namun sebelum melangkah, suara seseorang mengagetkan nya.
"Siapa kau?" tanya Nickel yang pulang ke rumah karena ingin mengambil sesuatu.
Nickel memang tidak mengenal Samuel dan baru kali ini dia melihatnya. Jadi wajar jika Ni Kel tidak mengenal nya.
.
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Selamat membaca.
__ADS_1