
Tian meminta dua anak buah nya untuk membawa David di depannya. Dengan kasar David di seret hingga terjatuh tepat di depan Tian.
"Amira aku akan bertanya, itu anak ku atau anak David?" tanya Tian.
"ini anak mu." jawab Amira
"Berikan cambuk." pinta Tian pada anak buah nya.
Anak buah nya mengambilkan dan memberikan kepada Tian. "Ini tuan."
Tian mengambil dan.
Ctaar ....
Aah ......teriak David.
Navita dan Amira yang melihat menjerit saat Tian mencambuk tubuh David.
"Katakan itu anak siapa?" tanya Tian
Ctaar...
Tian kembali mencambuk David hingga berulang ulang. David yang terus mendapatkan cambukan, lemas. Tubuh nya tergeletak tak berdaya. Navita dan Amira yang melihat menangis.
"Baik baik, aku akan mengatakan nya. Ini bukan anak mu, namun ini anak kak David." jawab Amira
"Bagus." ucap Tian melempar cambuk nya. "Apakah kalian mengakui hubungan kalian salah?" tanyanya kepada mereka berdua.
"Ya, hubungan ini salah, aku akui." ucap Amira menangis sesegukan.
"Aku akan melepaskan kalian." ucap Tian dan membuat kedua nya menatap. "Tapi aku tidak akan mengizinkan kalian bersama, karena hubungan kalian itu sungguh sangat menjijikkan." sambungnya.
David dan Amira masih saja menatap Tian. "Lalu jika tidak bersama bagaimana dengan anak dalam kandungan ku? Aku tidak mungkin menghidupi nya sendirian?" tanya Amira.
"Ada dia yang akan mengurus mu." Tunjuk Tian pada laki laki yang pernah menyamar menjadi Tian.
Amira menoleh, di lihat nya laki laki itu menatapnya dengan pandangan entah apa. "Lalu bagaimana dengan kak David?" tanya Amira.
"Dia laki laki, aku yakin dia bisa mengurus dirinya." jawab Tian menatap David yang memprihatinkan karena cambukan yang di berikan nya tadi.
"Mama?" tanya Amira lirih.
__ADS_1
"Aku akan membunuh nya." jawab Tian. "Bawa wanita tua itu ke tempat biasanya." perintah Tian pada anak buah nya
Mendengar itu Navita melotot, tidak percaya bahwa Tian akan membunuh nya. Sedangkan kedua anak nya di lepas begitu saja. "Lepaskan kan aku, jangan membunuh ku. Kenapa kau membunuh ku sedangkan mereka tidak? Aaa... lepaskan aku, aku tidak ingin mati." teriak Navita saat tubuh nya di seret ke tempat penyiksaan
Tian pergi mengikuti anak buah nya yang menyeret Navita. Sedangkan Amira dan David hanya diam melihat Mama nya diseret paksa oleh anak buah nya. Mereka berdua tidak bisa berbuat apa apa, hanya bisa diam.
Di tempat penyiksaan
"Lepaskan aku, ku mohon." mohon Navita bersimpuh di hadapan Tian yang menatap nya tajam.
"Melepaskan mu? Ha..Ha..Ha..." ucap Tian mencengkram dagu Navita. "Kamu pikir aku akan melepaskan mu setelah apa yang telah kau lakukan pada ibu ku. Dan sekarang kau berani memohon untuk mengampuni mu! Tidak semudah itu, nyawa harus di balas nyawa." ucap Tian melepas kasar tangan nya hingga membuat Navita tersungkur.
"Bukankah kau dulu sangat berani membunuh ibu ku." ucap Tian sambil menempelkan pisau kecil tajam milik nya. "Lalu dimana keberanian mu saat ini?" sambung nya menarik pisau itu dari Pipi.
Cuus...
Aaaaa......
Navita berteriak saat Tian menusuk dan menarik pisau itu di pipinya.
"Aku ingin mendengar teriakan dan rintihan mu, Hahahahahaa....." Tawa Tian menggelegar
"Ayo berteriak, aku suka dengan rintihan dan teriakkan mu."
Tian kembali menusuk pipi sebelah dan menarik nya. Rasa perih dan sakit yang di rasakan Navita tak bisa jelaskan kan, sakit sangat sakit.
"Aku sangat ingin membunuh mu." ucap Tian menampar wajah Amira hingga tersungkur. dan tak berdaya.
"Bangun." Teriak Tian menarik paksa rambut Navita.
Melihat Navita bersimbah darah di wajah nya membuat Tian tertawa senang.
Hahahaha...
"Kau akan merasakan bagaimana aku akan menyiksa mu." ucap Tian.
Dan tak main main, Tian benar benar menyiksa Navita dengan membabi buta, apalagi saat mengingat Navita telah membunuh ibu nya. Darah nya seolah mendidih ingin langsung membunuh, namun dia urungkan. Dia ingin melihat Navita tersiksa dan akhirnya mati secara perlahan.
Jika dulu Navita membunuh Renata dengan Racun, berbeda dengan Tian. Tian akan membunuh Navita dengan penyiksaan penyiksaan yang ia berikan dan akhirnya mati mengenaskan.
"Bu..nu..h a.. ak..u.." gumam Navita lirih yang sudah tidak sanggup u tuk berbicara.
__ADS_1
Tubuhnya saat ini sudah kacau. Wajah yang dulu ia banggakan sudah hancur dengan lukisan yang di berikan oleh Tian.
"Cih, begitu saja sudah menyerah, lemah." ucap Tian berjalan mengambil pistol nya dan kembali ke arah Navita. Navita yang masih mencoba mempertahan kan kesadaran nya menatap Tian, dan....
Dooor ...Dooor ...Dooor .....
Tian menembak perut Navita berulang ulang hingga darah mengalir di lantai. Sedangkan Navita langsung tak sadarkan diri, mati.
Di lain tempat, Amira dan David yang mendengar itu hanya bisa menunduk dan menangis. Mereka yakin saat ini Navita pasti sudah mati di tangan Tian, karena mereka sudah tidak mendengar jeritan lagi dari mulut Navita.
Setelah melihat wanita yang membunuh ibu nya mati, Tian memerintahkan kepada anak buah nya untuk membuang Navita ke kolam buaya. Karena menurut nya tubuh Navita hanya pantas di berikan kepada buaya buaya ganas nya.
Setelah membunuh Navita, Tian keluar sambil mengelap tangan nya yang penuh noda darah. Dia berjalan ke arah Amira dan David, duduk di kursi menyilang kan kaki sambil menatap mereka berdua.
"Kalian pasti bertanya tanya kenapa aku tidak membunuh kalian kan?" tanya Tian.
David hanya diam sedangkan Amira mengangguk. "Aku tidak mungkin membunuh kedua adik ku." ucap Tian dan membuat kedua nya menatap Tian, 'Apa maksud mu' itulah arti tatapan mereka berdua.
"Kalian pasti bertanya tanya bukan? Ya, akan aku jawab. Aku adalah kakak kalian, sama ayah beda ibu." sambung nya.
"Kalian adalah saudara ku, namun aku tidak Sudi menganggap kalian saudara setelah perbuatan menjijikkan kalian itu. Cih, sungguh menjijikkan sekali." ucap Tian.
Tian tidak membunuh Amira dan David karena menurutnya perbuatannya dulu tidak lah terlampau batas, hanya menghina dan itu tidak perlu harus dengan cara membunuh. Memberi pelajaran dengan di hujat di media sosial dan masuk penjara bagi Tian itu sudah cukup. Berbeda dengan Navita, Navita harus mendapatkan balasan setimpal, mati.
"Dan untuk aku membunuh ibu kalian itu bukan karena alasan. Dia lah yang berulah duluan karena berani membunuh ibu ku, wanita pertama yang aku cintai dan sayangi. Namun dengan tega dia merenggut semua dari ku. Itu memang pantas untuk nya, mati di tangan ku." ucap Tian.
"Semua nya sudah aku lakukan. Membunuh Navita, membalas perbuatan kalian pada ku dulu. Dan kini saat nya membunuh Haris, karena dengan berani nya dia berbohong pada ku dan seolah dia sama sekali tidak bersalah." ucap Tian menggebu ingin menghabisi Haris.
Dia tidak mau mengingat pesan Mama nya yang meminta Haris untuk menyiksa dengan penyesalan, Tian akan membunuh saja laki laki yang menurutnya sangat menjijikkan itu. Tian sudah muak dengan semuanya.
.
.
Selain alasan tidak membunuh Amira dan David. Tian tidak ingin membunuh Amira yang sedang mengandung. Baginya ia akan sangat berdosa pada bayi yang masih sangat suci itu. Dan untuk David, Tian ingin David seperti dia dulu, terluntang-lantung seperti gembel di jalanan. Dia ingin David merasakan apa yang di rasakan nya dulu, mencari sesuap nasi untuk mengisi perut nya.
.
.
Disini saya akan menjawab, kenapa Tian tetap menganggap mereka berdua saudara kandung. Karena memang itulah kenyataannya, bahwa Amira dan David adalah saudara seayah beda ibu. Walaupun pengacara Haris pernah mengatakan jika mereka bukan anak Haris tapi kenyataannya mereka sebenarnya adalah saudara. Karena saat itu pengacara Haris membohonginya agar Tian tidak membunuh dan membenci tuannya. Dan itu ia lakukan atas perintah tuannya, Haris.
__ADS_1