
DARI BAB INI AKAN DI LANJUTKAN DENGAN KISAH ALDIRCH DAN AMORA. PERJALANAN CINTA NYA TAK SEMULUS YANG DIINGINKANNYA.
SUATU HARI ALDIRCH TAK SENGAJA BERTEMU DENGAN PUTRI MAFIA YAKUZA, MEMBUAT PUTRI ITU JATUH CINTA DAN MELAMAR ALDIRCH SI PUTRA MAHKOTA. NAMUN ALDIRCH MENOLAK KARENA DIA TELAH MEMILIKI WANITA PUJAAN HATINYA. PENOLAKAN ITU MEMBUAT HUBUNGAN KEDUANYA PENUH DENGAN TANTANGAN.
IKUTI JALAN CERITA KISAH ALDIRCH DAN AMORA.
CUUUUSSSS...........
...~~~...
Bagian 01.
"Bu, Mora tadi di panggil oleh kepala sekolah karena belum melunasi SPP. Jika dalam waktu dekat ini Mora tidak bisa melunasi, Mora tidak akan bisa ikut Semester," ucap Mora memberitahukan perihal sekolah yang belum melunasi tunggakan SPP.
"Ibu gak ada duit," jawab Lusi cepat.
"Jika tidak duit lalu apa yang sedang ibu hitung itu?" batin Mora yang melihat ibu nya sedang menghitung uang di depan nya.
"Kenapa masih disini?" tanya Lusi
"Minta uang," jawab Amora yang masih berdiri di depan Lusi.
Mendengar permintaan Amora, Lusi langsung mendongak melihat wajah Amora di depan nya, menjengkelkan.
"Apakah telinga mu tuli?" tanya Lusi menatap tajam
"Tidak," jawab Amora cepat tanpa takut dengan tatapan tajam Lusi.
"Jika telinga mu dengar kenapa masih disini? Sudah ku katakan ibu tidak punya duit," jawab Lusi marah dengan suara tinggi.
Amora yang melihat ibu nya marah bukan nya takut, dia masih tetap berdiri disana dengan menatap Ibu nya. Amora sudah terbiasa terkena amukan ibu nya yang bagaikan macan betina itu, tapi dia selalu saja tidak takut. Pikirnya mungkin ibu nya itu sudah dari sononya suka marah marah.
"Lalu yang ibu hitung itu apa jika bukan duit?" tanya Mora sambil menunjuk uang beberapa gepok di meja. Lusi yang mendengar langsung melihat ke arah uang nya. "Ini bukan uang ibu," jawab nya sambil memasukkan uang itu kedalam plastik.
"Jika bukan uang ibu, kenapa ibu repot repot ngitungin?" tanya Mora terus menerus. Lusi yang mendengar sungguh sudah tidak tahan lagi, ia berdiri menatap tajam Amora. Namun sial nya Amora sama sekali tidak takut dan dia malah balas menatap ibu nya dengan senyuman. Melihat itu Lusi bertambah kesal sambil berkacak pinggang.
"Kamu tu ya dibilangin terus saja ngeyel. Sudah ibu katakan itu bukan uang ibu, Amora." jawab Lusi mendekat dan menarik telinga Amora dengan keras.
"Aduh...Aduh....Bu, sakit Bu," rintih Amora sambil memegang tangan ibu nya yang sedang menjewer nya.
"Rasain, makanya jangan cerewet," ucap Lusi menarik Amora keluar rumah dengan tangan yang masih di telinga Amora.
Amora yang di jewer serta di tarik keluar hanya bisa merintih sakit sambil meminta untuk di lepaskan.
"Sudah pergi sana, jika perlu cari uang untuk bayar SPP mu sendiri. Ibu sudah lelah ngurusin kamu yang bisanya cuma minta duit duit duit dan duit," usir Lusi kesal.
"Loh kok ibu malah ngusir Mora? Dan lebih parahnya kenapa ibu malah menyuruh Mora cari uang sendiri, benar benar gak jelas ini ibu," ucap Amora tanpa rasa takut mengatakan Lusi yang tidak jelas.
Pandangan Lusi sudah seperti singa yang akan memakan mangsanya. "Apa yang kamu bilang tadi ha....? Ibu tidak jelas begitu? Apakah mata mu itu sudah rabun Mora? Jelas jelas ibu sebesar ini dan masih mengatakan ibu tidak jelas. Sini kalau tidak jelas ibu akan koret mata mu biar jelas," ucap Lusi kesal dan mencekal tangan Mora.
Mora yang melihat ibu nya mencekal nya langsung menarik tangan Lusi dan akhirnya bisa terlepas. "Maaf ibu aku kabur saja. Mata ku sekarang sudah Jelas, Ibu benar benar menakutkan seperti macam betina," ucap Amora dengan keras sambil berlari kabur dari amukan ibunya.
Mendengar Amora menyebutnya macan Betina, darah tinggi Lusi langsung naik. "Amora awas kau ya kalau balik ke rumah, akan ibu buat dendeng kau," teriak Lusi marah.
"Ibu jangan marah marah, awas darah tingginya naik," teriak Amora dari kejauhan.
Mendengar itu Lusi mendengus kesal. Benar benar anak yang yang menyebalkan.
Amora yang lari dari amukan ibu nya kini berjalan kaki sambil menendang nendang kaleng minuman. "Menyebalkan sekali," gumam Amora.
"Ibu selalu saja begitu. Saat aku meminta uang selalu saja marah dan berteriak, aku ini seperti bukan anak ibu saja," gerutunya dengan cemberut.
Cukup lelah dia berjalan, ia duduk di kursi sambil memainkan jarinya.
"Hah, minta uang sama siapa? Ibu pelit, kalau bapak gak pernah ada duit, walaupun ada mungkin hanya lima ribu dan itu pun kalau ibu tau pasti sudah di ambil oleh nya." gumam nya
"Aaahh....Menyebalkan," kesal Amora.
"Saat memikirkan tentang uang Sekolah nya dan memikirkan ibu nya yang pelit, seorang wanita cantik datang dan duduk di sampingnya. "Bolehkah aku duduk di sini?" tanya Wanita cantik bak bidadari
Amora yang mendengar langsung menoleh, terpana dengan kecantikan yang menurutnya sempurna.
"Cantik sekali," ucap Amora mengagumi Chloe. Ya Gadis cantik itu bernama Chloe, Putri Mahkota kerajaan NEVOLEON yang sedang menjalani hidup sederhana nya.
__ADS_1
Chloe yang mendengar tersenyum. "Kamu juga cantik," balas Chloe.
"Eh, hehehe..anda bisa saja," jawab Amora tersenyum malu. Mana mungkin dia cantik, wajah saja pas-pasan, pikirnya.
"Sendiri saja?" tanya Chloe.
"Iya Nona," jawab Amora.
"Panggil aku Chloe," pinta Chloe tidak suka di panggil Nona.
"Ah tidak ah, anda lebih dewasa dari saya. Tidak pantas saya memanggil nama saja," jawab Amora enggan. "Saya panggil mbak saja, biar lebih sopan kesan nya," ucap nya lagi
"Baiklah," jawab Chloe tersenyum.
"Nama ku Amora," ucap Mora memperkenalkan diri.
"Nama yang bagus," jawab Chloe. "Oh ya kulihat wajah mu nampak murung?" tanya Chloe melihat gadis remaja itu.
"Iya, saya memang sedang murung dan sedikit kesal," jawab Mora jujur tanpa di tutup tutupi.
"Memang kenapa?" tanya Chloe bertanya karena menurutnya gadis di samping nya ini unik, berkata jujur dengan orang yang baru di kenal.
Amora menoleh ke arah Chloe. "Aku belum bayar uang sekolah mbak," jawab Amora dan membuat Chloe bengong, hanya karena uang sekolah Mora iring uringan. Jelas saja uring uringan bagi orang yang tidak mampu Chloe!
"Lah kenapa? Apa orang tua mu tidak ada biaya?" tanya Chloe.
"Ada, bahkan sangat ada. Tapi ibu aku itu galak nya minta ampun, setiap kali aku minta uang pasti marah marah," jawab Amora membayangkan ibu nya yang sedang marah seperti macan yang ingin menelan nya.
Membayang itu, Amora bergidik ngeri. 'Menyeramkan'. Chloe yang melihat itu tersenyum.
"Mbak tahu tidak?" tanya Amora dan di jawab gelengan Chloe. "Tadi tu ibu saya malah sempat sempat nya mengusir dan meminta ku nyari kerja untuk bayar uang sekolah, bukankah dia itu sangat kejam?" tanya Amora sambil menyandarkan kepala nya di sandaran kursi.
"Kerja?" tanya Chloe.
"Ya. Coba deh mbak bayangin, apa coba yang bisa ku kerjakan! Lulus saja belum, malah suruh nyari kerja. Kalau kerja beberes rumah ya aku bisa. Tapi kan gak bisa harus pagi sampai malam, aku kan harus sekolah juga. Jadi mustahil aku harus kerja," ucap Amora bercerita sambil mengeluh.
Chloe yang mendengar terkekeh. Amora yang mendengar langsung menatap Chloe. "Lucu ya mbak?" tanya Amora.
"Tidak, hanya saja aku suka dengan kejujuran mu. Em, kamu bisa apa memang?" tanya Chloe.
"Kerja! Kamu bisa kerja apa?" tanya nya.
"Aku bisa Nyuci piring, nyuci baju, nyapu, ngepel, dan masak, yang lainnya tidak bisa. Bisa nya hanya tidur," jawab Amora menghitung dengan jari apa saja yang ia bisa.
Chloe yang mendengar tidak bisa tidak tertawa. Ia tertawa terpingkal pingkal dengan ucapan Amora.
"Bagaimana kalau kerja di tempat ku," tawar Chloe yang sudah berhenti tertawa.
"Kerja! Kerja apa?" tanya Amora antusias.
"Mencuci pakaian. Aku tinggal di kontrakan tak jauh dari sini, mungkin kamu bisa menawarkan jasa cuci di tempat kontrakan ku. Kebanyakan dari kami selalu nglondri karena tidak ada waktu untuk mengerjakan itu. Jika kamu mau aku akan berbicara dengan teman teman ku," ucap Chloe menawarkan pekerjaaan.
"Tapi khusus untuk ku kau bisa datang langsung, aku akan menerima mu jika kau mau," ucap nya lagi.
Amora diam, berpikir 'Mencuci baju'. "Nanti akan aku pikirkan ya mbak," jawab Amora
"Oke, dan ini nomor ku," jawab Chloe sambil menyerahkan kartu nama nya.
"Chloe Dominic," gumam Amora membaca nama Chloe yang menurut nya bagus. "Nama mbak bagus sekali, seperti nama orang kaya," ucap Amora masih melihat kartu nama pemberian Chloe. Chloe yang mendengar tersenyum, dalam hati. "Aku memang kaya, tapi saat ini aku sedang jadi orang miskin."
Cukup lama mereka mengobrol, waktu pun sudah menunjukkan sore. Amora pamit untuk pulang, karena dia tidak ingin ibu nya mengamuk lagi dan menerkam nya saat sampai.
"Mbak saya pulang dulu ya. Jika nanti saya mau, kapan pun mbak masih menerima kan?" tanya Amora bertanya tentang tawaran Chloe tadi.
"Ya, kapan pun kamu bisa, kamu hubungi aku saja," jawab Chloe.
"Baiklah, terimaksih ya mbak sudah menemani saya mengobrol," ucap Amora sedikit menundukkan kepala tanda terimakasih.
"Sama sama. Oh ya jangan tundukkan kepala seperti itu. Cukup bilang terimaksih dan tampilkan senyum manis saja," ucap Chloe tidak suka Amora bersikap seperti itu.
Setelah itu Amora pulang dengan rasa senang. Namun saat sampai di depan rumah, dia melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah nya.
"Mobil siapa ini? Bagus sekali," ucap Amora menyentuh mobil berwarna Putih itu.
__ADS_1
Rasa penasaran nya, Amora berjalan masuk. Tapi sebelum itu dia mendengar suara ibu dan ayah nya berbicara.
"Flow akhirnya kamu kembali, ibu merindukan mu," peluk Lisa pada putrinya yang hilang beberapa tahun lamanya.
Amora yang mendengar bergumam. "Flow! Flow siapa?"
Karena rasa penasaran nya dia langsung masuk. "Bu, pak," panggil Amora.
Mendengar Amora telah kembali, Lisa langsung menghampiri dan menjewer telinga Amora. "Dari mana kau ha...? Kabur dan sekarang baru kembali."
"Aduh Bu, sakit Bu. Kenapa ibu selalu saja menjewer telinga ku? Jika telingaku jadi seperti patkai bagaimana?" ucap Amora mencoba melepas tangan Lisa.
Patkai siapa?" tanya Lusi. Belum saja Amora menjawab pertanyaan Lusi mereka mendengar suara deheman.
Flow yang melihat Gadis asing di rumah ibu mengerutkan kening, siapa pikirnya.
Ehem....
Mendengar suara Flow, Lisa dan Amora menoleh. "Maaf sayang, ibu melupakan mu dan malah sibuk dengan anak nakal ini," ucap Lisa melepas tangan nya dari telinga Mora. Sedangkan Mora mengusap telinga nya yang terasa panas.
"Siapa dia Bu?" tanya Flow menatap Amora.
"Oh dia! Dia Amora anak ibu," jawab Lusi sambil melihat ke arah Amora.
"Ibu punya anak lain selain Flow?" tanya Flow sedikit tidak suka.
"Ya, bisa di bilang dia adik mu," jawab Lusi. "Oh ya Ra, kenalkan dia Flow kakak mu, anak pertama ibu yang sudah bertahun tahun menghilang. Dan kini dia sudah kembali lagi," ucap nya lagi memperkenalkan Flow kepada Amora.
Amora yang mendengar Flow kakak nya langsung menoleh setelah itu berkata. "Jadi dia kakak ku? Mora punya Kakak?" tanya nya menatap Lusi dan Doni dan di angguki oleh keduanya. "Wah senang nya aku punya kakak," ucapnya langsung memeluk tubuh Flow yang bagaikan model.
Flow yang mendapat pelukan itu tentu saja kaget, namun dia tetap diam menyambut Amora yang menurut ibu nya adalah adiknya.
Setelah cukup lama Mora memeluk dan merasakan Flow yang sudah nampak risih, Amora pun melepas pelukan nya dan menatap Flow. "Kakak cantik sekali," ucap Amora mengagumi dan di hadiahi senyuman manis Flow.
Amora duduk di samping Flow, dia terus menempel. Dia sangat bahagia.
Lusi dan Doni yang melihat kedua anak nya yang akur sungguh sangat bahagia. Dia berharap mereka akan saling menyayangi sampai kapan pun.
Malam hari, Amora datang ke kamar Flow. Dia ingin bertemu dan menanyakan kenapa Kakak nya itu bisa menghilang. Dan saat menghilang kakak nya itu berada dimana?.
"Kak," panggil Amora saat membuka pintu kamar Flow.
Flow yang di panggil menoleh, di lihat nya Amora berdiri di pintu. Flow tidak menyahut, hanya menatap nya saja.
Amora masuk dan duduk di ranjang Flow. "Apakah Mora mengganggu Kakak?" tanya Amora melihat kakak nya yang sedang sibuk mengeluarkan pakaiannya dari koper.
"Menurut mu?" tanya Flow dan membuat Amora diam.
"Tidak," jawab Amora tersenyum. "Mana mungkin seorang kakak akan terganggu jika adiknya menemui, pastinya tidak kan?" Ucap Amora.
Flow yang mendengar memutar bola matanya malas.
Amora terus berbicara, namun Flow sama sekali tidak menyahut. Melihat Flow yang sepertinya tidak suka, Amora pun bertanya. "Apakah kakak tidak suka dengan ku?" tanya Amora ingin tahu.
"Kamu ingin aku menjawab jujur atau tidak?" tanya Flow menatap Amora.
"Tentu saja jujur kak, Mora tidak suka kebohongan," jawab Amora membalas tatapan itu. Namun balasan yang ia berikan untuk Flow berbeda dengan flow yang nampak sedikit kesal, Amora memberikan senyum manisnya walau tahu kakak nya itu sedikit kesal dengan nya.
"Baik, dengar baik baik Ok. Aku akan mengatakan dengan jujur. Aku muak melihat mu yang selalu ada di depan ku," jawab Flow membuat Amora diam menatap.
"Kenapa?" tanya Amora santai seperti tidak sakit hati dengan apa yang dikatakan oleh Flow.
"Karena kau selalu menganggu, dan sampai kapan pun kau pasti akan menganggu ku dengan orang tua ku," ucap Flow membuat Amora tidak mengerti.
Amora benar benar tidak tahu apa maksud yang di ucapkan oleh Flow, kakak nya. Dia hanya mengerutkan alisnya tanda bingung.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat membaca.
Maaf cerita Aldirch akan saya gabungkan saja di sini. Kemaren adik gadis ku mau bikin ini pake Nama Pena Bunda Sasa, tapi hari ini katanya gak bisa, pusing🤭🤭🤭. Jadi Autor aja yang buat.