
Saat Haris Meratapi penyesalan nya, berbeda dengan Navita yang malah menikmati permainan Alex.
Malam Harinya.
Haris sendirian di ruangan perawatannya itu tanpa adanya orang yang menemani, baik istri dan anak nya tidak ada yang menemaninya. Sungguh kasihan sekali bukan?.
Sedangkan di kediaman Tian.
Tian sudah memakai pakaian santai nya, ia ingin menemui papa tersayang nya yang sedang meratapi nasib dirinya.
Tian turun dari tangga, sedangkan Samuel yang duduk di sofa langsung melihat ke arah Tuan nya, saat telinga nya mendengar suara sepatu menapaki tangga.
"Tuan mau kemana?" tanya Samuel.
"Aku ingin menjenguk Papa ku tersayang." jawab Tian.
....... Samuel diam, setelah itu berkata. "Apakah perlu saya antarkan Tuan?"
"Tidak perlu, kau pulanglah. Aku bisa mengendarai mobil ku sendiri." ucap Tian.
''Baik Tuan." jawab Samuel karena memang sebenarnya ia cukup lelah hari ini.
Tian pergi sendiri tanpa seorang mengawal. Beberapa menit perjalanan, Tian pun akhirnya sampai.
Tian masuk kedalam rumah sakit, bertanya kepada petugas dimana letak pasien bernama Haris Anderson. Petugas itu pun mengatakan dimana kamar rawat Haris.
Setelah mengetahui dimana Haris di rawat, Tian berjalan santai menuju ruangan itu.
......" Tian berdiri diam di depan pintu kamar rawat Haris. Ia teringat terakhir kali dia bertemu Haris saat dia masih kecil dan itupun bukan sambutan hangat yang ia dapat tapi malah pengakuan yang sungguh menyakitkan.
Tangan Tian terulur, membuka pintu. Matanya melihat isi ruangan itu dan hanya ada seorang yang berbaring di brangkar, dia adalah Haris.
Tian berjalan pelan tanpa menimbulkan suara, berdiri di samping Haris, menatap laki laki yang sudah tidak muda lagi itu.
Merasa ada yang mengawasi, Haris pun membuka mata. Di lihat nya seorang memakai masker dan juga topi, sehingga Haris tidak mengenal siapa laki laki yang berdiri di samping nya itu.
Eem...Eem...
Haris mencoba bertanya. Tapi tidak ada kata yang jelas dari ucapan nya. Tian yang mengerti maksud dari Haris pun membuka Topi nya dan Masker nya.
"Apa kabar Tuan Haris." sapa Tian.
Eem...Eem....
__ADS_1
"Tidak usah repot repot berbicara, aku akan mengatakan nya kenapa aku datang kemari." ucap Tian.
Tian mengambil kursi dan duduk di samping Haris, tubuhnya di sandarkan sambil tangan nya bersedekap.
"Sangat sangat menyedihkan." ucap Tian.
Haris yang mendengar menatap Tian, seolah bertanya "Apa maksud nya kau mengatakan itu?"
Hah ....
"Kau itu benar benar menyedihkan Tuan Haris. Sangat sangat menyedihkan. Ck..Ck..Ck.. Istri tidak ada, anak anak mu pun juga tidak ada." ucap Tian.
Haris hanya menatap Tian dengan diam.
"Apakah kau ingin tahu dimana istri dan anak mu sekarang ini?" tanya Tian. "Aku akan memberitahukan mu." lanjutnya mengambil handphone dan memutar sebuah rekaman.
"Lihat lah." ucap Tian menunjukkan sebuah Vidio.
Mata Haris membelalak. Ia seakan di buat terkejut dengan apa yang di lihat. Bagaimana tidak! Siang tadi dia di kejutkan dengan istri nya yang berselingkuh dan melakukan perbuatan bejat di depan matanya, dan kini dia di kejutkan kembali dengan tingkah kedua anak nya.
Eem...Eem
"Kau tidak perlu tahu dari mana Aku mendapatkan ini." ucap Tian. "Aku yakin kau pasti terkejut dengan apa yang ku tunjukan padamu.
Haris menatap tak percaya, kenapa pemuda ini melakukan semua ini kepadaa kelaurga nya,Tian yang melihat Haris menatapnya pun berkata. "Jangan menatapku seperti itu Haris. Aku melakukan ini karena aku memiliki dendam kepada mu. Dendam yang tidak akan pernah hilang sebelum kau hancur, Seperti kau pernah menghancurkan hidup ku dan Mama ku." ucap Tian mengingat perlakuan Haris kepada dirinya.
"Aku sangat membencimu Haris, sangat membencimu. Sampai sampai kebencian ku ini, setiap kali aku melihat mu ingin sekali ku tembak isi kepala mu itu dengan pistol ku. Dan untuk saat ini....." ucap Tian mengusap rambut nya dan mengeluarkan pistol nya menodongkan nya ke arah kepala Haris. "Aku benar benar ingin sekali membunuhmu."
Dooor.
Tian menembak ke arah lain.
Jantung Haris seakan berhenti berdetak, melihat apa yang di lakukan Tian. Namun dalam fikiran nya dia ingin berkata dan bertanya tentang Apa kesalahannya kepada pemuda yang ada didepannya ini. pikirnya ia belum lama mengenal Tian tapi kenapa pemuda ini seolah memiliki dendam yang sangat besar kepadanya.
"Kau benar benar tidak mengenalku Harris?" tanya Tian
Haris menggeleng dan mengangguk tanda ia hanya mengenal Tian sebagai pemilik perusahaan TYREND Crop's.
"Kau tidak mengingat seorang anak kecil yang memanggil mu papa, tapi kau tolak dan malah kau hina?" tanya Tian.
Haris kembali diam, berfikir. Mengulang ingatannya ke tahun-tahun sebelumnya. Lama berpikir akhirnya dia pun mengingat. Matanya melotot ke arah Tian, seolah berkata. "Apakah dia Tian, Tian anak ku.."
Tian yang yang melihat tatapan itu pun mengangguk dan berkata. "Ya, itu adalah aku. Anak mu, anak yang kau hina, kau rendahkan, kau buang bahkan kau tak mengakuinya sebagai putramu."
"Kau terkejut bukan? Karena aku masih hidup?" Tentu saja aku masih hidup, mana mungkin aku mati sebelum membalas dendam ku kepadamu tercapai.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu merasakan penderitaan seperti apa yang kami rasakan. Kau tahu seberapa menderitaan hidup kami dulu? Hidup terlunta-lunta di jalanan mencari makan hanya untuk mengisi perut kami yang kosong. Aku harus bekerja mati-matian mengumpulkan uang, mengumpul kan barang bekas hanya agar mendapatkan sedikit uang untuk dapat membeli obat Mamaku."
"Tidur di jalanan karena tidak memiliki tempat untuk berteduh, rumah yang dulu kami miliki pun harus rela kami jual untuk membiayai pengobatan Mama yang sedang sakit. Dan sampai akhirnya Mama pun meninggalkanku seorang diri hidup di dunia yang kejam ini.." ucap Tian mengusap rambut nya kasar, menahan air mata nya agar tidak jatuh saat mengingat kematian Renata.
"Kau tahu bagaimana aku menjalani kehidupan setelah itu? Aku menjadi gelandangan, makan pun harus mencari sisa bekas dari orang lain. Dan terkadang pun aku juga tidak makan, kelaparan beberapa hari pun sudah biasa bagi ku. Sedang kan Kau....." Tunjuk Tian. " Kau makan enak penuh dengan kenikmatan. Aku yakin kau tidak pernah memikirkan sedikit pun tentang diri ku. Kau tidak pernah mengerti bagaimana rasanya penderitaan yang ku alami selama ini Haris sialan." Maki Tian sambil teriak meluapkan emosinya.
Suster yang bertugas mendengar suara itu langsung berlari mencari Dokter untuk memeriksa ruang rawat Haris.
Selang beberapa menit Dokter dan beberapa suster datang ke ruangan Haris.
Ckleeek..
Tian menoleh ke arah suara.
Mata tajam penuh emosi itu menatap seluruh manusia yang berdiri di pintu.
"Siapa yang mengijinkan kalian masuk ke sini." bentak Tian dengan suara keras. "keluar." teriaknya
"Tuan, tolong jangan membuat kegaduhan di rumah sakit ini tuan. Pasien harus banyak beristirahat agar lekas sembuh, saya mohon tuan silahkan anda pergi dari ruangan ini." ucap Dokter.
"Aku bilang keluar, jangan buat diriku marah. Jika kalian terus saja mengoceh Aku akah membunuh kalian semua." ucap Tian mengambil pistol nya dalam saku dan menodongkan nya ke arah Meraka.
Dooor....
Satu tembakan melesat ke arah mereka, namun tembakan itu ia arahkan ke arah dinding.
Suara jeritan suster pun menggema di ruangan itu. Sedangkan Haris hanya diam menatap anak yang tidak di akui nya yang seperti nya benar benar marah.
.
.
.
Autor Marasa ini kurang greget.. Ah macam mana cara nya.
Kasih saran ya di setiap dialog nya. Nanti jika cocok akan Autor revisi ulang.
Selamat membaca
Salam sayang.
Emmuach....😘
Emmuach...😘
__ADS_1