
Saat asyik bermanja, tiba tiba pintu di ketuk dari luar.
Tok...Tok...Tok....
Amira dan David langsung gelagapan mendengar pintu di ketuk.
"Kak, bagaimana?" tanya Amira.
"Sembunyilan." perintah David
Amira memunguti pakaian nya setelah itu pergi ke kamar pribadi David untuk bersembunyi. Sedangkan David dengan cepat memakai pakaian nya.
Setelah selesai. David membuka pintu, di lihat nya Papa nya datang.
"Apakah kau sibuk?" tanya Haris.
"Tidak, masuklah Pa." ucap David mempersilahkan.
Haris masuk kedalam ruangan David dan duduk di sofa menatap tajam David. David yang di tatap seperti itu menjadi menciut.
"Kenapa Papa menatap ku seperti itu? Apakah ada sesuatu yang di ketahui oleh nya." batin David.
"Ada apa papa kemari? Apakah ada hal penting?" tanya David
Haris melemparkan berkas di tangan nya ke atas meja, berkas yang menyatakan bahwa perusahaan belum baik baik saja. "Bukankah kau sudah mengatakan perusahaan sudah baik baik saja? Lalu apa ini? Kau mencoba membohongi papa mu ini ha..!! Dan ini." Haris kembali melempar foto Dani memberikan uang kepada Roland. "Kau menghamburkan uang hanya untuk hal yang tidak berguna, menyewa seseorang hanya untuk membunuh satu nyawa. Dasar bodoh, seharusnya kau itu berfikir untuk mencari dana bukan malah menghamburkan uang dengan hal yang tidak penting seperti ini." marah Haris.
"Pa tenang lah, aku melakukan itu agar aku tidak Menganti kerugian itu." ucap David
"Lalu hasil nya apa?? Apa yang kau dapat setelah mengeluarkan uang segitu banyak? Apakah kau berhasil membunuh dia?" tanya Haris geram.
"......" David menggeleng, dia mengaku dia terlalu gegabah, dan akhirnya hanya bisa diam.
"Papa mendidik mu agar kau menjadi cerdas bukan malah menjadi bodoh seperti ini." marah Haris. "Papa tidak mau tahu, dalam satu Minggu ini kau harus bisa menstabilkan perusahaan." ucap Haris.
"Aku sudah mendapatkan suntikan dana dari seseorang Pa, hanya saja dia memiliki syarat." ucap David.
"Siapa?" tanya Haris penasaran
"Aku tidak terlalu tahu siapa orang itu, dia hanya mengirim kan bawahan nya untuk mendatangi kami dengan syarat harus bisa membunuh Tian." ucap David menjelaskan.
__ADS_1
"Membunuh Tian?" tanya Haris.
"Ya pa, dan aku sudah menyetujui syarat itu." ucap David
"Baiklah, lakukan. Yang terpenting perusahaan baik baik saja." ucap Haris mendukung David.
Haris sudah lebih tenang mendengar perusahaan nya akan mendapatkan suntikan dana dari seseorang walaupun harus dengan syarat membunuh satu nyawa.
"Baik pa." ucap David senang karena mendapat dukungan dari papa nya untuk membunuh Tian.
Setelah Haris pergi, Amira keluar dari persembunyian nya.
"Kak, aku pergi nya. Takut nya ada yang kemari selain Papa." ucap Amira.
"Baiklah, hati hati di jalan." ucap David
Setelah pamit dengan David, Amira pergi dari kantor kakak nya. Namun saat di jalan mata nya melihat kerumunan yang menghambat perjalanan nya.
Amira turun dari mobil dan melihat ke kerumunan itu.
"Permisi." ucap Amira mencoba melihat apa yang menjadi penyebab kerumunan itu.
Mata nya tak percaya melihat seseorang yang di kenal nya terkulai dengan banyak darah di tubuh nya.
"Papa..." ucap Amira membekap mulut nya karena yang di lihat nya saat ini adalah papa nya yang mengalami kecelakaan.
"Papa.....Pa..." panggil Amira mengguncang tubuh Haris
"Tolong, tolong bawa Papa saya ke rumah sakit." ucap Amira meminta tolong.
Haris tak sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan tabrak lari dari orang yang tidak di kenal. Amira yang melihat sungguh tidak tega dengan keadaan yang di alami Papa nya.
Tak berselang lama Ambulance datang dan Haris pun di bawa ke rumah sakit. Amira menghubungi kakak nya dan Mama nya memberitahukan apa yang terjadi dengan Papa nya.
Sesampai nya di rumah sakit, Haris pun melakukan operasi. Amira duduk di kursi tunggu dengan pakaian penuh darah. Tak berselang lama David dan Navita datang dan menghampiri Amira.
"Sayang." peluk Navita.
"Ma, Papa Ma." ucap Amira menangis
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan Papa mu? Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Navita
"Mira Tidak tahu Ma. Saat di jalan Mira melihat Papa yang sudah seperti ini." ucap Amira menangis dalam pelukan Navita
"Vid, selidiki apa yang menjadi penyebab Papa mu seperti ini. Pasti ada sesuatu yang tidak beres." ucap Navita
"Baik Ma, akan ku selidiki apa penyebab Papa kecelakaan." ucap David dan setelah itu menghubungi Dani untuk mencari tahu penyebab kecelakaan Papa nya
Beberapa jam menunggu akhirnya Dokter keluar dari ruang Operasi. David, Amira dan Navita yang melihat langsung menghampiri.
"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Navita
"Kondisi suami anda sungguh memprihatinkan nyonya, kami sudah melakukan yang terbaik. Hanya saja, seperti nya tuan Haris tidak akan bisa berjalan kembali." jelas Dokter.
"Apa!! Jadi maksud nya suami saya lumpuh Dokter?" tanya Navita tidak percaya
"Benar nyonya." jawab Dokter.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin." ucap Navita lemas mendapat kenyataan suami nya lumpuh. David yang melihat Mama nya hendak pingsan langsung menangkap nya, menyandarkan tubuh wanita itu dalam pelukan nya.
"Vid, ini tidak mungkin kan? Papa mu tidak mungkin lumpuh kan?" tanya Navita masih tidak percaya.
"Ma tenang lah. Kita harus menerima kenyataan ini, kita akan berusaha untuk menyembuhkan Papa." ucap David menenangkan.
"Benar Ma, kita akan berusaha untuk menyembuhkan papa. Mama tidak perlu khawatir, serahkan semua nya pada kakak." ucap Amira ikut masuk dalam pelukan Kakak nya.
.
.
.
.
Selamat membaca.
Jangan lupa like komen dan vote nya
Jika suka tekan love nya juga ya.
__ADS_1