
Setelah mendengar kata cinta dari Tian, Ceril memutuskan panggilan karena di panggil nya, Tian tidak menyahut, yang ber- arti Tian kembali tertidur.
Pagi hari.
Tian membuka perlahan mata indah dengan bulu mata panjang nya. Menyandarkan tubuh nya di sandaran ranjang, mengambil air minum di meja nakas dan meneguk nya hingga habis.
Ting..
Pesan masuk di handphone nya.
Tian Meraih handphone nya dan membuka pesan.
"Sayang, apa kau sudah bangun? Aku merindukan mu." Isi pesan dari Ceril.
".........." Tian mengerutkan alis nya membaca pesan sayang dari Ceril.
Uh...Tian Sebenarnya sungguh gemas dengan Ceril yang selalu bersikap seperti ini. Ingin sekali Tian menggigit bibir yang banyak bicara itu.
Tia mengetik, membalas pesan Ceril. Jika tidak membalas ia yakin Ceril akan merajuk dan kesal.
"Sudah." Jawaban singkat itulah yang Tian tulis, membalas pesan Ceril.
Setelah membalas pesan itu, Ceril malah menelepon nya lewat panggilan Video. Tian menggeser tanda hijau, namun sebelum itu ia mengacak acak rambut nya agar sedikit lebih keren.
Video tersambung.
Terpampang lah wajah cantik Ceril di layar Hp. Tian yang melihat sungguh gemas ingin sekali datang dan menghabisi Ceril di dalam kamar. Namun semua itu ia tahan dan ia tutupi dengan sikap cuek nya.
Sedangkan Ceril menampilkan senyum manis nya melihat wajah Tian yang baru bangun tidur.
"Kau tampan sekali." ucap Ceril tanpa menutupi apa yang ingin ia katakan. "Apakah kau belum mandi?" tanya nya.
"Belum." Jawab Tian.
"Ah...Aku sungguh gila, aku ingin ke sana menemui mu. Disini menyebalkan, aku bosan." ucap Ceril lesu.
........" Bosan? Apakah dia pernah bosan?" batin Tian yang sepetinya tidak percaya jika Ceril dapat bosan. Setahu nya Ceril tidak pernah terlihat bosan. Jika pun ia, dia akan melakukan hal hal yang menurut nya menyenangkan. Di mulai dari belanja, berkumpul dengan teman teman dan masih banyak lainnya.
"Bukan kah aku tidak melarang mu jika ingin kembali." ucap Tian.
"Benar, kau tidak melarang ku. Tapi Papi dan kakak selalu melarang ku." ucap Ceril lesu. "Apakah kau tidak ingin datang kesini menemui ku?" tanya nya.
__ADS_1
"Aku sangat sibuk, tidak ada waktu untuk datang menemui mu." ucap Tian.
"Baiklah, mungkin memang aku yang harus datang menemui mu." ucap Ceril.
Saat mengobrol dengan Ceril pintu kamar Tian di ketuk dari luar.
Tok...Tok...Tok....
"Tuan." panggil Samuel.
"Siapa?" tanya Ceril yang mendengar.
"Samuel, sepertinya ada sesuatu hal penting. Apakah tidak apa apa aku mematikan telepon nya?" tanya Tian.
"Tapi..." ucap Ceril yang sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Tian.
"Aku akan menghubungi mu lagi nanti." ucap Tian.
"Baiklah, tapi janji hubungi aku lagi." ucap Ceril.
"Em..."Tian mengangguk.
Sambungan pun terputus dan Tian berjalan membuka pintu kamar nya.
Samuel diam memperhatikan tuan nya yang baru bangun tidur. Di lihat nya jam di pergelangan tangan nya.
"Jam 09!? Tidak seperti biasanya tuan bangun di jam segini." Batin Samuel.
"......" Tian yang melihat Samuel diam menjadi kesal dan langsung memukul bahu.
"Apakah kau menemui ku hanya untuk diam dan melihat ku seperti itu?" tanya Tian.
"Ah..Maaf tuan, maafkan saya." ucap Samuel. "Saya hanya heran saja, tidak seperti biasanya anda bangun kesiangan." lanjutnya.
"Itu karena gadis nakal menghubungi ku." Ucap Tian. "Ada apa kau datang? Apakah ada hal penting?" tanya Tian.
"Benar tuan, ada yang ingin saya tunjukkan kepada anda." ucap Samuel.
"Baiklah, ayo." ucap Tian pergi menuju ruang kerja, Samuel mengikutinya dari belakang.
Setelah masuk.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau tunjukkan?" ucap Tian duduk di kursi nya.
"Ini tuan." Samuel menyerahkan sebuah benda berwarna hijau muda. "Ini saya temukan di markas keluarga George. Saya yakin itu penting, karena benda ini di simpan di sebuah kotak yang ada di suatu ruangan." ucap Samuel.
Tian mengambil dan melihat benda itu dengan seksama. Di lihat nya itu benda yang sama yang di berikan oleh pelayan wanita di kediaman Anderson, hanya saja warna dari benda itu berbeda.
Jika yang di temukan pelayan wanita itu berwarna putih terang, berbeda dengan yang di temukan Samuel, berwarna hijau muda. Dan simbol yang ada di benda itu benar benar sama.
"Apakah menurut mu benda ini sama?" tanya Tian menunjukkan kedua benda.
Samuel langsung melihat dan mengambil nya, di lihatnya satu sama lain, dan itu benar benar sama. Hanya saja warna nya yang berbeda.
"Ini terlihat sama, dari bentuk ukiran dan simbol nya juga sama. Hanya saja warna dari kedua nya berbeda tuan." ucap Samuel.
"Dari mana tuan mendapatkan benda ini?" tanya Samuel penasaran.
"Pelayan wanita di kediaman Anderson. Dan ini di temukan di sebuah kotak kecil usang di dalam kamar wanita ular itu." ucap Tian mengatakan Navita wanita ular.
"Apakah yang kau pikirkan sama dengan yang aku pikirkan?" tanya Tian.
"Mungkin orang di balik semua ini adalah orang yang masa tuan." ucap Samuel. "Tapi apa tujuan orang itu? Jika dia menginginkan kehancuran kelompok kita pastinya dia melakukan sesuatu yang dapat merugikan kita. Tapi ini tidak. Semua usaha kita berjalan lancar lancar saja dan juga tidak ada kelompok lain yang berani mengganggu kita akhir akhir ini." ucap Samuel.
"......." Tian diam, berfikir. "Panggil Arsen kemari." perintah nya.
"Baik tuan." Jawab Samuel mengerti maksud tuan nya untuk memanggilkan Arsen kemari, pastinya tuan nya ini meminta Arsen untuk mencari asal usul benda itu.
.
.
.
.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Selamat membaca
Jangan lupa like and komen
Jika perlu kasih bunga dan vote
__ADS_1
Mohon dukungan nya