
"Salam Tante, Om." Sapa Sesil kepada Marx dan Selly.
Marx dan Selly mengangguk.
Marx melihat sekeliling, di lihat nya banyak para pengawal yang ada di tempat itu.
"Kau menyewa seseorang?" tanya Marx
"Tidak Pi, mereka datang menawarkan diri untuk mengawal dan menjemput Ceril." ucap Nickel.
"........" Marx mengernyitkan keningnya. "Siapa yang memerintah mereka?" tanya nya.
"Tidak tahu. Saat Nickel tanya mereka tidak ada yang menjawab begitupun gadis ini." ucap nickel menunjuk Sesil.
"Kenapa aku?" Tanya Sesil. "Kan aku sudah mengatakan tadi pada mu, jika kau ingin tahu kau harus menjadi p.....Em...Em..." Ucap Sesil terpotong karena mulut nya di dekap oleh Nickel.
Marx dan Selly bingung melihat mereka berdua.
"Tidak bisakah kau tidak mengatakan itu di depan orang tua ku." bisik Nickel.
"........." Sesil menggelengkan kepala sambil berusaha melepas tangan Nickel dari mulut nya.
"Lepas, kau membuat ku tidak bisa bernafas." kesal Sesil. "Lihat ini." Menunjuk bibir. "lipstik ku hilang karena mu." lanjutnya.
Mereka bertiga diam melihat Sesil menggerutu karena lipstik nya hilang.
Setelah setengah jam, Ceril keluar dari ruang operasi, dan di bawa ke ruang pemulihan.
Dilihat nya Ceril dalam keadaan tidur, mungkin karena obat bius nya belum hilang.
__ADS_1
"Pi, sebenarnya siapa yang melakukan semua ini? Putri kita ku rasa tidak pernah ada masalah dengan seseorang. Kenapa sekarang dia bisa terluka dengan benda berbahaya itu." ucap Selly mengelus rambut Ceril.
"Papi juga tidak tahu. Tapi akan Papi usahakan mencari siapa pelaku nya." ucap Marx.
"Nickel juga akan melakukan nya." ucap Nickel.
"Laki nya pun juga tidak akan diam." ucap Sesil
Mendengar Sesil berbicara semua nya langsung menoleh.
"Laki? Laki siapa?" tanya Marx.
"Tentu saja laki laki nya Ceril Om." jawab Sesil.
"Laki laki nya Ceril? Apakah Ceril punya kekasih?" tanya Selly
"Bisa dikatakan ia, bisa dikatakan tidak Tante. Dia sama seperti diri ku." ucap Sesil melirik Nickel.
"Jadi maksud mu Ceril menyukai pemuda itu, tapi pemuda itu tidak menyukai nya begitu?" ucap Nickel.
"Aku tidak tahu." ucap Sesil singkat.
"Apa!! Ah...kenapa kau membuat ku gila. Dasar gadis aneh " ucap Nickel pergi meninggalkan orang tua nya untuk menghindari Sesil yang selalu membuat nya pusing selama sehari ini.
Marx dan Selly hanya melihat kepergian putra nya. Mereka berdua bingung dengan tingkah putra nya yang tidak pernah seperti itu selama ini.
Sedangkan anak buah Marco yang mengejar pelaku gagal. Pelaku itu dapat meloloskan diri karena di bantu oleh seseorang sehingga mereka semua kehilangan jejak.
Marco yang mendengar laporan itu kesal, marah dan tidak berdaya. Ia pasti akan kena omelan panjang dari bos nya. Syukur syukur jika itu hanya Omelan. Tapi jika bukan, mungkin itu memang sudah nasib Marco untuk merasakan hukuman.
__ADS_1
Marco menghubungi Tian.
Dreeet.... Dreeet
Tian yang melihat kesal karena Marco mengganggu nya.
"Hem....ada apa?" tanya Tian.
"Belum bicara saja, nada bicara nya sudah mengerikan, bagaimana kalau sudah bicara." batin Marco.
"Maaf tuan saya mengganggu. Saya hanya mengabarkan jika Nona Ceril sudah selesai di operasi. Dan kini ada di ruang rawat." ucap Marco.
"Benarkah?" tanya Tian antusias dan berdiri dari tempat duduk nyam
Samuel yang melihat melirik semua rekan bisnis nya. Ya, saat ini Tian sedang mengadakan rapat dengan rekan bisnis nya atau pemegang saham di perusahan nya.
"Ehem...Tuan." panggil Samuel.
Tian tidak menghiraukan panggilan Samuel, ia masih ingin berbicara dengan Marco mengenai Ceril.
.
.
.
Selamat membaca
Jangan lupa like and komen serta vote
__ADS_1
Jika perlu kasih bunga, dan kopi.