
Mungkin, ini yang namanya persahabatan. Tanpa pamrih, tanpa takut, tanpa paksaan. Semuanya berjalan dengan ikhlas. Saling menolong dan menjaga.
***
Seminggu berlalu setelah kejadian amukan panglima perang Arakata itu. Setelah kejadian itu Robert menyadari kesalahannya. Pria itu dengan gentle menemui Lukman di tempat kerjanya dan meminta maaf.
Minggu pagi ini anak-anak Arakata dan Gester mengunjungi rumah Lukman. Mereka berencana bergotong royong membenahi atap rumah Lukman yang bocor sana-sini.
Abang-abangnya Valerie dan beberapa anggota Arakata angkatan terdahulu juga ada yang ikut andil. Kalau urusan membantu sesama, dengan ikhlas dan sukarela mereka selalu sigap membantu.
Para lelaki yang jumlahnya dua puluhan itu bertugas membetulkan atap dan bersih-bersih. Yang perempuan bertugas memasak di dapur. Rumah Lukman memang kecil, tapi memiliki pekarangan yang luas. Sehingga jumlah
anak-anak Arakata dan Gester yang banyaknya seperti mau tawuran itu bisa tertampung semua.
Di dapur ada Valerie, Maheswari, Sinta (pacarnya ketua Gester), Siwi dan Andien. Gandi mengajak kakak tercintanya itu atas bujukan Gerry.
"Kok dokter juga ada di sini?" tanya Bagus setelah mereka semua menyelesaikan tugasnya, dan istirahat duduk-duduk di halaman yang sudah digelar dengan tikar.
"Lo lupa kalau gue juga anak Arakata?" Yoga melirik sinis pada Bagus. Dokter muda itu masih jengkel sekaligus trauma pada Bagus. Dengan tega siswa tengil itu menyuruh Yoga ikut meminum jamu datang bulan milik Valerie yang rasanya sangat aneh menurutnya. "Gue humasnya Bayu dulu." Lanjutnya ketus.
"Ah, elo masih aja ketus dok. Masih jengkel sama gue gara-gara gue suruh minum jamunya Eri?"
"Sampai kapanpun gue gak bakal lupa sama tingkah kurang ajar elo itu!" Sampai sekarang Yoga masih mengingat kejadian itu. Kejadian yang sangat menyeramkan menurutnya.
"Halah, elo seharusnya bersyukur dok. Udah mendapat kehormatan bisa mencicipi minuman yang digandrungi para cewek. Siapa tahu kan elo bisa jadi datang bulan dok." Bagus tersenyum miring sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Kehormatan mata lo!" Yoga menggeplak bahu Bagus keras sampai cowok itu meringis kesakitan. "Gara-gara itu, gue trauma tahu gak! Setiap kali gue melihat tuh minuman di swalayan, gue jadi ngeri sendiri!"
"Elominum gituan Ga? Huahahaha ... pantes beberapa hari ini elo jadi pendiem." Bayu terbahak, sampai perutnya kram. Bukan hanya Bayu, semua yang ada di sana terbahak sampai ada yang guling-gulingan sambil nyabutin rumput. "Jangan-jangan gegara tuh minuman elo jadi berubah gender Ga. Huahahaha, ganti nama sekalian aja jadi Yora Ga. Huahahaha ...."
"Temen bangsul elo ya." Yoga melotot pada Bayu yang masih terbahak-bahak.
__ADS_1
"Elo sama Bagus memang cocok bang." Gerry yang duduk di sebelah Andien ikut menimpali. "Sama-sama anak IPA, sama-sama bercita-cita jadi dokter, sama-sama HUMAS Arakata, sama-sama gesrek pula."
Perkataan Gerry itu otomatis langsung membuat Yoga dan Bagus cemberut. Membuat yang lainnya tambah terpingkal karena tingkah mereka berdua yang kayak anak kembar.
"Hahaha, ini yang gue suka dari Arakata." Tyan memandang sekelililingnya sambil tersenyum "Persahabatan kalian itu sudah seperti saudara. Gak lekang dimakan waktu. Gak ada senioritas diantara kalian. Semua angkatan membaur tanpa ada kesenjangan. Gue berharap, Gester juga bisa seperti itu. Gue sudah anggap kalian kayak saudara." Tyan memandang anggotanya satu-persatu. "Jadi, gue harap kalian juga menganggap gue sebagai saudara."
"Siap boss," jawab Robert dan lainnya dengan semangat.
"Eh Robek, gaya elo teriak siap." Valerie mendelik pada Robert. "Emang elo paham yang elo teriakin itu!"
"Yaelah Er, masih aja elo ketus sama gue. Padahal kemarin gue udah tulus minta maaf. Lagian kemarin elo udah kasih gue hukuman yang sampai kapanpun gak bakal bisa gue lupain." Teman-temannya langsung tertawa lagi mengingat kejadian waktu eksekusi hukuman Robert itu dilaksanakan.
"Jahilnya elo memang sudah akut Er, hahahaaha ...," Gandi mengacak rambut Valerie yang duduk di depannya. "Anak orang elo suruh nyapu halaman sekolahnya pake kuas blash on?! Seharian baru kelar tuh kerjaan, sampai
pegal tuh pinggangnya. Lagian dari mana sih elo dapat tuh kuas. Perasaan elo kan paling anti dandan."
"Gue pinjem punya Mona. Gue ganti tuh kuas sama fotonya Elang. Eh secepat kilat dia kasih senjata andalannya itu." Mona adalah teman sekelas Valerie. Gadis yang hoby make up itu sangat menggandrungi Elang.
"Ish, gak papa gitu Lang. Ini kan demi misi negara. Elo kan harus berkorban."
"Eh cendol dawet, elo yang punya misi kenapa gue yang harus jadi korban."
Suasana rumah Lukman menjadi ramai dan hangat hari ini. Lukman sangat bersyukur bisa mengenal mereka. Terutama Valerie, jika Lukman tidak mengenal Valerie mungkin sekarang dia dan adik-adiknya tetap akan merasa
sendirian.
Valerie yang mengenalkan Lukman pada Arakata, Valerie yang mengenalkan Lukman pada Tama, bosnya yang haik hati. Valerie yang selalu siap siaga jika ada adiknya yang sakit, Valerie yang selalu menggantikan tugasnya
sebagai kakak untuk menjaga Raka dan Siwi, dan Valerie pula yang mengajarkan Lukman bagaimana rasanya jatuh cinta.
Ya, Lukman menyukai Valerie. Tapi rasa itu hanya ia pendam. Ia sadar bahwa Valerie hanya menganggapnya teman. Dia cukup bahagia menjadi tempat curhat gadis itu. Curhat tentang hidupnya dan perasaannya. Gadis itu
__ADS_1
sedang jatuh cinta, dengan siapa? Hanya Lukman yang tahu. Gadis itu tidak menceritakannya pada keluarga ataupun inti Arakata. Hanya pada Lukman rahasia itu ia titipkan.
"Makasih banyak ya, kalian sudah banyak bantu gue. Gak tau harus dengan cara apa gue memebalasnya." Lukman tersenyum tulus pada semua temannya itu.
"Ish, apaan sih, Man." Valerie membenarkan posisi Siwi yang tertidur di pangkuannya. Walaupun tomboy, gadis itu terlihat sangat keibuan. "Dengan elo tetap semangat berjuang buat kehidupan elo dan aduk-adik lo, itu udah cukup untuk kita. Hidup kan terus berputar, siapa tahu besok dikemudian hari giliran elo bisa bantu kita." Valerie mengerlingkan sebelah matanya, terlihat sangat menggemaskan dan manis. Semua memandang Valerie, bagaimana mungkin ada orang yang tidak menyukai gadis ini. Gadis ceria,pemberani, baik, pintar masak, keibuan. Semua yang mengenalnya, pasti menyanyangi gadis itu.
"Terharu gue, berasa kayak nonton sinetron," celetuk Robert.
"Elonya aja yang baperan, Robek! Kebanyakan nonton sinetron lo kayak emak-emak. Korban sinetron!"
"Elo kalau sama yang lainnya kaya malaikat, kenapa giliran sama gue jadi kayak psikopat gini sih Er?!" tanya Robert tidak terima.
"Dulu waktu Arakata berantem sama Gester, elo kan yang nginjek anak ayam warna ijo yang lewat. Kasian tuh anak ayam, pantatnya yang semok jadi lecet kan! Ingat gak lo!!"
Robert hanya bisa melongo, dia tidak menyangka penyebab Valerie sinis padanya itu karena pantat semok anak ayam. Lagian waktu itu keadaan kacau, dia terdesak serangan Valerie. Tyan dan anak Gester lainnya sudah tergeletak tidak berdaya. Robert saat itu terdesak, mana dia tahu ada pantat semok anak ayam yang lewat. Robert mengusap wajahnya frustasi. Gini amat nasib ku ya Allah, ratap Robert dalam hati.
"Huahahahaha, mampos lo!" teriakan serempak dari semua orang yang ada disitu membuat Robert tambah merana.
Mereka ada di rumah Lukman sampai malam menjelang. Mereka merasa nyaman berada di sana. Walaupun rumahnya kecil, suasananya masih asri. Bahkan terdengar suara jangkrik yang menambah teduhnya malam ini.
"Gue paling suka suara jangkrik begini. Berasa kayak di rumah nenek gue, " celetuk Bagus yang tiduran di atas tikar.
"He'em, gue suka suasana rumah elo, Man." Elang ikut mengangguk-angguk.
"Ngapain sih elo dekat-dekat mulu, Bang. Tempat segede gaban gini masih aja mepet Mahes!" teriak Rey, membuat semua pasang mata menatapnya. Rey sewot melihat Yoga yang sedari tadi mendekati Maheswari.
"Kok elo yang sewot Rey, elo kan bukan siapa-siapanya Mahes."
Seketika Reyhan langsung terdiam. Dia kehilangan kosakatanya, dia sendiri yang selama ini menolak Mahes mati-matian. Namun, dia juga tidak terima jika ada lelaki lain yang mendekati gadis itu. Mampus Rey, sudah mulai terkena karma, kan? Hahaha, author tertawa iblis.
__ADS_1