Arakata

Arakata
Jangan Pergi Valerie


__ADS_3

"Sebentar lagi Om bakalan babak belur. Entar kalau yang mukul om Cahyono itu om Afghi, orangnya yang tinggi, kekar terus wajahnya agak serem. Eri saranin, om jangan teriak. Entar Om Afghi-nya tambah seneng nyiksa om, karena orangnya agak sadis," ucap Valerie menyeringai, gadis itu paling suka bermain dengan psikis seseorang. Apalagi dengan psikis orang yang sok kuat tapi sebenarnya bermental tempe. Tumbuh besar di lingkungan Arakata dengan dikelilingi bermacam watak lelaki di dalamnya,membuat Valerie memiliki beragam sifat.


Mulai dari Afghi yang berwatak keras dan menyelesaikan semua masalah dengan adu fisik. Alif yang yang tidak pernah gegabah dalam bertindak, semua harus dipikirkan dahulu, dan menyelesaikan segala masalah dengan kepala dingin. Garindra yang mempunyai sifat selengek'an, tapi pria itu mempunyai banyak kenalan dari berbagai kalangan yang sangat bermanfaat bagi pergerakan Arakata. Dan Laksmono yang berwatak tegas, namun masih mengedepankan logika dan menekan emosi.


Tumbuh besar dengan didikan keempat pria itu membentuk kepribadian Valerie yang unik. Ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, pemberani, penuh kasih. Namun, bisa menjadi kejam seketika jika kehidupannya diusik.


Bughh


Lagi-lagi Cahyono menendang perut Valerie, mengakibatkan gadis itu batuk darah.


"Diam!" teriak Cahyono penuh emosi. "Jangan banyak omong. Anak buah saya pasti sudah menghabisi Laksmono dan antek-anteknya."


"Waww, percaya diri sekali om ini." Valerie tersenyum meremehkan. "Sama gadis kecil kayak saya saja om takut, gimana ngadepin ayah saya?" Valerie meringis menahansakit di sekujur tubuhnya. Namun, tidak ia hentikan memancing emosi Cahyono. Karena melihat emosi seseorang yang tak terkontrol merupakan suatu kesenangan tersendiri untuk Valerie.


"Siapa yang takut! Saya tidak pernah takut sama gadis tengik kayak kamu!" bentak Cahyono, pria itu menjambak rambut Valerie kuat sampai gadis itu mendongak.


"Kalau gak takut, kenapa pakai iket tangan dan kaki saya? Pengecut ...."


Cahyono hendak memukul wajah Valerie lagi, sebelum gadis itu berujar. "Tiga, dua, satu ... waktu permainan dimulai, Om. Pesan saya cuma satu, yang sabar ya om. Jangan teriak kalau disiksa, mereka nanti tambah senang. Tapi tenang aja om, gak bakalan sampai mati kok. Mereka masih warga Negara yang baik dan taat hukum."


Brakkk


Valerie tersenyum melihat sang ayah berdiri gagah di depan pintu yang telah ia robohkan. Ekor matanya melirik Cahyono yang gemetar dan berwajah pucat.


"Jangan dipucat-pucatin wajahnya, Om. Mereka gak bakal iba," lirih Valerie, suara gadis itu semakin melemah. "Kampret, kepala gue pusing. Padahal bentar lagi ada tontonan menarik." Gumam gadis itu, dia melebar-lebarkan matanya, berharap bisa mempertahankan kesadarannya.


"Eri!" teriak Laksmono, pria itu menghampiri anaknya yang tergeletak mengenaskan. Laksmono melepaskan ikatan di tangan dan kaki Valerie, kemudian pria itu memeluk erat anak gadisnya itu. "Bertahan nak, kamu harus kuat."


"Ayah, kepala Eri pusing," jawab gadis itu dengan sisa-sisa tenaganya. Usai sudah pertahanannya sedari tadi untuk menahan rasa sakitnya. Gadis itu tidak mau menunjukkan rasa sakitnya di depan Cahyono, karena akan membuat pria itu merasa menang.


"Bertahan sayang." Laksmono merasakan sakit di dadanya melihat putri kesayangannya tidak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Bughh


"Akhhhh!" teriak Cahyono, merasakan sakit ketika Afghi menghajarnya dengan membabi buta.


"Sialan!" umpat Afghi, "elo apain calon mantu gue! Kalau sampai terjadi sesuatu sama mantu gue, gue kebiri abis anu lo!"


"Udah Eri bilang jangan teriak, Om," seru Valerie dengan suara lemah. "Keenakan Om Afghi, berasa dapat mainan baru." Gadis itu terkekeh geli.


"Tahu aja kamu, Er. Om lagi butuh mainan baru."


"Jangan sampai mati om mainannya. Eri gak mau punya calon mertua pembunuh." Gadis itu mengerlingkan sebelah matanya.


"Siap, mantu ku." Afghi mengacungkan jempolnya.


"Cantik," ucap Valerie dengan pandangan  yang mulai mengabur, membuat Laksmono khawatir. "Bunda ...." Valerie mengangkat tangannya, seperti hendak menyentuh seseorang yang berada di sebelah Laksmono.


"Kamu kenapa, Sayang," ucap Laksmono, pria itu menggenggam erat telapak tangan Valerie yang terasa dingin.


Laksmono memalingkan pandanggannya ke samping. Tapi, ia tidak melihat apa-apa. Ketakutan menguasai pikiran pria itu, ia takut kehilangan putri satu-satunya itu.


"Bun-bunda, Er-Eri ikut ...." Setelah mengatakan itu, pandangannya semakin kabur. Rasa sakit telah menguasainya, menariknya ke alam bawah sadar. Gadis itu mulai menutup mata, kehilangan kesadaran.


"Er, Eri bangun nak." Laksmono menepuk-nepuk pipi pucat Valerie. Namun, gadis itu tetap diam, tidak merespon. "Eri!" teriak Laksmono membuat semua yang ada di sana menegang, pasti terjadi sesuatu dengan sang panglima perang.


Laksmono membawa Valerie dalam gendongannya. Dia berlari menuju mobilnya.


"Bayu! Cepat siapkan mobil, kita bawa adik kamu ke rumah sakit!" perintah Laksmono langsung dilaksanakan Bayu.


Semua yang ada di sana melihat betapa parah keadaan gadis itu. Mereka merapalkan doa untuk gadis kesayangan mereka.


"Kalian ikut aja ke rumah sakit," ujar Tyan sang ketua Gester kepada inti Arakata. "Biar kami yang mengurus di sini. Nanti kita nyusul ke sana."

__ADS_1


"Makasih Yan ...." Elang dan yang lainnya langsung menaiki motor masing-masing dan bergegas menuju rumah sakit.


"Bos, gue ikut ke rumah sakit ya. Gue takut terjadi sesuatu sama Eri." Robert memohon pada sang ketua. Tyan menganggukkan kepalanya membuat Robert langsung bergegas mengikuti Elang dan yang lainnya.


***


Laksmono berdiri khawatir di depan pintu IGD. Kenangannya kembali pada kejadian tiga puluh dua tahun yang lalu. Saat ia menunggu almarhum sahabatnya bertarung dengan maut. Dan sekarang, yang berada di dalam ruangan itu


adalah darah dagingnya, putri kesayangannya. Yang baru beberapa hari kemarin ia sakiti hatinya oleh karena perkataannya.


"Bertahan sayang, ayah butuh kamu," ratap Laksmono, badannya luruh ke lantai. Air mata turun


dari matanya yang mulai mengeriput. "Jangan tinggalin ayah, Sayang." Satu isakan lolos dari bibirnya. Pria yang biasanya terlihat kuat dan garang, sekarang terlihat lemah dan rapuh.


"Ayah, kalau sampai adek kenapa-napa ...."


"Enggak, enggak akan terjadi apa-apa sama adek kamu. Dia gadis yang kuat, adek mu pasti selamat." Laksmono membawa Bayu dalam dekapannya.


"Bayu takut yah." Bahu Bayu bergetar, ia menangis dalam pelukan ayahnya. Persetan jika ada yang mengatainya cengeng, sekarang yang ada di pikirannya hanya rasa khawatir. Khawatir jika adik perempuan satu-satunya itu tidak bisa bertahan.


"Ayah, gimana keadaan adek?" tanya Rey yang baru datang bersama Pratama, Gerry, Elang dan teman-teman Valerie yang lain.


Hanya beberapa yang menunggu di IGD, yang lainnya menunggu di pelataran rumah sakit. Bisa diusir security mereka, kalau masuk ke ruang tunggu IGD semua.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dari pintu IGD.


"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya Laksmono, langsung berdiri menghadap sang dokter.


"Maaf ...."


Satu kata yang membuat dunia Laksmono dan yang lain seperti runtuh. Rasa khawatir dan takut membaur menjadi satu. Apakah gadis kesayangan mereka ....

__ADS_1


__ADS_2