Arakata

Arakata
Pembalasan Dimulai


__ADS_3

Dendam hanya akan membawamu dalam lingkaran kegelapan yang tak akan pernah ada ujungnya. Akan terus berputar, hingga tanpa sadar dendam itu telah menghancurkanmu secara pelan-pelan.


***


"Ini. Bos." Seorang pria berpakaian serba hitam memberikan amplop berwarna coklat kepada seorang pria yang sedang berdiri melihat pemandangan malam dari atas lantai gedung kantornya.


Pria muda itu membuka amplop yang diberikan anak buahnya itu. Ia tersenyum miring melihat foto gadis yang ada di dalam amplop tersebut.


"Dunia memang sempit," ucapnya sambil terkekeh. "Dulu aku melihat paras cantikmu dalam ponsel kapten polisi yang kubunuh saat di Korea. Sekarang, aku melihatmu lagi sebagai target pembalasan dendamku. Takdir memang sudah menyiapkan jalan untuk kita bertemu. Valerie Livia Laksmono, nama yang indah, seindah paras sang empunya."


Pria itu menyimpan foto Valerie dalam saku jas kerjanya.


"Satu pondasi Arakata sudah bisa kuhabisi," ucap sang pria muda yang tak lain adalah Riki Rahwana. "Sekarang, giliran ujung tombak penyerangan yang menjadi sasaran. Valerie, akan kukirim kau ke tempat dimana kekasih polisimu itu berada."


***


Seorang wanita muda bersandar pada mobilnya yang di parkir di luar gerbang sekolah dasar. Wanita yang tidak lain adalah Valerie Livia Laksmono itu terus memperhatikan gerbang sekolah yang sudah mulai dibuka. Ia sedang menunggu keponakannya, Lana.


Senyumnya terbit begitu ia melihat sang keponakan sudah terlihat. Valerie melambaikan tangannya, yang disambut lambaian tangan juga oleh Lana.


"Tante Eri," ucap sang bocah sambil memeluk tubuh jangkung tantenya.


"Hay, Sayang," jawab Valerie sambil mengangkat Lana dalam gendongannya. Hal itu membuat Lana memberontak minta diturunkan.


"Tante, turunin. Lana malu, udah gede masih aja digendong."


"Biarin, kalau ada yang ngejek Lana, nanti orang itu tante gendong sekalian," sahut Valerie. Ia membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Lana di kursi penumpang. Setelahnya ia menuju kursi kemudi.


"Tante, Lana mau ice cream."


"Siap, kita mampir ke minimarket kalau begitu." Valerie melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Wanita itu mengerutkan dahinya saat melihat spion mobilnya. Ia melihat ada dua mobil yang sedari tadi mengikutinya. Valerie menyunggingkan senyum, ingin ia meladeni orang-orang yang sedang mencari masalah dengannya itu. Namun, sekarang ia sedang tidak sendiri, ada Lana bersamanya. Dan Valerie tidak bisa mengambil resiko yang nantinya akan membahayakan keselamatan keponakannya itu.


"Tante, mobil di belakang itu daritadi ngikutin kita ya?" tanya Lana sambil menengok ke belakang.

__ADS_1


"Lana gak usah khawatir, gak papa, kok." Valerie mengusap kepala keponakannya dengan tangan yang tidak memegang stir. "Lana, tante punya misi buat Lana."


"Misi apa, Tante?"


Valerie tersenyum, ia mempercepat laju mobilnya. Begitu ada tikungan, ia membelokkan mobilnya dengan lincah, hingga mobil yang di belakangnya terkecoh dan melaju ke arah yang lain. Ia memberhentikan mobilnya di sebuah gang sempit, ia menggendong keponakannya keluar dari mobil.


"Lana di sini dulu, ya. Di sini lebih aman buat Lana," ucap Valerie sambil memasukkan Lana di sebuah salah satu tumpukan kardus yang ada di sana. Valerie melepas jam tangan pemberian Rajawali, ia memberikannya pada Lana. Sebelumnya, ia menekan tombol kecil yang ada di jam tangan tersebut. "Sebentar lagi Om Elang bakalan kesini, Lana nunggu di sini sampai Om Elang datang, ya."


"Tante mau kemana?" tanya Lana, gadis kecil itu menggenggam jam tangan yang diberikan Valerie padanya.


"Masih ada hal yang harus Tante Eri urus dulu," jawab Valerie. "Jangan takut, Om Elang pasti akan segera datang."


Lana mengangguk, Valerie tersenyum. Ia mengusap kepala Lana dengan penuh rasa sayang. "Tumbuhlah menjadi wanita yang tangguh. Jaga adik-adik kamu, tante sayang kalian."


Setelah mengatakan hal itu, Valerie melangkahkan kaki menuju mobilnya. Wanita itu menengok dan melambaikan tangannya. Valerie mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Lana menitikkan air mata, entah kenapa ia merasa ada yang salah. Ia merasa jika ini adalah hari terakhir ia berjumpa dengan tantenya itu. Sama seperti saat Bayu melambaikan tangan padanya untuk terakhir kali.


Seperti apa yang dikatakan Valerie, beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki.


Lana keluar dari tempat persembunyiannya. "Om Elang!" panggil gadis kecil itu. Elang langsung berlari menuju tempat di mana Lana berada. Elang menggendong Lana keluar dari dalam kardus itu.


"Lana, Tante Eri kemana?"


Lana menggelengkan kepala. "Gak tahu, tadi tante nyuruh Lana ngumpet di sini, terus tante pergi. Tante ngasih jam tangan ini." Lana memperlihatkan jam tangan pemberian Rajawali itu.


Sewaktu Elang berada di rumah, alarm dari ponsel pemberian Rajawali itu berbunyi. Ponsel yang sudah terhubung dengan jam tangan yang dikenakan Valerie. Dan jika alarm itu berbunyi, berarti Valerie memencet tombol emergency yang ada di jam tangannya. Yang berarti, Valerie meminta bantuan.


"Tadi ada dua mobil yang ngikutin mobil Tante Eri terus," ucap Lana kemudian.


"Ada yang buntutin Lana sama Tante Eri?"


Lana mengangguk, sebagai jawaban atas pertanyaan dari Elang. Elang mengambil ponsel dalam saku celananya. Elang sempat menaruh pelacak dalam ponsel Valerie. Ia gunakan hal itu untuk mencari keberadaan calon istrinya itu. Titik dalam layar ponselnya bergerak dengan cepat, yang artinya Valerie masih dalam kondisi kejar-kejaran dengan orang yang sedari tadi membuntutinya.

__ADS_1


Elang menggendong Lana dan mendudukkannya di kursi penumpang. Setelahnya, Elang mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Om, Tante Eri gak kenapa-kenapa, kan?" tanya Lana, jelas terlihat rasa khawatir daalam tatapan mata gadis kecil itu.


"Tante Eri pasti akan baik-baik aja," jawab Elang, "Tante kamu itu wanita yang kuat."


"Lana baru aja kehilangan papi, Lana gak mau kehilangan Tante Eri."


"Lana harus percaya sama Tante Eri," ucap Elang sambil mengusap lembut kepala gadis mungil itu.


Elang sempat menghubungi teman-temannya, untuk membantunya menemukan Valerie. Dahinya berkerut, melihat titik yang ada di layar ponselnya menghilang. Rasa khawatir mulai menjalarinya, khawatir jika terjadi sesutu dengan wanita pujaannya itu.


Elang berdecak karena jalanan yang ia lewati malah macet. Samar-samar ia melihat ada asap tebal di depan sana.


"Ada apa, Pak?" tanya Elang pada pengendara sepeda motor yang berada di sebelah mobilnya.


"Katanya ada kecelakaan mobil, mobilnya terbakar."


Elang langsung membuka pintu mobilnya, ia membawa Lana dalam gendongannya. Pria itu berlari menuju tempat terjadinya kecelakaan. Begitu sudah sampai di dekat tempat kejadian, tubuhnya membeku seketika, dunianya seakan berhenti berputar.


Walau mobil itu telah terbakar, ia tahu persis siapa pemilik mobil tersebut. Mobil dari seorang wanita yang sangat ia cintai.


"Itu mobil Tante Eri," ucap Lana sambil menunjuk ke arah mobil yang terbakar tersebut. Brgitu mobil sudah bisa dipadamkan, polisi dan beberapa tenaga medis mengevakuasi jenazah korban. Dengan langkah gontai, Elang menuju mobil ambulance.


"Itu mobil calon istri saya, saya mau lihat wajah jenazah korban, agar saya tahu apakah itu benar-benar orang yang saya maksut."


"Silahkan," jawab sang petugas medis, mempersilahkan Elang untuk membuka kantung mayat yang membungkus tubuh jenazah.


Elang memejamkan matanya sekejap, begitu melihat jenazah korban yang sudah tidak bisa dikenali. Perhatiannya teralih, ketika Lana mengatakan sesuatu.


"Itu kalung Tante Eri," celetuk Lana, sambil menunjuk kalung berbandul dua buah cincin bermata berlian yang melingkar di leher korban.


Benar, itu adalah sepasang cincin pemberian Rajawali yang Eri jadikan bandul kalung. Elang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.

__ADS_1


"Eri!" teriak Elang histeris, dunianya seakan hancur. Hancur bersama duka yang sedang ia rasakan. Wanita tercintanya itu, kini benar-benar pergi meninggalkannya dan tak akan mungkin bisa kembali lagi.


__ADS_2