Arakata

Arakata
Dendam Masa Lalu


__ADS_3

"Mimpi apa gue semalam, bisa lihat elo di bengkel gue?" tanya Choky yang melihat Valerie duduk manis di kursi ruang tunggu salah satu bengkel mobilnya.


"Mobil gue udah waktunya diservice," jawab Valerie."


"Oke, serahin sama gue. Azizah," panggil Choky pada salah satu anak buahnya.


"Iya, Pak," jawab gadis berhijab yang berusia sekitar dua puluh tahun itu.


"Tolong kamu service mobil teman saya ini, ya," ujar Choky, Azizah mengangguk sebagai jawabannya. Gadis itu berlalu untuk melaksanakan tugasnya.


"Azizah itu salah satu montir terbaik gue. Jadi lo tenang aja, mobil elo pasti beres," lanjut Choky.


"Cantik, kelihatannya orangnya juga baik," ujar Valerie.


Choky mengangguk membenarkan perkataan Valerie.


"Kenapa gak lo jadiin calon jodoh aja?"


Choky terkekeh mendengar perkataan sahabatnya itu.


"Minder gue, Er. Mana pantas perempan alim begitu jadi istri gue yang kayak berandalan gini," jawab Choky sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Emang siapa yang bilang gak pantas?" tanya Valerie, Choky hanya mengangkat kedua bahu sebagai jawabannya. "Jodoh itu di tangan Allah, siapa orang sok tahu yang berani melawan takdir Allah? Elo itu pria baik, dan elo pantas dapat wanita yang baik pula."


"Gak tahu, Er. Gue masih mau fokus di karir."


"Elo mau numpuk duniawi sampai setinggi apa lagi?" tanya Valerie sambil terkekeh. "Bengkel elo ini bukan bengkel yang kecil, Chok. cabangnya ada di mana-mana. Apa lagi yang elo cari? Menikah itu juga bagian dari ibadah. Jangan pernah jadikan kesibukan dan karir sebagai alasan hanya karena elo belum mau berkomitmen. Elo anak tunggal, kasihan mamah lo kesepian."


"Pasti nyokap gue kan yang nyuruh elo ngomong kayak gini ke gue?"


Valerie mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Choky itu.


"Semalam Tante Ningrum telepon gue, beliau bilang kalau elo akhir-akhir ini sibuk dengan urusan bengkel. Apa elo gak pernah berpikir kalau mamah elo itu kesepian? Elo satu-satunya keluarga yang dimiliki Tante Ningrum."


"Gue hanya takut kalau rumah tangga gue entar berantakan seperti rumah tangga orang tua gue, Er."


"Gue gak bisa menjamin kalau kehidupan keluarga elo entar bakalan harmonis. Yang penting, elo udah punya niatan buat usaha. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, Allah yang menentukan. Maaf, bukan maksut gue buat guruin elo," ucap Valerie sambil mengusap lengan kekar Choky.


"Gue ngerti kok, Er ...," jawab Choky sambil terkekeh.


Pria itu sama sekali tidak tersinggung dengan apa yang disampaikan Valerie. Karena ia sudah lama mengenal seperti apa Valerie itu. Gadis itu sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya.


"Gue cuma pengen elo paham bagaimana kondisi Tante Ningrum. Beliau udah sepuh, butuh perhatian yang lebih. Sedangkan elo? Elo sibuk dengan bisnis lo yang mulai menjamur itu. Siapa tahu dengan kehadiran menantu dan cucu, mamah elo gak merasa kesepian lagi. Gue yakin sih, kalau entar elo punya anak, bakalan berisik dan bawel. Soalnya bokapnya aja modelan petasan banting," ujar Valerie sambil terkekeh.


"Kampret emang," jawab Choky ikut tertawa.


"Kak, mobilnya sudah selesai diservice," ucap Azizah yang membuat Valerie dan Choky menengok bersamaan.


"Iya, terimakasih Azizah ...," ucap Valerie sambil menerima kunci mobilnya.


"Sama-sama, Kak ...," jawab Azizah sambil tersenyum manis.


"Eh sebentar ...," Valerie memegang pergelangan tangan Azizah yang akan berlalu dari hadapannya.


"Ada apa, Kak?"


"Kamu suka sama anak-anak?" tanya Valerie pada Azizah.


"Suka, Kak," jawab gadis itu sambil mengangguk mantap.


"Apa pendapat kamu tentang anak jalanan dan anak yatim piatu?" tanya Valerie lagi.


"Kita wajib menyanyangi dan menyantuni mereka, karena dalam rejeki kita ada hak mereka," jawab Azizah.


Valerie mengangguk sambil tersenyum.


"Gue setuju sama yang satu ini," ujar Valerie sambil menepuk punggung Choky. "Buruan dihalalin, keburu disambar ayam tetangga. Kalau kata Virsa, ini bibit unggul, Chok."


"Lo kira Azizah tanaman," ucap Choky sambil terkekeh.


"Kamu percaya kalau perempuan baik-baik akan mendapat jodoh pria yang baik pula?" tanya Valerie sambil berbisik di telinga Azizah. Gadis itu mengangguk sebagai jawabannya. "Bos elo yang notabene sahabat gue, dia pria yang baik. Walau mukanya seram, hatinya akan bikin elo selalu tentram."


Azizah terbahak sambil menutup mulut dengan telapak tangannya, berusaha meredam tawanya.


"Apa yang elo bisikin ke Azizah sampai dia tertawa lebar gitu?" tanya Choky.


"Kenapa emang? Aneh?"


"Jelas aneh!" jawab Choky cepat, "biasanya juga dia jarang senyum."


"Berarti gue lebih spesial dibanding elo," jawab Valerie sambil menepuk pundak Choky. "Kalau kamu libur kerja, ikut gue ke Panti Asuhan, mau?"


"Mau, Kak," jawab Azizah sambil mengangguk.


"Sip." Valerie mengacungkan jempolnya. Kemudian ia melenggang menuju mobilnya.


"Kak Valerie sering ke Panti Asuhan, Pak?" tanya Azizah pada atasannya itu.


"Bukan hanya sering, hampir tiap hari kalau dia mah. Dia juga baru selesai bangun Panti Asuhan."


"Kak Eri bangun Panti Asuhan, Pak?" tanya Azizah tidak percaya.


"He'em," jawabnya sambil mengangguk, "Eri sama keluarganya juara lah pokoknya. Bukan hanya duniawi yang mereka kejar."


Azizah mengerutkan keningnya, seperti ada yang sedang dipikirkannya.


***

__ADS_1


"Bang, sepertinya kita harus menghentikan ini," ujar seorang gadis muda berhijab.


Sang pria yang terpaut usia tujuh tahun di atasnya itu hanya diam. Pria itu menyandarkan badannya di pagar balkon rumahnya.


"Kak Eri dan keluarganya itu orang baik, banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada mereka. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar dosa kita, jika kita mencelakai mereka. Bagaimana nasib ribuan anak yatim dan anak jalanan, jika tempat mereka bersandar kita habisi! Hentikan, Bang. Sebelum semuanya benar-benar terlambat." Gadis itu memohon sambil memeluk lengan sang pria.


"Andai abang bisa, Dek," lirih pria itu, ia mengusap wajahnya kasar.


***


"Abang kampret emang," gerutu Valerie, "mobil gue habis diservice, ditukar sama mobil mogok begini."


Pagi tadi Gerry datang ke kediaman Laksmono, menukarkan mobilnya dengan mobil Valerie. Dengan alasan istrinya ngidam pengen jalan-jalan naik mobil adik iparnya itu.


Andien memang hamil lagi, padahal anaknya masih berusia sepuluh bulan. Gerry kejar setoran, hahaha ....


Valerie hendak mengunjungi panti asuhan yang dibangun atas nama Rajawali. Apesnya, mobil yang dikendarainya itu mogok ditengah jalan. Padahal barang bawaannya bisa dibilang lumayan banyak.


"Terpaksa hubungi taxi," gumam gadis itu sambil mengeluarkan ponselnya hendak memesan taxi online.


Namun,sebelum sempat memesan taxi, ada sebuah mobil yang berhenti di depannya.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang pria yang turun dari mobil itu.


Valerie menatap pria yang berdiri menjulang di hadapannya itu. Pria dengan badan tinggi tegap, rambut coklat yang jabrik, tindik di telinga kirinya. Ia belum pernah melihat pria ini sebelumnya. Namun, ia merasa tidak asing dengan


sepasang mata cokelat yang sedang menatapnya ini.


"Gak usah khawatir, gue bukan orang jahat," ujar pria itu sambil tersenyum.


"Oh, maaf." Valerie merasa bersalah karena sudah berpikiran buruk terhadap pria di hadapannya ini. "Bukan itu maksud gue."


"Santai," jawab pria itu sambil terkekeh. "Mobil kamu mogok?"


"Iya," jawab Valerie sambil mengangguk. "Gue harus pergi ke suatu tempat, malah mobil gue mogok."


"Mau gue antar?"


Valerie masih terdiam, ragu dengan pria di hadapannya.


"Gue Ava." Pria itu mengulurkan tangannya. "Kita kenalan dulu, biar elo gak ragu sama gue."


"Eri," jawab Valerie sambil membalas uluran tangan pria itu.


"Sesi kenalan sudah selesai, sekarang gue antar elo," ujar pria bernama Ava itu.


"Bentar, gue ambil barang-barang di mobil dulu," jawab Valerie sambil mengeluarkan barang-barang yang dibawanya untuk anak-anak panti.


"Gue bantu," ujar Ava sambil membantu membawakan barang-barang dari dalam mobil gadis itu. "Terus mobil lo gimana?"


"Biar entar teman gue yang urus, gue udah chat dia tadi," ujar Valerie sambil memasang sabuk pengamannya.


"Panti Asuhan Rajawali, nanti gue tunjukin jalannya."


Ava mengangguk sebagai jawabannya.


"Jadi semua barang-barang ini untuk anak-anak panti asuhan?"


"Iya, isinya alat tulis dan mainan."


"Terus itu sayuran buat apa?" tanya Ava sambil mrnunjuk belanjaan yang dipangku Valerie.


"Gue udah janji mau masakin mereka hari ini."


"Elo bisa masak?"


Valerie mengangguk sebagai jawabannya. Tidak lama kemudian, mobil mereka telah sampai di tempat tujuan.


"Terimakasih," ucap Valerie setelah mengeluarkan barang-barangnya dari mobil Ava.


"Gue boleh ikut masuk?"


"Tentu boleh, ayo ...," jawab Valerie sambil mengangguk. "Assalamu'alaikum," salam Valerie begitu sampai di dalam Panti Asuhan itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab seisi panti bersamaan. "Kak Eri!" teriak anak-anak itu sambil berlarian menghampiri Valerie.


"Kalian lagi ngapain?" tanya Valerie sambil menggendong salah satu anak panti yang berusia tiga tahun.


"Menggambar," jawab mereka serempak, "ajarin gambar, Kak."


"Waduh," gumam Valerie sambil menggaruk tengkuknya. Gadis itu memang paling lemah jika harus berurusan dengan gambar-menggambar. Seorang Valerie Livia Laksmono ternyata mempunyai hal yang tidak bisa ia lakukan. Hahahaha ..., "Elo bisa gambar?"


"Bisa," jawab Ava sambil mengangguk.


"Bagus," ujar Valerie lega, "elo tolong ajarin mereka gambar, ya? Gue ke dapur dulu, mau masak."


Ava mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


Ava dan Valerie berada di panti sampai sore hari. Banyak hal menyenangkan yang mereka lakukan bersama anak-anak. Tepat pukul lima sore, mereka ijin pulang. Awalnya anak-anak menolak dan merasa kecewa. Namun, Valerie berjanji akan mengajak Ava untuk ke sana lagi di lain waktu.


"Terimaksih, Ava," ucap Valerie, begitu ia sudah sampai di depan rumah.


"Sama-sama, Er ... gue juga berterimakasih, karena elo udah ngajarin banyak hal ke gue hari ini."


Valerie mengangguk sambil membuka pintu mobil.


"Er," panggil Ava menghentikan pergerakan Valerie yang akan keluar mobil. "Gue mohon, jaga diri lo baik-baik." Ava menatap Valerie penuh arti.

__ADS_1


"Hah?" Valerie melongo bingung.


"Jangan pernah keluar sendirian, ajak teman-teman lo," jawab pria itu sambil menatap ke dalam netra indah Valerie. "Selamat malam."


"Selamat malam," jawab Valerie sambil beranjak turun dari dalam mobil Ava.


"Siapa, Dek?" tanya Gerry begitu Valerie masuk ke dalam gerbang rumahnya. "Abang aduin Elang ya kalau kamu mulai nakal." Pria itu mengekori adiknya yang masuk ke dalam rumah.


"Nakal gundulmu," ucap Valerie sambil memukul lengan kakaknya. "Semua salah abang! Kenapa mobil gak di service? Mogok di jalan tahu gak!"


"Hehehehe ... maaf, Dek. Abang lupa service." Gerry terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Untung ada Ava yang bantuin adek."


"Ava?"


"Teman baru adek yang ngantar adek pulang barusan."


"Ohhhhh. Ya udah, kamu mandi dulu sana. Kita shalat maghrib berjamaah."


"Iya, Bang."


***


"Dari mana saja kamu?" tanya seorang pria paruh baya pada seorang pemuda yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Main ke rumah teman, Yah," jawab pemuda itu sambil menunduk, takut memandang wajah sang ayah.


PLAKKK!


Sang pemuda mengusap ujung bibirnya yang berdarah akibat tamparan ayahnya.


"Ayah bukan orang bodoh yang gampang kamu tipu!" bentak pria paruh baya itu dengan nafas yang terengah-engah karena menahan amarah. "Ayah tahu kalau kamu pergi sama anak Laks!"


pemuda itu hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan sang ayah yang terlihat sangat murka.


"Valero Arbianto!" bentak pria itu sambil mengangkat wajah anaknya dengan kasar. "Kamu sudah mulai main-main dengan ku! Lihat saja apa yang aku lakukan pada ibumu yang tidak berguna itu!"


"Ampun, Ayah." Valero bersujud di kaki sang ayah. "Jangan siksa mamah lagi, Yah, Ero mohon."


"Aku tidak akan melakukan apa-apa pada ibumu, selama kamu dan Azizah mengikuti semua perintah ku! Kalau kalian berani melawan lagi, aku habisi ibu kalian!" teriaknya sambil menendang tubuh Valero hingga tersungkur di lantai. "Aku sudah menyimpan dendam terhadap Laks dan gengnya selama tiga puluh dua tahun. Jadi tidak akan kubiarkan mereka hidup dengan tenang. Akan kuhancurkan Arakata!" Setelah megatakan itu, ia berlalu masuk ke


dalam kamarnya.


"Abang ... abang gak apa-apa?" tanya Azizah yang sedari tadi hanya bersembunyi di balik tembok. Gadis itu membantu sang kakak untuk bangun.


"Abang gak apa-apa, Dek ...," jawab Valero, "Ayah sudah semakin nekat."


"Kita harus bisa menghentikan ayah, Bang."


"Tapi, kalau kita bantu Eri ... nyawa mamah dalam bahaya."


"Azizah punya rencana, Bang. Azizah yakin, akan ada banyak orang yang bantu kita."


***


"Gema kampret, mau kemana lo! Mau lari lagi dari tugas piket bersih-bersih kelas?" murka seorang gadis berkacamata yang rambutnya dikucir kuda. Gadis itu menarik kerah seragam Gema, hingga leher pria itu tercekik.


"I-iya, Fa. Lepasin dulu tangan lo, gue kecekek ini!"


"Enggak!" tolak gadis itu mentah-mentah. "Kalau gue lepas, elo pasti langsung lari, kan?"


"Yaelah ... gue udah mau mati ini, masih aja elo ajak negoisasi! Gue gak bakalan lari! Buruan lepasin tangan lo, entar keduluan malaikat pencabut nyawa yang nyamperin gue."


"Enggak!" Gadis itu masih teguh dengan pendiriannya.


Tidak habis akal, Gema membuka semua kancing seragamnya dan meloloskan diri. Hingga yang dipegang Zulfa hanyalah seragam Gema, tanpa badan pria itu.


"Ambil tuh seragam gue, cuci sekalian kalau perlu. Tapi jangan elo jampi-jampi ya ...," ucap Gema, pemuda itu bertelanjang dada. Membuat semua kaum hawa yang melihatnya menjadi jejeritan.


Zulfa menutup matanya sambil melempar seragam Gema ke arah pemuda itu.


"Pulang sana! Biar gue aja yang bersihin kelas," ujar Zulfa sambil mengambil sapu dan mulai membersihkan kelas.


Gema tersenyum sambil memandang Zulfa yang menyapu sambil cemberut. Gema memang paling suka menjahili ketua kelasnya itu. Setelah mengenakan seragamnya kembali, Ia melangkahkan kaki menghampiri gadis itu.


"Biar gue yang bersihin kelas, elo duduk saja sana di pojokan kelas," ucap Gema sambil mengambil alih sapu dari tangan Zulfa. "Ero, lo pulang duluan aja, gue mau piket dulu."


Valero mengangguk, kemudian berjalan keluar kelas.


"Tuh anak baru agak aneh, ya," ucap Zulfa sambil duduk di pojokan, sesuai perintah Gema.


"Aneh gimana?"


"Gue perhatiin, bentukannya kayak udah dewasa. Wajahnya emang imut sih, tapi ...,"


BRAKKKK!


Perkataan Zulfa terhenti karena ulah Gema yang membanting sapu yang dipegangnya. Pria itu berjalan mendekat ke arah Zulfa.


"Elo gak boleh merhatiin cowok selain gue!" perintah Gema, pemuda itu menatap tajam pada netra indah Zulfa.


"Hah?"


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2