Arakata

Arakata
Pengkhianat?


__ADS_3

Awalnya aku berada di sana hanya untuk menjalankan perintah. Namun, kebersamaan mereka, dan cara mereka memperlakukanku yang telah membuatku benar-benar menyayangi mereka, dan ingin selalu berada bersama mereka. Dan tanpa aku sadari aku telah menjadi bagian dari mereka.


***


"Sel," panggil Restu pada adiknya itu.


Sekarang mereka sedang berada di kamar Asel, mereka melakukan kegiatan mereka masing-masing. Asel dengan miniatur bangunannya, dan Restu yang sedang mengotak-atik kameranya.


"Kenapa, Bang? Elo lapar lagi? Bukannya barusan lo udah makan, perut apa karung, tuh," jawab Asel sambil memasang detail-detail dari miniatur bangunannya.


"Enak aja lo," sahut Restu sambil menggeplak punggung Asel, membuat pinset yang dipegang Asel jatuh menimpa bangunan yang disusunnya.


"Bang Restu, gue kebiri lo! Gue nyusunnya lebih dari seminggu, tapi malah lo ancurin. Wua, yang lo lakuin ke gue itu jahat!" Asel menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


"Maaf, habis lo nyebelin sih. Nanti gue bantuin nyusun lagi," ucap Restu.


"Awas kalau bohong," sahut Asel sambil memanyunkan bibirnya.


"Iya, iya ... gue mau ngomong sesuatu ke elo, nih."


"Apaan? Elo mau jujur ke gue kalau selama ini elo suka sama gue?" Asel menaik-turunkan alisnya, terlihat sangat menjengkelkan di mata Restu.


"Gue hancurin semua." Restu mengangkat kursi belajar, hendak menjatuhkannya di atas miniatur bangunan milik Asel.


"Eits, slow Bang. Darah tinggi lo entar kalau emosian." asel mengambil alih kursi dari tangan Restu, dan meletakkan kembali di tempatnya.


"Gue udah darah tinggi, punya adek modelan elo," sahut Restu. Restu ngambek, ia duduk membelekangi Asel.


"Mau ngomong apa tadi, Bang?"


"Gak jadi, udah males," sahut Restu cuek, membuat Asel terkekeh.


"Heleh, ngambekan lo, Bang. Kayak cewek lagi datang bulan aja. Nih gue udah anteng, elo mau ngomong apaan?" Asel duduk di lantai, di hadapan Restu.


"Gue agak curiga sama temen lo yang namanya Rama," jawab Restu, wajahnya terlihat serius.

__ADS_1


"Curiga gimana maksut lo, Bang?"


"Gini, bukannya gue mau nuduh atau gimana. Tapi gue hanya nyampein hal yang gue lihat sendiri ke elo, setelahnya elo mau percaya atau enggak, itu hak elo."


Asel menganggukkan kepalanya.


"Sewaktu gue sama anak-anak The Drugs nongkrong, gue ngelihat Rama lagi ngobrol sama Samuel, ketua geng Brutalz. Mereka kayak kelihatan akrab banget, gue juga denger mereka bahas tentang hancurin Arakata."


Tubuh Asel menegang, Brutalz adalah geng pembuat onar yang sudah menjadi musuh bebuyutan Arakata sedari dulu. Padalah mereka sudah sering mengalami kekalahan jika menghadapi Arakata. Arakata juga sudah pernah menagajak Brutalz untuk menjadi sekutunya, tapi percuma. Brutalz tidak mau berdamai dengan Arakata. Bahkan, sekarang kelakuan mereka tambah menjadi, banyak orang tidak bersalah yang menjadi korbannya.


Dan Restu bilang jika salah satu sahabatnya akrab dengan ketua geng pembuat onar itu. Ia memang belum lama mengenal Rama, jika dengan Gema dan Abdul ... ia sudah mengenal kedua pemuda itu semenjak duduk di bangku sekolah dasar. Dengan Hasan, mereka berkenalan saat masuk di bangku SMP. Sedangkan Rama, baru setahun ini mereka mengenal sosok Rama. Karena Rama pindahan dari sekolahan lain, ia pun baru bergabung dengan Arakata selama setahun ini, dan sudah dipercaya untuk menjadi HUMAS.


Jika Rama benar-benar ada hubungan dengan Samuel, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya itu, dan entah apa maksut dan tujuannya melakukan itu. Ia harus segera bertindak agar semuanya tidak terlanjur menjadi sesuatu hal yang buruk.


***


"Sorry, gue gak bisa ikut kumpul-kumpul nanti malam, gue ada urusan," ucap Rama pada inti Arakata angkatan delapan yang lainnya.


Di jam istirahat ke dua ini, mereka sedang berada di kantin. Melepas lapar dan dahaga, sekalian membicarakan kegiatan yang akan mereka lakukan nanti malam.


"Makasih, gue bener-bener mau ikut, tapi urusan gue ini beneran gak bisa ditinggal." Rama memilin gantungan kunci yang ada di tas ranselnya, kebiasaan yang sering pemuda itu lakukan saat sedang merasa gelisah.


Semua hal itu tidak lepas dari pandangan Asel. Membuat perkataan Restu semalam kembali berputar di otaknya. Pemuda itu tersenyum, senyum yang menyimpan banyak arti.


"Santai, kalau gak bisa gak usah dipaksain. Kami paham, kok ... kami sangat paham," ucap Asel.


Ucapan Asel membuat Rama terdiam sejenak. Ia merasa ada sesuatu dalam perkataan panglima perang Arakata itu. Asel adalah jenis orang yang tidak suka mengatakan hal yang gak berarti dengan wajah seserius itu, dan senyum yang seperti itu. Tapi ia berusaha tidak menghiraukannya dan tersenyum sambil mengangguk.


"Hati-hati," ucap Asel, saat mereka berada di pelataran parkir SMA Garindra. Mereka bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing karena sudah waktunya pulang sekolah.


"Iya, Sel. Elo juga hati-hati di jalan," sahut Rama sambil menstater motornya.


"Hati-hati dalam setiap langkah lo, karena setiap keputusan sekecil apapun yang elo ambil, bisa berpengaruh buat kehidupan lo dan orang-orang di sekitar elo." Asel menepuk punggung sahabatnya bitu, kemudian berlalu dari sana, menyusul Gema dan sahabatnya lain yang sudah duluan keluar dari area parkir sekolah.


Lagi-lagi Rama terdiam sejenak mendengar penuturan dari Asel. Pemuda itu mengerutkan dahinya, memikirkan setiap kata yang diucapkan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Apa elo sudah tahu sesuatu tentang gue, Sel. Kalau emang bener, gue gak bisa biarin hal itu."


***


Gema dan teman-temannya yang lain berlari di lorong rumah sakit dengan tergesa. Mereka mendapat kabar jika panglima perang mereka mengalami kecelakaan motor setelah pulang dari kegiatan di panti asuhan. Ada rasa khawatir pada raut muka setiap pemuda itu.


"Sel," seru Gema dan yang lain sambil membuka pintu  salah satu kamar rawat di rumah sakit tersebut.


Rasa khawatir mereka menguap seketika, melihat sesuatu yang terpampang nyata di hadapan mereka. Mereka melongo melihat sahabat yang mereka khawatirkan sedang berlarian di kamar rawat inap dan berteriak heboh. Pemuda itu berlari memutari ranjangnya dengan membawa selang infuse di tangannya. Restu dan orang tuanya hanya bisa hanya bisa memandang sambil menggelengkan kepala.


"Kampret," umpat Gema, "dari perjalanan kemari berbagai pikiran buruk berkecamuk di pikiran gue. Dan elo malah asik adegan film india sama suster cantik."


"Film india muka, Lo!" teriak Asel pada sahabatnya itu. "Nih suster ngefans banget ama gue, sampe ngejar-ngejar, bantuin gue!"


"Sok ngartis," cibir Restu, "dia lari karena mau disuntik, dasar kekanak-kanakan."


"Wah, mau lari dari jarum suntik lo!" Abdul tersenyum miring, ide jahil muncul di otaknya. Ia memandang Gema dan Hasan, mereka bertiga mengangguk bersama. Kemudian menangkap Asel bersama-sama.


"Ketangkep, Lo!" seru Hasan, memegang badan Asel dari belakang.


"Nih, Sus. Buruan di enjus," seru Gema, "elo jangan banyak gerak, entar darah lo naik ke selang infuse. Cengkeram lengan gue kalau lo ngerasa sakit waktu disuntik."


Asel menggigit pundak Gema, mencengkeram pergelangan tangan Hasan, dan menginjak kaki Abdul. Ketiga pemuda itu hanya terdiam, menahan sakit karena ulah sahabat mereka itu.


"Udah," ucap sang suster, Asel langsung melepaskan gigitan, cengkeraman, dan injakkan pada sahabat-sahabatnya itu.


"Sorry," ucap Asel, wajahnya terlihat sangat menyesal. Bukannya manja, pemuda itu memang trauma dengan jarum suntik. Karena saat masih di sekolah dasar, waktu ada imunisasi di sekolahnya, jarum suntik yang menusuk lengannya patah saat disuntikkan. Hal itu membuat trauma sampai sekarang, dan sahabat-sahabatnya tahu betul tentang hal itu.


"Gak masalah," sahut Gema sambil tersenyum. "Selagi kita masih bisa ngurangin rasa sakit lo, itu gak masalah buat kita."


Mata Asel berkaca-kaca, ia memeluk ketiga temannya.


Restu dan orang tuanya tersenyum, merasa beruntung karena orang tersayang mereka itu mendapatkan sahabat-sahabat yang baik. Yang selalu ada untuk Asel dalam suka maupun duka.


"Ada hal yang mau gue sampaikan ke elo semua," ucap Asel saat ia sudah kembali duduk di ranjangnya. "Hal yang menyangkut Rama dan kecelakaan yang gue alami."

__ADS_1


__ADS_2