Arakata

Arakata
Kembalilah Untuk Kami


__ADS_3

Valerie melangkahkan kaki telanjangnya pada jalan setapak di tengah padang rumput yang luas. Jalan setapak itu terlihat seperti tidak berujung.


Valerie terus melangkahkan kakinya, dia edarkan pandangannya ke sekeliling yang terlihat sepi. Sepertinya hanya dia yang berada di tempat ini.


Angin meniup rambut dan ujung gaunnya yang berwarna putih. Sejenak dia berhenti, memperhatikan penampilannya. Sejak kapan ia memiliki gaun seindah ini. Gaun itu bersinar seperti cahaya, bahannya lembut dan ringan seperti kapas.


Gadis itu memperhatikan kakinya yang polos tanpa alas. Namun, kaki itu terlihat tidak terluka sama sekali, walau ia sudah berjalan jauh.


Tiba-tiba gadis itu mendengarsuara gemericik air. Diperhatikannya sekeliling, padang rumput yang tadi dilihatnya berubah menjadi aliran sungai yang berujung pada air terjun yang besar.


Gadis itu melihat ada seorang wanita duduk di tepi sungai. Valerie menghampirinya, gadis itu duduk di samping wanita yang dilihatnya tadi. Valerie mencelupkan kakinya di sungai, yang terasa sangat segar.


"Permisi," ujar Valerie, ingin berkenalan dengan wanita di sebelahnya.


Wanita tersebut memandang Valerie sambil tersenyum.


Valerie mengernyitkan dahinya, ia seperti mengenal sosok di hadapannya sekarang. Senyum itu, tatapan mata itu pernah ia lihat.


"Bunda," lirih Valerie sembari memeluk sosok di hadapannya itu.


***


"Maaf,"


Belum sempat dokter itu melanjutkan omongannya, Afghi sudah menarik kerah jas dokternya.


"Emang anda kira lebaran, pakai acara maaf-maafan segala! Gak usah basa-basi, bikin lama aja!"


Pletak


Afghi mengusap kepalanya yang diketok Garindra.


"Elo yang bikin lama, Ogeb!!" omel Garindra, "dokternya mau ngomong itu, malah elo potong. Silahlan lanjutkan, Dok. Jangan dengerin orang satu ini. Istrinya lagi mudik ke rumah orangtuanya, jadi dia jadi uring-uringan gak jelas


begini."


Pletakk


Sekarang giliran Afghi yg memukul tengkuk Garindra.


"Napa elo bawa-bawa bini gue!" protes Afghi tidak terima.


"Awwhhh," jerit kesakitan itu terdengar dari Afghi dan Garindra yang telinganya dijewer oleh Alif.


"Elo berdua benar-benar biang kerok! Lanjutin aja, Dok." Alif mempersilahkan sang dokter untuk melanjutkan perkataannya yang tertunda akibat ulah kembar sial itu.


"Ehm," sang dokter berdeham, mengurangi rasa shocknya yang melihat ulah dua pria dewasa yang absurd itu. "Maaf, persediaan darah untuk golongan AB resus negatif di rumah sakit ini kosong. Apakah ada diantara kalian yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?"


"Ambil darah saya, Dok. Darah Eri cocok dengan darah saya." jawab Pratama dengan semangat empat puluh lima. Memang diantara keluarga Laksmono, hanya Valerie dan Pratama yang memiliki golongan darah yang sama dengan sang ibu.


"Mari pak ikut saya," ujar suster, Pratama pun mengikutinya. Sang dokter pun kembali masuk ke ruangan IGD.


"Dokternya ambigu, pakai acara minta maaf segala. Bikin gue mikir yang enggak-enggak kan!" ucap Afghi.


"Otak elo kan emang dari dulu digunain buat mikir yang enggak-enggak," sahut Garindra.


"Mulut elo itu, Ndra ... yang selalu digunain buat gibah,"


Perdebatan unfaedah itu berlangsung kembali. Membuat semua yang ada di sana mengelus dadanya, mencoba bersabar.


"Bokap lo nyiyirnya ngalahin mulut gue, Lang," bisik Bagus di dekat telinga Elang membuat Bagus mendapat tatapan tajam dari Elang.


***


"Bunda,"


"Iya, Sayang," jawab wanita itu dengan senyum manis yang tersungging


"Eri kangen." Gadis manis itu memeluk sang ibu yang selama tiga belas tahun ini tidak pernah lagi ia temui.

__ADS_1


"Anak bunda cantik sekali," ujar Sofie sambil membelai lembut pipi putrinya.


"Bunda bohong." Valerie mencebikkan bibirnya kesal. "Kata teman-teman, Valerie kayak cowok."


Sofie tersenyum. "Kamu beneran cantik, Sayang."


"Bunda kenapa bisa di sini?"


"Ini tempat tinggal bunda yang baru, Sayang."


"Eri boleh tinggal di sini sama bunda?"


Sofie menggelengkan kepalanya. "Gak bisa, Nak. Belum waktunya, ayah dan abang-abang lebih membutuhkan kamu. Kasihan anak buah kamu, kalau harus kehilangan panglimanya."


"Bunda tahu kalau Eri jadi panglima perang Arakata?" tanya Valerie takjub.


"Bunda tahu semua tentang kamu, Sayang. Ayah selalu menceritakannya disetiap doanya."


"Bunda gak kangen sama ayah dan abang-abang?"


Sofie tersenyum mendengar pertanyaan putrinya. "Bunda sering bertemu dengan kalian kok. Kita sering bertemu lewat doa, Sayang. Bunda bersyukur punya anak yang sholeh dan sholeha seperti kalian."


"Tapi, ayah butuh bunda di sisinya. Ayah belum mau menikah lagi, karena di hati ayah cuma ada bunda."


"Bunda titip sesuatu buat ayah kamu, boleh?"


"Boleh banget bunda," Valerie menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Sini, Nak ... bunda bisikin."Dengan segera Valerie mendekatkan telinganya pada sang bunda. Gadis manis itu tersenyum mendengar apa yang dibisikkan ibunya.


***


"Gimana keadaan Eri?" tanya Tyan yang menunggu di pelataran rumah sakit bersama puluhan pemuda di sana.


"Baru ditangani dokter,"jawab Robert lesu, "mending kalian pulang ke rumah masing-masing. Entar kalau ada apa-apa, gue kabarin."


"Sip," Braga mengacungkan jempolnya. "Benar apa yang dikatakan Robert. Sekarang kita pulang dulu, ini juga sudah malam. Mulai besok pagi dan seterusnya selama Eri masih dirawat di sini. Kita gantian buat bantuin jaga Eri. Jangan keroyokan kayak gini. Secara gak sadar, kita bikin security di sini siaga satu. Hehe ...." Pria itu terkekeh melihat banyaknya pemuda yang hampir memenuhi pelataran Rumah Sakit ini. Pantas dari tadi security-nya melirik, mungkin mereka takut jika ada tawuran di sini.


Setelah itu, Robert kembali ke ruang IGD. Tepat saat pintu IGD terbuka. Dokter muda keluar dari ruangan itu. Berbeda dengan dokter yang tadi, mungkin dokter yang tadi masih shock.


Baru saja dokter itu ingin mengucapkan sepatah kata, Afghi sudah menyela.


"Jangan pakai kata maaf, bukan lebaran. Jangan buang waktu, to the point aja."


"Elo yang bikin lama, Oncom." Garindra menggeram, jengkel dengan sahabatnya itu.


"Gimana keadaan adik gue, Jo?" tanya Yoga pada teman seprofesinya itu.


"Masa kritis pasien sudah terlewati," jawab Johan, membuat semua yang ada di sana tersenyum lega. "Kondisi fisik pasien sangat kuat. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke kamar rawat inap."


"Kuat lah, calon mantu gue." Afghi membusungkan dadanya.


Plakk


Garindra memukul dada Afghi, membuat pria itu terbatuk.


"Calon mantu gue itu," ujar Garindra tidak terima.


"Kalian berdua belum gue restuin, jadi jangan ngaku-ngaku," sahut Laksmono, membuat Afghi dan Garindra langsung terdiam.


"Saya juga mau daftar jadi calon mantu, Om," ujar Dokter Johan membuat Garindra dan Afghi tambah meradang.


"Enggak!" jawab Afghi dan Garindra bersamaan.


"Susah kalau punya calon mantu yang pesonanya paripurna," keluh Afghi.


"Hu'um," Garindra ikut menmpali. "Saingannya banyak, mana keren-keren pula."


"Makanya elo berdua nyerah aja," usul Alif.

__ADS_1


"Ogah," jawab Garindra dan Afghi bersamaan lagi.


***


"Eri, bangun ... love you, Sayang."


Sayup-sayup gadis itu mendengar ada yang memanggil namanya.


"Ada yang manggil Eri bunda."


"Udah saatnya kamu kembali, Sayang," ucap Sofie, wanita itu memeluk buah hatinya. "Jangan lupa sampaikan apa yang tadi bunda katakan kepada ayah kamu."


Valerie menganggukkan kepalanya. "Siap, Bunda," sahut Valerie, ia memberi hormat pada bundanya. "Kalau Eri kangen bunda, gimana?"


"Kalau Eri kangen sama bunda, Eri cukup berdoa setelah shalat. Doakan bunda ya, Nak."


"Pasti, Bunda." Valerie merasakan ada cahaya yang menyilaukan matanya. Matanya terpejam untuk menyesuaikan dengan cahaya itu.


Setelah dirasa cahaya itu agak meredup, Valerie berusaha membuka matanya kembali.


Valerie mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan dia melihat ruangan yang didominasi warna putih itu. Matanya terpaku pada sebuah tangan yang mengenggam telapak tangannya. Valerie melihat sahabat sedari kecilnya tidur dengan posisi duduk dan kepalanya bersandar pada ranjang gadis itu.


Valerie mengusap lembut pucuk kepala Elang. Membuat pria itu bergerak karena sentuhan itu.


"Eri," gumam Elang, pria itu langsung menegakkan badannya. "Elo udah sadar." Elang menekan tombol untuk memanggil perawat.


"Eghh ...." Hanya erangan yang keluar dari bibir mungilnya. Badannya masih terasa lemas dan sakit.


"Bentar Er, gue bangunin Om Laks dulu." Di ruangan itu hanya ada Elang dan Laksmono yang tertidur di sofa. Bayu dan yang lainnya masih di kantin rumah sakit.


"Om, bangun, Eri udah sadar, Om." Elang mengguncang-guncang pelan tubuh Laksmono.


Mendengar kabar kesadaran putrinya itu, Laksmono langsung bangun dan menghampiri anaknya. Elang juga menghubungi Gaung, agar mereka segera kembali dari kantin. Afghi, Garindra, dan Alif sudah pulang duluan.


Tidak berselang lama, dokter dan perawat masuk ke kamar inap Valerie.


"Kondisi Valerie sudah membaik. Namun, keadaannya masih lemah. Butuh waktu untuk pemulihannya," ujar dokter Johan.


"Adek,"


"Eri,"


Sepuluh lelaki tampan masuk dari pintu kamar secara bersamaan. Mereka adalah empat abang Valerie, empat inti Arakata, ditambah Yoga dan Robert.


"Wah, elo bikin heboh, Er ...," seru Bagus sumringah, melihat sahabatnya sudah dalam keadaan yang baik.


"Elo yang bikin heboh, Oncom," Gandi menepuk mulut Bagus. "Ngomongnya biasa aja, gak usah teriak. Bikin sakit telinga Eri."


"Gue lagi kan yang salah," ratap Bagus, "tadi di kantin elo semua nistain gue, sekarang di sini gue juga yang di salah-salahin. Emang cuman Eri yang sayang sama gue." Bagus memeluk Valerie.


"Elo siapa?"


Pertanyaan Valerie membuat semua yang ada di situ menjadi shock.


"Kamu gak inget kami, Dek?" tanya Laksmono dengan nada khawatir.


"Ayah, gak mungkin Eri lupa sama ayah," jawaban Valerie membuat Laksmono bernafas lega.


"Coba sebutin nama kita satu-persatu, Er," pinta Dokter Johan, "berawal dari saya. Kenalkan nama saya Johan, saya yang akan menjadi dokter kamu, selama kamu dirawat di sini." Johan mengulurkan tangannya, menjabat tangan Valerie.


"Heleh, itu modus elo, buat kenalan sama Eri," cibir Yoga.


Valerie tersenyum, gadis itu mulai menyebutkan satu-persatu nama pria yang ada di sana.


"Dokter Yoga, Bang Bayu, Robert, Bang Gerry, Bang Tama, Bang Rey, Gaung, Elang, Gandi ...." Begitu


sampai giliran Bagus, Valerie mengerutkan dahinya, pura-pura berpikir. "Emang di Arakata angkatan kita ada yang beginian, Lang?" Elang mengedikkan bahunya sambil tersenyum. Valerie mereka telah kembali, Valerie yang jahil.


"Beginian?" Bagus menunjuk wajahnya sendiri. "Elo beneran gak inget gue Er?" Tanya Bagus mulai panik. "Emang bisa dok amnesia cuma sama satu orang doang?"

__ADS_1


"Tentu bisa!" jawab Yoga dan Johan bersamaan.


"Cepet banget jawabnya, Dok." Bagus mencebikkan bibirnya. "Elo beneran gak inget gue, Er?" Bagusmendekatkan wajahnya pada Valerie, dan hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh gadis itu. Bagus mengarahkan jari telunjuk di depan wajahnya sambil menggelengkan kepala. "Yang kalian lakukan ke gue itu, zahat ...." Ucapnya mendramatisir.


__ADS_2