Arakata

Arakata
Bunda Baru


__ADS_3

Operasi yang dijalani Valerie berjalan lancar. Baik Valerie maupun Fahcri, suami dari Amelia dalam keadaan baik. Walau operasinya berhasil, Valerie masih perlu dirawat di rumah sakit untuk pemulihan kondisi tubuhnya.


Valerie sendirian di kamar rawat inapnya. Ini hari kerja, jadi baik sahabat-sahabat atau pun kekasihnya sibuk dengan pekerjaannya. Awalnya, Elang ingin ijin kerja demi bisa menjaga Valerie di rumah sakit. Tapi, dengan tegas Valerie melarangnya.


"Kalau kamu sampai jadi pengangguran gara-gara sering bolos, mau dengan apa kamu nafkahin aku dan anak-anak kita nanti?"


Pertanyaan sekaligus pernyataan dari Valerie tersebut membuat wajah Elang merona. Ia menjadi bahan bullyan teman-temannya karena melihat Elang yang tersipu malu, sangat kontras dengan bentuk badannya yang kekar dan sangar.


Terdengar bunyi pintu dibuka, senyum Valerie mengembang begitu melihat ayah tercinta masuk ke ruangannya. Dahi Valerie berkerut melihat bahwa ayahnya tidak berjalan sendirian, ada seorang wanita yang berjalan di belakangnya.


"Bu Diandra?" tanya Valerie, melihat guru SMA-nya yang hanya menunduk. Guru kesayangannya yang sempat ia jodohkan dengan sang ayah.


"Iya, Eri," jawab Diandra sambil tersenyum. Betapa terkejutnya Valerie melihat wajah guru kesayangannya itu penuh lebam.


"Ayah ke kantin dulu beli makanan, kamu ditemani Bu Diandra dulu gak papa, Sayang?" tanya Laksmono pada sang putri.


"Iya, Ayah," jawab Valerie sambil mengangguk.


"Titip Eri ya, Di?"


"Iya, Mas," jawab Diandra, yang membuat Valerie agak curiga.


"Ibu panggil ayah saya mas?"


"Ah, it-itu, mak-maksut saya pak," jawab Diandra dengan gugup, tentu saja membuat Valerie tambah curiga.


"Muka Bu Diandra kok bisa lebam gini?" tanya Valerie sambil mengusap lebam di pipi gurunya.


"Ah, in-ini tadi jatuh, Er," jawab Diandra sambil menunduk.


"Ibu bohong sama Eri," ujar Valerie sambil tersenyum. "Ibu tahu kan kalau Eri sering berkelahi bareng anak-anak Arakata? Jadi Eri bisa bedain mana luka lebam karena jatuh atau karena dipukul."


"Ibu dipukul sama mantan suami ibu, Er," jawab Diandra, badan wanita itu bergetar ketakutan. "Untung tadi ada Pak Laks, ayah kamu yang nolong ibu. Kalau gak ada ayah kamu, ibu mungkin udah gak selamat."


"Ibu sudah menikah?"


"Udah, Er. Tiga tahun lalu ibu menikah karena dijodohkan oleh orangtua ibu. Baru seminggu kami menikah, mantan suami ibu sudah berani main tangan dan maki-maki ibu. Pernikahan ibu bagai neraka, Er." Diandra menyeka air matanya yang mulai menetes. "Apapun yang ibu lakukan, selalu dianggap salah. Sampai puncaknya setahun yang lalu, waktu usaha mantan suami ibu bangkrut dan ibu yang jadi pelampiasannya. Dia memukul ibu di jalan dengan membabi buta, seperti orang kesetanan. Kebetulan ayah kamu lewat, ayah kamu melindungi ibu dan membawa ibu pergi dari pria itu. Ayah kamu meminta temannya yang seorang pengacara untuk membantu ibu dalam proses


perceraian. Enam bulan yang lalu akhirnya ibu resmi bercerai dengan mantan suami ibu. Tapi, dia masih tidak terima, dia sering mendatangi ibu dan melakukan kekerasan terhadap ibu. Tadi, waktu perjalanan ke swalayan, ibu bertemu dengan mantan suami ibu. Lagi-lagi dia melakukan kekerasan, untung ada ayah kamu yang nolong ibu. Ibu takut Er."


"Ibu gak usah takut, Eri dan ayah bakalan jagain ibu. Dan jangan lupakan anggota Arakata yang akan ikut melindungi ibu." Valerie meraih Diandra dalam pelukannya.


"Wah, ayah gak diajak pelukan, nih," ujar Laksmono yang sudah kembali dari kantin. "Dimakan dulu, Di. Ayam penyet gak pedes dan gak pakai lalapan." Laksmono memberikan bungkusan yang berisi makanan kepada Diandra.


"Eri kan udah sering peluk ayah, gantian Bu Diandra dong yang kasih pelukan ke ayah."


Uhuk, uhuk.


Perkataan Valerie membuat Diandra dan Laksmono tersedak berjamaah.


"Jangan mencoba mengelabui Eri, Yah. Eri bisa melihat perhatian ayah ke Bu Diandra itu beda. Eri bisa lihat binar mata ayah ke Bu Diandra itu penuh dengan kasih sayang. Apalagi tadi tanpa sengaja Bu Diandra manggil ayah mas."


"Seandainya ayah dan Bu Diandra ada hubungan, apa kamu setuju, Dek?" tanya Laksmono ragu, takut jika putrinya tidak setuju.

__ADS_1


Valerie menggelengkan kepala, membuat Laksmono lemas. Ini yang membuat ia tidak berani memberitahu hubungannya dengan Diandra kepada Valerie. Ia takut jika putrinya itu tidak bisa menerima jika Diandra menggantikan posisi Sofie.


"Eri gak setuju--" Valerie menjeda omongannya. "Eri gak setuju jika hubungan ayah dan Bu Diandra hanya sebatas seandainya. Eri bakalan setuju kalau ayah beneran punya hubungan dengan Bu Diandra." Eri tersenyum sambil memeluk sang ayah. "Ayah, bunda pasti bahagia di sana, karena ayah akhirnya menemukan seseorang yang akan menyempurnakan kebahagiaan keluarga kita."


"Iya, Dek. Terimakasih."


"Bu Diandra sini," ujar Valerie sambil menarik tangan Diandra. "Ikut pelukan sama Eri dan ayah."Diandra mengangguk, lalu bergabung dengan Valerie dan Laksmono. "Sekarang Bu Diandra gak perlu takut dengan mantan suami ibu. Kalau pria itu mengganggu ibu, dia bakalan berhadapan dengan pasukan Laksmono. Eri dan abang-abang gak bakal tinggal diam jika calon bunda kami disakiti."Valerie mengepalkan tangan dan mengangkatnya, bergaya seakan menghadapi perang.


"Selamat datang di keluarga besar Laksmono," ujar Laksmono sambil tersenyum. Diraihnya tangan Diandra dalam genggamannya. "Aku tidak akan menjanjikan kebahagiaan untukmu. Tapi, dengan ijin Allah, aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia, bersama anak-anakku. Diandra Mahadewi, maukah kau menikah denganku dan menjadi bunda dari anak-anakku?"


"Mau!" teriakan itu bukan berasal dari jawaban Diandra, melainkan dari Valerie, Bayu, Pratama, Reyhan, dan Gerry. Ternyata Valerie menghubungi kakak-kakaknya dan melakukan video call berjamaah.


"Bokap gue bisa romantis juga, kampret!" seru Gerry semangat.


"Heh! Elo ngatain ayah gue kampret!" sahut Reyhan tidak terima.


"Mau jadi jambu monyet lo durhaka sama ayah?!" giliran Pratama yang ikut bersuara.


"Mukanya emang udah mirip monyet kok, Dek," jawab Bayu.


"Jadi kena bully kan gue. Yang kampret gue kok, Bang, puas elo semua!"


"Puas!" jawab ketiga cowok itu bersamaan.


"Kok malah bahas Bang Gerry yang kayak kampret sih. Bu Diandra kan belum jawab lamaran ayah. Jawab dulu, Bu. Jangan digantungin, entar ayah gak bisa tidur gara-gara galau," ujar Valerie, yang mendapat sentilan di hidungnya dari Laksmono.


"Iya, saya mau," jawab Diandra sambil tersenyum.


"Alhamdulillah," seru Laksmono bersama anak-anaknya.


"Adek gesrek!" umpat Reyhan.


"Inget umur, bentar lagi mau jadi bapak juga," ujar Bayu sambil mengelus dadanya melihat kelakuan adiknya.


"Jangan bikin malu di depan calon bunda!" seru Pratama.


"Begitulah kelakuan abang-abang saya, Bu. Ajaib, jangan mundur, menyerah, apalagi sampai melambaikan tangan ke kamera ya, Bu," ujar Valerie sambil menepuk dahinya.


Diandra tertawa mengetahui sifat-sifat calon anaknya. Akhirnya setelah penderitaannya selama ini, ia bisa merasakan bahagia bersama Laksmono dan anak-anaknya.


***


"Lagi apa, Sayang?" tanya Elang di telepon.


"Lagi duduk sambil meluk cinta pertamaku," jawab Valerie sambil mengeratkan pelukannya pada Laksmono. Setelah mengantar Diandra pulang, Laksmono kembali ke rumah sakit untuk menjaga putrinya. Di sana juga ada Gaung, Gandi, Choky, Roxy, dan Robert.


"Cinta pertama! Bukannya cinta pertama kamu itu aku?"


"Kamu cinta kedua aku, Lang," jawab Valerie santai.


"Kamu peluk cowok lain, Er!" seru Elang heboh, Valerie meloadspeaker ponselnya. Jadi semua yang ada di situ bisa mendengar apa yang dikatakan Elang.


"Bukan cuma aku peluk, tapi juga aku cium pipinya," ujar Valerie sambil mengecup pipi ayahnya. Laksmono tersenyum melihat kejahilan putrinya. Ia tahu pasti sekarang Elang sedang meradang karena cemburu buta.

__ADS_1


"Baru juga sehari aku tinggal kerja, Er. Kamu udah peluk sama cium-cium cowok lain. Pipiku aja baru kamu cium sekali, aku gak terima!" ujar Elang yang membuat sahabat-sahabatnya setengah mati menahan tawa.


"Kalau kamu gak terima, terus mau apa?"


"Aku tutup dulu teleponnya, aku mau video call. Aku mau lihat seganteng apa cowok itu, sampai buat kamu berpaling dari aku. Kalau perlu aku bejek-bejek tuh cowok!" Setelah mengatakan itu, Elang menutup sambungan teleponnya dan beralih ke video call.


"Mana tuh cowok!" sembur Elang begitu Valerie mengangkat video call dari Elang.


"Jangan minder ya kalau kalah ganteng sama cinta pertamaku?" ujar Valerie sambil mengedipkan sebelah matanya, terlihat menggemaskan. Elang sempat terbius dengan keimutan Valerie, tapi ia segera tersadar dengan tujuan awalnya.


Valerie memberikan ponselnya pada Laksmono, Laksmono menerima ponsel itu sambil  geleng-geleng kepala.


"Jangan berani-berani deketin cewek gu-" perkataan Elang terhenti setelah melihat wajah Laksmono di layar ponselnya.


"Kenapa, Lang?" tanya Laksmono santai.


"Om Laks," cicit Elang, wajahnya pucat seketika. Baru saja ia mau memaki-maki, ternyata yang ingin ia maki adalah calon mertuanya sendiri. Sungguh tega kekasihnya itu mengerjainya, untung sayang.


"Mampus lo, Lang!" seru Roxy sambil terbahak-bahak, begitu pula dengan teman-temannya yang lain. "Katanya tadi mau bejek-bejek? Bejek aja, Lang! Sebelum lo bejek udah dibanting dulu sama Om Laks!"


"Pecat aja dari calon mantu om, gak sopan gitu. Calon mertua mau dibejek, pecat aja om. Saya rela kalau gantiin posisi Elang jadi mantu om," ujar Choky, membuat Elang geram.


"Begitu gue pulang, gue tampol lo semua satu-satu!" ancam Elang.


"Termasuk saya juga mau kamu tampol, Lang?" tanya Laksmono dengan wajah tenang tapi tatapannya terkesan tajam.


"Mampus gue!" lirih Elang, ia menelan ludah dengan susah payah seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya.


"Huahahahahaha ...."


Semua yang ada di ruangan itu terbahak melihat wajah panik Elang, termasuk Valerie dan Laksmono. Bahkan Roxy sampai menggelinding dan memukul-mukul lantai saking gelinya. Elang yang malang.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2