
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Valerie diijinkan pulang. Abang-abang Valerie bersama keluarga kecil mereka berkunjung ke kediaman Laksmono untuk menengok adik kesayangan mereka sekalian melepas rindu.
Sudah lama mereka tidak memiliki waktu yang panjang untuk sekedar berbagi cerita bersama. Mereka bahagia dengan keluarga kecil masing-masing. Namun, ada kalanya rasa rindu akan kebersamaan mereka dahulu menyeruak kembali.
Mereka rindu untuk saling bercerita, mereka rindu untuk saling meledek, mereka rindu untuk saling melindungi, mereka merindukan itu semua. Merindukan kebersamaan yang tidak akan terganti oleh apapun.
"Bang, udah lama kalian gak olahraga, kan? Adek ajak mau, gak?" tanya Valerie sambil tersenyum penuh arti.
Tentu saja abang-abangnya paham dengan olahraga yang dimaksut adik mereka.
"Boleh tuh, Dek. Otot-otot abang juga udah mulai kaku," jawab Bayu sambil meregangkan ototnya.
"Semangat juang gue berkobar, Dek," ujar Pratama sambil menggulung lengan bajunya, entah dengan maksut apa.
"Emang siapa sasaran kita, Dek?" tanya Reyhan penuh semangat.
"Mantan suami Bu Diandra. Dia berlaku kasar walaupun status mereka sudah bukan suami istri lagi. Kita harus kasih dia pelajaran, biar tidak semena-mena terhadap perempuan. Abang-abang semua mau?"
"Dengan senang hati," jawab putra-putra Laksmono bersamaan.
"Gak usah ajak anggota Arakata, Dek. Kita senang-senang sendiri aja. Jarang kan kita ngabisin waktu cuma berlima?" Sekarang giliran Gerry yang angkat bicara. Valerie dan yang lain mengangguk setuju.
"Ayah ikut," ujar Laksmono yang langsung mendapat gelengan kepala dari kelima anaknya.
"Gak boleh!" jawab mereka berjamaah.
"Ayah bentar lagi mau nikah, kalau encoknya kumat bisa batal malam pertamanya," ujar Gerry yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Laksmono.
"Enak aja kamu, walaupun usia ayah udah enam puluh tahun lebih, ayah masih kuat melawan puluhan musuh," jawab Laksmono tidak terima.
"Iya, kami percaya," ujar Pratama, "kami percaya kalau sang pendiri Arakata masih kuat melawan musuh. Tapi, jangan lupa kalau tadi encok ayah kambuh waktu gendong Rocky sama Ricky. Kasihan Bu Diandra entar kalau malam pertama malah mijitin pinggang ayah."
Laksmono hanya mendengkus tanpa menjawab lagi. Percuma melawan omongan kelima anaknya.
"Kakak-kakak ipar ngebolehin kalau suami-suaminya Eri ajak olahraga?"
"Boleh, Er. Bawa aja. Baret-baret dikit juga gak papa," jawab Helena, istri dari Pratama sambil terkekeh.
"Awas aja kalau yang baret Eri, kakak jitak kalian satu-satu, abang juga gak terkecuali!" seru Ceril. Melirik Bayu, suaminya. "Eri mau kakak ajak ke salon malah kalian ajak olahraga begituan!" Ceril menepuk dahinya.
"Bukan kami yang ajak, adek yang ngajak, Kak," ujar Gerry membela diri.
"Tapi kamu seneng juga, kan?" tanya Andien, yang dijawab cengiran oleh suaminya.
"Tenang aja, Kak. Kami gak bakal terluka atau bahkan melukai orang lain. Kami hanya memberi om ini sedikit pelajaran," ujar Valerie sambil menjentikkan kelingkingnya.
"Ya udah buruan berangkat sana, kami siapin masakan dulu. Biar nanti begitu pulang, kalian bisa langsung makan," ujar Maheswari.
"Ya udah, ayah jemput Bu Diandra dulu biar ikut bergabung dengan kita," ujar Laksmono sambil mengambil kunci mobil di saku celananya.
"Jangan panggil Bu Diandra dong, Yah. Bentar lagi mau nikah," protes Gerry.
__ADS_1
"Terus ayah harus panggil apa?" tanya Laksmono.
"Sayang!" jawab anak dan menantu Laksmono bersamaan, yang membuatnya geleng-geleng kepala. Kompak sekali mereka.
***
Valerie dan abang-abangnya telah sampai di suatu tempat perjudian. Bukan tempat perjudian besar, hanya tempat perjudian kecil di kampung.
Mereka menemukan tempat itu atas bantuan anak buah Bayu. Ternyata salah satu anak buahnya ada yang tinggal di daerah itu.
Anak buah Bayu itu pun sudah menyuruh orang-orang yang ada di sana untuk tidak ikut campur.
"Kenapa kalian cari saya?" tanya pria berusia lima puluhan itu.
"Benar bapak yang bernama Eka? Mantan suami dari Bu Diandra?" tanya Valerie ramah.
"Kalau iya kenapa? Ada urusan apa kalian sama perempuan mandul itu?" tanya Eka yang terdengar meremehkan Diandra. Valerie menjadi agak kesal karenanya.
"Kami tidak ada urusan dengan Bu Diandra. Urusan kami dengan anda, Pak Eka," ujar Valerie sambil berjalan lebih mendekat ke arah Eka berada. "Kami anak-anak Pak Laksmono."
Begitu mendengar nama Laksmono disebut, mata pria itu membelalak.
"Oh, kalian anak dari tua bangka yang selalu ikut campur dengan urusan saya dan Diandra?!"
"Wah, tua bangka yang om maksut itu jauh lebih bisa menghargai wanita ketimbang om yang hanya bisa menyiksa!" seru Gerry yang mulai tersulut emosi.
"Buat apa gue ngehargain wanita yang gak bisa punya anak kayak dia! Gajinya sebagai guru aja kecil, gak bisa buat modal gue judi."
Valerie mengepalkan tangannya, mencoba menahan emosi. Semenderita itukah guru kesayangannya selama ini.
"Wah, cri mati nih om-om, ngomong begituan di depan Eri," ujar Reyhan sambil geleng-geleng kepala. "Adek saya yang cantik ini paling gak suka kalau kaumnya diperlakukan semena-mena."
"Wanita kan memang makhluk lemah, yang bisanya cuma nangis! Cih." Eka meludah dihadapan
Valerie, benar-benar tidak sayang nyawa.
"Tolong bilangin maaf ke Kak Ceril, Bang," ucap Valerie pada Bayu. "Maaf karena adek gak menepati janji untuk tidak melukai orang."
"Sip, Dek." Bayu terkekeh sambil mengacungkan jempolnya. "Silahkan, kami gak akan ganggu."
Setelah mengatakan itu, Reyhan dan ketiga saudaranya yang lain melangkah mundur. Memberi jarak yang lebih untuk Valerie melaksanakan niatnya.
"Akan Eri beritahu bagaimana rasanya mendapatkan belaian dari makhluk yang om bilang lemah ini," ujar Valerie sambil melepaskan jam tangannya dan dilemparkan ke Bayu. "Tolong bawain jam adek, Bang. Sayang kalau sampai pemberian Rajawali rusak."
Valerie melangkah mendekati Eka, memegang tangan lelaki paruh baya itu. Pria itu sempat terpana dengan kecantikan Valerie. Sampai akhirnya ia menjerit kesakitan, ketika Valerie memelintir tangannya sampai berbunyi seperti tulang yang retak.
"Arghhhh!" teriak Eka kesakitan.
"Jangan pernah menganggap perempuan hanya sebagai alat untuk punya anak. Jangan pernah memperlakukan perempuan sebagai budak. Jangan pernah memanfaatkan perempuan untuk memeras uang dari jerih payahnya. Kedua tangan ini kan yang selalu menyakiti Bu Diandra." Valerie memelintir lagi sebelah tangan Eka.
"Kami kaum perempuan akan melakukan apapun untuk orang yang kami sayangi. Tapi kami mohon, jangan pernah memanfaatkan ketulusan kami," ujar Valerie, sambil mengusap air matanya yang mulai menetes. Gadis itu paling tidak suka jika ada kaumnya yang diperlakukan tidak adil.
__ADS_1
Bayu yang melihat emosi Valerie mulai tidak stabil, langsung menarik adiknya itu dalam pelukannya.
"Tam, elo urus itu om-om. Bawa ke rumah sakit, tagihannya biar abang yang nanggung." perintah Bayu pada Pratama.
"Dari pada rumah sakit mending bawa ke rumah duka aja, Bang. Lebih pantas buat dia. Kelakuannya mencemarkan nama baik kaum pria!"
"Tama." Bayu memperingatkan adiknya.
"Iya, Bang," jawab Pratama ogah-ogahan sambil merangkul Eka dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. "Keberatan dosa lo, Om. Nyusahin aja!"
"Rey, lebih baik elo temenin Tama. Bisa bahaya kalau abang lo itu ngapa-ngapain Om Eka. Urusannya bisa panjang entar," ujar Bayu yang paham dengan sikap Pratama yang tempramental.
"Siap, Bang!" Reyhan memberi hormat bak prajurit kepada komandannya.
"Kita pulang ya, Dek," ujar Bayu sambil mengusap kepala Valerie. Gadis itu mengangguk sebagai jawabannya. "Elo yang nyetir, Ger." Bayu melemparkan kunci mobil pada Gerry.
"Nasib jadi supir mulu," gerutu pria itu.
"Mau abang jadiin tukang cuci piring?"
Gerry langsung menggeleng mendengar tawaran kakaknya.
***
"Maaf, kalau bukan karena tante, kalian tidak perlu berurusan sama Eka," ujar Diandra begitu Valerie dan abang-abangnya sampai di rumah.
Pratama dan Reyhan pun sudah ada di sana. Begitu selesai mengantarkan Eka ke rumah sakit, mereka langsung pulang ke rumah. Urusan rumah sakit, Pratama menyuruh asistennya yang mengurus.
"Gak apa-apa, Tante," jawab Bayu, "bukan kami yang harus tante khawatirin, tapi si om-om itu. Remuk tulang tangannya kena pelintir Eri." Bayu bercerita sambil terkekeh.
"Kamu mukulin tuh om-om, Er?!" Ceril berseru heboh. "Tadi katanya gak bakal ngelukain orang? Kuku kamu gak patah, kan?" Ceril memeriksa kuku-kuku adik iparnya yang terlihat masih utuh.
"Maaf kak," sesal Valerie, "habisnya tuh om-om ngatain kalau kaum cewek itu lemah, terus dia memperlakukan kaum kita seperti pembantu dan mesin pencari uang. Kan Eri sebel, jadi khilaf deh."
"Kalau gitu kenapa gak kamu cakar-cakar aja mukanya," ujar Ceril yang terlihat geram dengan ulah Eka. "Mana orangnya? Biar kakak aja yang acak-acak mukanya!"
Sikap Ceril memang sebelas dua belas dengan Valerie, agak bar-bar. Bayu tersenyum Melihat istrinya yang emosi, wajah istrinya itu malah terlihat imut.
"Gak perlu, Sayang. Orangnya udah gak berdaya. Tulangnya retak berkat pelintiran Eri." Bayu mengusap punggung Ceril, mencoba meredakan emosi istrinya itu.
"Eka bersikap seperti itu karena tante yang tidak bisa memberikan keturunan, tante wanita yang tidak sempurna," lirih Diandra.
"Bu, perempuan diciptakan bukan hanya untuk dijadikan mesin penghasil anak," ujar Valerie sambil memandang Diandra lembut. "Kaum kita diciptakan juga bukan untuk diperbudak atau dimanfaatkan. Namun, Allah menciptakan kita untuk mendampingi kaum pria. Mendampingi dan melengkapi kehidupan kaum pria.
Kita juga bukan pahlawan super yang harus bisa melakukan semuanya. Jadi, Bu Diandra gak perlu menyalahkan diri sendiri hanya karena ibu tidak bisa mengandung. Itu semua ketentuan dari Allah, pasti ada hikmah dari itu semua. Lagian kan sebentar lagi ibu bakalan punya lima anak, enam cucu, bahkan sebentar lagi Kak Andien melahirkan. Apa anak dan cucu sebanyak itu masih kurang buat Bu Diandra?" Valerie mengedipkan sebelah matanya, menggoda calon bundanya itu.
Diandra menggeleng. "Enggak, Er. Buat ibu, ini sudah lebih dari cukup. Betapa tidak bersyukurnya ibu jika masih merasa kurang saat sudah memiliki kalian di sisi ibu."
Valerie memeluk Diandra, akhirnya ia mendapat pelukan seorang ibu setelah sekian lama.
"Terimakasih sudah mau menjadi bagian dari kami, Bu."
__ADS_1
"Ibu yang berterimakasih karena kalian mau menerima ibu," jawab Diandra sambil tersenyum tulus. Ia tidak menyangka akan bisa berada di tengah keluarga yang hangat seperti keluarga Laksmono itu.
Mungkin penderitaannya dulu sewaktu masih bersama Eka adalah ujian untuk kesabarannya. Begitu ia lulus dari ujian itu, ia mendapatkan hadiah yang begitu istimewa, yaitu melewati sisa usianya bersama Laksmono dan putra-putrinya. Keluarga besar yang ramah dan selalu bisa menghadirkan tawa. Ia akan selalu merasa aman, dikelilingi orang-orang yang tangguh.