Arakata

Arakata
Ulah Rahwana


__ADS_3

Kenangan buruk itu sudah terlalu dalam merasuk dalam kehidupanku. Hingga yang bisa kulihat selama ini, hanya cara membenci agar tetap bisa bertahan hidup.


***


Sudah beberapa menit berlalu, tapi yang ada di ruangan kerja itu hanya kesunyian. Atas bantuan dari teman-temannya, akhirnya Valero bisa menemukan keberadaan Riki Rahwana. Pria itu mendatangi kantor milik saudara tirinya itu.


Namun, yang mereka lakukan hanya sama-sama terdiam.


"Anda menemui saya hanya untuk memandangi dan mengagumi wajah tampan saya?" tanya Riki memecahkan keheningan. Pria itu tersenyum miring, terlihat sangat menjengkelkan di mata Valero.


"Elo kan yang mencelakai Bang Bayu dan Eri?" tanya Valero masih dengan wajah datarnya.


"Itu sebuah pertanyaan atau pernyataan?" Bukannya menjawab, Riki malah balik bertanya. Pria itu pun terlihat santai menanggapi setiap perkataan Valero.


"Pernyataan yang berawal dari pertanyaan dan butuh penjelasan," jawab Valero sekenanya, membuat Riki terkekeh. "Jawab, gue lagi males banyak omong."


"Wah, tipe orang yang gak suka basa-basi," celetuk Riki sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hanya orang kurang kerjaan yang suka hal basi."


"Kalau begitu kenapa anda masih bertanya, bukannya anda sudah tahu jawabannya?" tanya Riki sambil tersenyum miring. "Itu namanya apa kalau bukan basa-basi?"


"Memastikan," jawab Valero cepat. "Gue hanya heran, kenapa orang yang jelas-jelas melakukan banyak tindakan kejahatan seperti elo, bisa kebal hukum!"


Riki terdiam sesaat, kemudian ia terbahak.


"Hahahaha, mungkin saya sudah divaksin, jadi saya kebal," jawabnya enteng, jelas sekali kalau pria itu berusaha memancing emosi Valero, tapi Valero hanya tersenyum.


"Benar-benar didikan seorang Rahwana." Perkataan Valero kali ini membuat Riki benar-benar terdiam. "Berhenti bersikap pura-pura tidak tahu siapa gue."


Riki mengetukkan jari telunjuk pada meja kerjanya, pria itu kembali tersenyum.

__ADS_1


"Sebegitu kangennya kau terhadapku, Kakak?" tanya Riki, pria itu memandang Valero sayu. "Emmm, kau kakak atau adikku?" Riki mengerutkan dahinya, seolah-olah berpikir keras.


"Gue bukan seorang Rahwana, gue Arbianto," jawab Valero dengan yakin. "Gue gak akan sudi menyandang nama Rahwana, setelah apa yang ia lakukan terhadap keluarga gue. Gue juga akan cabut nama Rahwana dari nama belakang Azizah."


"Bagaimana bisa elo ngerubah nama dari ayah kandungnya?" Kini Riki sudah tidak lagi bersikap formal pada Valero.


"Ayah kandung?" tanya Valero, ia terkekeh. Ada amarah di sorot matanya. "Ayah kandung mana yang tega menyiksa anaknya setiap hari, bahkan sampai memperkosanya berulang kali?"


Mata Riki membelalak, ia mengepalkan tangan. Selama ini ia selalu memantau keluarganya itu, bagaimana ia bisa tidak tahu? Dan bagaimana bisa Ryan Rahwana bisa menutupi hal itu dengan rapi?


"Perkosa?"


Valero mengangguk. "Dan brengseknya gue kecolongan, gue sampai gak tahu hal itu, bahkan sampai Azizah hamil."


"Bangsat!" umpat Riki, rahangnya mengeras. "Bukan itu yang ayah janjikan ke gue." Setelah mengatakan itu, Riki diam sejenak.


"Dia janjiin apa ke elo?" tanya Valero, ia tahu ada yang disembunyikan oleh pria di hadapannya itu.


Riki terdiam, kepalanya menunduk. Hilang sudah semua tameng keras yang ia pasang dari awal saat Valero mulai menginjakkan kaki di kantornya. Pria itu menggeleng, menghadirkan sebuah senyum pada wajah tampan Valero.


Lagi-lagi Riki tercengang dengan penuturan Valero. Ia melangkahkan kaki, memposisikan diri di sebelah Valero.


"Merampas? Bukannya ayah lo meninggal karena kecelakaan, terus Ayah Ryan menikahi Mamah Atika karena amanah dari ayah kandung lo?"


Valero melihat pria yang ada di sampinya, kemudian ia tertawa ... jenis tertawa yang jelas dipaksakan.


"Amanah? Jelas-jelas di depan mata gue dia ngebunuh ayah, orang yang nganggap dia seorang sahabat. Kemudian dengan keji ia perkosa mamah di depan mata gue. Itu yang dia sebut sebagai amanah?" Satu tetes bening mengalir dipipinya, tanpa pria itu sadari. Kenangan buruk tentang masa lalunya berputar kembali di otaknya. Kenangan yang seringkali ingin ia ubah. "Di depan mata gue, dia renggut semua apa yang gue punya, termasuk kebahagiaan gue sedari kecil. Seolah tidak puas, hari-hari gue dengan mamah setelah itu ia buat seperti di neraka. Gue tumbuh sebagai orang yang harus menuruti semua perintahnya. Kalau gue berontak, keselamatan mamah dan Azizah yang menjadi taruhannya."


"Bu-bukan hal itu yang ayah janjikan ke gue," ucap Riki dengan terbata-bata.


"Apa yang dia janjikan ke elo?"

__ADS_1


"A-ayah, ayah ... selama ini gue nurutin semua perintah ayah, termasuk ngilangin nyawa orang dengan barter iming-iming kebahagiaan hidup kalian."


Valero membelalakkan matanya, terkejut dengan perkataan pria di sampingnya itu. Pria yang baru ia kenal beberapa saat.


"Jadi selama ini elo udah tahu keberadaan gue dan Azizah?" tanya Valero yang langsung mendapat jawaban anggukkan kepala dari Riki.


"Gue tahu keberadaan lo semenjak ayah nikah sama Mamah Atika. Semenjak saat itu gue selalu merhatiin kalian, tanpa sepengetahuan kalian, karena itu perintah ayah. Ayah gak mau sampai kalian tahu kalau gue itu ada."


Valero masih terdiam, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ryan Rahwana yang begitu tega mempermainkan perasaan banyak orang. Bahkan seorang pria baik yang menganggap mamah kandungnya sebagai ibunya sendiri itu ia manfaatkan hingga berubah menjadi pria yang kejam.


"Setelah Azizah lahir, gue bahagia karena akhirnya gue punya adik perempuan. Adik yang selama ini tidak bisa gue dapetin karena mamah gue udah meninggal sewaktu melahirkan gue. Gue mau masuk dalam kehidupan kalian, tapi ayah melarang. Dengan alasan nanti bisa mengganggu kebahagiaan kalian, karena itu gue hanya berani jaga kalian dari jarak jauh. Tapi gue gak tahu kalau ayah memperlakukan kalian dengan kejam. Selama ini ia berperan sebagai ayah yang baik di hadapan gue."


"Hal itu juga yang dia janjikan dengan barter elo terjun di dunia hitam?"


Riki kembali mengangguk.


"Brengsek!" ucap Valero sambil mengacak rambutnya dengan frustasi. "Kenapa gak elo cari tahu sendiri kelakuan ayah lo itu secara langsung selama ini!"


"Gue terlalu percaya dengan apa yang dikatakannya selama ini," jawab Riki.


"Serahin diri lo ke polisi, mulai semua dari awal. Gue sama mamah dan Azizah bakalan nerima elo, kita bangun lagi semua dari awal sebagai keluarga," pinta Valero, ia memegang pundak Riki. Ia percaya dengan apa yang disampaikan pria di hadapannya itu, karena tatapan pria itu begitu tulus, ia tahu itu. Tatapan yang mirip dengan seorang gadis yang telah pergi meninggalkannya baru-baru ini. Iya, gadis yang ia maksut tentu saja Valerie Livia Laksmono, gadis yang ia kira sudah meninggal.


Riki memegang tangan Valero dan menyingkirkan dari pundaknya. Ia menggeleng.


"Belum bisa, sebelum gue ngehancurin Arakata," jawab Riki yang kembali membuat dahi Valero berkerut bingung.


"Kenapa harus lo hancurin?"


"Karena Arakata yang telah menghancurkan bisnis ayah sehingga ayah harus terjun ke dunia hitam," jawab Riki.


"Bodoh! Kenapa elo terlalu percaya dengan omongan Ryan tanpa cari tahu dulu kebenarannya!" geram Valero, "Arakata yang telah nyelametin gue sekeluarga dari kekejaman Ryan. Bahkan, Valerie ... gadis yang elo bunuh itu dengan ikhlas mempertaruhkan nyawanya demi ngelepasin gue, mamah, dan Azizah dari jerat kekejaman Ryan. Arakata itu sekumpulan orang baik yang selalu bantu sesama. Bagaimana mungkin orang sebaik mereka, bisa tega ngancurin seseorang. Astaghfirullah, Riki ... kenapa elo bisa sampai sebuta itu, sih?"

__ADS_1


Tubuh Riki membeku seketika, bagaimana bisa ia dengan mudah percaya dengan omongan Ryan Rahwana. Sosok orang yang selalu mengancamnya, yang telah menjerumuskannya pada dunia hitam. Orang yang telah mengubahnya menjadi monster pencabut nyawa.


Seandainya ia tidak bertemu dengan Valero hari ini, ia pasti sudah melakukan hal yang lebih buruk lagi. Jika Valero tidak membeberkan kebenaran tentang sosok orang yang ia anggap seorang ayah itu, pasti ia akan selamanya berada dalam lingkaran kebohongan Ryan Rahwana.


__ADS_2