
Selama ini, aku terlalu sibuk dengan lukaku. Tanpa sadar jika putri kesayanganku juga menyimpan luka, bahkan lukanya tertoreh lebih dalam.
***
"Ini namanya pembersih wajah." Jelita memperkenalkan skincare yang ada di meja riasnya kepada Valerie. "Ini cream pagi dan malam, ini BB cream, ini masker yang biasanya mamah pakai. Ini yang bisa bikin muka glowing."
Valerie hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Jelita, entah dia paham atau malah pusing dengan segala macam jenis benda yang asing untuk nya. Biasanya, gadis itu hanya memakai faciall foam dan bedak bayi.
Laksmono mengintip dari balik pintu kamar Garindra. Dia menatap anak gadis satu-satunya itu dengan haru dan penuh penyesalan. Seharusnya kata-kata lucknut itu tidak dia ucapkan.
Sehingga melukai perasaan putri kesayangannya yang selama ini ia jaga. Memang benar apa yang dikatakan Alif dulu. Jika dalam keadaan emosi, lebih baik mulut dikunci, dari pada keluar kata-kata yang nantinya akan disesali.
"Mama," panggil Valerie.
"Iya, Sayang."
"Apa tidak apa-apa jika Eri tidur sama mama di sini?"
"Enggak apa-ap, Sayang. Gak usah khawatir," jawab Jelita sambil menyisiri rambut hitan dan lebat milik Valerie.
"Kalau Eri tidur sini, entar Papa Indra tidur mana?"
"Papa biar tidur di kamar Elang, Er."
"Eri boleh peluk mamah lagi?" tanya Valerie dengan nada khawatir, khawatir jika Jelita tidak memberinya ijin.
"Tentu boleh, Sayang. Sini ..." Jelita merentangkan tangannya yang langsung disambut Valerie.
"Eri, Eri kangen Bunda," lirih Valerie, terdengar banyak luka di sana. "Eri anak yang gak tahu diri." Tidak ada isakan disana, tapi air mata itu terus mengalir. "Eri sudah punya ayah dan abang-abang yang sangat menyayangi
Eri. Tapi Eri malah meminta lebih, meminta kehadiran sosok ibu lagi dalam kehidupan Eri."
"Sssstt, Eri gak boleh ngomong gitu, Sayang." Jelita mengusap air mata g.adis cantik di hadapannya itu.
"Eri terlalu baper mendengar cerita teman-teman perempuan Eri, tentang kebersamaan dengan ibu mereka. Seharusnya Eri puas karena memiliki ayah dan abang-abang yang baik. Seharusnya Eri tidak boleh berharap lebih. Tanpa memikirkan hati ayah yang hanya tertuju oleh almarhumah bunda. Eri egois ....."
Laksmono tidak lagi bisa menahan air matanya. Selama ini anak gadisnya itu terlihat kuat. Ternyata di balik sikap yang tangguh itu tersembunyi hati yang rapuh.
Anaknya itu selalu bersikap seolah hatinya baik-baik saja hanya untuk membuatnya tidak khawatir. Putrinya hanya ingin memiliki sosok seorang ibu, tapi ia malah mengeluarkan kata-kata tajam. Betapa kejamnya ia sebagai ayah.
"Biarin calon mantu gue nenangin hatinya, Laks," ujar Garindra yang berada di belakang Laksmono.
"Masih belum nyerah lo buat jadiin anak gue mantu lo?" Laksmono melirik Garindra.
"Gue gak akan nyerah, Laks. Gadis seistimewa Eri pantas diperjuangkan."
"Emang Elang suka sama anak gue?!"
"Itu kutu kupret gengsinya segede gaban. Gue sering mergokin dia mandangin foto Eri. Giliran ada orangnya langsung, malah sikapnya sok cuek. Emang bego tuh anak semata wayang gue."
"Iya, bego kayak bokapnya." Lakmono tersenyum puas melihat sahabatnya berdecak sebal.
__ADS_1
"Eri pamit pulang aja, Mah,"
"Lho? Gak jadi nginep sini?"
Valerie menggelengkan kepalanya. "Enggak, Mah. Seharusnya Eri gak boleh ngambek gini. Eri harus bersikap dewasa. Kalau Eri egois, kasihan ayah sama abang-abang. Kalau Eri gak pulang, entar mereka harus makan sup pencabut nyawa punya Bang Tama lagi." Valerie terkekeh teringat insiden sup pencabut nyawanya Tama.
"Iya juga sih Er." Jelita ikut terkekeh.
Laksmono dan Garindra langsung balik badan begitu Valerie hendak mencapai pintu. Namun, betapa kagetnya mereka berdua melihat Elang dan komplotannya beserta empat jejaka tampan milik Laksmono berada di belakang mereka sambil meringis konyol. Berarti mereka ikut mengintip Valerie.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat mereka terkaget. Bisa gawat kalau Valerie tahu mereka mengintip.
"Ayah, Papah Indra ... kok pada rame di depan pintu, ngapain?" tanya Valerie yang kaget melihat sepuluh
pria tampan berdiri di hadapannya dengan wajah yang ... konyol.
"Ini, kita ngadain rapat dadakan," jawab Garindra asal, membuat dahi Valerie berkerut bingung.
"Kok Eri gak diajak?" tanya Valerie.
"Rapatnya khusus cowok, Dek," jawab Gerry tambah asal.
"Oh, ya udah. Eri pulang dulu ya." Valerie langsung berlalu dari hadapan mereka.
"Jawaban lo gak berkelas, Ndra," ujar Laksmono.
***
Valerie duduk bersandar di ranjangnya. Pikirannya masih melayang pada kejadian tadi. Ia merasa bersalah. Ia tidak bermaksut memaksa ayahnya menikah lagi. Ia hanya ingin ayahnya memiliki pendamping, seperti apa yang dialami ayahnya Robert.
Valerie tersadar dari lamunannya ketika terdengar suara ketukan pintu.
Betapa terkagetnya dia melihat sepuluh pria tampan itu lagi-lagi berada di hadapannya ketika membuka pintu.
"Ayah, papah sama yang lainnya mau ngapain? Ada geng yang berulah lagi? Bentar, Eri ganti baju dulu," ujar gadis itu yang telah mengenakan piyama tidurnya yang bergambar hamtaro dan biji bunga mataharinya.
"Enggak, Er," jawab Laksmono cepat, sebelum putrinya itu masuk kembali ke kamarnya. "Ayah mau tidur di kamar kamu, Nak." Laksmono masuk membawa bantal yang disimpan di belakang badannya.
"Abang juga, Dek," sahut abang-abang Valerie bersamaan.
"Kita juga ikutan." Garindra dan sahabat Valerie lainnya ikut beranjak masuk kamar tapi di hadang oleh Laksmono.
"Enggak!" tolak Laksmono tegas, "ini khusus keluarga Laks, yang tidak berkepentingan dilarang masuk."
"Gue kan calon besan lo, Laks," jawab Garindra sambil nyengir.
"Baru calon, belum tentu jadi besan beneran, kan." Setelah mengatakan itu, Laksmono menutup pintu kamar Valerie. Membuat kelima pria itu melongo bego.
"Dasar sahabat lakhnat," dumel Garindra sambil berjalan menuju rumahnya.
__ADS_1
"Mending sekarang kita rame-rame tidur di kamar Om Indra, nemenin Tante Jelita bobok imut," usul Bagus yang langsung mendapat tatapan sejatam tombak dari Garindra.
"Enggak ada! Kalian semua tidur di kamar tamu, kalau gak mau ya tidur di ruang tamu aja sana," jawab Garindra tegas, "saya mau buat Indra junior lagi, siapa tahu masih bisa. Lebih beruntungnya lagi kalau dapatnya anak perempuan imut seperti Eri." Garindra tersenyum sendiri sambil membayangkan sesuatu.
"Kalau pengen punya anak kayak Eri minta bantuan Om Laks dong," usul Gandi.
"Bantuan seperti apa maksutnya?" tanya Garindra penasaran.
"Ya bantuan buatin adeknya Elang dong, Om. Kan udah terbukti tuh kalau bibitnya Om Laks itu bibit unggul semua," jawab Gandi tanpa mikir, pikirannya kan emang agak geser.
"Mulut kamu, ya." Garindra menepuk mulut Gandi. "Enak aja, enggak. Jelita punya saya," serunya posesif. "Cuma saya yang boleh nanem bibit ke dia."
"Katanya kan mau punya anak yang kayak Eri, ya harus Om Laks lah yang nanem bibitnya," protes Gandi sambil mengusap-usap bibirnya yang ditabok Garindra.
"Khusus kamu gak boleh tidur di dalam rumah. Kamu tidur di kebon aja sana bareng nyamuk. Siapa tahu kamu bisa namem bibit sama nyamuk di sana." Setelah mengatakan itu, Garindra masuk ke dalam kamarnya dan melaksanakan niatnya untuk menanam bibit. Menyisakan Gandi yang masih memasang tampang merana karena disuruh tidur di kebun. Elang dan sahabatnya yang lain mengacungkan jempolnya sambil berseru serempak.
"Rasain."
***
"Nih dipakai, Dek," ujar Laksmono sambil memberikan sebungkus masker wajah yang berwarna hitam pada Valerie.
"Masker?" tanya Valerie bingung, untuk apa ayahnya memberikannya masker wajah.
"Iya, ayah sama abang-abang kamu juga bakalan pakai kok." Laksmono dan anak-anaknya yang lain menunjukkan masker yang dipegangnya.
"Terus ini cara pakainya gimana, Yah?" tanya Valerie membolak-balik masker yang dipegangnya.
"Begini," Laksmono memakaikannya pada Valerie. "Ayah diajari Jelita tadi."
Valerie tersenyum melihat wajah ayahnya yang terlihat serius memakaikan masker ke wajahnya.
"Setelah adek, ayah bantuin kita make nih masker juga dong yah. Kami gak tau cara makainya," ujar Bayu yang diikuti anggukkan setuju dari adik-adiknya yang lain.
"Iya, sebentar. Nah, selesai ... sini, Bay, giliran kamu." Sesudah selesai memakaikan masker di wajah Valerie dan anak-anaknya yang lain, Laksmono memakai maskernya sendiri di kaca cermin milik Valerie.
Setelah acara memakai masker selesai, mereka tidur bergerombol di kasur Valerie. Ukuran kasur Valerie memang besar, tapi untuk menampung tubuh kekar lima pria di keluarga Laksmono akan terasa sempit. Mereka tidur dengan berbagai gaya yang jauh dari kata elegan.
Mereka tidur melingkar dengan kepala yang saling berdekatan. Jadi bentuk badan mereka melintang kesana-sini.
"Terimakasih," ucap Valerie, "dan maaf sudah menyakiti perasaan ayah. Eri gak ada maksut untuk menggantikan posisi bunda dengan wanita lain. Sampai kapanpun Bunda Sofie adalah bunda dan istri terbaik untuk aku, abang, dan ayah. Eri hanya ingin ayah memiliki pendamping yang selalu ada di sisi ayah dan selalu mendukung ayah. Maaf jika permintaan Eri ini malah membuat ayah sedih."
"Kamu gak perlu minta maaf, Dek," jawab Laksmono sambil menatap langit-langit kamar Valerie yang bergambar langit biru, awan dan biji bunga matahari. "Ayah yang harus minta maaf, karena selama ini ayah terlalu nyaman dengan kesendirian ayah. Tanpa memikirkan kalian, yang sebenarnya masih membutuhkan sosok seorang ibu. Tapi maaf, untuk sekarang hati ayah belum bisa terbuka untuk wanita lain. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika
suatu saat nanti ada wanita yang bisa mencintai ayah dan kalian dengan tulus. Ayah pasti mau menikah lagi."
"Iya, Yah," jawab kelima anak Laksmono bersamaan.
"Ya udah, sekarang kita tidur. Besok kita shopping ke mall bareng-bareng. Biar ayah yang traktir kalian."
"Asyik," jawab anak-anak Laksmono bersamaan. "Terimakasih, Ayah." Mereka memeluk Laksmono bersamaan. Entah bagaimana bentuknya, kalian bayangkan sendiri. Haha ....
__ADS_1
Terkadang, kita memang membutuhkan luka. Agar kita bisa bersyukur atas nikmat yang telah kita terima selama ini.